
"El, bangun El! Kita kesiangan!" seru Muti.
"Apa Mbak! Aduh, bagaimana ini!" ucap Elena lompat dari tempat tidur.
"Kamu mandilah di sini! biar aku mandi di kamar ibu, kita harus cepat!" ucap Muti.
"Iya Mbak!"
Elena dan Muti bergegas, masing-masing bersiap, lalu tanpa sarapan keduanya pun berangkat ke kantor.
Ibu pikir, hari ini kedua putrinya memang sengaja berangkat agak siangan, makanya beliau tidak memanggil untuk sarapan.
Namun, ibu tidak membiarkan putrinya pergi tanpa sarapan, lalu beliau membungkuskan bekal untuk keduanya.
"Bawa ini, nanti bisa kalian makan di kantor!" ucap Ibu.
"Terimakasih ya Bu, kami berangkat dulu!" ucap keduanya.
"Iya, hati-hati kalian ya. Oh ya, tadi Ayah pesan, siang nanti Elena harus ke kantor ayah, untuk menyelesaikan tugas sebelum kamu full membantu Muti."
"Iya Bu, nanti El kesana. Terimakasih ya Bu."
Keduanya pun berangkat, Muti sebenarnya sudah bisa menyetir, tapi dia tidak mau ambil resiko. Saat ini mereka sedang terburu-buru, jadi biar Elena yang menyetir karena dia lebih mahir.
"Mbak, kita lewat tol saja ya, biar lekas sampai!" ucap Elena.
"Iya El, bagaimana bagusnya saja!" jawab Muti.
"Oh ya El, sore nanti kamu antar aku ke rumah Papa Hendra ya. Aku ingin membicarakan tentang pengembalian aset."
"Baiklah Mbak! Oh ya Mbak, kebetulan Raja hari ini juga pulang!" ucap Elena.
"Oh, bagus deh. Jadi, biar Raja bisa kasi pandangan, apakah dia yang akan mengelola untuk sementara atau langsung di kembalikan saja kepada Kak Sultan," ucap Muti.
"Kalau menurutku Mbak, jangan dulu di kembalikan ke kak Sultan. Lihat perkembangan dulu, apakah wanita itu benar-benar sudah meninggalkan dia atau belum. Bisa saja 'kan, Kak Sultan jatuh lagi ke dalam jeratan si ular betina itu," ucap Clara.
"Iya sih, Clara sangat licik. Dia memiliki seribu akal untuk bisa menjerat mangsanya lagi."
"Ngomong-ngomong, apa Mas Adam sudah tidak memiliki orangtua lagi Mbak?" tanya Elena.
"Ibunya sudah meninggal, sedangkan ayahnya kemungkinan masih hidup. Tapi Mas Adam tidak tahu beliau sekarang ada di mana," ucap Muti.
"Lho, kok bisa nggak tahu Mbak?" tanya Muti.
__ADS_1
"Ayah dan ibunya berpisah saat Mas Adam masih kecil dan menurut keterangan almarhumah ibunya, sang Ayah merantau keluar negeri. Mereka pun kehilangan kontak karena Ibu membawa Mas Adam pindah ke provinsi lain."
"Apa Mas Adam tidak berusaha mencari beliau Mbak?"
"Sudah El, tapi belum juga ada kabar dari orang-orang yang sengaja Mas Adam bayar untuk mencari ayahnya."
"Meski mungkin Ayah Mas Adam bukan seorang yang bertanggungjawab, tapi setidaknya bisa mendapatkan kabar jika beliau masih hidup, merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Mas Adam. Itulah yang pernah Mas Adam katakan kepada ku."
"Kasihan juga Mas Adam ya Mbak! Tapi aku salut, dia bisa meraih kesuksesan meski cobaan hidupnya begitu berat."
"Itulah nasib dan mungkin juga takdir, jika Allah sudah berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin," ucap Muti.
"Contohnya, nasibku sendiri El. Aku tidak pernah menyangka setelah badai menghancurkan biduk rumahtangga ku, ternyata masih ada pelangi yang indah di sebalik kehancuran itu."
"Iya, Mbak Muti benar."
Merekapun tiba di parkiran kantor, tapi keduanya tidak menyadari jika ada dua orang yang sedang mengawasi gerak-gerik mereka.
Muti meminta Elena untuk langsung mengawasi pengiriman barang, sedangkan dirinya menemui kolega baru yang kata sekretaris sudah menunggunya sejak pagi.
