
Sultan duduk di atas tempat tidurnya, bersandar sambil memainkan ponsel, dia tidak memeriksa panggilan, hanya memeriksa pesan WhatsApp saja.
Dirasa tidak ada yang penting, Sultan pun merebahkan tubuhnya. Tapi memar dipunggungnya membuat dia tidak bisa tidur telentang, akhirnya Sultan tidur memiringkan tubuhnya. Jika lelah posisi miring, Sultan pun tidur telungkup.
Fajar pun telah menyingsing, Sultan merasa tidak bersemangat dan anggota tubuhnya sakit, jadi dia putuskan untuk tidak masuk kantor hari ini. Dia hanya meninggalkan pesan kepada sekretarisnya saja untuk mengosongkan jadwal.
Muti heran kenapa Sultan belum turun untuk sarapan, padahal jam di dinding sudah menunjukkan pukul 7 pagi dan Muti sudah menyiapkan pancake pisang serta susu.
Karena Sultan tidak muncul juga dan takut susunya keburu dingin, akhirnya Muti putuskan pergi ke kamar Sultan untuk memanggilnya.
Muti mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban, untuk beberapa kali dia mengetuk barulah Sultan menjawab dari dalam, "Masuklah!"
Mendengar jawaban tersebut, barulah Muti masuk dan dia melihat Sultan masih bergelung di balik selimut.
"Kenapa Kak? Kakak sakit? Apa karena perbuatanku tadi malam?" tanya Muti.
"Stamina ku saja barangkali lagi drop," jawab Sultan.
"Sebentar ya Kak," ucap Muti keluar dari kamar lalu menuruni anak tangga menuju dapur.
Muti mengambil nampan lalu meletakkan sarapan Sultan dan akan membawanya ke kamar.
"Bismillah, Aku belum kalah! perjuanganku belum selesai. Aku akan berjuang untuk mendapatkan hatimu dan mempertahankan rumah tangga ini! Aku harus menyingkirkan pelakor itu dari rumah tangga kita, Kak!" monolog Muti, yang memberikan semangat kepada dirinya, sembari menaiki anak tangga.
Sesampainya di kamar, Muti meminta agar Sultan duduk. Lalu dia meletakkan nampan di atas nakas, mengambil air mineral dan memberikannya kepada Sultan.
Setelah itu, Muti mengambil pancake dengan sendok dan menyuapkan ke mulut Sultan. Sultan terperanjat, dia tidak menyangka jika Muti memperlakukannya sangat manis.
Sesuap demi sesuap sarapan Sultan pun habis, lalu Muti memberikan segelas susu kepada Sultan dan bertanya, "Apa perlu aku panggilkan Dokter kak?"
Sultan menggeleng, lalu berkata, "Cukup istirahat saja Mut, pasti baikan," jawab Sultan.
"Aku bawa piring kotor ke dapur dulu ya Kak," pamit Muti.
Sultan hanya mengangguk dan saat Muti hendak beranjak, ponsel Sultan yang ada di dekat Muti berdering di sana terlihat nama si pemanggil 'Clara'.
__ADS_1
Sultan memandang Muti, dia sepertinya ragu untuk mengangkat atau tidak. Muti pura-pura tidak tahu, lalu berkata, "Angkatlah kak, aku permisi dulu."
Muti meninggalkan kamar Sultan, jantungnya dag dig dug, Muti sedikit cemas, akan apa yang akan di katakan oleh Clara kepada Sultan.
Sejenak Muti berhenti di depan pintu kamar, tapi dia tidak mendengar suara Sultan berbicara dengan Clara.
Ternyata, Sultan tidak mengangkat telepon dari Clara, dia benar-benar ingin istirahat hari ini, tanp harus melayani permintaan Clara yang ujungnya keluar rumah.
Sultan benar sakit, makanya dia tidak bersemangat untuk pergi kemanapun, daripada bertengkar dengan Clara, mending dia tidak menerima panggilannya.
Muti pergi ke dapur, lalu membereskan semua peralatan makan yang kotor, setelah itu dia kembali ke kamar Sultan.
Dia hanya melihat Sultan berbaring sambil membolak balik majalah yang ada di dekatnya.
Melihat sikap Sultan yang tidak ada perubahan, Muti menduga, Clara tidak mengatakan apapun.
"Oh ya Kak, aku periksa luka memarnya dulu ya sekalian di oles obat lagi, biar segera sembuh," saran Muti.
"Baiklah," jawab Sultan sembari membalikkan tubuhnya.
Warna merah kebiruan tampak terlihat di sana, lalu Muti mengoleskan kembali obat gel ke luka Sultan, sambil bertanya, "Bagaimana tugas kantor Kak?"
