MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 113. KEPERGOK


__ADS_3

Saat jam makan siang, Sultan teringat, jika hari ini dia tidak meninggalkan uang untuk Clara.


Dia tidak tahu apa Clara masih memiliki stok uang atau tidak. Tapi rasa tanggungjawab membuat pikirannya tidak tenang. Tidak mungkin Sultan membuat bayi dalam kandungan Clara kelaparan.


Meskipun sedang marah dengan Clara, Sultan akhirnya memutuskan kembali ke apartemen untuk mengajak Clara makan siang. Baru setelah itu, dia akan kembali lagi ke kantor.


Sultan ingat, Clara pernah meminta untuk mengajaknya makan di resto ala jepang dan hari ini Sultan rencananya ingin memenuhi permintaan tersebut.


Dengan semangat Sultan kembali, dia ingin menata hidupnya lagi, dia tidak mau terus menerus menyesali semua yang telah terjadi.


Niat Sultan saat ini adalah memperbaiki keadaan, berbaikan dengan Clara dan menciptakan keluarga yang harmonis kedepannya, meski dia masih ragu tentang status anak dalam kandungan Clara.


Tapi, perlahan dia pasti akan bisa menerima anak itu dengan ikhlas tanpa mengungkit-ungkit kembali masa lalu.


Mungkin memang sudah waktunya Sultan harus mengikhlaskan mutiara, sebab pihak pengacara telah memberitahu sidang perceraian lusa akan di mulai.


Sultan tidak akan mempersulit prosesnya, maka dia tidak akan hadir memenuhi panggilan tersebut. Dan jika pihak pengadilan agama membutuhkan tanda tangannya, dia pun ikhlas menandatangani.


"Bismillah, hari ini aku akan mulai membuka lembaran baru," monolog Sultan.


Setelah mengatakan hal itu, diapun melangkah meninggalkan kantor dan melajukan mobilnya ke arah apartemennya.


Kini wajah Sultan terlihat tersenyum, hatinya terasa lebih lega daripada dia setiap hari terus memikirkan penyesalan.


Sesampainya di apartemen, Sultan sengaja tidak memencet bel, dia ingin memberikan kejutan kepada Clara.


Untung saja saat ini dia membawa kunci duplikat, hingga Sultan bisa masuk tanpa mengganggu Clara.


Saat pintu terbuka, Sultan melihat sepatu dan jaket pria ada di sana. Dia sempat meneliti dan itu bukan barang miliknya.


Jantung Sultan bergemuruh, tadinya dia sudah lebih tenang kini malah terpancing emosinya kembali.

__ADS_1


Dengan mengepal kedua tangannya Sultan pun terus berjalan melihat dapur dan di meja makan ada 2 gelas dan juga 2 piring kotor, pertanda memang sedang ada tamu.


Tapi yang membuat amarah Sultan serasa di ubun-ubun, kenapa tamu tersebut tidak terlihat di mana pun, hanya tinggal bagian kamar yang belum dia periksa.


Sultan dengan terburu-buru menaiki anak tangga, dia tidak sabar lagi ingin membuktikan apakah prasangkanya benar atau tidak.


Kemudian saat dia sampai di depan pintu kamar, Sultan mendengar sayup-sayup suara orang sedang berbicara.


Hati Sultan sakit, amarahnya memuncak, benarkah Clara yang sedang berada di dalam bersama seorang pria atau ada orang lain yang masuk tanpa izin.


Sultan menggenggam handle pintu dan dia sangat terkejut saat pintu di buka dan dia melihat Clara tanpa mengenakan busana atas sedang di baluri pinggangnya oleh Hardi, pria yang pernah menjadi sopir pribadi Clara.


Memang bagian bawah tubuh Clara masih tertutup selimut tapi sangat tidak etis jika seorang istri di sentuh pria lain tanpa memakai baju dan di dalam kamar berduaan, apalagi pria itu hanya menggunakan celana boxer dan juga bertelanjang dada.


Spontan Sultan berteriak, "Dasar pelacur! Apa yang kalian lakukan!"


Hardi dan Clara tersentak saat pintu terbuka dan mendengar teriakan Sultan.


Hardi langsung menjawab, "Ini tidak seperti yang Tuan pikirkan! Aku hanya membantu Nyonya Clara saja. Nyonya sedang sakit pinggangnya Tuan!"


