MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 43. LUPA ALAMAT


__ADS_3

Sultan melajukan mobilnya menuju swalayan terdekat dari rumah. Setelah sampai, diapun menyerahkan sebuah kartu Atm kepada Mutia sambil berkata, "Pakailah! beli semua yang kamu butuhkan dan ingat! jangan berpikir untuk pergi sendirian ke rumah orang tuamu!" ucap Sultan.


Muti pun mengangguk, lalu mengambil kartu Atm dari tangan Sultan, setelah itu dia mengulurkan tangannya tapi Sultan tidak menanggapi.


Melihat Sultan tidak menanggapi, Muti menarik tangan Sultan, lalu mencium punggung tangan suaminya itu, hingga membuat Sultan buru-buru menariknya.


Muti hanya menghela nafas, lalu mengucap salam sebelum turun dan pergi meninggalkan Sultan yang masih mematung di dalam mobilnya.


Dalam benaknya, Sultan bertanya benarkah masih ada wanita polos seperti Mutiara di jaman modern seperti ini.


"Ah, kenapa aku jadi memikirkan dia! ini tidak boleh!" monolog Sultan sambil melanjutkan perjalanan.


Muti memperhatikan kepergian suaminya dari teras swalayan. Kemudian, dia masuk untuk belanja kebutuhan pokok rumah tangganya.


Muti membeli kebutuhan mulai dari isi dapur, kamar mandi dan pengharum ruangan. Dia membeli bahan masakan yang cukup untuk tiga hari kedepan karena jika terlalu lama di simpan di kulkas pastinya kurang enak dan mungkin mengurangi kesegaran serta nilai gizinya.


Setelah selesai semua, Muti pun bingung tentang alamat rumahnya, sementara dia tinggal di sana baru satu malam. Bagaimana dia akan menggunakan aplikasi ojek online jika dirinya tidak tahu dimana tinggal.


Kemudian Muti hendak menelepon Sultan untuk bertanya, tapi kembali Muti menepuk keningnya sendiri, kenapa dia sampai lupa untuk meminta nomor ponsel suaminya lagi. Yang kemaren saat di Bali tidak sengaja nomor Sultan terhapus di ponsel Muti.


Muti juga tidak memiliki nomor ponsel mertua atau adik iparnya, untuk sekedar bertanya alamat rumahnya. Lagipula, pasti malu, sampai dia tidak memiliki


Ingin menelepon orangtuanya tapi kok ya nanti mereka bakal curiga. Akhirnya Muti mendekati Mbak yang bertugas di bagian kasir, lalu dia bertanya tentang nama komplek perumahan mewah yang ada di sekitar swalayan tersebut.


Mbak kasir malah membuat Muti lebih bingung lagi karena komplek perumahan mewah di sekitar tempat itu sangat banyak, jadi Muti harus menyebutkan namanya untuk memudahkan pencarian.


Muti pun bingung, dia tidak mungkin menunggu di tempat itu sampai Sultan kembali. Akhirnya Muti duduk sejenak di teras swalayan, dia masih mencari cara bagaimana untuk bisa pulang ke rumah.

__ADS_1


Sekitar satu jam Muti berpikir, baru dia teringat dengan Elena. Ya, kenapa tidak sedari tadi dia minta tolong dengan Elena untuk menanyakan alamat barunya kepada ibu dan ibu menelepon mama Sultan.


Muti pun menelepon Elena, tapi ponsel Elena sedang tidak aktif. Lalu Muti menelepon Ibunya, untuk menanyakan tentang keberadaan Elena.


"Hallo, ada apa Sayang? Bagaimana kabarmu? maafkan ayah dan Ibu ya, kami tidak bisa ikut mengantar kalian kemaren, tapi ibu janji, saat ayah kamu libur, ibu pasti akan ke sana. Kirimkan dong alamat rumah kalian!" ucap Ibu.


"Iya Bu, nanti kak Sultan saja yang kirim ya Bu. Oh ya Bu, Elena kemana? kok nomor ponselnya tidak aktif?" tanya Muti.


"Dia ikut ke kantor dengan Ayah. Barangkali sedang ada rapat maka ponsel di matikan. Coba telepon Ayah, barangkali ponselnya aktif. Kamu baik-baik tinggal di sana ya Nak. Mungkin Minggu depan kami baru bisa mengunjungi kalian," ucap Ibu.