"Oh syukur deh," ucap Muti.
Ponsel Sultan pun berdering kembali dan kali ini dari sekretarisnya. Kemudian Sultan mengangkat panggilan tersebut, karena dia menduga pasti ada hal penting, sampai sekretarisnya menelepon.
Ketika Sultan mengangkat panggilan, terdengar suara sekretarisnya berkata, "Pak, ada seorang wanita memaksa masuk ke ruangan Bapak dan sekarang sedang menunggu Bapak. Bagaimana ini Pak! Dia tidak percaya jika Bapak tidak masuk kantor hari ini."
"Siapa dia Lus?" tanya Sultan heran.
Muti yang mendengar hal itu, sudah menebak, pasti Clara si pelakor. Clara membuktikan ancamannya dan pasti sekarang Sultan akan tahu jika tadi malam Muti yang mengangkat panggilan dari Clara.
"Lus, Kenapa kamu diam?" tanya Sultan.
"Anu Pak, katanya dia pacar Bapak, orangnya seksi dan cantik," ucap Lusy dengan memelankan suara karena takut ada orang lain yang mendengar, sementara para karyawan tahu jika bos mereka sudah menikah.
__ADS_1
"Berikan telepon itu padanya, aku mau bicara!" ucap Sultan.
Jantung Muti semakin berdebar tidak menentu, inilah saat boom akan meledak, dia harus bersiap jika Sultan marah.
Clara senang, akhirnya Sultan mau berbicara dengannya. Dengan sombongnya dia mengambil ponsel dari tangan sekretaris Lusy dan berkata, "Sudah aku bilang, Sultan itu kekasihku, kamu masih tidak percaya! Untung saja kamu tidak dipecat!" ucap Clara dengan songong.
"Hallo Yang! Kamu kemana? Aku di kantor kamu lho, kenapa kamu tidak masuk kantor?" tanya Clara dengan manja.
"Aku sedang ada urusan, makanya tidak bisa ke kantor hari ini. Ngapain kamu di sana? Aku tidak mau kamu membuat masalah di kantor, Clara! Jadi tolong, pergilah!" ucap Sultan kurang suka dengan kehadiran Clara di kantornya.
Sultan tidak ingin sampai Papanya mendengar hal itu, bisa gawat. Kemudian Sultan berkata lagi, "Sekarang juga pergilah Clara, apa kamu ingin melihatku terkena masalah?"
"Oke aku pergi! Tapi kenapa kamu menghindariku, sejak tadi malam aku menelepon mu kamu angkat tapi malah diam saja dan tadi aku telepon, kamu malah tidak mengangkatnya. Ada apa Yang?"
"Kapan kamu telepon aku?" tanya Sultan.
"Jangan bercanda Yang, aku telephone sekitar pukul 1 dini hari, bukankah kamu yang angkat? tapi kenapa kamu tidak berkata sepatah katapun?" tanya Clara.
"Oh ya, aku lupa. Barangkali karena aku sangat mengantuk. Ya sudah, besok aku temui kamu. Sekarang pergilah dari sana! Aku nggak mau sampai Papa tahu," ucap Sultan.
"Kamu janji ya Yang, jika tidak datang, aku akan ke kantor lagi!" ancam Clara.
"Ya," jawab Sultan.
Muti tertunduk, menunggu apa yang bakal Sultan katakan. Tapi, setidaknya dia bersyukur, Sultan masih mau menutupnya dari Clara. Sultan mengatakan kepada Clara, jika tadi malam dirinya mengantuk, padahal dia sedang makan di dapur dan Muti lah yang di kamar mengambil obat.
"Hemm," Sultan berdehem sambil memandang Muti.
"Kamu yang mengangkat teleponku?" tanya Sultan.
Muti mendongak, dia tidak mungkin berbohong. Kemudian diapun berkata, "Iya, maaf."
"Kenapa kamu lancang! Itu urusan pribadi ku. Seharusnya kamu tidak perlu ikut campur dan Ingat! Walau kamu istriku, bukan berarti kamu boleh sesukamu membuka ponselku!" ucap Sultan.
"Iya, maafkan aku. Tapi, aku hanya ingin mempertahankan rumah tanggaku. Apa aku salah Kak!" bantah Muti.
__ADS_1
Kemudian Muti berkata lagi, "Maaf Kak! aku tinggal dulu, aku akan mencuci dan membersihkan rumah," ucap Muti sembari bergegas meninggalkan Sultan sambil menahan tangisnya.
Muti tidak ingin Sultan tahu saat dia menangis, dia harus bisa tegar di hadapan Sultan meski hatinya sakit. Kemudian Muti berlari ke kamar menumpahkan air mata dengan menangkupkan bantal ke wajahnya.