MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 90. MERASA BERKUASA


__ADS_3

Bi Tina yang mendengar suara bel berbunyi tergopoh-gopoh membuka pintu. Beliau berpikir barang kali Tuan atau Nyonya rumah yang pulang, tapi melihat seorang gadis asing yang sama sekali tidak dia kenal berdiri di depan pintu, Bi Tina pun harus waspada.


"Maaf, siapa Anda Nona?" tanya Bi Tina.


"Kenalkan Bi, namaku Elena. Aku teman Mutiara dan kami sudah seperti saudara, karena aku tinggal di rumah Ayah Muti."


"Oh, Nyonya Muti nya belum pulang, tapi mungkin sebentar lagi juga sampai."


"Oh ya sudah Bi, biar aku tunggu di teras saja," ucap Elena.


"Masuk saja Non, tunggu di dalam, nggak enak membiarkan tamu duduk di luar. Lagipula Non keluarga Nyonya Muti."


"Terimakasih Bi," jawab Elena.


"Sebentar ya Non, Bibi buatkan Teh dulu."


"Jangan repot-repot Bi, tadi aku juga baru minum teh."


"Nggak apa-apa Non, lagipula Bibi juga ada pisang goreng jadi pas untuk teman ngeteh."


"Terimakasih ya Bi," ucap Elena.


Elena menunggu Muti sembari memainkan game dalam ponselnya, tidak lama kemudian terdengar suara mobil berhenti di luar, Bibi yang baru saja menyajikan teh, langsung mengintip dari balik jendela.


"Muti ya Bi?" tanya Elena.


"Bukan Non, tapi Nyonya Clara," ucap Bi Tina sembari membuka pintu.


Clara merasa aman saat diluar tidak melihat mobil Sultan, tapi dia heran kenapa ada mobil lain di sana. Saat Bi Tina membukakan pintu diapun bertanya, "Mobil siapa itu Bi?"


"Oh, tamu Nyonya Muti, Nya."


"Memangnya Muti sudah pulang?"

__ADS_1


"Belum Nya, barangkali sebentar lagi."


"Kenapa kamu sembarangan memasukkan Tamu, hah! Di rumah sedang tidak ada orang, bagaimana jika berniat tidak baik," ucap Clara sembari menerobos masuk.


"Hei, siapa kamu! Kenapa berani-beraninya masuk rumah ini, sementara semua orang belum pulang! Siapa kamu rupanya! Dan sebaiknya kamu tunggu di luar saja! Aku lagi nggak mood melihat orang asing ada di dalam rumahku!"


Elena pun mendongak mendengar ocehan wanita yang dia kenal itu, lalu dia pun bangkit dan berkata, "Oh, Nyonya rumah, sejak kapan ya? setahuku ini bukan rumah Anda, kok ada ya orang tidak tahu malu mengakui rumah orang lain sebagai rumahnya. Ternyata bukan suami saja yang rampas bahkan rumah juga diakui menjadi hak milik!" ucap Elena sambil bertepuk tangan.


"Kamu jangan kurang ajar ya, ini rumah suamiku, otomatis juga menjadi rumahku dan aku berhak mengusir siapa saja dari sini, termasuk kamu, tamu tak tahu diri!"


"Mana buktinya jika kamu benar Nyonya rumah di sini, surat nikah saja kamu tidak punya apalagi sertifikat rumah yang menandakan kamu pemilik. Hahaha...kasihan sekali kamu, status tidak diakui," ejek Elena.


"Kamu!" ucap Clara sembari melayangkan tangan hendak menampar Elena. Tapi dengan cekatan, elena menangkis tangan Clara yang hampir mendarat di pipinya.


Clara mengaduh, dia jatuh dan menabrak kursi. "Ba**sat kamu! kalau sampai terjadi apa-apa dengan bayi dalam kandunganku ini, bukan kamu saja yang akan dihajar oleh Kak Sultan, bahkan teman mu itu juga pasti akan diusir dari sini!" seru Clara.


"Hahaha...diusir? Nggak salah! Kalian yang pantas diusir dari sini, dasar pezinah, pelacur!" ucap Elena yang semakin emosi.


"Bi, kamu kok diam saja! Bantu aku usir dia, kamu mau dipecat!" bentak Clara kepada Bi Tina.


"Bi, ayo usir dia! atau Bibi mau aku usir juga!"


