
Muti kembali ke ruangan, dia mengerjakan pekerjaan sesuai arahan dari asisten pribadinya.
Awalnya, Muti sedikit kewalahan karena dia belum pernah bekerja sejak tamat sekolah. Tapi, Muti akhirnya bisa menyelesaikan semua tugas-tugasnya berkat kesabaran Dina.
"Terimakasih ya Din, aku pasti tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaan ku tanpa arahan darimu," ucap Muti.
"Ini memang sudah tugas Saya Bu, Pak Hendrawan kemaren memberi perintah langsung kepada Saya untuk mendampingi Bu Muti dalam menyelesaikan pekerjaan. Saya salut dengan Bu Muti, sebentar saja ibu langsung paham dengan penjelasan yang saya berikan," jawab Dina.
"Apa agenda kerja Saya setelah makan siang Din?"
"Ibu harus mengunjungi pabrik konveksi kita dan mengecek langsung produksi pakaian sekolah, sebelum hasilnya kita kirim ke sekolah-sekolah."
"Oh, baiklah Din. Atur saja keberangkatan Saya, sekarang Saya akan makan siang dulu."
"Iya Bu. Ibu mau makan siang di ruangan atau makan di luar? biar Saya atur juga Bu."
"Di perusahaan kita ada kantin untuk makan karyawan 'kan Din?"
"Ada Bu, memangnya kenapa Bu?"
"Saya ingin makan di sana saja Bareng karyawan sekaligus Saya ingin berkenalan dengan mereka."
"Tapi Bu, makanannya tidak ada yang istimewa."
"Semua makanan sama saja Din, yang penting bersih dan sehat. Kalau begitu Saya kesana dulu ya, kamu harus segera menyusul setelah pekerjaan kamu selesai."
"Oke Bu."
Muti keluar dari ruangannya dan dia berpapasan dengan Sultan. Tapi, Muti hanya tersenyum tanpa menghentikan langkahnya menuju kantin.
"Tunggu! Kamu ngapain ke arah sana! Ayo kita keluar, ini saatnya makan siang," ajak Sultan.
"Maaf Kak, aku ingin makan di kantin saja," ucap Muti.
"Di sana khusus untuk karyawan, ngapain juga kamu makan bareng mereka, lagipula ada resto yang sudah dibayar perusahaan, khusus untuk melayani para pimpinan dan juga klien perusahaan kita. Ayo, kita makan di sana!" ajak Sultan lagi.
"Tidak Kak, besok saja aku makan di sana. Hari ini aku makan di kantin saja, sekaligus berkenalan dengan mereka."
"Terserah kamu! yang penting aku sudah mengajak dan memberitahu mu!" ucap Sultan sembari meninggalkan Mutia.
__ADS_1
Muti pun kembali bergegas menuju kantin. Di sana para karyawan satu persatu mulai berdatangan. Mereka terkejut saat melihat Muti, bos baru mereka datang ke kantin.
Dengan ramah Muti menjawab teguran dari para karyawannya dan bahkan dengan hangat dia menyambut uluran tangan dari beberapa orang karyawan yang ingin berkenalan.
Pengurus kantin pun mendekati Muti dan mengucapkan selamat datang, lalu dia bertanya, menu apa yang Muti inginkan.
Muti hanya meminta disajikan makanan sederhana yang banyak digemari oleh para karyawan yang sedang makan. Hal itu membuat pengelola kantin heran. Selama ini belum pernah ada pimpinan yang mau makan bareng di sana apalagi tanpa membedakan menu juga tempat duduk.
Sebelum memulai makan, Muti berbicara kepada para karyawannya, dia memperkenalkan diri dan meminta mereka jangan sungkan, tapi menganggap semua adalah satu keluarga yang akan bekerjasama untuk memajukan perusahaan.
Sebagai salam perkenalan dan ucapan syukur, hari ini semua makanan gratis dan Muti yang akan membayar. Para karyawan bersorak mereka senang mendapatkan pemimpin yang tidak kaku, tidak sombong serta baik hati.
Semua makan dengan tenang dan lahap begitu juga dengan Mutiara. Setelah itu Muti meminta pengelola kantin untuk menyajikan buah sebagai makanan pencuci mulut untuk semua yang hadir di sana.
Setelah selesai dengan menu penutup, Muti pun pamit untuk kembali keruangan, tapi sebelumnya dia membayar semua pesanan kepada pengelola kantin dan memberikan sedikit tips karena pelayanannya cukup memuaskan bagi Muti.
