
"Hati-hati Mbak!" ayo kita duduk dulu, biar aku periksa kaki Mbak Muti, takutnya ada yang terkilir," ucap Elena.
"Terimakasih ya El, untung saja kamu menarikku, jika tidak, entah apa yang bakal terjadi, mungkin bukan cuma terkilir, tapi tulangku banyak yang patah," ucap Mutiara.
"Iya Mbak, sama-sama. Alhamdulillah ya Mbak, Itu tandanya Allah masih sayang, sama Mbak Muti," ucap Elena.
Mutiara pun mengangguk, lalu dia berkata, "Nggak ada yang terkilir kok El!" ucap Mutiara sambil menggerak-gerakkan kakinya, saat Elena hendak memeriksa.
"Syukurlah jika begitu Mbak, coba Mbak Muti berjalan, jika terasa sakit, kita harus mencari ahli pijat, jangan sampai efeknya kemudian hari, membuat Mbak Muti nggak bisa berjalan."
"Iya El, aku tahu. Oh ya, kamu sudah persiapkan barang yang mau kamu bawa 'kan? Tiket sudah aku pesan lewat pihak hotel. Aku sengaja minta tolong mereka, agar bisa mendapatkan jadwal penerbangan yang sama. Ternyata ada yang cansel dan di berikan ke kita."
"Sudah Mbak, mengenai rumah, aku minta tolong tetangga untuk menjaganya sambil menunggu ada yang mengontrak," ucap Elena.
"Jadi peralatan rumah, kamu kemana kan, jika ada yang mau ngontrak?" tanya Muti.
"Rumah peninggalan orang tuaku lumayan besar Mbak, terdapat 5 kamar tidur, jadi aku pakai satu untuk tempat menyimpan barang-barang ku di sana."
"Mudah-mudahan kamu nanti betah ya El, di Jakarta. Keluargaku pasti sangat senang dengan kedatangan mu, karena mereka kesepian setelah aku tidak lagi tinggal di sana."
"Insyaallah Mbak, aku juga senang bakal punya keluarga. Jadi Mbak Muti tinggalnya jauh dari rumah Ayah?" tanya Elena.
"Lumayan jauh El, tapi masih bisa di tempuh dengan waktu 2 jam perjalanan," jawab Muti.
"Kalau akhir pekan kamu main ya ke rumah kami, biar aku tidak kesepian, karena Kak Sultan sudah bilang di akhir pekan dia nggak bakal di rumah. Kak Sultan ada kegiatan bersama teman-temannya, mereka touring dengan menggunakan motor Harley."
"Kenapa Mbak Muti nggak minta ikut? Banyak kok mereka yang touring membawa keluarga terutama istri."
"Biarlah aku di rumah saja El, lagipula sejak dulu aku tidak suka ikut perkumpulan-perkumpulan seperti itu."
__ADS_1
"Mbak Muti harus berani tampil di depan teman-temannya Tuan Sultan! biar mereka, khususnya para wanita tidak lagi menggoda Tuan."
Kemudian Elena berkata lagi, "Gadis sekarang ngeri Mbak, lebih memilih menggaet suami orang, ketimbang pria lajang. Apalagi, sama-sama kita tahu, Tuan Sultan itu sudah ganteng, pebisnis sukses dan benar sesuai namanya Sultan, orang yang kaya raya."
"Tidak ada gadis yang akan menolak Mbak, jika di dekati Tuan, walau mungkin tujuan mereka berbeda-beda," ucap Elena lagi.
"Seperti Mbak, tujuannya memang murni untuk membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah dan warahmah, sementara sebagian wanita lain, mungkin hanya mengincar harta Tuan saja."
Perkataan Elena, membuat Muti jadi teringat kejadian tadi, saat dia mendengar suara wanita bermanja kepada suaminya. Muti jadi murung hingga membuat Elena merasa bersalah.
"Mbak, jika ada yang salah dengan perkataan ku, aku minta maaf ya, Mbak Muti jangan sedih dong, ayo senyum Mbak, Mbak sangat cantik jika sedang tersenyum," ucap Elena yang ingin menghibur Elena.
"Oh ya Mbak, bagaimana jika kita ke danau Beratan Bedugul, pemandangan di sana nggak kalah indah lho Mbak," ucap Elena.
"Terserah kamu saja El, kalau aku yang penting jalan dan pikiranku bisa terhibur di sana," ucap Muti.