"Baik Nyonya!" jawab Bibi terpaksa. Tapi, Bi Tina masih ragu, dan melihat hal itu Elena pun tersenyum.


Ketika Bi Tina hendak melangkah, tiba-tiba terdengar suara menyahut dari luar, "Siapa yang akan kamu usir! Nggak terbalik? Seharusnya aku yang berhak mengusirmu!" ucap Mutiara.


"Beraninya kalian melawan ku! mentang-mentang kak Sultan tidak ada di rumah. Awas kalian! Pasti akan aku balas, tunggu saja!" ancam Clara sembari menyambar tas nya yang ada di lantai. Namun naas, kakinya tersandung kursi dan dia menyeringai kesakitan dan hampir saja jatuh jika Muti tidak menahannya.


"Jangan sok baik!" ucap Clara sembari bergegas ke kamarnya.


Muti menggelengkan kepala, lalu dia berkata kepada Elena, "Kamu sejak kapan di sini El dan kenapa tidak mengabari ku jika ingin kesini, aku kan bisa pulang lebih cepat," tanya Muti.


"Sengaja, biar surprise," jawab Elena.

__ADS_1


"Ayo silahkan di minum dan makan pisang gorengnya, ntar keburu dingin. Bi, tolong buatkan aku teh ya," pinta Muti.


"Baik Nya."


Sambil menunggu tehnya datang, Muti menanyakan kabar keluarganya kepada Elena, "El, bagaimana kabar ayah, ibu dan juga kedua kakakku?"


"Alhamdulillah mereka sehat Mbak, oh ya, ayah titip salam dan berpesan, hari Minggu Mbak diminta datang ke rumah, karena keluarga dari kampung pada ngumpul."


"Oh, ada acara arisan ya El?"


"Iya barangkali Mbak. Mbak bisa kan? Mereka rindu Mbak Muti lho, terutama Kak Fadlan dan Kak Fadhil."


"Baiklah El, aku usahakan ke sana, tapi aku nggak yakin, Kak Sultan mau. Oh ya, besok bisa temani aku ke dealer mobil, Papa Hendra memintaku untuk membeli sebuah mobil, beliau tidak mau aku kesana kemari naik ojek terus."


"Oke Mbak, nah gitu aku juga setuju. Masa menantu pengusaha besar naik ojek terus, jatuh dong nama baik keluarga. Lagipula Mbak akan mulai ngantor kan, jadi pantas memiliki mobil."


"Tapi untuk sementara aku pakai jasa sopir dulu El, maklum aku belum berani nyetir. Nyesal juga, kenapa dulu tidak mau belajar, padahal dulu, Ayah selalu meminta aku untuk belajar nyetir."


"Nanti, lama kelamaan pasti bisa Mbak. Aku juga dulu bisa nyetir karena terpaksa. Pekerjaan menuntut aku harus bisa membawa mobil. Jika nggak bisa nyetir, pasti kita nggak akan pernah berjumpa 'kan Mbak."


"Iya juga ya El, ayo kita makan dulu pisangnya, atau kamu mau makan malam. Kita beli di persimpangan sana, karena aku tadi tidak meminta Bibi untuk masak."


"Nggak usah Mbak. Oh ya Mbak, sampai kapan si ular itu di sini? Apa Mbak Muti bisa tahan! Aku saja yang baru beberapa menit jumpa dia, rasanya pingin menjambak habis rambutnya. Sok berkuasanya itu lho Mbak, yang buat kita hilang kesabaran.


"Tenang El, nggak akan lama dia di sini. Aku juga sudah neg, lihat dia perintah-perintah Bibi seenak hatinya saja, mentang-mentang dia sedang hamil, semua jadi alasan untuk dia bermalas-malasan. Lagipula dia selalu mengancam mau memecat dan mengusir Bibi, padahal bukan dia yang membayar gaji."


Saat mereka asyik mengobrol, Sultan pun pulang, lalu Elena juga pamit karena dia janji dengan Ayah tidak akan pulang larut.


Bersambung....


Selamat siang sahabat, selamat weekend ya, semoga kita selalu di beri kesehatan, kelimpahan rezeki, kebahagiaan dan juga keberkahan usia.


Sambil menunggu aku Up besok, Yuk mampir juga ke karya sahabatku dan jangan lupa dukung karya kami ya, terimakasih πŸ™πŸ˜˜

__ADS_1



__ADS_2