Sementara para karyawan masih ngobrol, sampai jam istirahat usai. Barulah setelah itu mereka semua kembali ke ruangan masing-masing.
Muti melaksanakan ibadah sebelum memulai pekerjaannya lagi, setelah selesai barulah dia bertanya kepada Dina apakah kendaraan dan sopir sudah siap untuk mengantarnya ke pabrik.
"Maaf Bu, Pak Sultan katanya yang akan mengantar Bu Muti, jadi Saya meminta sopir untuk urusan lain," jawab Dina.
"Oh, ya sudah. Sekarang Saya mau berangkat, apakah Pak Sultan sudah kembali dari makan siang?"
"Oke Din, kalau begitu biar Saya tunggu Bapak di parkiran saja," ucap Muti.
"Iya Bu, nanti biar Dina yang beritahu Bapak."
Muti mengambil tas dan jas kerjanya, lalu dia bergegas keluar kantor menuju parkiran dimana mobil Sultan berada.
Sambil menunggu kedatangan Sultan, Muti pun menelepon ayahnya.
"Assalamualaikum Ayah," sapa Muti saat panggilannya di terima oleh ayah.
"Wa'alaikumsalam Nak, kamu apa kabar?"
"Muti baik Yah. Oh ya Yah, sore ini sepulang dari kantor, Muti akan singgah ke kantor Ayah. Muti ingin membicarakan sesuatu yang penting Yah," ucap Muti.
"Hal apa itu Nduk! Apa kamu bertengkar dengan suamimu?" tanya ayah curiga.
__ADS_1
"Nggak bertengkar Yah, tapi memang harus segera diselesaikan, nanti aja kita bicara ya Yah. Sekarang Muti harus pergi ke pabrik bersama Kak Sultan."
"Baiklah Nduk! Kamu mau dijemput Elena atau datang dengan Sultan?" tanya ayah.
"Aku naik ojek saja nanti Yah, kasihan Elena."
"Oh ya sudah kalau begitu. Ayah tunggu kedatanganmu Nduk."
"Muti pergi dulu ya Yah, itu Kak Sultan sudah datang."
"Pergilah, kamu harus hati-hati ya!" ucap ayah.
"Iya Yah."
Muti pun menutup panggilan teleponnya, lalu dia masuk ke dalam mobil yang sudah di buka pintunya oleh Sultan.
Sultan yang mendengar percakapan terakhir Muti dengan ayahnya, merasa penasaran, lalu diapun bertanya, "Membicarakan apa kamu dengan ayah?"
"Oh, aku nanti sore mau ke kantor ayah kak, setelah jam kantor usai."
"Memangnya mau ngapain?"
"Bertemu ayah, aku harus mengatakan masalah kita kepada ayah agar mereka tidak terkejut nanti saat kita resmi bercerai."
"Kamu yakin dengan keputusan mu? Apa tidak ada cara lain supaya kita bisa tetap hidup tenang dan damai?"
Muti cuma diam, selama ini dia telah memberi kesempatan kepada Sultan, tapi Sultan telah menyia-nyiakan kesempatan itu.
Bahkan Muti rela hidup di madu, tapi Sultan tetap tidak menghargainya sebagai seorang istri. Jadi, menurut Muti tidak ada lagi yang perlu dia pertahankan. Rumah tangga yang dia jalani hanya sebuah kepalsuan dan tidak ada keadilan di dalamnya.
"Kenapa kamu diam? Apa tidak ada cara lain lagi Mut? Aku tidak mau menceraikanmu. Tolong, pikirkan perasaan orangtuaku!" pinta Sultan.
"Sampai kapan Kak! Apa Kakak pernah memikirkan perasaanku?" tanya balik Muti.
Sultan tidak bisa menjawab, dia tahu dirinya memang salah.
"Percuma kita bahas ini lagi Kak, tidak ada cinta di dalam rumahtangga kita. Jadi, untuk apa lagi kita mempertahankannya. Lagipula Kakak sudah memiliki Clara dan sebentar lagi kalian akan memiliki anak. Nah, apa yang aku dapat Kak, jika tetap bertahan?" tanya Muti, yang juga tidak bisa dijawab oleh Sultan.
Bersambung.....
__ADS_1
Hai sobat, hari ini aku rekomendasikan karya sahabatku, yang tidak kalah seru, yuk silahkan mampir dan jangan lupa beri dukungan kalian ya, ke karya kami. Terimakasih ππ