MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 44. PERTEMUAN YANG DI ATUR


__ADS_3

Pria yang berperawakan tinggi besar, berpakaian serba hitam serta bernampikan keren tersebut pun menghampiri Muti. Namun, Mutiara merasa takut, sebab dia belum mengenal siapapun di daerah tempat tinggalnya yang baru ini.


Muti mundur, lalu dia bersiap untuk kabur, meninggalkan barang belanjaannya di sana, apabila pria tersebut semakin mendekat.


Pria itu tersenyum sambil membuka kacamatanya, hingga membuat Muti terpana. Dia adalah Adam, lelaki yang di kenal Muti tanpa sengaja saat bulan madunya di Bali.


Muti mengelus dadanya sembari menarik nafas lega dan berkata, "Aku pikir siapa Mas? Hampir saja aku kabur, aku merasa tidak mengenal Mas Adam saat berpenampilan seperti ini. Mas Adam yang sekarang begitu berbeda dengan Mas Adam yang ku kenal di Bali," ucap Mutiara.


"Mbak Muti bisa saja, maaf jika telah membuat Mbak Muti takut," ucap Adam.


"Sebenarnya bukan takut Mas, hanya saja heran, kenapa ada Bos besar menghampiri ku, padahal aku tidak mengenal siapapun di sini," alasan Muti.


"Mbak ada-ada saja, kalau Bos besar nggak akan mungkin turun kesini Mbak, paling mengandalkan anak buahnya saja," timpal Adam.


"Lah itu, Mas Adam saja bawa dua orang pengawal, berarti Bos besar dong?"


"Bukan Mbak, kebetulan itu teman-teman ku. Tadi saat Elena menelepon, kami sedang ada pertemuan di sekitar tempat ini," ucap Adam berkilah.


Sebenarnya kedua orang yang dimaksud Muti adalah anak buahnya. Mereka harus mendampingi Adam kemanapun dia pergi saat sedang berada di Jakarta.


"Oh, jadi Elena menelepon Mas Adam? Itu sebabnya Mas bisa berada di tempat ini," ucap Muti sedikit terkejut.


"Iya, Elena telepon saya dan menceritakan tentang Mbak Muti yang lupa jalan pulang. Sementara, Elena sekarang sedang bekerja dan pekerjaannya tidak bisa di tinggal, jadi dia minta tolong ke Saya untuk menolong Mbak Muti," ucap Adam.


Kemudian Adam berkata lagi, "Kebetulan rumah saya juga ada di sekitar tempat ini, jadi apa salahnya jika saya menolong Mbak. Oh ya, apa yang Mbak ingat dari kompleks rumah Mbak Muti? Misal, bentuk bangunan atau gerbang masuk komplek. Masalahnya, di sini ada beberapa komplek dengan sebutan nama buah, nama hewan dan nama pahlawan," terang Adam.

__ADS_1


"Sebentar ya Mas, aku ingat dulu," ucap Mutiara.


Kemudian Mutia membayangkan saat berangkat tadi pagi bersama Sultan, dia ingat di pintu gerbang kompleks atau di gapuranya ada ukiran buah rambutan, lalu Muti pun berkata, "Aku ingat Mas, ada ukiran buah rambutan di pintu masuk."


"Nah! dengan petunjuk itu, kita lebih mudah mencarinya Mbak, tinggal keliling kompleks Rambutan dan kita bisa menemukan rumah yang Mbak cari," ucap Adam.


"Oh, gitu ya Mas. Untung ada Mas Adam, kalau tidak, bakal sampai sore aku di sini," ucap Muti sembari tersenyum malu.


"Kalau begitu, ayo naik ke mobil kami Mbak, biar kami antar mencari rumah Mbak Muti."


Awalnya Muti ragu, dia takut Sultan marah, jika tahu dirinya pulang di antar oleh pria lain.


Namun, Muti juga bingung, bagaimana cara menolak Adam, yang sudah baik dan susah payah, datang demi menolongnya.


Akhirnya, Muti pun naik, setelah Adam membukakan pintu mobilnya. Pengawal Adam, keduanya duduk di depan, sementara Adam dan Muti duduk di belakang.


