
Muti terbangun tengah malam, dia memperhatikan wajah tampan yang tidur sambil mendekapnya.
Dia tidak pernah menyangka, kalau akhirnya berjodoh dengan Adam, pria yang banyak menolongnya saat perjalanan bulan madunya dulu dengan Sultan.
Muti meraba wajah Adam dan ketika sampai di hidungnya, tiba-tiba mata Adam terbuka.
Adam mencium Muti lalu berkata, "Kenapa Yang? Baru tahu jika aku tampan?"
Muti mencebikkan bibirnya hingga membuat Adam gemas dan ********** kembali. Dia memainkan bibir mungil itu, menyesapnya hingga Muti kesulitan bernafas.
Setelah melihat Muti kesusahan bernafas, barulah Adam menghentikan ciumannya.
Kemudian Adam membenamkan wajahnya, di area bukit indah dan bermain-main di sana.
Muti mendesah lalu berkata, "Stop Mas, nanti keterusan, ini masih sakit, besok pagi aku pasti susah berjalan. Malu dengan Mama Papa dan juga Ayah ibu."
"Ya sudah, kita di kamar saja seharian, mereka juga pernah mengalami, pasti paham. Lagian kamu sih yang membangunkan, jadi harus tanggungjawab!" seringai Adam.
Tapi sebenarnya Adam hanya bercanda saja, dia menyayangi Muti dan tentu saja dia harus menjaga dan memperhatikan kesehatan istrinya itu.
"Sini peluk Aku Yang!" ucap Adam saat Muti menjauh.
"Ampun Mas, besok ya! hari ini stop, aku lelah."
"Sini dong, Please!"
Muti tidak mau menjadi istri durhaka melawan keinginan suami. Kemudian dia beringsut mendekat. Saat dirinya sudah dekat, Adam menarik Muti ke dalam pelukannya dan juga menarik selimut, lalu kembali mengajaknya tidur.
Muti lega, ternyata Adam tidak meminta haknya lagi malam ini.
Pagi-pagi sekali Adam sudah bangun, dia menyingkap selimut yang menutupi istri mungilnya. Muti meringkuk kelelahan, akibat pesta dan pertempuran mereka tadi malam.
Adam menggendong Muti, hingga membuatnya mengerjapkan mata, "Sudah pagi ya Mas. Aku mengantuk sekali."
"Iya, kita mandi dulu. Sebentar lagi masuk waktu subuh."
"Mas duluan aja deh, nanti gantian aku."
"Kenapa Yang, kita bisa hemat waktu lho, biar kita berjamaah subuh."
Adam kemudian berbisik, "Kamu takut ya, memang aku mau minta gantinya tadi malam."
Muti membenamkan wajahnya, dia tahu, pasti akan di tagih janji oleh Adam.
Benar saja, sesampainya di dalam Adam meminta kembali jatahnya.
Keduanya kembali terlibat pertempuran dan berakhir menjelang panggilan berkumandang.
Pagi ini adalah subuh pertama Muti memiliki imam sholat di rumah. Mereka, sama berdoa untuk kelanggengan rumah tangga serta berharap akan segera mendapatkan momongan yang kelak akan menjadi anak-anak sholeh serta sholehah.
__ADS_1
Selesai beribadah, Muti mencium tangan Adam dan Adam pun mencium kening Muti sambil berkata, "Terimakasih atas kejutan yang kamu berikan Yang dan aku minta, jadilah makmumku hingga ke Jannah."
Kemudian Adam memeluk Muti dengan erat. Muti pun membalas perkataan Adam, "Terimakasih Yang, sudah mau menerima kekuranganku. Inshaallah, aku dan anak-anak kita kelak akan mengikutimu hingga ke Jannah."
Kini kebahagiaan sudah Muti dan Adam dapatkan. Dan mengenai cerita masa lalu masing-masing, tidak mungkin bisa dihapus dari kisah perjalanan hidup. Tapi, hal itu akan menjadi pelajaran, agar mereka semakin dewasa dalam berpikir, bertindak serta bijak dalam mengambil keputusan.
Keduanya masih hanyut dalam kebahagiaan, saat terdengar suara ketukan pintu. Ternyata Raja dan Elena yang datang.
Wajah Raja terlihat kurang bahagia, hingga membuat Adam ingin menjahilinya.
Ketika Elena masuk dan menunggu Muti berdandan, Adam pun menarik Raja keluar sambil berbisik, "Kenapa muram Ja? gagal ya?"
"Iya Mas, palang merah."
"Adam pun tak kuasa menahan tawa, tapi akhirnya dia berkata, "Tenang, hanya seminggu. Mas sudah menyiapkan kejutan, kita akan berangkat bulan madu bersama. Mas jamin, akan lebih hot melakukannya di sana."
"Serius Mas! dimana dan kapan berangkatnya?"
"Tapi, kamu harus janji ya! Mereka berdua akan kita beritahu, jika sudah sampai waktunya berangkat."
"Iya aku janji Mas."
"Tiga hari lagi, kita akan mengajak mereka keliling ke beberapa negara dengan menggunakan kapal pesiar. Dan setelah itu akan berlabuh di sebuah pulau, yang sengaja Mas beli untuk Mbak Mu, sebagai hadiah pernikahan. Kelak, di sanalah kami akan menghabiskan hari tua bersama anak-anak."
