
Sultan yang baru turun dari mobil lalu mencari kunci rumah di dalam sakunya. Belum sempat dia membuka pintu, Muti pun sudah berdiri di sana.
"Kamu kok belum tidur?" tanya Sultan.
"Belum mengantuk Kak, jadi aku tunggu Kak Sultan pulang," jawab Mutiara.
"Pergilah tidur, aku masih harus ke ruang baca, ada pekerjaan yang harus ku selesaikan," ucap Sultan dingin sambil berlalu menuju ruang baca yang ada di lantai atas rumahnya, tepatnya satu lantai di atas kamar mereka.
Muti masih ingin berjuang untuk mendapatkan perhatian dari Sultan, dia pergi ke dapur, lalu membuatkan susu panas dan mengantarnya ke ruangan baca di mana Sultan bekerja.
Satu dua kali Muti mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban dari dalam, saat dia hendak nekad untuk membuka pintu, tiba-tiba pintu itupun terbuka dan Sultan berdiri sembari bertanya, "Ada apa! Mengganggu saja!" ucap Sultan ketus.
"Ini Kak! Aku buatkan susu," ucap Muti sambil mengulurkan segelas susu kepada Sultan.
"Letakkan di atas mejaku," ucap Sultan.
Saat Muti meletakkan gelas berisi susu diatas meja kerja, ponsel Sultan pun berdering. Sekilas Muti melihat, Clara... nama seorang wanita yang sedang memanggil.
Hati Muti sakit, siapa wanita yang menghubungi suami orang di tengah malam, kalau bukan selingkuhan.
Sultan buru-buru mengambil ponselnya, tapi saat melihat Muti belum pergi, Sultan pun bertanya, "Apa masih ada keperluan? jika tidak, tolong tinggalkan tempat ini! Aku mau bekerja!" usir Sultan.
"Deg", hati muti bertambah sakit, dia diusir dari sana, berarti benar si pemanggil pastinya selingkuhan Sultan.
Muti keluar dari ruangan kerja Sultan, dia sebenarnya penasaran ingin tahu, apa sebenarnya yang mereka perbincangkan pada tengah malam. Tapi, mana mungkin bisa mendengar percakapan mereka, sementara ruangan itu terkunci.
Di dalam ruangan kerjanya, Sultan mengangkat panggilan dari Clara, dia marah, kenapa Clara baru sekarang membalas telepon darinya.
Clara menjelaskan dengan kebohongan, jika dia pergi membeli kebutuhan makanan dan ponselnya dalam mode hening terletak di dalam tasnya.
Setelah menjelaskan dan meyakinkan Sultan, akhirnya Clara berjanji, jika besok dia akan menunggu kedatangan Sultan.
__ADS_1
Sultan berjanji sepulang dari kantor akan pulang ke apartemen menemani Clara makan malam.
Muti kembali ke kamarnya, karena lelah akhirnya dia tertidur. Muti tidak tahu jam berapa Sultan masuk ke kamar mereka, saat dia terbangun pukul 03.00 dini hari, baju tidur untuk Sultan yang Muti siapkan sudah tidak ada di tempatnya dan Muti tidak menemukan Sultan ada di dalam kamarnya.
Dia bangkit, berwudhu dan melaksanakan tahajud, lalu keluar kamar untuk mencari Sultan.
Ternyata Sultan berbaring di sofa dengan televisi yang hidup di hadapannya. Muti mendekat, tapi dia tidak ingin membangunkan Sultan.
Kemudian Muti kembali ke kamar, mengambil selimut dari dalam lemari dan turun kembali ke bawah untuk menyelimuti suaminya.
Muti tidak kembali ke kamar, tapi dia tertidur di dekat Sultan, Muti duduk di lantai dengan kepala bersandar di sofa.
Ketika tubuhnya merasa hangat, Sultan pun terbangun, dia terkejut melihat Muti tertidur di sana dan dirinya sudah memakai selimut.
Sultan duduk, dia memperhatikan Muti, ada rasa iba timbul di dasar hatinya, kenapa Muti selalu bersikap baik dan perhatian, padahal dirinya selalu mengabaikan.
Namun saat Sultan ingat Clara, sikap cuek dan egonya kembali muncul, siapa suruh Muti menerima perjodohan dengannya, dia kan tahu jika Sultan tidak setuju dan tidak mungkin mencintainya.
"Hei, bangun! Ngapain kamu tidur di sini!" seru Sultan hingga membuat Mutiara terkejut.
Muti mendongakkan wajahnya, sambil menguap dan menutup mulutnya, lalu berkata, "Aku tertidur di sini, maaf ya Kak, jika kehadiranku membangunkan Kak Sultan."
