
"Mbak Muti, ayo kita kesana!" ajak Elena sambil menarik tangan Mutiara masuk ke dalam sebuah toko yang menjual tas dan pakaian.
Elena takut, Sultan dan wanita genit itu masih berada di sekitar tempat itu. Jadi, untuk mengulur waktu, Elena pun mengajak Mutia melihat-lihat barang branded lainnya yang ada di toko lain.
"Aku sudah lelah El," ucap Mutia.
"Mbak disini paling tinggal dua hari lagi, nggak tahu 'kan, kapan bisa ke Bali lagi? Nah, sekarang manfaatkan kesempatan yang tersisa Mbak," ucap Elena.
"Iya Mbak Muti, apa yang telah Elena katakan benar, belum tentu Mbak Muti akan liburan kesini lagi!" timpal Adam.
"Iya sih Mas. Tapi, aku ke toilet sebentar ya El, kamu tolong jagakan barang belanjaanku," pinta Mutiara.
"Oke Mbak. Sebentar ya, Aku tanya dulu pemilik toko, di mana letak toilet mereka," ucap Elena.
Elena pun mendekati seorang karyawan toko, lalu dia menanyakan di mana letak toilet. Lalu karyawan tersebut menunjukkan arahnya.
Muti pun mengikuti arah yang ditunjuk oleh karyawan tersebut, sementara Elena kembali menemani Adam melihat-lihat barang dagangan yang ada di toko itu.
Lalu Adam bertanya, "Kenapa tadi, tidak kamu biarkan saja Mutiara mengetahui kelakuan bejat suaminya, El?" tanya Adam, mumpung Muti tidak ada.
"Aku nggak tega Mas, dalam perjalanan bulan madunya saja, Mbak Muti tidak mendapatkan kebahagiaan, layaknya pasangan pengantin baru lainnya. Eh, masa iya sekarang kita hancurkan hatinya, hingga jatuh ke titik paling rendah, padahal waktu mereka tinggal dua hari lagi di sini," ucap Elena.
"Sakit sekarang dan sakit nanti, Aku rasa sama saja El, Muti harus tetap menerima kenyataan bahwa rumah tangganya sedang terancam," ucap Adam.
"Benar Mas, tapi dari omongan Mbak Muti selama ini, aku bisa menangkap bahwa, dia akan berusaha bertahan, walau bagaimanapun kondisi rumahtangganya, demi orangtua kedua belah pihak."
"Huh, salut Aku melihat kesabarannya. Andai saja masih ada wanita seperti dia, aku daftar duluan untuk menjadi calon suaminya," ucap Adam spontan.
__ADS_1
"Pasti ada Mas, tapi nggak tahu saat ini ada dimana. Aku saja nggak mungkin bisa sesabar Mbak Muti, jika dalam posisinya. Barangkali, sudah aku jambak-jambak dan cabe-in itu pelakor, hingga tidak berani menunjukkan batang hidungnya lagi," ucap Elena kesal sambil memperagakan bagaimana menjambak orang dengan menjambak rambutnya sendiri dan mengaduh.
Adam yang melihat reaksi Elena pun tertawa dan saat melihat Muti sudah nampak keluar dari arah toilet, Adam pun berkata, "Ssst, Muti sudah datang!"
Elena pun spontan menutup mulutnya dengan tangan, lalu pura-pura memilih baju.
Muti mendekati Elena lalu bertanya, "Kamu suka baju itu El? Ambillah, biar aku yang bayar," ucap Mutiara.
"Nggak ah Mbak, cuma lihat-lihat doang, lagipula ini terlalu transparan, nggak sesuai dengan selera ku," ucap Elena sembari nyengir kuda.
"Kamu pasti cantik, jika memakai pakaian seperti itu," canda Adam sambil tertawa.
"Aduh Mas Adam, cantik-cantik begini, Mas samakan pula aku dengan kelelawar," jawab Elena sambil tertawa melihat baju besar bersayap yang ditunjuk oleh Adam.
Muti pun ikut tertawa, hingga membuat Adam terpana. Baru kali ini, dia melihat Muti bisa tertawa lepas tanpa adanya beban.
Di rasa Elena sudah aman jika mereka keluar dari tempat itu, diapun mengajak Muti untuk pulang. Karena sesuai dengan kesepakatan awal, bahwa Muti tidak ingin pulang telat. Menurut Muti, nggak baik jika membiarkan Sultan menunggunya pulang terlalu lama.
