
Muti menoleh, dia melihat Adam menatapnya dan bertanya, "Kamu sedang apa di sini, kenapa bengong? Memangnya apa yang kamu kejar Mut?"
"Oh, nggak ada apa-apa Mas," jawab Muti.
"Kalau nggak ada apa-apa, ayo balik ke dalam, kamu pasti belum makan 'kan?"
"Kak Adam kok tahu jika aku belum makan?" tanya Muti.
"Tapi, tadi kamu tabrak tuh, pengantar makanan dan yang tumpah itu jatah makanan kalian."
"Oh ya Mas, aku mau temui pihak hotel untuk minta maaf dan tanggungjawab atas kerusakan yang tidak ku sengaja!" ucap Muti sambil berjalan kembali ke dalam hotel.
"Aku sudah bereskan semua dan mereka telah menyiapkan makan malam yang baru untuk kalian," ucap Adam.
"Terimakasih ya Mas. Tapi, rasanya aku tidak berselera untuk makan malam ini."
"Memangnya kenapa? Kamu harus makan agar tidak sakit. Kamu mau di rawat lagi seperti waktu itu," tanya Adam lagi.
Muti menggeleng, lalu berkata, "Nanti saja makannya. Maaf ya Mas, aku kembali dulu ke kamar, aku ingin istirahat," ucap Muti tidak bersemangat.
"Baiklah, tapi jangan lupa makan ya. Saya juga mau balik ke kamar," ucap Adam.
Mereka pun kembali ke kamar masing-masing. Muti duduk di tempat tidurnya sambil merenungi, bagaimana nasib rumah tangganya kelak jika Sultan seperti ini terus.
Sementara di kamar Clara, dia sedang merajuk karena Sultan telat datang dan saat ini Sultan sedang membujuknya.
"Maafkan aku Sayang, jangan ngambek dong. Aku kan sudah di sini! Ayo kita makan dulu," ucap Sultan sambil mencium pipi Clara.
"Pasti kakak telat karena sedang bermesraan dengan si marmut itu!" ucap Clara ketus.
"Marmut? hahaha, kamu ada-ada saja Yang. Aku senang deh, jika kamu cemburu seperti ini, itu tandanya kamu memang mencintai aku," ucap Sultan yang menarik Clara ke dalam pelukannya.
"Kalau begitu, kakak harus dihukum, besok malam harus tidur di sini lagi. Aku tidak mau Kakak bermesraan terus dengan dia."
"Besok nggak bisa lho Yang, kami harus melakukan persiapan untuk pulang. Kamu ingat! Selama di sini, aku lebih sering bersama mu dan mengabaikan Muti."
"Bahkan untuk sekedar foto berdua saja kami belum pernah, jadi besok kami akan jalan-jalan untuk membuat foto berdua di tempat-tempat wisata yang ada di sini. Kamu tidak ingin kan orangtuaku curiga? Kalau Muti aku percaya, dia nggak bakal ngadu apapun tentang sikapku selama di sini," ucap Sultan.
"Ya, Sudah. Aku mengalah tapi setelah tiba di Jakarta, kamu harus janji akan meluangkan waktu untuk menginap denganku."
__ADS_1
"Jadi, sudah dapat lampu hijau nih. Kita bisa melakukannya lagi 'kan? Aku sudah tidak sabar, ingin kita cepat-cepat menikah," ucap Sultan.
Karena hasratnya yang tadi sempat tertunda saat bersama Muti, Sultan pun menggunakan kesempatan ini untuk mencium Clara.
Clara masih pura-pura merajuk, dia tidak membalas ciuman dari Sultan. Tapi Sultan terus ******* bibir kekasihnya itu dengan ciuman yang semakin menuntut.
Gairah liar Sultan kembali bangkit, tangannya sudah tak terkendali menjelajahi bagian-bagian tubuh Clara yang paling dia sukai.
Clara menggeliat geli, gairahnya juga sudah terpancing hingga keluar ******* demi ******* dari mulutnya. Tapi Clara masih ingat mereka belum makan malam, lalu dia berbisik di telinga Sultan, "Kak kita makan dulu yuk, nanti kita lanjutkan hal ini setelah makan."
"Nggak, nanti saja makannya Yang. Aku belum lapar, saat ini yang aku mau adalah memakanmu," ucap Sultan yang terus memainkan bagian atas tubuh Clara.
Sultan benar kelaparan tapi bukan perutnya yang lapar melainkan hasrat kelelakiannya.
Melihat mata Sultan yang sudah berkabut, Clara tersenyum dan kali ini dia yang akan berinisiatif untuk memuaskan keinginan Sultan.
Clara ingin membuat Sultan benar-benar bertekuk lutut dan tidak membutuhkan Muti untuk memuaskan kebutuhan batinnya. Dia harus menjadi prioritas utama bagi Sultan.
Memang yang berhasil mengambil keperawanan Clara adalah Sultan tapi setelah itu Clara menjadi ketagihan dan dia melakukannya berulang-ulang bersama sang pacar.
Pacar Clara menyusul ke Bali saat Clara menelepon sambil menangis setelah kejadian belah duren yang dilakukan oleh Sultan.
Namun, bagian yang paling vital hanya akan Clara persembahkan di saat malam pengantinnya nanti bersama Hardi kekasihnya.
