
Malam ini Sultan tidak kembali ke kamar, dia lama duduk di balkon, merokok sambil merenung tentang kedua pernikahannya.
Jika setiap hari seperti ini, maka rumah bukan lagi menjadi surga pernikahan tapi neraka tempat kedua istrinya bertengkar.
Pusing memikirkan semua kejadian, akhirnya Sultan tertidur di sana hingga fajar menyingsing baru dia kembali ke kamar untuk mandi dan bersiap pergi ke kantor.
Muti yang sudah menyiapkan sarapan sejak tadi di bantu oleh Bi Tina lalu bergegas kembali ke kamar. Dia hendak mandi dan bersiap untuk pergi ke dealer mobil. Tapi, Muti tidak menyangka jika Sultan telah kembali ke kamar.
Muti pikir Sultan menginap di kamar Clara, tapi kata Bi Tina Tuannya itu tidak ada turun ke lantai bawah sejak tadi malam.
Mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi, Muti buru-buru menyiapkan pakaian Sultan, setelah itu dia bergegas keluar sebelum Sultan selesai mandi.
Sambil menunggu Sultan selesai mandi, Muti pergi ke balkon. Di sana dia menghirup segarnya udara pagi. Saat melihat ke arah meja, Muti kaget, di sana banyak sekali puntung rokok berserakan baik di atas meja maupun di lantai.
Muti mendesah, ternyata tebakannya salah, Sultan menghabiskan malam bukan di kamar Clara tapi di balkon dengan di temani rokok.
Setelah di rasa cukup menunggu di sana Muti kembali ke kamar, dia melihat jika Sultan sudah mengenakan pakaian kerjanya.
Tanpa bicara sepatah kata pun, Muti menyambar handuk dan baju mandinya kemudian masuk ke dalam kamar mandi, sementara Sultan yang sudah selesai berdandan turun ke bawah hendak sarapan.
"Bi, apakah sarapan Saya sudah siap?" tanya Sultan.
"Sudah Tuan, Nyonya Muti tadi yang siapin," jawab Bi Tina.
"Apakah Clara sudah bangun?"
"Belum Tuan, sejak tadi pintu dan jendela kamarnya masih terkunci. Apa perlu Saya bangunkan Tuan?"
"Ya, coba bangunkan Bi, tidak baik orang hamil tiduran saja, dia harus rajin menghirup udara pagi demi kesehatan bayinya."
Bi Tina pun menuju kamar Clara, lalu dia mengetuk pintu hingga berulang-ulang. Saat Bi Tina hendak pergi karena tidak juga ada jawaban, pintu kamar itupun terbuka, terlihat di sana Clara sedang mengucek-ucek mata, dia baru terbangun saat mendengar suara ketukan pintu.
__ADS_1
"Ada apa Bi, Saya masih mengantuk," ucap Clara.
"Sudah siang Nyonya, Tuan yang perintahkan saya untuk membangunkan Anda, karena Tuan sedang sarapan dan sebentar lagi mau berangkat ke kantor," jawab Bi Tina.
"Iya Bi, tolong bilang ke Tuan, Saya mau mandi dulu," ucap Clara.
Bi Tina pun menggelengkan kepala, lalu bermonolog, "Tuan salah langkah, istri pemalas dan angkuh lah kok ya di pilih, bagaimana mau jadi istri yang baik, suami sudah rapi, nah istri baru bangun tidur."
Ucapan Bi Tina di dengar oleh Muti yang baru saja tiba di tempat itu. "Memangnya ada apa Bi?"
"Eh Nyonya, nggak ada apa-apa. Bibi baru membangunkan Nyonya Clara. Ayo Nya, sarapan dulu. Tuan sudah menunggu di sana."
"Terimakasih ya Bi, ayo Bibi juga ikut sarapan."
"Nanti saja Nya, Bibi mau beberes cucian dulu."
"Oh, kalau begitu, Aku sarapan dulu ya Bi," ucap Mutiara.
Muti menuju meja makan di mana Sultan sudah menunggu, ternyata Sultan sudah meletakkan sarapannya di atas piring, sedangkan Muti rencananya hanya minum susu dan makan roti bakar saja.
