
Sebelum pulang, Ayah mendekati Muti lalu berkata, "Nduk, Ayah tahu kamu pasti banyak mengalami masalah, jika kamu butuh tempat bercerita, datanglah! Ayah dan Ibu siap mendengarkan. Barangkali, kami bisa membantu mencari solusinya. Kami ingin melihatmu hidup bahagia Nduk."
Muti terperanjat mendengar perkataan sang Ayah, dia tidak menyangka jika Sang Ayah curiga, padahal Muti sudah berusaha agar keluarganya jangan sampai tahu ketidakbahagiaan yang dia rasakan selama ini di dalam rumah tangganya.
"Iya Nduk, Ibu lihat kamu lebih kurusan sekarang. Kalau ada masalah jangan dipendam sendiri, apa kamu tidak bahagia di sini Nduk?" tanya Ibu yang menimpali perkataan Ayah.
"Ayah dan Ibu jangan khawatir, Insyaallah Muti pasti bisa menyelesaikan semua masalah dalam rumah tangga kami. Terimakasih Yah, Bu, Muti sayang kalian," ucap Muti sembari memeluk Ayah dan ibunya.
Air mata sempat menetes, tapi Muti buru-buru menghapusnya, rasanya Muti ingin berlama-lama dalam pelukan orangtuanya, pelukan hangat yang selama ini dia rindukan.
Setelah melepaskan pelukannya, Muti pun berkata, "Titip salam untuk Kak Fadhil dan Kak Fadlan ya Yah, insyaallah secepatnya Muti akan datang, Muti kangen suasana rumah."
"Datanglah Nduk, rumah kami tetap rumahmu, jadi kapanpun kamu ingin pulang, dengan senang hati pelukan kami akan menyambutmu," ucap Ayah hingga membuat Muti semakin sedih.
"Iya Yah, Bu, Muti pasti akan datang."
"Mbak, aku pulang dulu ya! Ingat Mbak ada aku, jadi kalau ada masalah dan Mbak butuh teman ngobrol aku bersedia datang kapanpun Mbak Muti panggil," ucap Elena sambil memeluk dan berbisik di telinga Mutiara.
"Pasti El, kau lah sahabat sekaligus saudariku. Aku titip Ayah dan Ibu ya, tolong jaga mereka."
"Pasti Mbak! Mereka juga Ayah dan Ibuku. Terimakasih Mbak, sudah memberiku keluarga yang hangat. Aku doakan semoga Mbak Muti segera mendapatkan kebahagiaan."
"Amiin, dan semoga kamu cepat dapat jodoh!"
"Jangan dulu Mbak, sebelum Mbak Muti bahagia."
"Insyaallah El, aku yakin suatu saat aku bisa bahagia."
Kedua sahabat itupun melepaskan pelukannya, lalu Elena menyusul Ayah dan Ibu yang sudah menunggu di teras.
Muti melambaikan tangan, lalu dia berkata, "Hati-hati ya El nyetir mobilnya. Jika sudah sampai rumah beri kabar."
__ADS_1
"Oke Mbak."
Ayah dan Ibu juga melambaikan tangan, sebenarnya mereka masih rindu dengan Muti tapi kesibukan di kantor, membuat mereka tidak bisa berlama-lama menginap.
Setelah orangtuanya pulang, Muti pun bergegas membereskan rumah, siang nanti dia berencana ingin pergi menjenguk Papa Hendra sesuai janjinya.
Sementara Clara masih saja berusaha merayu Sultan agar menuruti kemauannya, mengajak dirinya tinggal di rumah bersama Mutiara.
Pagi ini, Clara berpura-pura tidak enak badan, dia masih di dalam selimutnya saat Sultan keluar dari kamar mandi.
"Kamu kenapa tidak bangun Clara, kamu sakit! Apa kandungamu bermasalah lagi?" tanya Sultan cemas.
"Aku mual Kak dan badanku lemas, rasanya tak punya tenaga untuk bangkit!"
"Ayo kita ke dokter, mumpung aku belum berangkat ngantor," ajak Sultan sembari menarik selimut dari tubuh Clara.
"Nggak usah Kak, toh obat dari dokter masih ada. Kalau kakak mau ngantor, pergilah! Nanti, jika aku butuh bantuan, aku akan minta tolong Hardi," ucap Clara sengaja ingin memancing kecemburuan Sultan.