"Pak Gus, Pak Riswan, kita antar Mbak Muti dulu ya, di kompleks rambutan, baru kita lanjutkan meeting," ucap Adam sambil melirik ke spion berharap Gusnar melihatnya di sana.


"Iya Mas Adam, nggak apa-apa kok, kita tunda meetingnya," ucap Gusnar sambil mengerlingkan matanya ke arah kaca spion, tanpa meninggalkan kecurigaan Mutia.


Riswan juga menjawab, "Iya Mas, toh, waktu kita masih panjang, hingga waktu makan siang tiba."


"Terimakasih ya Mas semua. Maaf, aku telah menyusahkan kalian," ucap Mutiara.


"Iya Mbak, aman kok!" jawab Gusnar dan diikuti oleh Riswan.

__ADS_1


"Nah! teman-temanku saja tidak merasa di susahkan Mbak." ucap Adam sambil tersenyum manis menatap Mutiara.


Gusnar dan Riswan merasa heran melihat Bos nya yang ingin menutupi identitasnya di depan wanita yang akan mereka antar.


Mereka melihat sepanjang jalan, wajah Adam terlihat sumringah, senyum mengembang di wajah tampannya, sejak dia menerima telepon untuk menolong Mutiara.


Sementara, Mutiara yang di tatap Adam merasakan perasaan yang aneh, jantungnya berdegup tidak karuan. Tatapan dan senyum pria tampan di sampingnya ini berhasil membuat desiran yang belum pernah Muti rasakan terhadap pria manapun termasuk Sultan.


Namun, Muti akhirnya tersentak dan dia langsung beristighfar, hal ini tidak boleh sampai terjadi. Muti tidak boleh memiliki perasaan apapun terhadap laki-laki lain, selama dia masih sah sebagai istri Sultan.


Adam juga merasakan hal yang tidak pernah dia rasakan saat bersama kekasihnya dulu. Mata jernih dan senyum manis Mutiara mampu memberikan ketenangan dan kenyamanan di dalam hati Adam.


Dia dulu sempat pesimis bahwa, setelah disakiti dan dikecewakan oleh sang kekasih, Adam tidak akan pernah jatuh cinta lagi. Nyatanya, semua itu salah, Muti mampu menghapus rasa sakit dan kecewa dihati Adam tanpa tersisa lagi.


Namun, Adam akhirnya mendesah untuk menekan perasaannya, karena dia sadar, Muti masih milik pria lain. Ada perasaan tidak rela di relung hati Adam, kenapa Muti jatuh ke tangan pria yang sama sekali tidak mencintai dan tidak menghargainya sebagai istri.


Terkadang, tumbuh rasa egois dalam hati Adam, dia meminta agar Allah memisahkan Mutiara dengan Sultan, jika pernikahan itu tidak bisa membuat Muti bahagia. Dan Adam berjanji, jika sampai hal itu benar terjadi, dia sanggup memberikan hati dan cintanya, hanya untuk Mutiara, meski Mutia seorang janda.


Terus di tatap oleh Adam, membuat Muti tertunduk dan salah tingkah. Muti takut, jika dia akan jatuh cinta kepada pria di hadapannya itu.


Keduanya tersadar dan mengalihkan perhatian, saat mendengar suara deheman dari mulut Gusnar.


Miswan pun tersenyum, lalu berkata, "Mas Adam, kita sudah sampai, itu gerbang kompleks rambutan sudah ada di hadapan kita."


Muti mendongakkan wajah dan ternyata benar, tadi pagi dirinya melewati jalan itu bersama Sultan.

__ADS_1


Kemudian Muti membuka kaca jendela untuk mengingat, ke arah mana dan yang mana rumahnya. Lalu, Muti berkata, "Kita lurus, baru belok ke kanan ya Mas Gurnar, nah rumahku hanya berjarak beberapa meter dari tikungan tersebut."


Akhirnya Muti pun sampai, dia ingin mempersilakan ketiganya masuk dan membuatkan minuman. Tapi, kembali Muti ingat, selagi tidak ada suami di dalam rumah, seorang istri tidak boleh memasukkan tamu laki-lakinya ke dalam rumah.


__ADS_2