
Ayah mempersilakan Adam untuk masuk, tapi Adam merasa tidak enak karena hari sudah larut dan Adam berjanji lain waktu akan datang untuk bersilaturahmi, mengunjungi Ayah dan Ibu.
Elena menarik lengan Ayah dan mengajak beliau masuk, dia sengaja ingin memberi kesempatan kepada Muti dan Adam untuk berbicara sebelum Adam pulang.
Adam tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, lalu dia berkata, "Mudah-mudahan secepatnya aku bisa memenuhi undangan Ayah, sekaligus membawa iringan untuk menjemput Mbak Muti sebagai pengantinku!" ucap Adam sembari tersenyum.
"Mas Adam yakin? Nggak bakal nyesal? Masih banyak lho Mas gadis cantik diluaran sana. Kenapa Mas Adam malah menunggu aku menjadi janda?" tanya Muti.
"Aku sangat yakin Mbak dan aku akan menunjukkan keseriusan ku, kapanpun Mbak Muti memintaku untuk datang ke hadapan Ayah, aku siap!" ucap Adam.
"Bagaimana jika aku minta Mas Adam datang tiga bulan kedepan?"
Adam mematung, dia tidak menyangka jika malam ini Muti akan memberinya keputusan.
Muti yang melihat Adam mematung, lalu melambaikan tangan di depan wajahnya, hingga membuat Adam terkesiap dan langsung bertanya, "Mbak Muti serius?"
Muti pun mengangguk dan hal itu membuat jantung Adam kembali berdetak tidak karuan, lalu spontan dia berucap, "Alhamdulillah, akhirnya penantian ku berakhir. Apakah ini berarti, Mbak Muti dan Sultan sudah bercerai?"
Muti kembali mengangguk, lalu dia berkata, "Hanya tinggal menunggu ketuk palu Mas," jawab Muti.
Wajah Adam terlihat berseri-seri, rasanya dia sudah tidak sabar ingin segera menarik Muti ke dalam pelukannya. Tapi, hal itu tidak mungkin dia lakukan saat ini.
Kemudian Adam berkata lagi, "Terimakasih Mbak, aku tidak tahu bagaimana cara mengutarakan kebahagiaan ku saat ini. Tapi yang pasti, malam ini aku sangat bahagia. Jawaban Mbak Muti, menjadi kado terindah di hari ulangtahun ku," ucap Adam sembari mengatupkan kedua tangannya.
"Mas Adam hari ini ulang tahun? Kenapa tidak bilang Mas? Jika tahu, aku dan Elena pasti akan membelikan kado untuk Mas Adam, meski mungkin nilainya tidak seberapa," ucap Muti.
"Allah sudah memberikan kado yang lebih indah dari apapun Mbak, dengan menggerakkan hati Mbak Muti untuk memberiku keputusan," jawab Adam yang tidak bisa menyembunyikan senyum kebahagiaan di wajahnya.
Muti pun merasa terharu, mungkin ini memang jalan yang Allah tunjukkan untuk mempersatukan dirinya dengan Adam.
Kemudian Adam berkata lagi, "Kalau begitu, mulai sekarang aku akan mempersiapkan semuanya Mbak! Aku akan datang kesini tiga bulan kedepan, bukan untuk meminang, tapi langsung membawa iringan pengantin."
__ADS_1
Elena dan Ayah yang masih menunggu Muti di balik pintu dan mendengar percakapan mereka, ikut bahagia. Ayah hanya berharap kebahagiaan Muti akan segera tiba.
Kesalahannya selama ini yang telah memaksakan jodoh untuk Muti akan dia tebus. Ayah akan memberikan restu kepada keduanya untuk membina rumah tangga yang bahagia.
Saking senangnya, Ayah buru-buru masuk ke dalam kamar, beliau membangunkan ibu yang sudah tidur sejak tadi.
Ibu pun kaget, lalu beliau bangun dan duduk menatap ayah sambil bertanya, "Ada apa Yah? kenapa Ayah membangunkan ibu dan Ayah kelihatannya begitu bahagia! Memangnya Ayah baru dapat undian ya?"
"Iya, ayah dapat hadiah spesial dari Muti."
"Ayah 'kan tidak ulangtahun, kenapa Muti memberi ayah hadiah?" tanya ibu makin penasaran.
"Hadiah untuk kita berdua kok Bu. Muti memberi kita menantu yang baik," ucap Ayah.
