MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 71. MENCARI PEMBANTU DAN SOPIR


__ADS_3

"Clara sudah sore ayo kita kembali, aku tidak mau Papa dan Mama murka," ucap Sultan.


"Iya Sayang, ayo kita bersiap."


"Oh ya, ada yang ingin aku tanyakan. Bagaimana kelanjutan rumah yang kita beli. Sebaiknya kamu tinggal di rumah itu saja, aku tidak ingin mengambil resiko jika keluargaku datang ke apartemen," ucap Sultan.


"Nanti aku coba hubungi temanku itu ya Kak, terimakasih sudah perhatian banget terhadap ku dan anak kita," ucap Clara bergelayut manja, lalu mencium Sultan sebelum pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Clara menarik Sultan agar bisa mandi bersama, dia ingin melakukan penyatuan terakhir di rumah orangtuanya sebelum mereka kembali ke kota.


Ritual mandi dan olahraga panas pun telah selesai mereka lakukan dan kini mereka sudah bersiap dan hendak berpamitan kepada orangtua Clara.


Ayah dan Ibu Clara kembali mengingatkan Sultan untuk segera memberikan status resmi menurut negara untuk anak dan calon cucu mereka. Ayah tidak mau Clara terus di sembunyikan dari pihak keluarga Hendrawan.


Sultan hanya mengangguk agar kedua orang tua Clara senang, sementara dia sendiri masih pusing bagaimana caranya agar keluarganya bisa menerima Clara sebagai menantu layaknya Mutiara.


Mereka pun berangkat kembali ke kota, Sultan mengantarkan Clara ke apartemen dan sebelum pulang, diapun berkata, "Oh ya Clara, karena kamu sedang hamil carilah pembantu yang bisa mengurus rumah dan cari seorang supir. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan bayiku," ucap Clara.


Clara bak terbang di awan, dia sangat senang, mulai sekarang Sultan pasti akan lebih mengutamakan dirinya daripada Mutiara.


"Iya sayang, kamu jangan khawatir, tapi aku mau, kamu setiap hari kesini ya untuk menjenguk kami. Anak kita pasti senang jika papanya setiap hari datang, apalagi sering menjenguknya di dalam," pancing Clara.


Sultan mencium Clara sebelum pergi meninggalkan apartemennya. Dia akan pulang dulu ke rumahnya baru menjenguk Sang Papa di rumah sakit.


Bagaimana pun kemarahan keluarganya akan dia terima demi sang baby. Dan untuk sementara Sultan akan menyembunyikan status pernikahannya dengan Clara dari keluarganya.


Sepulangnya Sultan dari apartemen, Clara berbaring memegangi perutnya sambil bermonolog, "Terimakasih Nak, kamu penyelamat Mama, kita akan berjuang agar kamu diakui sebagai penerus keluarga Hendrawan, walaupun Mama belum tahu pasti Papa kamu Sultan atau Papa Hardi."

__ADS_1


Saat Clara asyik bermonolog, bel apartemen berbunyi, lalu Clara bergegas keluar kamar untuk melihat siapa yang datang.


Kalau fillingnya yang datang adalah Hardi, pasti laki-laki itu mencarinya karena dua hari Clara tidak mengaktifkan ponsel.


Ternyata benar dugaannya, Hardi menyeringai di depan pintu, tanpa di minta masuk dia sudah langsung menyelonong saja.


"Hei, kamu mau apa. Pergilah! aku lelah baru sampai, besok kamu boleh kembali," ucap Clara.


"Hah, enak saja. Sudah dua hari kamu menghilang dan sekarang kamu malah mengusirku, aku kan butuh kehangatanmu. Apa kamu tidak merindukan aku?" tanya Hardi sembari memeluk Clara.


"Gerah, jauh-jauh! Aku sedang tidak mut untuk melakukannya. Aku capek Hardi! datanglah besok, aku janji akan memberikan apa yang kamu mau. Please..." mohon Clara.


Dia memang sedang lelah, karena seharian telah melayani Sultan dan sekarang dia tidak sanggup jika harus melayani Hardi. Mungkin karena pengaruh kehamilan, padahal biasanya dia selalu strong melayani keduanya dalam hari yang sama.


