MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 109. KETAHUAN


__ADS_3

Setelah terjebak dan ketahuan jika Sultan menguntit, dia terpaksa pulang dan tidak mungkin mengikuti mereka lagi sampai ke rumah orangtua Muti.


Sultan kesal dan tentunya malu tapi apa mau dikata, semua sudah terjadi dan kini dia melajukan mobilnya dengan kencang menuju rumahnya.


Besok, Sultan akan membereskan barang dan pindah ke apartemen sesuai janjinya kepada Muti.


Tapi sesampainya dia di rumah, Sultan makin kesal, saat dia memanggil dan menggedor pintu tapi tidak ada sahutan dari dalam.


"Kemana sebenarnya Clara, kenapa tidak ada di rumah! Istri macam apa dia, kelayapan malam-malam tanpa izin dulu ke suami, padahal bisa telepon jika penting!" monolog Sultan sambil mencari ponselnya yang ternyata tertinggal di mobil.


Sultan kembali ke mobil untuk mengambil ponselnya, dia lelah dan ingin cepat istirahat malah rumah di kunci dan istri entah kemana perginya.


Hal ini tentu saja membuatnya begitu kesal, ditambah lagi jika ingat kejadian tadi yang membuatnya sangat malu.


Sultan menghubungi nomor Clara, tapi ponselnya tidak aktif. Karena kesal, dia membanting ponselnya di jok mobil.


Akhirnya Sultan memutuskan untuk menunggu Clara dengan tidur di atas mobilnya.


Sementara, Clara yang sejak tadi ingin pulang, terpaksa mengikuti kemauan Hardi dulu. Hardi meminta jatahnya, dengan alasan sudah lama tidak mendapatkan dari Clara dan kedepannya pasti akan makin sulit jika Clara masih tinggal di rumah Sultan.


Clara pun yang sejak Sultan uring-uringan tidak mendapatkan jatah, memanfaatkan kesempatan ini untuk melampiaskan keinginannya.


Dia mematikan ponselnya, agar tidak ada yang mengganggu dan lantas mereka pergi ke apartemen untuk bersenang-senang di sana.


Tapi karena kelelahan dan stamina Clara yang menurun setelah berbadan dua, akhirnya diapun tertidur.


Hardi yang tidak bisa mendapatkan uang banyak lagi dari Clara, malam itu juga pergi meninggalkan apartemen. Dia membiarkan Clara tidur, agar tidak menambah beban harus mengantarnya pulang.


Tapi Hardi lupa, dia telah meninggalkan jaketnya di sana karena terburu-buru. Hardi harus menemui gebetan barunya yang juga lumayan tajir, meski wanita itu seorang wanita paruh baya.


Hardi akan berusaha memuaskan wanita itu, agar dia bisa mendapatkan semua yang Hardi inginkan.


Sekaligus sebagai cadangan jika Clara benar-benar sudah tidak bisa dia andalkan lagi.

__ADS_1


Sultan yang sudah tidak sabar menunggu, akhirnya memutuskan untuk pergi ke apartemen. Dia ingin tidur dan apartemen lah tempat yang nyaman untuknya sekarang.


Saat Sultan tiba di sana, dia terkejut mendapati apartemen tidak terkunci. Tapi, ketika Sultan melihat sepatu Clara ada di sana, Sultan merasa lega, berarti bukan maling yang masuk ke apartemennya melainkan Clara.


Sultan mengunci pintu, lalu dia bergegas naik dan dia juga mendapati kamar tidak terkunci.


Dengan tidak sabar Sultan pun masuk, dia melihat Clara tidur sembari bergelung di balik selimut.


Namun yang membuat Sultan penasaran, pakaian Clara berserakan di lantai, dan dia melihat sebuah jaket kulit pria yang masih baru dan tidak Sultan kenal pemiliknya tersampir di dekat lemari pakaian.


Sultan naik darah, dia yakin Clara telah melakukan sesuatu di dalam kamarnya.


Kemudian, tanpa berkata apapun, Sultan langsung menarik selimut Clara dan dia membuangnya secara kasar ke lantai.


Clara terkejut, dia langsung membulatkan mata. Tadinya Clara hendak marah karena dia pikir Hardi lah yang telah membangunkan dia dengan kasar.


Namun, alangkah terkejutnya Clara, melihat Sultan berdiri tegak di depan mata, yang saat ini sedang memandang dengan mata nanar seperti hendak menelannya hidup-hidup.