"Mbak Muti share aja tujuan kita kepada Tuan Sultan, agar Tuan bisa secepatnya kesana. Jadi, setelah dari sana kita bisa ketempat yang lain lagi," pinta Elena.
Sultan yang menerima pemberitahuan tentang lokasi tujuan Muti, segera meminta Clara untuk mengantarnya.
"Ayo Yang! Kamu lama banget di kamar mandi, keburu mereka pergi ke tempat lain," ucap Sultan.
Sebenarnya Clara sengaja berlama-lama berendam di bathtub, dia malas jika Sultan sudah menyinggung masalah kepergiannya bersama Mutiara.
Tapi, karena Sultan pamit akan pergi menggunakan jasa ojek online, Clara pun buru-buru ke luar dengan menggunakan handuk mandi saja.
Kemudian dia berkata, "Tunggu Kak! sebentar ya, aku pakaian dulu! Kak Sultan jangan memanggil ojek online!" ucap Clara, sambil mengambil pakaiannya di dalam koper.
Clara berdandan, dari balik cermin dia memperhatikan jika Sultan sedang gelisah.
__ADS_1
Belum selesai Clara memakai celak alis, Sultan pun berkata, "Lama sekali Yang, kalau Muti dandannya cukup beberapa menit saja."
Ucapan Sultan membuat bibir Clara manyun, dia tidak suka mulai di banding-bandingkan dengan wanita manapun terutama dengan Muti.
Sambil menahan rasa kesalnya Clara pun berkata, "Aku kan harus tampil cantik demi kamu Yang, lah si Marmut, untuk apa dia berdandan, suaminya saja tidak selera melihat penampilannya."
"Sudahlah, ayo buruan!" ajak Sultan sambil mengenakan sepatunya.
Kemudian dia bermonolog, "Sebenarnya, aku lebih suka kamu berdandan natural seperti Muti, tidak mengundang pandangan jahat, kecantikan mu cukup aku saja yang menikmatinya."
"Apa Kak! Aku tidak mendengar dengan jelas apa yang Kakak katakan," tanya Clara sembari berhenti merias wajahnya.
"Kamu sudah cukup cantik Clara, jadi tidak usah berhias terlalu berlebihan, soalnya kamu 'kan hanya mengantar aku saja, tidak perlu turun dari mobil. Jadi tidak bakal ada yang melihatmu, selain Aku," ucap Sultan sambil berjalan keluar kamar.
Clara mulai tidak suka dengan aturan-aturan yang di buat oleh Sultan. Dia merasa kebebasannya menjadi terkekang, apalagi tentang masalah dandanan.
Namun saat ini bukan waktunya untuk menentang, lalu Clara bergegas menyusul Sultan, tapi sebelumnya dia mengunci kamarnya lebih dulu.
Kali ini Sultan yang akan menyetir, dia meminta kunci mobil dari Clara. Clara pun menurut karena masih malas untuk berdebat.
Sultan melajukan mobil sesuai petunjuk maps pada ponselnya. Begitu memasuki area pantai, Sultan menghentikan mobil tersebut dan memberikan kuncinya kepada Clara.
Kemudian Sultan berkata, "Pulanglah! hati-hati di jalan ya, nanti aku hubungi kamu, jam berapa bakal datang," ucap Sultan sambil mencium kening Clara lalu turun dari dalam mobil tersebut.
Clara tidak puas hanya sampai di situ, saat dirinya melihat di kejauhan, ada dua orang wanita yang sedang memperhatikan ke arah mobilnya, dia sengaja turun, menarik lengan Sultan, bergelayut manja dan berkata, "Sebentar Kak!"
Dengan tersenyum manis, clara berjinjit, mengalungkan kedua tangannya di leher Sultan, lalu mencium bibir, memainkan lidahnya di mulut Sultan untuk beberapa saat, sampai keduanya terengah-engah karena kesulitan bernafas.
Muti memalingkan wajah saat melihat pemandangan yang sangat menyakitkan hatinya. Kemudian sembari menyeka air mata yang sudah menggenang di kelopak bawah matanya, diapun berkata, "Ayo El, kita pergi dari sini!" ucap Muti sembari menarik lengan Elena untuk meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
Elena menggeram, giginya gemeretak dan kedua tangannya sudah mengepal. Rasanya dia ingin menyamperin Sultan, menjambak rambut wanita itu serta menarik mereka ke hadapan Muti untuk bersimpuh dan meminta maaf.
Namun tarikan tangan Muti pada lengannya, membuat Elena terpaksa harus pergi, mengikuti langkah kaki Mutiara.