
Mama sudah tidak sabar menunggu kepulangan Sultan, beliau mondar-mandir di teras rumah, sementara Clara enak-enakan duduk bersantai sambil ngemil dan nonton televisi.
Bi Tina sampai geleng-geleng kepala melihat sikap Clara yang cuek, tidak peduli dengan apa yang bakal terjadi saat suaminya nanti tiba.
Clara yakin, anak dalam kandungannya yang akan membuatnya sebagai pemenang. Sultan pasti akan memilihnya ketimbang Mutiara. dan dia sangat yakin, hari ini juga Muti akan tersingkir dari kehidupan rumah tangga mereka.
Papa Hendrawan yang melihat istri mondar-mandir seperti gosokkan meminta Mama untuk tenang dan duduk di dekatnya.
"Ma, kesini! Tenang dan duduklah, jangan sampai Mama mengalami kejadian seperti Papa. Nanti, siapa yang akan mengurus kita, apalagi jika Muti memang nanti memutuskan untuk bercerai dan kembali ke rumah Danu."
Mama pun terdiam, apa yang dikatakan oleh Papa memang benar. Sultan tidak mungkin bisa mengurus mereka jika keduanya ambruk, sedangkan Raja belum selesai urusan studynya.
Melihat Mama berdiri mematung, Papa pun berkata lagi, "Kesini Ma! Duduklah dekat Papa. Kita harus siap terima nasib dan takdir yang bakal menimpa anak kita," pinta ayah sambil mendesah.
Kemudian beliau berkata lagi, "Entah kesalahan apa yang pernah aku lakukan, hingga anakku tega mencoreng aib di mukaku. Aku malu Ma bertemu Danu, aku ayah yang gagal. Gagal mendidik anakku untuk menjadi laki-laki dan kepala rumah tangga yang bertanggung jawab."
"Papa sudah melakukan yang terbaik untuk kami, dasar anaknya saja yang bebal, kelamaan hidup di luar membuat Sultan hidup tanpa mematuhi norma-norma kebaikan. Mama pun menyesal, kenapa dulu mengizinkan dia kuliah di luar, hingga kita tidak bisa mengontrol pergaulannya."
"Sudahlah Ma, kepala Papa sakit, nasi sudah jadi bubur. Apa bubur ini masih bisa dinikmati dan terasa enak, atau dibuang menjadi sampah yang tidak berguna," ucap Papa mengkiaskan posisi Sultan saat ini.
Mama pun menuruti permintaan suaminya, tapi saat beliau melihat mobil Sultan datang dan memasuki pekarangan rumah, amarahnya kembali memuncak.
Mama tidak sabar, lalu beliau menghampiri Sultan yang baru mematikan mesin mobilnya. Mama mengetuk kuat kaca jendela mobil hingga membuat Sultan cemas.
Dia tidak ingin melawan sang Mama dan dengan segera Sultan pun membuka kaca jendela mobilnya sembari berkata, "Maaf Ma, aku telat! Soalnya jalanan macet."
__ADS_1
"Turun, Cepat! Kamu harus jelaskan, apa yang telah kamu lakukan terhadap menantu kami!"
"Memangnya Muti mengadu apa Ma?" tanya Sultan.
"Dasar anak tidak berguna! Masih saja menuduhkan hal buruk terhadap istri yang seperti malaikat itu," jawab Mama yang tidak bisa lagi menahan amarah dan tangis yang sejak tadi beliau tahan.
Kemudian Mama berkata, "Muti itu ya, seorang istri yang pandai menutup aib suaminya, pandai bertata krama terhadap orangtua, bukan seperti wanitamu yang ada di dalam sana!" ucap Mama sembari menarik telinga Sultan.
"Jika Mama berada di posisi Muti, Mama pasti sudah meninggalkan laki-laki bejat sepertimu sejak awal, tidak perlu menunggu borokmu terbongkar seperti sekarang!" ucap Mama yang semakin sulit mengontrol emosinya
Sultan yang memang bersalah tidak bisa berkata apapun, selain pasrah dan turun dari mobil. Belum sempat Sultan menutup pintu mobil, Mama menarik tas kerjanya lalu menimpukkan ke punggung putranya.
"Sabar Ma, aku akan menjelaskan semuanya," ucap Sultan sembari menghalangi Mama yang akan kembali memukulnya.