Dia tidak tahu bagaimana harus menghadapi Sultan dalam kondisi seperti saat ini.


Mungkin saat ini yang bisa dia lakukan adalah pasrah, hidupnya akan segera berakhir.


Tapi saat Clara tidak melihat Hardi ada di kamar itu, dia bernafas lega.


Clara jadi memiliki keberanian dan dia langsung berpikir untuk memberi alasan agar Sultan tidak berpikiran yang macam-macam.


Namun, belum sempat Clara meraih bajunya, Sultan mencengkeram bahu, menarik rambut Clara dan menamparnya dua kali tanpa berkata apapun.


Clara limbung, hampir saja dia terjatuh, jika tangannya tidak meraih dan berpegangan pada kepala tempat tidur.


Kemudian sambil menangis Clara berkata, "Kak Sultan sudah gila ya, Kak Sultan mau membunuh anak kita! Kenapa Kak Sultan memukulku, bagaimana jika aku tadi terjatuh dan anak kita celaka!"


"Hiks...hiks...hiks, Kak Sultan jahat! Datang-datang main pukul, bukan dengar dulu penjelasan ku!" ucap Clara sembari memegangi pipinya yang terasa sakit.

__ADS_1


"Kamu masih bilang ada apa! Pantas jika Muti memintaku untuk melakukan tes DNA terhadap bayi haram di perutmu itu! Ternyata dia tahu tentang kebejatan mu!" bentak Sultan sembari mendekati Clara dan menarik lengan dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur.


"Kak Sultan dengar dulu! Memangnya Muti ngomong apa sama kakak, dia sebarkan fitnah apa tentangku! Aku bisa jelaskan Kak! Dia pembohong, dia hanya iri hingga meminta kakak untuk melakukan tes terhadap anak kita."


"Dasar kamu pembohong! Jika Muti menyebar fitnah, ini apa!"


"Clara! Coba jelaskan, ini milik siapa!" ucap Sultan sembari menyambar jaket dan melemparkannya ke wajah Clara.


"Dan satu hal lagi, ternyata kau adalah sampah, dasar wanita murahan!" teriak Sultan sembari meraup wajahnya kasar.


"Tuhan... ternyata orangtuaku benar, aku terlalu bodoh, aku buta, telah mencampakkan Mutiara hanya demi wanita sampah seperti mu!"


"Kak Sultan jangan seenaknya menghinaku sebagai sampah, aku tidak melakukan apa-apa. Aku tadi hanya kepanasan saja dan perutku sakit makanya aku tidur dengan membuka pakaian."


"Mengenai jaket itu, tadi temanku meminjamkan, karena dia merasa kasihan melihatku, sudah malam naik turun angkot tanpa memakai jaket."


"Aku pergi mencari Kakak, tapi karena tidak ketemu akhirnya aku putuskan untuk istirahat dan tidur di sini. Ponsel kakak tadi tidak aktif, aku kan khawatir!" ucap Clara sembari terisak.


Memang, ponsel Sultan tadi sempat dia matikan ketika pergi menguntit Muti bersama Adam.


Melihat Sultan diam, Clara menjadi memiliki harapan, jika Sultan tidak mencurigainya lagi.


"Tolong Kak, percayalah! Aku sejak dulu hingga sekarang selalu mencintai kakak dan tidak mungkin aku selingkuh. Jika aku mau selingkuh, ngapain musti sekarang, setelah aku hamil," ucap Clara.


"Kalau kau memang tidak selingkuh, besok pagi kita ke dokter. Aku ingin melakukan tes terhadap bayi itu. Jika nanti terbukti dia bukan anakku, enyahlah dari hadapan ku, sebelum aku membunuhmu!"


"Hidupku kepalang hancur, jadi sekalian, penjara mungkin bisa menebus kesalahanku terhadap Muti."


"Iya! Aku akan melakukan tes. Tapi jika bayi ini terbukti anak kakak, aku minta kak Sultan harus perjuangkan, agar kami di akui oleh keluarga Hendrawan dan pastikan anakku akan mendapatkan haknya!" ucap Clara begitu percaya diri.


Sultan jadi ragu mendengar tantangan Clara, apa benar dia salah telah menuduh Clara selingkuh.


Tapi, jika benar Clara berselingkuh, alangkah bodoh dan menyesalnya dia yang telah mengabaikan Mutiara hingga membuat mereka bercerai.

__ADS_1


__ADS_2