
"Sultan gelisah, hingga membuat Papa Hendrawan curiga. Lalu beliau berkata, "Selesai makan, kita lanjut lagi main caturnya, mumpung hari ini kita ngumpul, ntah kapan lagi kita bisa seperti ini," ucap Papa Hendrawan.
"Tapi Pa!" sanggah Sultan."
"Memangnya kenapa? Kamu mau pergi? Apa tidak bisa meluangkan waktu di rumah bersama adikmu? Lusa, Raja sudah harus berangkat," ucap Papa Hendrawan.
"Iya Pa. Tapi, sore nanti kami pulang ya?"
"Bagaimana Mut? Apa kamu sudah baikan? suamimu mengajak pulang sore nanti," tanya Papa saat melihat Muti membereskan piring kotor.
"Sudah sembuh kok Pa, Muti ikut apa kata Kak Sultan saja."
"Ya sudah, nanti sore Mama dan Papa akan mengantar kalian," sahut Mama yang muncul dari dapur.
"Apa Mama tidak capek? Kalau capek, kami pulang sendiri saja Ma, besok baru main ke rumah," ucap Sultan.
"Demi kalian, tidak ada kata capek. Lagipula ini hari pertama menantu Mama masuk rumah baru, maka kami orangtua harus temani kalian," ucap Mama.
Papa tersenyum, setidaknya hari ini mereka bisa mencegah kepergian Sultan.
Sultan tidak bisa membantah lagi, akhirnya dia menuruti perkataan orangtuanya. Raja pun tahu maksud dari orangtuanya.
Clara yang menunggu kedatangan Sultan pun gelisah, dia menelepon tapi di rijek oleh Sultan karena Sultan sedang bersama adik dan Papanya. Clara mengulanginya sampai beberapa kali tapi hasilnya tetap sama.
Papa yang melihat Sultan terus merijek panggilan pun bertanya, "Angkatlah! Memangnya siapa yang menelepon? kenapa tidak kamu angkat? Barangkali ada hal penting," ucap Papa Hendrawan.
"Oh, biasa Pa. Si Robi ini, paling ngajak keluar," bohong Sultan.
"Ya di jawab bahwa kamu bersama Papa, jadi dia nggak bakal penasaran kenapa panggilannya kamu rijek terus," ucap Papa lagi.
"Iya Pa, aku kirim pesan saja."
__ADS_1
Kemudian Sultan mengirim pesan kepada Clara, bahwa dia sedang bersama Papanya. Clara yang mendengar ponselnya berdenting buru-buru berlari mengambilnya.
Ketika membaca pesan dari Sultan, diapun merasa kesal, lalu melempar ponselnya ke atas kasur.
"Awas kamu Hendrawan, jika nanti aku menjadi menantumu, akan aku buat kamu memohon padaku agar jangan meninggalkan putramu. Aku akan buat kalian menyembah di kakiku!" monolog Clara.
"Lebih baik aku sekarang bersenang-senang, ngapain juga aku menunggu kedatangan Sultan yang tidak pasti," monolog clara lagi.
Clara mandi, lalu memakai pakaian tanpa lengan serta rok mini, setelah itu dia memakai sepatu serta topi, menyambar tas dan keluar dari apartemen Sultan.
Tidak lama seorang teman wanitanya datang menjemput. Mereka akan bersenang-senang pergi ke tempat karaoke dan puas berpesta di sana bersama teman-teman Clara lainnya.
Suara musik sudah berdentum, aroma minuman tercium di mana-mana, wanita dan pria berjoget, berdansa dan menyanyi serta saling memadu kasih.
Ternyata di sana juga sudah ada Hardi, Clara sempat menghubunginya untuk datang ke sana, bersenang-senang menghabiskan malam bersama.
Hardi menuangkan minuman ke dalam gelas Clara lalu dia menyulut sebatang rokok yang isi dalamnya sudah di bubuhi sesuatu.
Clara menyambar rokok dari tangan Hardi lalu menghisapnya, pikiran Clara jadi tenang dan dia menikmati setiap hisapan dari rokok tersebut.
