MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 115. MEMINTA RUJUK


__ADS_3

Sultan sudah bersiap dan dia berputar sejenak di kaca sambil melihat penampilannya.


Malam ini dia merasa seperti kembali ke masa sekolah di mana merasa deg-degan, saat pertama kali hendak menyatakan cinta dan datang ke rumah sang kekasih.


"Bismillah," ucap Sultan sambil beranjak keluar kamar. Dan Sultan melihat Mama Papa sudah menunggunya di ruang tamu.


"Sudah mau berangkat Nak! Ini tolong berikan kepada Muti, tadi Mama membuatkan puding untuknya. Puding kelapa ini kesukaannya dan tolong sampaikan juga salam kami untuk Mas Danu sekeluarga," ucap Mama sambil menyerahkan puding di tangannya.


"Ingat ya Nak, apapun keputusan mereka kamu harus ikhlas."


"Iya Pa," jawab Sultan sembari mencium tangan papa dan mamanya.


"Aku berangkat dulu ya Pa, Ma, mudah-mudahan Muti sudah pulang, soalnya kata sekretaris ku, mereka baru deal kerjasama dengan pihak luar dan saat ini banyak yang harus mereka persiapkan," ucap Sultan sembari bergegas menuju mobilnya.


Sultan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, karena dia merasa tidak enak jika sampai ke rumah orangtua Muti mereka sedang makan malam.


Mendekati tempat tujuannya, hati Sultan semakin tidak karuan, perasaan takut, merasa bersalah, malu, campur aduk jadi satu.


Saat ini mobilnya sudah masuk ke pekarangan rumah dan Sultan melihat pintu rumah Ayah Danu terbuka.


Ayah yang sedang menonton televisi bersama Ibu, begitu mendengar suara mobil berhenti dipekarangan merasa penasaran. Karena itu bukan suara mobil Elena maupun Muti.


Saat mereka keluar ternyata Sultan yang datang. Sultan yang melihat Ayah dan Ibu Muti berdiri di ambang pintu makin menciut nyalinya. Pastinya mereka marah atas apa yang telah dia lakukan terhadap putrinya.


Namun, kepalang basah sudah sampai di sana, Sultan pun turun dari dalam mobil dan menyapa keduanya.


"Assalamualaikum," sapa Sultan.


"Wa'alaikumsalam," jawab ayah dan ibu.


"Ayah, ibu, apa kabar?" tanya Sultan sembari mengulurkan tangan.


Ayah menyambut uluran tangan Sultan sembari menjawab, "Alhamdulillah kami sehat."


Saat tangan Sultan mengarah ke ibu, ibu tidak menyambutnya dan beliau berkata, "Ngapain lagi kamu kesini!"


"Maaf Bu, Saya datang kesini ingin meminta maaf kepada Ayah dan Ibu."


"Masuk Nak! Tidak baik bicara di luar!" ajak Ayah.


"Tapi Yah!"


"Bu..."


Ibu pun masuk dan membiarkan Sultan masuk ke dalam.


"Silakan duduk Nak!"


"Terimakasih Yah," ucap Sultan.

__ADS_1


"Sekarang jelaskan, ngapain kamu datang kesini! Apa kamu tidak malu telah menyakiti Mutiara!"


"Tenang Bu, biarkan Nak Sultan bicara, sebaiknya ibu buatkan Ayah dan Nak Sultan teh," pinta Ayah.


"Oh ya Bu, ini ada titipan dari Mama, katanya kesukaan Ibu dan Muti," ucap Sultan sembari memberikan puding kepada ibu.


"Heemm, terimakasih," ucap ibu sembari melangkah ke dapur untuk membuat teh. Beliau sebenarnya kesal, tapi apa boleh buat, ibu tidak pernah membantah perkataan sang suami.


Saat ini ibu ingin melampiaskan kekesalannya kepada sang mantan menantu. Hingga terbersit sebuah ide untuk memasukkan garam serta lada ke dalam teh yang akan disuguhkan kepada Sultan.


Setelah selesai, beliau menyuguhkan dan mempersilakan Sultan untuk minum.


"Silakan minum Nak," ucap Ayah.


"Terimakasih Yah, sebentar lagi nampaknya masih sangat panas."


"Begini Yah, Bu, maksud kedatangan Saya kesini untuk meminta maaf. Saya salah dan Saya menyesal telah menyia-nyiakan Mutiara."


"Kami sudah memaafkan mu Nak, semua sudah terjadi dan takdir jodoh kalian mungkin memang sampai di sini, walau kami para orangtua merasa kecewa tapi kami tidak mungkin memaksakan apa yang tidak mungkin untuk di persatukan lagi."


"Begini Yah, jika boleh memohon, Saya ingin memperbaiki semua kesalahan selama ini. Mohon beri Saya kesempatan untuk terakhir kali Yah! Saya ingin rujuk dengan Muti," ucap Sultan dengan suara bergetar.