Muti yang malas melihat sikap Clara, lalu buru-buru menghabiskan sarapannya dan dia langsung pamit kepada Sultan untuk duluan berangkat dengan ojek online, karena akan pergi ke dealer mobil.
Sultan yang masih malas berbicara hanya mengangguk, sementara Clara matanya membulat saat dia tahu jika Muti akan membeli mobil.
"Muti mau beli mobil Kak? Untuk apa dia beli mobil sedangkan dia tidak bisa nyetir. Aku, kakak minta berhemat, kenapa dia boleh menghamburkan uang begitu banyak Kak!"
"Dia membeli dengan uangnya sendiri, bukan pemberian dariku, bukankah kamu sudah aku belikan jadi tidak usah iri lagi."
"Darimana dia uang sebanyak itu Kak, sementara dia hanya di rumah saja selama ini, tanpa bekerja. Apa jangan-jangan dia mengambil uang Kakak tanpa izin!"
"Sudah! makanlah sarapan mu, tidak usah pikirkan Muti, yang terpenting pikirkan calon bayi kita!" ucap Sultan.
__ADS_1
"Tapi, belikan aku baju dan perhiasan ya Kak, walaupun aku hamil, aku 'kan juga harus berhias. Aku tidak mau tiduran di rumah, aku ingin sesekali keluar rumah, nanti saat kandunganku telah sehat."
"Hemm, kita lihat saja nanti. Saat ini, kamu harus istirahat saja di rumah, jangan kemana-mana dan jangan mikir untuk shopping melulu!"
"Ih, Kak Sultan nggak asyik, dulu aku puas shopping, nah setelah jadi istri kenapa malah di kekang dan dibatasi!"
"Sudah jangan ngambek, aku mau pergi ke kantor dulu, hari ini banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," ucap Sultan sembari bangkit dan mengambil tas kerjanya.
Saat Sultan sudah sampai di depan pintu, Clara berkata, "Tunggu Kak! Bagaimana jika Hardi kakak pekerjakan sebagai sopir Muti, bukankah bisa sekalian menjadi sopirku jika aku ingin sesekali pergi."
"Nanti aku bicarakan dulu hal ini kepada Muti, jika dia tidak setuju, aku tidak bisa memaksa karena itu mobil dia, jadi terserah dia mau pakai jasa sopir atau tidak."
"Kakak harus bisa meyakinkan Muti, lagipula kasihan juga Hardi, saat ini dia menganggur, tidak memiliki penghasilan, sementara dia harus membayar uang kontrakan rumah Kak!"
"Kenapa kamu yang pusing memikirkan dia, Hardi itu laki-laki jadi dia lebih tahu apa yang harus dilakukannya untuk bertahan hidup."
"Tapi Kak, apa salahnya jika kita menolong dia! Please Kak!"
"Iya, nanti aku bicarakan hal ini kepada Muti saat dia sudah sampai kantor," ucap Sultan sambil naik ke dalam mobilnya.
Setelah kepergian Sultan, Clara buru-buru masuk ke dalam kamar, lalu dia menghubungi Hardi.
Clara meminta Hardi untuk menemui Sultan, guna meminta pekerjaan. Jika tidak bisa menjadi sopir Mutiara, Hardi harus bisa bekerja di kantor milik Sultan untuk menjadi mata-mata.
Kalau bisa diterima sebagai sopir Mutiara, jauh lebih baik. Pastinya, jalan untuk menyingkirkan Muti bakal lebih muda.
Clara mengirimkan alamat kantor Sultan kepada Hardi, lalu dia berkata, "Sekarang, keberhasilan rencana kita aku percayakan ke kamu. Karena gerak langkahku saat ini sudah sangat terbatas."
Hardi mengerti maksud Clara, jadi hari ini juga dia akan datang ke kantor Sultan untuk memohon minta pekerjaan tersebut.
Bersambung....
__ADS_1
Apakah Hardi akan diterima bekerja sebagai sopir untuk Mutiara? atau diterima bekerja di kantor Sultan? Yuk ikuti terus kisahnya ya sobat dan jangan lupa mampir juga di karya sahabatku dan mohon dukungannya terus ya di karya kami, agar kami lebih semangat up. Terimakasih ππ