Begitu Muti tiba di ruangan sekretarisnya, dia sangat terkejut, ternyata klien yang di maksud itu adalah teman sekolah Muti yang ditunjuk oleh orangtuanya sebagai wakil dari perusahaan mereka.
"Kamu!" seru Doni.
"Doni pun mengangguk, lalu berkata, "Ya, aku Doni dermawan, teman sekelas yang dulu suka menjahili murid cantik seperti mu!" ucap Doni.
"Ya, aku ingat! Kamu pernah membuatku menangis!"
"Hahaha...ternyata kamu masih ingat!"
"Ingat dong! aku tidak akan pernah melupakan kejahilanmu sampai kapanpun. Sebenarnya aku ingin membalasmu, tapi kita tidak pernah berjumpa setelah kamu pindah sekolah," ucap Muti.
"Bukan pindah Mut, tapi sengaja dipindahkan," ucap Doni.
"Maksudmu?"
"Iya, aku di beri pilihan Mut oleh kepala sekolah, jika mau dipindahkan, akan dinaikkan kelas, jika tidak, aku pasti saat ini masih berseragam putih abu-abu."
"Rasain lu! Kerjanya jahilin orang terus," ucap Muti sembari tertawa.
"Kamu sukses ya Mut, aku nggak pernah menyangka jika Bos dari Hendrawan Group adalah kamu, setahuku seorang pria. Tapi, ternyata sahabatku sendiri."
"Aku hanya sementara kok Don, paling seminggu lagi sudah beralih ke pemiliknya lagi," ucap Muti.
__ADS_1
"Lho, memangnya siapa pemiliknya?"
"Keluarga Hendrawan," jawab Muti.
"Kamu bukan putri Hendrawan?"
"Aku mantan menantu! Dan perusahaan ini akan aku kembalikan kepada yang lebih berhak," ucap Muti.
Doni bingung dengan keterangan yang Muti berikan, tapi setidaknya dia senang bisa bertemu dan akan menjalin kerjasama dengan sahabatnya itu, meski hanya di awal saja.
"Kamu sendiri juga menjadi pengusaha sukses Don?"
"Bukan aku, tapi Papaku. Aku hanya mewakili beliau saja untuk menemuimu," jawab Doni.
"Oh gitu. Ya sudah deh, mari kita bicarakan kerjasama ini di ruangan ku saja. Din, tolong mintakan OB untuk membawakan dua gelas jus ke ruangan ku ya!" pinta Muti kepada sekretarisnya.
"Baik Bu!"
Dina pun ke pantry untuk memberitahu, jika Bos mereka minta dibuatkan jus, lalu diapun kembali ke ruangannya.
Sementara di parkiran, orang yang mengintai tadi mulai beraksi. Mobil Elena mereka rusak dan membuat remnya blong.
Setelah berhasil menjalankan tugasnya, orang tersebut pun pergi meninggalkan tempat itu sembari celingukan. Keduanya berhati-hati agar tidak ada yang melihat perbuatan mereka.
Muti dan Doni telah selesai membahas kerjasama diantara mereka dan Muti berharap kerjasama itu bisa lanjut meski dirinya nanti tidak menjadi pimpinan di sana lagi.
"Mut, terimakasih ya! Boleh aku meminta kartu nama mu atau nomor kontakmu?" tanya Doni.
"Tapi bukan untuk kau jahili 'kan Don?"
"Hahaha...kamu ada-ada saja Mut, mana berani aku menjahili Bos Hendrawan group, cari mati namanya," ucap Doni.
"Ini, tapi ingat! Jangan kamu salah gunakan ya Don!" ucap Muti sembari mengulurkan sebuah kartu nama kepada sahabatnya itu, sambil bercanda.
"Siap Bu Bos! Aku shave nomormu ya dan itu yang melakukan panggilan adalah nomor kontakku!" ucap Doni.
"Sip, sudah aku shave juga," jawab Mutiara.
Muti dan Doni yang dulu selalu bermusuhan, ternyata kini bisa akrab karena kerjasama bisnis yang telah mempertemukan mereka.
Doni pun pamit karena dia harus menggantikan Papanya untuk mengontrol pekerjaan lain.
Jatuh sakitnya sang Papa telah membuat Doni berubah menjadi pemuda yang mandiri serta bertanggung jawab, termasuk harus siap menghandle semua yang berhubungan dengan bisnis keluarganya.
__ADS_1