Hardi tidak mengindahkan omongan Clara, tangannya sudah bergerilya kemana-mana. Dia yang memang sudah menginginkan pelayanan dari Clara terus memaksa hingga Clara tidak berdaya menolaknya.


Hardi tersenyum atas kemenangannya, hasrat yang sudah memuncak akhirnya dia salurkan tanpa mempedulikan penolakan Clara yang ingin menjaga bayi dalam kandungannya.


Selesai melakukan hal itu, perut Clara terasa nyeri, dia takut terjadi hal buruk terhadap janinnya yang akan membuat rencananya menguasai Sultan gagal.


Clara memukul Hardi sambil menangis, lalu dia berkata, "Sudah aku bilang pelan-pelan, kamu malah kasar, awas jika sampai terjadi apa-apa dengan bayiku, kamu tidak akan pernah mendapatkan jatahmu lagi!"


Hardi terperanjat mendengarnya, lalu dengan repleks dia memeluk Clara, "Kamu hamil? Itu anak kita kan?" tanya Hardi.


Clara hanya menggelengkan kepala sambil berkata, "Entahlah, kalian berdua, belakangan sering menanam. Memang sih, aku akui, kamu yang paling banyak menanam," ucap Clara.


"Ya sudah, yang penting tujuanmu tercapai, masalah itu bisa kita cari solusinya dengan tes DNA. Anak siapapun dia tidak jadi soal, bayi itu akan jadi tambang emas bagi kita," ucap Hardi.

__ADS_1


"Tapi, kamu harus menjaganya, jangan sering menjenguk, nanti kalau dia sakit dan nggak mau bertahan di dalam bagaimana? kita juga yang susah," ucap Clara.


"Oke, kamu tenang saja. Tapi untuk hiburanku yang lain, aku minta uang dong. Masa tidak bisa bersenang-senang denganmu, aku juga tidak bisa belanja," ucap Hardi.


"Makanya kerja, jangan tahunya minta uangku saja. Mulai hari ini kamu jadi sopir pribadiku, Sultan akan menggajimu. Karena, dia tidak mau melihat ku dan bayi ini celaka makanya dia memintaku untuk mencari pembantu dan sopir pribadi," ucap Hardi.


"Oke, jadi aku boleh tinggal di sini kan?"


"Ya, tapi di kamar paling belakang dekat dapur. Kamar satu lagi untuk pembantu yang sedang aku cari."


"Biar aku saja yang cari, kamu tenang, aku yang atur semua," ucap Hardi.


"Tapi jika sudah ada pembantu, kamu jangan sembarangan masuk ke kamar ku bisa berabe, Sultan bakalan tahu hubungan kita."


"Jangan khawatir, aku akan cari pembantunya yang memihak kita, jadi aman."


"Terserah lah, kamu atur semua. Ini uang jatahmu, pergilah! Aku lelah dan mau tidur, lagi pula perutku rada sakit."


"Aku panggilkan dokter ya, tapi aku langsung pergi, biar dokter saja yang kesini. Tapi inga! Jangan centil terhadap dokter, nanti bayi itu jadi bingung, punya tiga Papa," ucap Hardi sambil menyeringai dan berlalu pergi.


Clara melempar bantal ke arah Hardi, hingga membuat Hardi mengaduh karena punggungnya sakit terkena lemparan bantal. Dia tidak menoleh, melainkan langsung menuruni anak tangga dan keluar meninggalkan apartemen.


Sesuai janjinya, dokter pun datang. Clara hanya mengenakan pakaian tidur tipis tanpa pakaian dalam hingga membuat sang dokter sempat kaget. Namun sudah terlanjur sampai di sana dia tetap menjalankan tugasnya.


"Siapa yang sakit Nona?" tanya Dokter yang pandangannya tidak beralih dari dada Clara yang menantang.


"Ayo Dok, di atas saja," ucap Clara sembari menaiki anak tangga.

__ADS_1


Sang Dokter hanya bisa mengelus dada dan menelan saliva saat melihat bagian bokong Clara yang menggoda.


__ADS_2