"Jangan! Aku tidak mau sampai Sopir itu masuk ke sini, apalagi sampai melihatmu berpakaian seperti ini. Ingat, kamu hanya boleh tampil seksi untuk ku saja!" ucap Sultan.
"Coba lihat ini Kak, masih ada bercak walau sedikit," ucap Clara sembari menunjukkan ****** ******** yang memang masih ada bercak darah.
Sultan cemas, lalu dia melihat arloji yang ada ditangannya, saat ini dia tidak punya pilihan lain selain membawa Clara pulang ke rumahnya.
Melihat jam sudah menunjukkan pukul 8, Sultan yakin mertuanya pasti sudah pulang hingga dia bisa segera membawa Clara.
"Ya sudah bersiaplah, kamu ikut aku. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan anak kita."
"Kemana Kak?"
"Kemana lagi, saat ini rumahku tempat terbaik untuk kamu tinggal, sampai kandunganmu kuat."
__ADS_1
"Terimakasih Kak. Kami sayang Kakak," ucap Clara sambil mencium Sultan. Kemudian Clara mengambil koper dan memasukkan beberapa helai pakaian dan barang-barang penting miliknya.
Sementara Sultan sambil menunggu Clara berkemas, diapun menelepon sekretarisnya jika hari ini akan telat masuk kantor karena ada urusan penting.
Clara tersenyum sambil berkemas, dia yakin, jalan untuk menyingkirkan Muti semakin terbuka saat Sultan mengizinkan dia tinggal di sana.
Mau tidak mau, hari ini juga Sultan akan mengatakan kepada Muti bahwa dia dan Clara telah menikah. Apapun yang terjadi, Sultan siap menanggung resiko demi keselamatan bayinya.
"Sudah siap Clara, ayo kita berangkat. Hari ini aku akan mengatakan tentang kita kepada Muti. Tapi sebelumnya kita akan singgah dulu menjemput seorang pembantu yang sudah direkomendasikan oleh yayasan, agar bisa melayani kalian dan menemanimu saat Muti keluar rumah."
"Iya Kak, aku sudah siap. Ayo kita berangkat sekarang. Tapi, kita temui Hardi dulu dan beri dia tips karena sudah membantuku kemaren."
"Baiklah, ayo kita temui sopir itu," ajak Sultan, sembari menarik koper Clara keluar kamar.
Saat mereka turun, Hardi sudah ada di bawah, dia memang sedang menunggu Clara.
"Eh Bos, hari ini apa tugas Saya Bos? Apakah Nyonya Clara akan keluar? Biar Saya antar!"
"Maaf, kami akan pergi dan mungkin dalam waktu yang cukup lama, Clara tidak akan tinggal di sini, jadi kami mohon maaf tidak bisa menggunakan jasa kamu lagi."
"Tapi Tuan!"
"Kamu jangan khawatir, aku tetap akan memberimu setengah bulan gaji. Tapi aku mohon, kamu silahkan cari pekerjaan di tempat lain dulu. Jika suatu saat kami membutuhkan jasamu, aku pasti akan menghubungimu," ucap Sultan sembari mengeluarkan uang dari dalam dompetnya dan menyerahkan kepada Hardi.
"Terimakasih ya Hardi, kemaren kamu sudah menolongku dan maaf untuk sementara kamu tidak bisa bekerja denganku, nanti saat kandunganku sudah kuat, aku pasti akan kembali ke sini dan membutuhkan jasamu lagi," ucap Clara sembari memberi kode ke Hardi tanpa sepengetahuan Sultan.
"Iya Nyonya, aku paham kok. Terimakasih Tuan sudah memberiku uang yang banyak, padahal aku cuma bekerja di sini satu hari," ucap Hardi.
"Ya sama-sama, maaf sekarang juga kami harus pergi."
"Oh ya Tuan, Saya juga pamit, sekali lagi terimakasih," ucap Hardi.
__ADS_1
Kemudian Hardi meninggalkan apartemen begitu juga dengan Sultan dan Clara.
Sepanjang perjalanan, Clara tersenyum bahagia dan saat ini dia sedang memikirkan apa yang akan dilakukannya nanti saat sudah tinggal di rumah Sultan dan Muti.