Ternyata Hardi tidak marah atas kejadian itu, bahkan dia memberi support kepada Clara agar secepatnya menguras harta Sultan agar mereka bisa segera menikah.
Untuk kelanjutannya, Hardi meminta agar Clara menuruti semua kemauan Sultan termasuk melayaninya di atas ranjang karena Hardi takut jika Clara terus menolak, hal itu malah akan membuat Sultan berpaling kepada sang istri dan bisa kapan saja mencampakkan Clara sebelum tujuan mereka tercapai.
Selama Clara bersama Sultan, hidup Hardi merasa nyaman. Apa yang dia minta selalu di turuti oleh Clara, karena Clara dengan mudah mendapatkan semua itu dari Sultan.
Jadi, saat ini Sultan adalah pohon uang bagi Clara dan Hardi. Itulah kebodohan Sultan, dia tidak sadar jika sedang di manfaatkan.
Hardi saat ini tinggal di hotel yang sama dengan Clara, mereka bersebelahan kamar.
Karena malam ini Clara akan melayani Sultan, makanya dia memilih keluar, mencari hiburan di salah satu club malam yang ada di sana.
Sebelum kedatangan Sultan, Hardi dan Clara sudah menikmati malam indah mereka lebih dulu dan dia telah memberikan obat perangsang kepada Clara agar stamina Clara pulih dan bisa lebih agresif dalam melayani serta memuaskan Sultan malam ini.
Tujuan Hardi sebenarnya, dia ingin mendapatkan uang, guna keperluannya selama di Bali. Bersenang-senang, liburan dengan menggunakan uang Sultan
__ADS_1
Jika Sultan merasa puas dengan pelayanan Clara, otomatis hal itu akan dengan mudah Hardi dapatkan.
Sultan dan Clara saat ini sudah sama-sama saling menginginkan, Ke agresifan dan lenguhan-lenguhan yang keluar dari mulut Clara benar-benar membuat Sultan di atas angin. Seperti singa yang kelaparan, dia melahap tubuh Clara hingga terkulai lemas.
Hasrat yang sejak tadi tertahan akhirnya terpuaskan, dan senyum bahagia pun mengembang di bibir keduanya saat sama-sama mencapai puncaknya.
Setelah beristirahat sejenak, keduanya memutuskan untuk membersihkan diri. Mereka mandi bersama dan menikmati momen kepuasan season kedua di sana.
Sultan pun merasa ketagihan, dia tidak peduli dengan norma agama lagi. Kenikmatan yang di berikan oleh Clara telah membuat hati dan pikirannya semakin buta.
Selesai mandi bersama, keduanya pun menikmati makan malam yang sejak tadi mereka abaikan.
Setelah itu keduanya menonton siaran televisi dan kembali menghabiskan malam dengan penyatuan-penyatuan yang di larang agama.
Sebelum tidur, Clara menciumi Sultan dan mulai mengutarakan maksudnya. Sultan pun tahu, pasti Clara menginginkan sesuatu darinya.
"Apa yang kamu minta Yang?" ucap Sultan sambil membalas ciuman Clara.
"Aku butuh uang Kak, untuk perawatan tubuh. Kak Sultan telah mencabik-cabik aku, aku tidak mau mengendur dan menjadi tua sebelum waktunya. Bukankah Kak Sultan senang, jika aku bisa terus memberikan service yang memuaskan bahkan bisa lebih hot bila rutin perawatan, khususnya di bagian itu tuh, yang paling Kak Sultan suka," rayu Clara sambil memainkan jarinya di dada Sultan yang terbuka.
"Aku puas! Kamu hebat Yang. Sekarang kamu lebih mahir dan tahu cara menyenangkan ku. Ambillah ini! Gunakan untuk memenuhi semua kebutuhan mu."
Kemudian Sultan berkata lagi, "Tapi jangan lupa! Belilah lagi beberapa helai, apa yang sudah aku koyak tadi, untuk olah raga kita besok."
"Aku suka kamu memakainya, lebih mengundang, menantang dan membuatmu terlihat lebih cantik dan se*si," ucap Sultan sambil menyerahkan sebuah kartu Atm ke tangan Clara serta mendaratkan ciuman di bibir Clara.
Clara senang, apa yang Hardi mau sudah ada di tangannya, tapi dia menyembunyikan perasaan gembiranya itu dengan pura-pura terkejut.
"Apa Yang! Tapi, kak Sultan tadi bilang, besok nggak bisa kesini, kenapa sekarang berubah pikiran?" tanya Clara.
"Aku ketagihan Yang! Jadi, sebelum pulang ke Jakarta, kita nikmati indahnya kebersamaan di Bali, satu malam lagi," bisik Sultan sambil menggigit lembut cuping telinga Clara.
Clara menggeliat geli hingga membuat senjata Sultan bereaksi lagi.
"Bagaimana dengan si Marmut? Apa dia tidak bakal mengadu, bahkan di malam terakhir bulan madunya, Kakak masih saja mengabaikannya!" ucap Clara.
"Kamu ingin aku melakukan seperti tadi bersama dia?" goda Sultan sambil tersenyum.
"Awas! Jika Kak Sultan berani melakukannya bersama Marmud, aku pastikan! Aku akan tinggal di rumah kalian. Supaya Marmud tidak bisa menggoda Kak Sultan dan Kak Sultan tidak akan punya kesempatan walau hanya sekedar meliriknya," ancam Clara.
__ADS_1