"Ah...kalian kurang ajar! berbuat mesum di apartemen ku! Sejak kapan kalian berhubungan, jawab Clara!" teriak Sultan lagi.


Sultan membanting pintu, lalu dia menghambur ke arah Hardi dan sebuah pukulan telak mengenai perutnya.


Hardi mengerang kesakitan dan Clara yang melihat itu berdiri diantara keduanya untuk menenangkan Sultan, "Sabar Kak, kami tidak melakukan seperti yang kakak bayangkan!"


Sultan menarik lengan Clara lalu dia menghempaskan Clara ke atas tempat tidur, lalu diapun berkata, "Dasar ******! wanita sundel! Masih berani kamu membela dia di hadapanku! Dasar pelacur, apa yang kurang dariku, hingga kamu masih selingkuh!"


"Arkh...Sultan! Kenapa kau bodoh sekali, tidak mau mendengarkan omongan orang tua. Aku memang bodoh telah membuang Muti demi wanita sampah seperti dia!" teriak Sultan lantang sembari menunjuk Clara, lalu meraup mukanya sendiri dengan kasar.


Clara mengeluarkan senjata ampuhnya, dia bangkit dan bergelayut sambil menangis dan memegangi perutnya seakan apa yang Sultan lakukan barusan menyakiti bayi dalam kandungannya.

__ADS_1


"Lepaskan! Aku tidak Sudi di sentuh oleh wanita pelacur sepertimu!" ucap Sultan sembari menghempaskan tangan Clara hingga hampir terjatuh lagi.


"Aduh Kak! Kakak tega, kak Sultan telah menyakiti bayi kita!"


"Jangan sebut dia bayiku! Dia anak laki-laki baji**an itu. Selamanya aku tidak akan pernah mengakui kalau dia anakku! Pantas saja Muti mengingatkanku untuk melakukan tes DNA, ternyata ini maksudnya."


"Clara, aku menyesal mengenalmu. Kau telah merusak hidupku dan menghancurkan rumahtangga ku," ucap Sultan yang bersimpuh di lantai sambil menangis karena menyesal.


Hardi ingin menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri, tapi Sultan berhasil menariknya hingga hardi pun terjengkang ke lantai.


Sekali lagi pukulan mendarat di wajah Hardi, darah pun mengalir dari sudut bibirnya yang pecah.


Sultan bangkit dan dia menarik kembali Hardi dan sebuah pukulan kembali mendarat di perutnya.


"Itu untuk sakit hatiku!"


Dan kembali Sultan menarik Hardi sekuatnya lalu melayangkan pukulan di bagian wajah.


Hardi berteriak, tapi teriakannya tidak ada gunanya. Sultan yang sudah kesetanan kembali menghajarnya, sembari berkata, "Ini untuk Mutiara! Karena kamu dan Clara, aku jadi tega menyakitinya."


Sultan kembali melayangkan tinjunya ke dada Hardi hingga bunyinya terdengar seperti benda jatuh, setelah itu diapun berkata lagi, "Itu untuk kedua orangtuaku!


Hardi limbung, tubuhnya terjungkal dan dia pingsan. Melihat hal itu, Clara berteriak, "Ya, aku memang selingkuh, dia ayah dari anak yang ku kandung!"


Sultan yang mendengar hal itu kalap, lalu dia mencekik leher Clara hingga Clara kesulitan bernafas.


Tapi, Sultan teringat ada bayi tidak berdosa di perut Clara. Akhirnya Sultan pun melepaskan cekikikan pada leher Clara.


Clara kesulitan bernafas dan dia terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya yang sakit.


"Cepat kalian pergi! Sebelum aku makin kalap dan membunuh kalian berdua di sini!" usir Sultan.

__ADS_1


Clara menarik lengan Hardi yang mulai sadar dari pingsannya. Lalu, dengan susah payah dia memapah Hardi untuk bangkit dan mereka pun pergi meninggalkan apartemen tersebut dengan menggunakan mobil Tante Salsa.


Sultan bersimpuh sambil menangis, kini yang tertinggal hanyalah rasa bersalah dan penyesalan yang tidak ada artinya.


__ADS_2