MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 105. TERKENANG


__ADS_3

Saat masuk rumah Clara memeriksa sekeliling, dia takut Bi Tina pergi membawa barang-barang berharga yang ada di rumah itu.


"Ngapain kamu? Apa yang kamu cari Clara?" tanya Sultan heran.


"Aku harus memeriksa semua ruangan Kak, siapa tahu Bi Tina pergi membawa barang-barang kita, bukannya dia belum terima gaji?"


Sultan geleng kepala, lalu dia berkata, "Jangan selalu berburuk sangka Clara? Ingat kamu sedang hamil, ajarkan kebaikan sejak dini kepada bayi kita. Sekarang aku mau ke atas dulu, nanti sore mau ke kantor untuk mengemas barang-barang dan memindahkannya ke kantor cabang," ucap Sultan sambil menaiki anak tangga dan pergi ke kamarnya.


Sementara, Clara berkeliling rumah dari mulai lantai bawah sampai semua kamar yang ada di lantai atas.


Setelah itu, Clara kembali ke dapur dan mencoba menghubungi Hardi.


Kali ini panggilannya tersambung dan karena takut ketahuan Sultan, maka Clara bicara setengah berbisik. Dia meminta Hardi untuk menjemputnya nanti sore setelah Sultan berangkat ke kantor.


Hardi pun setuju, dia memang ingin bertemu Clara untuk meminta uang, karena stok uangnya juga sudah menipis.


Clara menutup panggilannya, lalu dia keatas menyusul Sultan. Ternyata Sultan sedang mandi dan Clara menyempatkan diri untuk membuka akun sosmednya.


Teman-teman Clara pada memamerkan barang-barang branded di Facebook, mereka baru saja pulang jalan-jalan keliling Asia.


Sementara kehidupan Clara sekarang sudah seperti katak dalam tempurung, dirinya hanya bisa mengintip status teman-temannya saja, tanpa berani berkomentar.


Sultan yang sudah selesai mandi, mengeringkan rambut, lalu dia mencari pakaiannya yang biasa diletakkan di atas kasur setiap kali dirinya selesai mandi.


Sultan mendesah, dia jadi teringat Muti, teringat perhatian-perhatian kecil yang selalu dia berikan meski tanpa Sultan minta.


Akhirnya Sultan mengambil pakaiannya sendiri di dalam lemari. Sultan tertegun memandangi isi lemari, dia kembali teringat Muti yang biasanya, menyusun baju miliknya sesuai urutan hari pemakaian, jadi tidak ada warna baju yang sama dipakai dalam setiap minggunya.


Sultan sedih, dia mulai merasakan ada yang hilang di rumah itu.


Tanpa menghiraukan Clara yang masih asyik dengan ponselnya, Sultan turun menuju dapur, dia ingin makan buah.


Sultan membuka kulkas, mengambil sebuah apel lalu mengarahkan ke mulutnya, kali ini tidak ada yang melarang.

__ADS_1


Saat ada Muti, dia akan mengambil buah dari tangan Sultan dan mengupaskannya, lalu memotong-motong kecil di piring hingga Sultan hanya tinggal memakannya saja.


Kembali Sultan mendesah sambil berjalan meninggalkan dapur. Sultan keluar ke halaman belakang, dia melihat bunga-bunga kesayangan Mutiara.


Biasanya Muti saat sore menyempatkan diri menyiraminya. Hari ini dan seterusnya tidak akan ada yang peduli hingga bunga-bunga itu nanti mengering dan mati.


Kemudian Sultan naik kembali ke lantai atas, dia berjalan menuju balkon.


Di sana Sultan mengeluarkan sebatang rokok dan kembali ingat Muti.


Muti selalu melarang, saat dia melihat Sultan merokok dan tidak akan membiarkan balkon kotor dengan adanya puntung rokok.


Sultan memandang jauh ke depan, rasanya dia ingin berteriak sekuatnya. Sultan tidak tahu perasaan apa yang sedang menghimpit dadanya saat ini.


Dulu Sultan ingin secepatnya berpisah dari Muti, nah... sekarang setelah berpisah malah menimbulkan beban di hati dan di pikirannya.


Saat Sultan memijat-mijat kepalanya yang sakit, tiba-tiba Clara datang dan memeluknya dari belakang sambil berkata, "Ternyata Kak Sultan ada di sini, aku sejak tadi mencari-cari, katanya Kak Sultan mau ke kantor, kok malah bengong di sini."