"Kamu lihat Papa! Kamu telah mengecewakan dia dan menghancurkan harapan di hari tuanya. Memangnya kesalahan apa yang kami perbuat hingga kamu tega mempermalukan kami seperti ini!" ucap Mama sembari menunjuk ke arah Papa Hendrawan yang sedang duduk di teras.
Dengan gaya centilnya, Clara mendekati Sultan dan bergelayut manja di lengannya, lalu berkata, "Kak, cepat jelaskan kepada Mama dan Papa, kita kan tidak bersalah. Kita saling mencintai dan sebentar lagi akan memiliki anak, sudah sepantasnya jika kita menikah," ucap Clara.
"Diam! pergilah masuk. Aku akan menjelaskan kepada mereka," ucap Sultan.
"Aku di sini saja Kak, aku harus tahu dan mendengar sendiri, kenapa mereka menyalahkan kita saja. Kenapa tidak menyalahkan Muti dan diri mereka sendiri yang telah memaksa Kakak untuk menikahi wanita yang tidak Kak Sultan cintai," ucap Clara sembari memandang ke arah Papa dan Mama Sultan.
"Kamu ya, tutup mulutmu!" ucap Mama emosi melihat kelancangan Clara yang berani menyalahkan mereka.
Mama yang hendak menampar Clara ditarik lengannya oleh sang Papa dan Sultan pun berdiri di tengah di antara Mama dan Clara.
__ADS_1
"Sudah aku bilang, masuk! Cepat Clara!" seru Sultan sembari menunjuk ke dalam rumah.
Clara pun terkejut melihat Sultan membentak dengan suara menggelegar.
"Baiklah, aku akan masuk, tapi aku hanya butuh pengakuan Kakak dan pengakuan mereka terhadap anak yang ada dalam kandunganku ini. Aku tidak mau, dia lahir tanpa menyandang nama keluarga! Aku tidak mau selamanya menjadi istri siri, yang tidak memiliki hak dan hanya diketahui segelintir orang saja!" ucap Clara lantang.
"Coba kalian pikir, sudah berapa lama Kak Sultan dan Muti menikah, tapi Muti tidak juga hamil! Jangan sampai kalian kena karma, tidak memiliki cucu selain anakku!"
Mama yang sudah tidak tahan mendengar pedasnya perkataan Clara, spontan melayangkan tamparan, tapi untungnya Papa sempat mencegah, jadi hanya kibasan angin saja yang menerpa wajahnya.
Sultan kemudian menarik lengan Clara agar dia masuk sebelum sang mama lepas kendali emosinya.
Clara mau tidak mau menunggu di dalam. Sultan mengunci pintu dari luar agar pembicaraannya dengan Papa dan Mama tidak di ganggu lagi oleh ucapan Clara yang membuat suasana makin memanas.
"Ma, Pa..., ayo duduklah dulu! aku akan menjelaskan semuanya. Aku siap Pa, menanggung konsekuensi atas kesalahanku. Aku tidak mungkin mengabaikan anakku, ini salah kami, bukan salah calon bayi yang tidak berdosa itu."
"Aku tidak bisa memaafkanmu, kamu telah menyakiti hati kami dan juga Muti. Sekarang, kita tunggu kedatangan Muti dan Danu. Apapun keputusan Muti nanti, kami mendukungnya! Termasuk mengusirmu keluar dari rumah ini dan juga keluar dari perusahaan!" ucap Papa Hendrawan sambil memegangi dadanya yang terasa sesak dan sakit.
Sultan yang melihat kesakitan di wajah sang Papa, segera mendekat dan memegang bahunya.
Namun, Papa Hendrawan spontan mengibaskan tangan Sultan yang saat ini menempel di bahu kirinya.
Sultan sedih, ternyata apa yang dia perbuat begitu melukai hati kedua orang tuanya. Hingga, mereka tidak memberinya izin walau hanya sekedar menyentuh bagian tubuh mereka yang sakit.
Penolakan Papa Hendrawan bertepatan dengan sampainya Muti dan Ayah Danu di sana. Muti melihat kejadian barusan dari kaca mobil Ayahnya.
__ADS_1
Bersambung.....
Apakah yang akan Muti dan ayahnya lakukan? Apa mereka akan mengusir Sultan dan Clara dari rumah itu? Ikuti terus ceritaku ya sobat dan jangan lupa beri dukungan kalian ya, biar aku tetap semangat berkarya.🙏