"Kami tidak bisa memutuskan Nak! Cukup satu kesalahan Ayah terhadap Muti, yang telah memaksa kalian untuk menikah dan kali ini biarlah dia yang memutuskan untuk kebahagiaan hidupnya."


"Memangnya Muti belum pulang Yah?" tanya Sultan.


"Mungkin sebentar lagi sampai, tadi dia menelpon katanya masih di kantor dan sudah mau jalan pulang."


"Bu, biarlah Muti nanti yang putuskan! Minum dulu Nak!" pinta Ayah.


"Terimakasih Yah!"


Sultan pun meneguk minumannya dan dia tersedak, terbatuk-batuk dan kepedasan.


Ayah yang melihat hal itu menjadi heran, "Pelan-pelan Nak!"


"Bu ambilkan air mineral saja, Nak Sultan tersedak!" pinta Ayah.


Kali ini ibuk tidak bisa mengerjai Sultan lagi, karena air mineral ada di sudut meja ruangan ini.


"Cepat minum Nak, memangnya kamu tidak terbiasa ya minum teh melati. Itu teh kesukaan ayah."


"Iya Yah," jawab Sultan berbohong.


Ibu tersenyum, dalam hati beliau bersorak, biar Sultan tahu rasa, jangan menyakiti anaknya saja.


"Jadi bagaimana dengan pernikahan mu dengan gadis itu?"


"Dia pembohong Yah, aku menyesal, dia telah menipuku mentah-mentah. Anak yang dalam kandungannya bukan anakku!" ucap Sultan malu.

__ADS_1


Saat Ayah asyik berbincang dengan Sultan, Muti dan Elena pun sampai.


Muti terkejut saat melihat mobil Sultan terparkir di halaman.


"Mbak...itu 'kan!" ucap Elena.


"Iya El, aku tidak tahu apa maksud kedatangan Kak Sultan, barangkali membawa surat yang mau di tandatangani."


"Ayo kita masuk Mbak!" ajak Elena.


"Hemm, yuk!"


Keduanya mengucap salam, ibu, ayah dan Sultan sama-sama menjawab salam dari keduanya.


"Apa kabar Mut?" tanya Sultan.


"Alhamdulillah baik Kak, Kak Sultan bagaimana?"


"Seperti yang kamu lihat Mut,


aku baik," jawab Sultan.


"Begini Nduk, Nak Sultan datang ingin membicarakan tentang masalah kalian. Sekarang, kami beri kalian kesempatan untuk bicara. Selesaikanlah! Apapun keputusannya, ayah dan ibu serahkan kepada kamu Nduk."


"Iya Ayah," jawab Muti.


Ayah pun mengajak ibu dan Elena untuk meninggalkan Muti dan Sultan, agar mereka bisa bicara dan menyelesaikan masalah tanpa campur tangan siapapun .


Sekarang hanya tinggal Sultan dan Muti saja di sana, kemudian Sultan pun mulai membuka pembicaraan, "Begini Mut, aku ingin minta maaf, selama ini sikapku sangat buruk telah menyia-nyiakanmu, mengabaikan semua perhatian dan kebaikanmu. Aku menyesal Mut."


"Kak, sebelum Kak Sultan meminta maaf, aku sudah memaafkan Kakak. Mungkin memang sampai di sini jodoh kita. Walaupun kita tidak bersama lagi, kita masih bisa bersahabat, bersaudara, tidak saling menyimpan dendam," ucap Muti.


"Terimakasih Mut, aku terlalu bodoh, tidak bisa melihat berlian malah sampah seperti Clara membutakan mata hatiku."


"Nggak boleh ngomong seperti itu Kak, bagaimanapun sekarang dia istri Kakak dan calon ibu dari anak Kak Sultan."


"Tidak Mut, aku menyesal telah menikahinya. Aku terlalu bodoh, selama ini dia telah membohongiku. Clara selingkuh Mut, dia tidak hamil anakku melainkan anak selingkuhannya," ucap Sultan sembari meraup wajahnya dengan kasar.


"Ini jadi pelajaran buat Kak Sultan. Kak Sultan sudah lama kenal Clara, kenapa begitu mudah tertipu dengan bujuk rayunya."


"Sebenarnya aku sudah lama tahu, jika Clara membohongi Kakak. Tapi, aku ingin Kak Sultan menyadarinya sendiri, betapa jahat dan serakahnya dia. Aku tidak ingin dipersalahkan, dikira pembohong."


"Memang aku yang terlalu bodoh Mut, bisa tertipu begitu lama. Mut, bolehkah aku meminta sesuatu?"


"Apa Kak?"


"Tolong, beri aku kesempatan terakhir untuk memperbaiki pernikahan kita. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik. Kembalilah kepadaku Mut, batalkan gugatan cerai dan kita rujuk," ucap Sultan sembari mengatupkan kedua tangannya.


Bersambung.....

__ADS_1


Apakah Muti akan memenuhi permintaan Sultan? Ikuti terus cerita ini ya sobat dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara follow akun, pavorit, vote, like dan coment yang membangun. Terimakasih 🙏


__ADS_2