
"Terimakasih Ayah sudah menerima Saya sebagai calon menantu," ucap Adam sembari memeluk ayah Danu saat dia dan rombongan pamit pulang.
"Ayah yang seharusnya berterimakasih kepada kamu Nak! kamu telah memperlakukan putri kami dengan sangat istimewa," ucap ayah sembari memeluk Adam.
"Muti memang wanita istimewa Ayah, yang telah Allah hadiahkan untuk kita semua."
"Iya, kamu benar Nak," sahut Papa Hendrawan yang juga memeluk Adam.
Setelah pamit kepada para orangtua, Adam pun menghampiri Muti dan dia mengatakan jika nanti sore akan menjemput untuk mengantarnya ke bandara.
Muti pun mengangguk, lalu dia mencium tangan Adam sebelum calon suaminya itu pulang bersama yang lain.
Setelah rombongan Adam dan para tetangga pulang, kini giliran Hendrawan dan istrinya yang berbicara dengan Ayah Danu.
"Dan, Mbak, bagaimana dengan hubungan Raja dan Elena. Kalau kita barengkan saja dengan pernikahan Muti dan Adam, apa kalian tidak keberatan?" tanya papa Hendra.
"Kita tanya mereka saja Hen, kalau kami tidak keberatan," jawab ayah Danu.
"Sebentar Yah biar Ibu panggil Elena kesini, dia masih di dapur bersama Muti, membantu Bibi," ucap Ibu.
"Iya Jeng, aku juga mau panggil Raja dulu. Tadi aku lihat Raja di luar sedang menelepon temannya," ucap Mama Sultan.
Kedua Mama itupun mencari anak-anaknya supaya mereka bisa rembukan mengenai pernikahan keduanya.
Saat keduanya sudah berkumpul bersama para orangtua, Papa Hendra pun bertanya, "Ja, Elena, bagaimana jika pernikahan kalian kita barengkan saja dengan pernikahan Mbak Muti dan Mas Adam?"
"Raja ngikut saja Pa, bagaimana baiknya."
"Kamu Nak El, apa juga setuju?"
"Elena terserah Raja saja Pa."
"Nah, kalau semua sudah setuju, bulan depan gantian kami ya Dan, yang datang mengajukan lamaran?"
"Akhirnya kita berbesan lagi ya Hen," ucap Ayah Danu.
"Iya Dan, mudah-mudahan pernikahan mereka nantinya langgeng sampai maut memisahkan."
"Aamiin," jawab para Mama, Raja, Elena dan Muti.
__ADS_1
Kalau begitu, kami permisi dulu ya Dan. Mengenai tanggal lamaran, kalian tentukan saja dan segera kabari kami."
"Baiklah Hen, kami akan berembuk dulu," jawab Ayah Danu.
Kemudian keluarga Hendrawan pun pamit karena Raja harus segera ke kantor. Ini hari pertama dia mulai bekerja menggantikan Muti.
Sultan yang tinggal sendirian di rumah, sudah memasukkan sebagian pakaiannya kedalam koper. Lusa, dia juga akan berangkat ke Inggris untuk meneruskan kuliahnya.
"Sudah beres! Sekarang aku mau makan dulu sambil menunggu Papa dan Mama pulang," monolog Sultan.
Sultan bergegas ke dapur, belum sempat dia mengambil makanan, ponselnya berdering.
"Clara, ngapain dia menelepon ku!" monolog Sultan.
Sultan mengabaikan panggilan dari Clara dan mulai mengambil makanan.
Namun ponselnya terus saja berdering hingga membuat Sultan kesal.
Ketika dia hendak mematikan ponsel, suara panggilan pun berhenti dan beberapa saat kemudian masuk pesan dari Clara.
Sultan membuka pesan tersebut dan dia terkejut membaca isinya.
Clara mengirim video saat mereka sedang indehoi di apartemen dulu.
Kemudian masuk pesan lagi.
"Bila para kolega Hendrawan group melihat video itu, kamu pasti tahu kan Kak, apa akibatnya bagi bisnis keluarga kalian!"
"Dasar, wanita keparat! masih berani dia mengancam ku!" monolog Sultan.