Sultan dan Muti sudah bersiap untuk tinggal di rumah mereka sendiri. Sesuai janji, sore ini, papa dan Mama mengantarkan Sultan dan Muti ke rumah baru mereka.
Dengan membaca bismillah, Muti melangkahkan kaki kanannya, masuk ke dalam rumah, berharap akan mendapatkan keberkahan untuk rumah tangganya di masa mendatang.
Sultan dan Papa menurunkan koper, sementara Mama dan Muti ke dapur untuk membuat minuman.
Untuk sementara mereka belum memiliki pembantu dan Mama berjanji akan mencarikan orang yang baik agar bisa membantu Muti mengurus rumah dan menemaninya bila Sultan pergi ke kantor.
Sultan semakin gelisah, saat kedua orangtuanya tidak juga pulang dan Clara tidak membalas pesannya sejak tadi sore. Malam ini dia pasti gagal untuk menemui Clara.
Ketika jam sudah menunjukkan pukul 22.00 Mama pun mengajak Papa pulang, mereka ingin memberikan kesempatan kepada Sultan dan Muti untuk beristirahat.
__ADS_1
Papa dan Mama beranggapan, putranya pasti tidak akan keluar rumah lagi karena hari telah larut.
Ternyata, dugaan mereka salah, Sultan mengeluarkan mobilnya dari garasi, lalu bersiap untuk pergi.
Mobil Sultan memang dia simpan di rumah baru saat dirinya hendak pergi ke Bali.
Muti yang melihat suaminya mengeluarkan mobil pun bertanya, "Kak Sultan mau kemana? Bukankah hari telah larut, apa tidak sebaiknya kak Sultan istirahat," ucap Mutiara.
"Kamu tidak perlu tahu, istirahatlah! dan tidak usah menungguku pulang, aku bawa kunci, jadi tidak akan mengusik tidurmu," ucap Sultan pergi tanpa menoleh ke arah Muti.
Hati Muti sakit, dia benar-benar tidak menduga jika Sultan sejak tadi menunggu kepulangan orangtuanya untuk bisa pergi.
Muti hanya bisa mendesah, memandangi mobil suaminya pergi menghilang dari pandangan matanya.
Setelah mengunci pintu, Muti masuk ke dalam kamar, dan ternyata semua barang sudah lengkap tersedia di sana.
Ketika dia membuka lemari, pakaian Sultan sudah tertata rapih di sana. Lalu Muti membuka koper, menyusun pakaiannya juga pakaian Sultan yang baru mereka bawa.
Karena gerah, akhirnya Muti putuskan untuk mandi dan berendam air hangat.
Sementara Sultan menuju ke apartemennya, dia sengaja tidak menelepon Clara karena bingun memberi kejutan.
Dengan semangat, Sultan turun dari mobil, lalu dengan mengendap-ngendap, Sultan pun masuk ke dalam apartemennya.
Sultan dan Clara masing-masing memegang kunci sendiri, jadi mereka bebas masuk dan keluar kapan saja mereka mau. Sultan menduga Clara sudah tidur, lalu dia mengendap masuk, menuju ke lantai dua di mana kamarnya berada.
Saat Sultan membuka kunci kamarnya, dia terkejut tidak mendapati Clara ada di sana. Dan Sultan melihat di kamarnya seperti ada yang berbeda, terlihat lapang tapi dia tidak sadar apa yang hilang dari tempatnya.
Karena kesal Clara tidak ada, Sultan pun segera menghubungi ponselnya, tapi panggilan dari Sultan tidak di angkat oleh Clara.
Suara berisik musik Deje membuat Clara tidak mendengar ada panggilan masuk di ponselnya dan kebetulan ponsel Clara ada di dalam tas saat ini.
__ADS_1
Sultan kesal lalu membanting pintu kamarnya karena Clara tidak juga menjawab panggilan darinya. Akhirnya dengan langkah gontai, Sultan pun meninggalkan apartemennya dan pulang ke rumah pribadinya bersama Muti.
Mutia yang sudah bersiap untuk tidur, begitu mendengar deru mesin mobil segera beranjak dari kamarnya, menuruni anak tangga untuk membuka pintu. Setidaknya saat ini Muti senang, karena suaminya pergi tidak terlalu lama dan ingat untuk pulang.