"Bawa kembali selimut ini, besok kamu bereskan kamar di bawah dan tidurlah di sana! Karena kita tidak bisa tidur sekamar. Kamar atas akan aku pergunakan, sekaligus untuk tempat kerjaku!" ucap Sultan sambil berlalu menuju kamarnya.
Muti mengikuti Sultan sambil membawa selimutnya kembali, lalu sesampainya mereka di kamar, Muti pun bertanya, "Kenapa Kak? kenapa kita harus tidur terpisah? bukankah suami istri harusnya tidur di kamar yang sama?"
"Aku kan sudah bilang sama kamu Mut, jangan pernah berharap tentang pernikahan ini. Waktu di Bali kita terpaksa tidur sekamar karena semua sudah diatur oleh Papa bukan? Nah, ini adalah rumahku, jadi sekarang harus ikut peraturanku," ucap Sultan, laku merebahkan dirinya di kasur.
Muti tidak menjawab apapun, sekarang lebih baik dia pentingkan suara panggilan subuh ketimbang berdebat dengan Sultan. Muti pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu mengambil perlengkapan ibadahnya dan siap menghadap sang pencipta.
Selesai ibadah, Muti hendak ke dapur, menyiapkan sarapan dan membersihkan rumah karena mereka belum mempekerjakan pembantu rumah tangga.
__ADS_1
Namun saat dia sudah diambang pintu keluar, Muti pun berkata tanpa menoleh ke arah Sultan, "Sholat lah! sebelum kita di sholatkan."
Muti tidak mau banyak bicara, cuma pesan itu yang dia ucapkan sembari berlalu dan menuruni anak tangga menuju dapur.
Ketika Muti membuka kulkas, isinya hanya roti, susu, telur dan selai kacang serta coklat. Kemudian Muti memanfaatkan apa yang ada, membuat roti bakar dan telur ceplok.
Karena Muti melihat di sana ada kecap makanya dia ingin sarapan dengan telur ceplok dan kecap sementara untuk Sultan roti bakar serta susu.
Setelah selesai, Muti meletakkan makanan tersebut di meja makan. Lalu, diapun melanjutkan pekerjaan membersihkan rumah, mengepel serta menyiram tanaman.
Semua pekerjaan telah Muti selesaikan dan dia melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 06.50 pagi, tapi Sultan belum juga turun. Kemudian Muti naik ke lantai atas untuk membangunkan Sultan, ternyata Sultan sudah bersiap hendak pergi ke kantor.
"Kamu kemana saja! Bukannya menyiapkan bajuku malah keluyuran tidak jelas!" bentak Sultan.
Muti menghela nafas, dia tidak membantah apapun, lalu dia berkata, "Sarapan sudah aku siapkan, tapi berhubung di kulkas tidak ada bahan makanan, jadi aku hanya membuat roti bakar serta susu untuk Kakak. Jika aku boleh menumpang, aku ingin belanja kebutuhan dapur di supermarket atau pasar terdekat. Itupun jika Kak Sultan izinkan," ucap Mutia.
"Ya sudah, bersiaplah! Aku tunggu di bawah sambil sarapan," jawab Sultan sembari keluar dari kamar.
Mutipun bergegas, mengganti pakaian, berdandan ala kadarnya dengan riasan natural. Tapi walaupun dandanan Muti sederhana, dia tetap terlihat sangat cantik.
Setelah selesai, Muti menghampiri Sultan di meja makan, lalu berkata, "Maaf Kak, setelah dari pasar, apa boleh, aku ke rumah ibu? Aku ingin menemui Elena sekaligus mengambil motor agar aku tidak menyusahkan Kakak bila hendak pergi ke pasar atau kemanapun."
"Apa kamu pikir aku tidak sanggup untuk membelikan mu motor, hah! kamu terlalu menyepelekan dan menghina keluarga Hendrawan!" ucap Sultan marah.
"Bukan begitu Kak, Kak Sultan salah paham. Daripada motorku nganggur di rumah, bukankah lebih baik aku gunain di sini," ucap Muti berusaha menjelaskan.
"Sudah, jangan membantah! Apa kata orangtuamu nanti, jika aku membiarkanmu datang ke sana sendiri. Nanti siang, aku akan ke dealer membeli mobil untuk mu beserta mencari seorang sopir untuk mengantar kemanapun kamu akan pergi," ucap Sultan.
Kemudian Sultan berkata lagi, "Makanlah dulu sarapanmu, aku tunggu kamu sambil memanaskan mesin mobil. Buruan! Aku tidak suka menunggu terlalu lama."
Muti pun menikmati sarapannya setelah itu buru-buru menghampiri Sultan yang sudah duduk di dalam mobil.
__ADS_1