"Maksud Ayah?"
"Iya Bu, selepas masa iddahnya, Adam akan datang melamar anak kita," ucap Ayah.
"Ayah nggak sedang bermimpi kan?" tanya ibu sembari membelai wajah ayah yang mulai nampak keriput.
Saat ayah dan ibu tiba di depan pintu, Adam sudah pergi dengan mobilnya, meninggalkan rumah mereka.
Hanya tinggal Muti yang masih memperhatikan mobil Adam yang hampir menghilang di tikungan jalan.
Ibu langsung menghampiri Muti dan memeluknya, sambil berterimakasih. Hal itu membuat Muti bingung dan bertanya, "Ada apa Bu? Ibu sedang bermimpi?" tanya Muti.
"Terimakasih Nduk, ibu yakin kebahagiaan mu akan segera tiba. Maafkan kami ya," ucap ibu sambil memeluk Muti kembali.
"Iya Nduk, selamat ya! Ayah ikut bahagia."
Muti akhirnya tahu, jika kedua orangtuanya mendengar percakapannya dengan Adam.
__ADS_1
"Terimakasih Ayah, doakan Muti ya Yah. Mudah-mudahan hubungan Muti dan Mas Adam mendapatkan ridho hingga kami ke jannah," ucap Muti.
"Mbak, Ibu, peluk aku juga dong! Selamat ya Mbak, aku sangat senang. Sudah cukup penderitaan Mbak selama ini. Kini saatnya Mbak Muti harus bahagia," ucap Elena sembari menghambur ke pelukan ibu dan Muti.
Malam ini semuanya bahagia dan kebahagiaan itu lengkap saat ayah mengatakan jika minggu depan, mereka akan berkunjung ke rumah calon istri Fadhil guna menentukan tanggal pernikahan.
Muti sangat senang mendengar berita tersebut, lalu dia bertanya, "Kenapa nggak Kak Fadhlan duluan Yah? Bukankah lebih baik jika Kakak tertua duluan," ucap Muti.
"Kak Fadhlan belum siap, dia sedang menunggu keputusan beasiswa S2 nya di terima atau tidak. Ayah tidak mau memaksa, cukup kamu saja yang Ayah kecewakan, Ayah tidak mau membuat putra Ayah mengalami hal yang sama," ucap Ayah sedih.
"Sudahlah Yah, jangan diingat lagi, semuanya sudah berlalu. Mulai sekarang kita semua harus kembali bahagia," ucap Muti.
"Oh ya Yah, mudah-mudahan putri Ayah yang satu lagi segera menyusul ku," ucap Muti sembari mencolek Elena.
"Ah Mbak Muti, kami belum berfikir ke arah sana. Raja masih ingin berkarir agar dia pantas di sebut sebagai penerus keluarga Hendrawan," ucap Elena.
"Aku yakin Raja pasti bisa. Setelah aku menikah dengan Mas Adam, aku akan meninggalkan perusahaan El. Jadi, kamu bantulah Raja untuk mengelolanya. Kalian berdua bisa jadi partner yang hebat dalam mengendalikan bisnis," ucap Muti.
"Ya, Muti benar El. Ayah setuju dengan rencana Muti. Ayah tidak ingin orang-orang mengatakan jika anak Ayah serakah, bercerai dari Sultan setelah mendapatkan semua harta keluarga Hendrawan."
"Iya Ayah, Muti akan mengembalikan semuanya kepada yang berhak."
"Ayo kita masuk! Ibu masih ngantuk, tapi malam ini ibu sangat senang, jadi ibu tidak akan memarahi ayah kalian karena membangunkan ibu yang tadi sedang nyenyak tidur," ucap ibu sambil menggandeng tangan Ayah.
Muti dan Elena pun tersenyum melihat kemesraan orangtua mereka.
Keduanya pun menyusul masuk dan membersihkan diri masing-masing lalu bersiap untuk tidur.
Malam ini semuanya tidur lelap dan bermimpi indah akan masa depan yang lebih baik.
Saat fajar tiba semua terbangun, lalu bergegas menjalankan kewajiban kepada
__ADS_1
sang pencipta sebelum melakukan aktivitas yang lain.
Ayah ibu, hari ini akan mempersiapkan syukuran kecil-kecilan dengan cara memberikan sedekah kepada anak yatim serta fakir miskin sebagai tanda rasa syukur mereka akan kebahagiaan yang keluarga ini terima.