"Wih, keren Mas. Terimakasih telah mengajak kami. Aku beri hadiah apa ya Mas, ke Elena?
"Oke Mas. Ayo Mas kita lihat mereka, barangkali Mbak Muti sudah selesai dandan. Jangan sampai mereka dengar obrolan kita, bisa gagal surprisenya."
"Iya kamu benar Ja. Oh ya, jangan lupa, atur waktunya. Minimal kita pergi satu bulan."
"Siap Mas!"
"Ayo...ngobrol apa Mas, sepertinya serius banget?" tanya Elena kepada Raja.
"Biasalah, masalah laki-laki."
"Sudah siap Yang, nggak enak Ayah ibu dan orangtua Raja menunggu kita terlalu lama."
"Iya, ini tinggal pakai sepatu."
Sebenarnya, Muti tipe orang yang cekatan dalam bersiap. Tapi, kali ini dia tidak bisa terburu-buru, karena akibat belah duren tadi malam, masih meninggalkan rasa sakit.
Adam tersenyum melihat Muti berjalan tidak seperti biasanya. Lalu, dia mengulurkan lengan dan Muti pun menggandeng lengan Adam sebagai penopangnya berjalan.
Ternyata benar, ayah ibu Danuarta dan Papa mama Hendrawan sudah menunggu mereka dengan hidangan lengkap yang sudah tersedia.
Melihat wajah Muti dan menantunya berseri-seri, Ayah sangat bahagia, akhirnya sang putri berhasil mendapatkan kebahagiaannya.
"Sini Sayang, kalian berdua duduk dekat Mama dan Ibu," pinta Mama Raja kepada Muti dan Elena.
__ADS_1
Sedangkan para pria duduk berdekatan dengan Papa dan Ayah.
Sebelum mereka mulai sarapan, Papa Hendra mengeluarkan dua buah amplop besar. Satu di ulurkan kepada Adam dan satu lagi ke arah Raja.
"Bukalah!"
Saat Adam dan Raja membukanya, mereka saling pandang. Ternyata tiket perjalanan bulan madu dengan kapal pesiar.
"Adam dan Raja sama-sama menepuk keningnya, akhirnya surprise Adam akan bocor sebagian."
"Kenapa kalian?" tanya Ayah.
"Nggak apa-apa Yah, hanya gagal saja," jawab Raja.
"Gagal apa Ja?" tanya Papa Hendra.
"Papa sih, ngejiplak surprisenya Mas Adam. Jadi ketahuan deh..."
"Iya Dam, kamu sudah menyiapkan seperti ini juga?"
Adam pun mengangguk, lalu dia berkata, "Ya, sudah terlanjur dibooking Pa. Begini saja, Adam punya ide. Adam dan Raja tetap dengan rencana kami dan tiket dari Papa kami hadiahkan kembali untuk rencana bulan madu ke dua Mama Papa dan juga Ayah Ibu.
"Setuju!" jawab Muti, Elena dan juga Raja.
"Bulan madu bukan hanya untuk pasangan pengantin baru saja, tapi para orangtua juga butuh berlibur untuk melepas penat. Benarkah Pa, Ayah," ucap Raja.
"Iya deh, kalau begitu kami akan ikuti saran Adam. Sebelum waktu kami habis hanya untuk menggendong dan bermain dengan anak-anak kalian," jawab Papa Hendra.
"Bagaimana Dan, Mbak, apakah kalian setuju?" tanya Hendrawan.
"Mau bagaimana lagi. Ayolah, kita kenang lagi perjalanan bulan madu pertama, dengan mantan-mantan kekasih. Bagaimana Bu, Mbak?" tanya Ayah.
Ibu dan Mama Raja tersenyum malu, saat ini dalam pikiran mereka, sudah terbayang kenangan-kenangan indah, moment bulan madu yang tidak akan terlupakan meski sudah termakan usia.
Melihat para orangtua senang, kedua pasangan pengantin baru itupun merasa senang.
Mereka berharap kebahagiaan akan langgeng seperti kebahagiaan para orangtua yang saat ini sedang tersenyum-senyum sendiri, hanyut dalam kenangan indah mereka masing-masing.
~TAMAT~
Terimakasih kepada sahabat semua yang telah mendukung karya saya, semoga dukungan kalian berkah dunia akhirat.
Hanya sebatas inilah hiburan yang bisa saya suguhkan, lebih dan kurang saya mohon maaf. Apabila ada hikmah yang baik, silakan dipetik dan jika terdapat yang buruk, silakan tinggalkan🙏🥰
Sebagai ucapan terimakasih kepada fans silver ke atas, saya akan sedikit berbagi hadiah, berupa pulsa senilai 50K. (Saya tunggu japrian nomornya, 3 hari kedepan)
Dan bagi sahabat yang lainnya, jangan berkecil hati karena masih ada kesempatan, di karya-karya saya selanjutnya.(Akan ada tambahan jika bisa mencapai Fans Gold dan minimal hadiah akan Saya berikan untuk 3 orang fans teratas)
Akhirul kalam, "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang dan selamat beraktivitas untuk kita semua. Salam sehat dan bahagia."🙏🥰🥰🥰
__ADS_1