Muti dan Elena sudah naik ke dalam mobilnya, sementara Sultan menunggu temannya menjemput. Tadi temannya masih ingin berlama-lama di tempat pembuatan souvernir, sedangkan Adam memilih ikut dengan Muti dan Elena.
"Mbak, apa masih ingin singgah ke apotek, untuk meneruskan rencana kemaren?" tanya Elena.
"Sebaiknya, nggak usah El. Aku merasa Kak Sultan sudah mulai berubah, kemaren menghabiskan banyak waktu bersamaku, hingga makan malam pun aku di tunggu nya dan hari ini, dia malah menyusul kita, walau akhirnya memilih pulang," ucap Mutia.
"Mbak saja yang nggak tahu," gumam Elena yang nyaris tak terdengar.
"Kamu ngomong apa El?" tanya Muti yang merasa mendengar sayup-sayup ucapan Elena.
__ADS_1
"Nggak ngomong apa-apa kok Mbak. Oh, kalau memang Tuan Sultan sudah berubah, syukur deh Mbak. Berarti awal yang baik, di penghujung bulan madu," ucap Elena sambil mengacungkan jempolnya tanpa menatap Muti dan pokus kepada stirnya.
"Aamiin, mudah-mudahan ya El, Kak Sultan memang ingin berubah. Aku juga tidak akan menyerah sampai batas kesabaran ku habis."
Elena terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sementara Muti terlihat mengantuk dengan hembusan angin sepoi-sepoi yang masuk dari kaca jendela mobil yang sengaja dia buka. Karena Muti ingin melihat pemandangan sepanjang perjalanan tanpa terhalang kaca.
"Mbak mengantuk?" tanya Elena yang melihat mata Muti terlihat sayu dan sedikit memerah karena menguap.
"Iya, aku tutup saja kacanya ya El. Kamu tidak apa-apa 'kan, jika aku tidur. Jangan sampai kamu juga mengantuk, bisa bahaya! Dan kita, bakal tinggal nama," ucap Mutiara.
"Astaghfirullah Mbak, jangan sampai, aku masih gadis lho Mbak, pingin merasakan berumahtangga," ucap Elena sambil menutup kaca secara otomatis.
Mutiara pun menyandarkan kepalanya di sandaran mobil, sebentar saja, hembusan nafasnya sudah terlihat tenang, hal itu menandakan jika Muti sudah tertidur.
Saat di perempatan lampu merah, tidak disangka, jika Mobil yang di kendarai oleh Clara dan Sultan tepat berada di sebelah Mobil Elena.
Elena membuka kaca mobil di sebelahnya lalu menoleh, dia melihat sekilas Sultan sedang bersenda gurau dengan pelakornya sambil menunggu lancarnya arus lalu lintas.
Buru-buru Elena menutup kaca jendela mobilnya kembali, dia takut Mutia terbangun dan melihat pemandangan yang pasti sangat menyakitkan baginya. Harapan perubahan sikap Sultan yang baru saja Muti ungkap kan kepada Elena, pasti hancur dalam sekejap.
Arus lalu lintas kembali lancar setelah lampu hijau di depan sana, Elena pun melajukan mobilnya, dia ingin menjauh dari mobil yang di kendarai oleh Sultan.
Mata Mutia pun mengerjap, saat mendengar ponselnya berdering. Lalu Mutia mengambilnya dari dalam tas dan melihat ternyata panggilan dari kakaknya.
Muti senang, kedua kakaknya merindukan dia dan mereka bercanda dengan menanyakan bagaimana rasanya belah duren dan keromantisan dalam perjalanan bulan madu.
Untuk menutupi masalahnya, yang sampai saat ini Mutia masih perawan, diapun menjawab, "Makanya! kakak berdua, cepatlah menikah, biar tahu bagaimana nikmatnya berumah tangga. Kakak pasti ketagihan dan nggak mau melepaskan kakak ipar," ucap Muti dengan malu.
__ADS_1
Elena yang mendengar perbincangan kakak beradik itupun ikut tersenyum, sekaligus sedih. Mutia pandai menutupi aib rumah tangganya di depan kedua kakak laki-lakinya.