"Hemm, iya. Ayo turun, aku mau ke kantor sekarang dan mungkin malam aku baru kembali," ucap Sultan.


"Aku ingin menata ulang kantor ku yang baru, biar ada perubahan suasana. Jadi, tidak usah kamu tunggu aku makan malam, aku mungkin makan malam di kantor."


"Iya Kak, kira-kira jam berapa Kak Sultan pulang?"


"Belum tahu, jika cepat selesai, aku akan cepat pulang."


"Tolong, kamu siapkan baju ganti dan bawa tas kerjaku sekalian. Aku tunggu di bawah ya, sambil memakai sepatu. Oh ya, jangan lupa Clara, ambilkan juga dasiku!" ucap Sultan.


Terpaksa Sultan mengingatkan Clara tentang tugasnya, karena dia tidak seperti Mutiara yang paham dan tidak musti menunggu diperintah.


Clara mencebikkan bibirnya, dia rada kesal kenapa Sultan tidak mengambil sendiri tas kerjanya, padahal saat ini mereka sama sedang berada di lantai atas.


Sambil bersungut-sungut, Clara masuk ke kamar, dia asal mengambil baju dan juga dasi, setelah itu menyambar tas Sultan tanpa memeriksanya terlebih dulu, apakah masih ada yang tertinggal atau tidak.

__ADS_1


Sementara Sultan, mengambil sepatu dari rak, yang biasanya sudah di siapkan oleh Muti di dekat pintu keluar.


Bahkan terkadang jika Sultan pulang lelah dan tertidur di kursi, Muti selalu membukakan sepatu serta kaus kaki dan meletakkan di tempatnya seperti biasa.


"Ah...," desah Sultan. Ternyata penyesalan selalu datangnya terlambat. Sekarang, semuanya sudah tidak sama lagi seperti dulu. Sultan harus membiasakan diri melakukan semuanya tanpa bantuan dari Mutiara.


"Ini Kak!" ucap Clara sembari menyerahkan semua yang Sultan minta ambilkan.


"Aduh Clara, kenapa dasinya yang ini! Coba kamu perhatikan, apa warnanya matching atau tidak dengan baju yang aku pakai!"


"Sudahlah Kak, pakai saja! Aku capek jika harus balik lagi, mana naik turun tangga."


Sultan malas berdebat, dia akhirnya memasukkan dasi ke dalam tas dan tidak jadi memakainya.


Kemudian Sultan pamit, dia menunggu Clara mengulurkan tangan, tapi malah Clara asyik dengan ponselnya.


Kembali Muti yang unggul, biasanya Muti akan mengulurkan tangan dan mencium tangan Sultan ketika dia hendak berangkat bekerja.


Sultan mengucap salam tapi Clara bukannya menjawab, malah tersenyum-senyum sendiri melihat akun sosmednya.


Akhirnya Sultan bergegas masuk ke dalam mobil dan tanpa basa-basi lagi, dia menutup kaca mobil, lalu menjalankan mobilnya dengan perasaan kesal.


Sepanjang perjalanan, Sultan merenungi kesalahan-kesalahan yang selama ini telah dia perbuat terhadap Mutiara.


Mungkin saat ini memang waktunya, Sultan harus menuai karma dari perbuatannya, yang telah mengabaikan Mutiara.


Dengan kencang Sultan melajukan mobilnya menuju ke kantor Mutiara, dia berharap bisa melihat Muti meski dari kejauhan.


Saat Sultan tiba di parkiran, para karyawan sudah pada bubar, keluar kantor hendak pulang.


Sultan memang sengaja datang ke kantor, menunggu para mantan karyawannya pulang, hingga dia tidak akan mendapatkan banyak pertanyaan saat membereskan barang-barang dari ruangannya.


Namun, Sultan belum melihat Muti keluar kantor. Dia menunggu sejenak, tapi Muti belum juga terlihat.

__ADS_1


Akhirnya Sultan memutuskan untuk masuk, dia berpapasan dengan security, lalu menanyakan apakah Mutiara sudah pulang atau belum.


Security mengatakan jika Muti masih ada di ruangannya dan kemungkinan hari ini dia akan kerja lembur.


__ADS_2