Kemudian Sultan menelepon Clara, amarahnya memuncak. Dia ingin tahu apa yang Clara inginkan dari ancamannya tersebut.
Clara tersenyum melihat layar ponselnya, umpannya berhasil. Lalu dia mengklik, menerima panggilan dari Sultan.
"Hallo Sayang, apa kabar kamu sekarang?" tanya Clara dengan manja.
"Tidak usah kamu berbasa basi Clara! Aku muak dengan kepura-puraanmu. Sekarang, apa yang kau inginkan! Jangan coba-coba kau celakai Muti, atau aku akan membuat kau menyesal dan tidak akan pernah melihat matahari lagi!" ancam Sultan yang tersulit emosi.
"Sabar Sayang, sebaiknya kita bertemu dan bicarakan semuanya di tempat biasa. Aku rindu dengan kenangan kita dulu Yang. Aku tunggu kamu di sana, dua jam dari sekarang. Jika kamu tidak datang, kamu akan lihat, Hendrawan tidak akan punya muka di hadapan para koleganya!"
__ADS_1
"Kamu jangan kurang ajar Clara, jangan kau bawa Papaku dalam masalah kita! Aku akan kesana sekarang juga!"
Sultan pun tidak jadi menyentuh makanannya, dia berlari ke kamar untuk mengambil jaket serta kunci mobilnya.
Sebelum berangkat, Sultan berpesan kepada Bibi agar menyampaikannya kepada Papa Mama bahwa Sultan pergi menemui teman-temannya.
Setelah itu diapun buru-buru menuju garasi, dengan mengendarai motor, Sultan pergi ke tempat, di mana dulu dirinya biasa nongkrong bersama Clara.
Clara mengambil tas, dia senang hari ini akan bertemu Sultan lagi. Clara akan berusaha agar bisa balikan, karena Hardi sudah tidak bisa dia andalkan lagi.
Hardi selalu sibuk dengan wanitanya yang baru. Dia hanya datang satu kali seminggu untuk menemui Clara dan memberikan uang yang tidak seberapa jumlahnya.
Hidup Clara terancam, pemilik kontrakan terus mendesaknya, jika dia tidak membayar kontrakan minggu depan, Clara harus angkat kaki dari rumah itu.
Jangankan membayar kontrakan, untuk biaya makan saja dia harus mengencangkan ikat pinggang.
Padahal dokter kandungan menyarankan, agar Clara mengkonsumsi makanan bergizi dan rajin kontrol. Bayi dalam kandungannya tidak berkembang dengan baik.
Stres membuat Clara tertekan, belum lagi orangtuanya di kampung sakit-sakitan dan minta dikirimin dana untuk berobat.
Clara sudah kehabisan akal harus berbuat apa, makanya dia menghubungi Sultan.
Saat dia tengah bersiap untuk berangkat, tiba-tiba perutnya terasa sakit hingga membuat Clara menyeringai dan mendesis, karena sakitnya semakin menjadi.
Clara tidak mau rencananya hari ini gagal. Dengan sempoyongan dan sambil memegangi perutnya, diapun keluar dari rumah. Ternyata, ojek online yang dia pesan sudah menunggunya.
"Kenapa Mbak? Mbak sakit?" tanya sang driver saat melihat Clara menahan sakit.
"Ayo Mas kita berangkat, aku tidak apa-apa kok, hanya sakit perut saja. Sebentar lagi juga hilang, karena aku sudah sering seperti ini."
"Sepertinya Mbak sedang hamil ya, harus rajin periksa kandungan kalau begitu Mbak. Jangan-jangan ada masalah dengan bayi yang ada dalam kandungan Mbaknya," saran sang driver.
"Iya Mas, saya tahu," ucap Clara. Motor pun melaju ke cafe tempat dia dan Sultan akan bertemu.
Sesampainya di sana, Clara langsung menuju ke tempat duduk yang dulunya sering mereka gunakan.
Kebetulan pengunjung cafe tidak terlalu ramai, jadi banyak bangku kosong termasuk yang saat ini Clara duduki.
Clara menunggu kedatangan Sultan sambil memesan minuman dan dia meminta tolong kepada pelayan untuk membelikannya obat sakit perut.
__ADS_1