"Iya Bu, insyaallah. Sekarang, Muti telepon Ayah ya Bu," ucap Muti, lalu menutup percakapannya dengan ibu.


Kemudian Muti menelepon Ayah dan ternyata ponsel Ayah aktif. Tidak lama menunggu, Ayah pun menjawab panggilan dari Muti.


"Hallo Nak, bagaimana kabar anak Ayah? Kamu betah di sana 'kan? Suami kamu memperlakukan putri Ayah dengan baik bukan?" tanya Ayah beruntun.


"Iya, Ayah ingin dia secepatnya membantu di bagian pelayanan. Kamu kapan akan membantu ayah?"


"Muti ingin bekerja, Yah! tapi, apa Kak Sultan memberi izin? Nanti coba deh, Muti bicarakan dengan Kak Sultan. Muti juga tidak enak di rumah saja, hanya makan dan tidur, bisa-bisa Muti malah sakit."


"Iya Nak, semua harus izin suamimu. Memang saat ini, usaha Ayah mengalami peningkatan, sejak ada kerjasama dengan perusahaan mertua kamu," ucap Ayah.


"Syukurlah Yah, Muti senang mendengarnya. Muti boleh berbicara dengan Elena Yah? masalahnya ponsel Elena tidak aktif," pinta Mutiara.


"Sebentar, biar Ayah sambungkan ke bagian pelayanan," ucap Ayah Danu.


Setelah tersambung, Muti pun berbicara dengan Elena.

__ADS_1


"Mbak Muti, terimakasih ya. Berkat Mbak Muti, aku sekarang jadi memiliki keluarga lagi dan aku juga sudah diberi pekerjaan oleh Ayah. Aku beruntung mengenal Mbak Muti. Oh ya, bagaimana kabar Mbak di rumah baru? Pasti senang ya Mbak?" tanya Elena.


"Syukurlah El, aku senang mendengarnya. El, aku boleh minta tolong, kamu repot apa tidak El?" tanya Muti.


"Repot Mbak, kepala bagian pelayanan sedang cuti, makanya aku di minta Ayah untuk masuk kerja hari ini. Untuk sementara aku menggantikan tugas beliau."


"Oh, kalau begitu nggak jadi deh El," ucap Muti sedikit kecewa.


"Sebenarnya ada apa Mbak?" tanya Elena.


Mutiara kemudian menceritakan kejadian yang menimpanya saat ini. Dia tidak bisa pulang ke rumahnya karena tidak tahu alamat bahkan nomor telepon suaminya.


Elena menyarankan agar meminta nomor telepon Sultan kepada Ayah, karena Elena juga telah menghapus nomor kontak Sultan dari ponselnya. Saat itu dia sedang kesal dengan sikap Sultan yang tidak memperlakukan Muti dengan baik, jadi imbasnya menghapus nomor Sultan di ponselnya.


Muti melarang karena dia tidak ingin Ayah atau ibunya tahu tentang kondisi rumah tangganya.


Akhirnya Elena punya solusi dan meminta Muti untuk mengirim alamat swalayan, di mana Muti menunggu dan meminta Muti agar tetap di tempat, jangan pergi kemanapun.


Muti tidak tahu apa yang akan di lakukan Elena, karena setelah dia menyebutkan alamat dirinya saat ini berada, komunikasi mereka langsung terputus.


Sesuai dengan permintaan Elena, Muti menunggu di sana, sembari membeli jus dari pedagang kaki lima yang berjualan di emperan swalayan dan langsung meminumnya.


Muti menunggu hingga satu jam lebih tapi tidak ada telepon lagi dari Elena. Dia jadi berpikir berapa lama lagi akan menunggu di sana.


Saat Muti memutuskan untuk menelepon ayahnya lagi, guna menghubungi Elena, dari arah depannya muncul sebuah mobil mewah dan tepat berhenti di hadapan Mutiara.


Nampak turun dari mobil, seorang pria berkaca mata hitam, mengenakan dasi, jas dan sepatu mengkilap, ala bos besar, hingga membuat Muti terperanjat. Muti sepertinya mengenal pria tersebut, tapi dia lupa siapa dan di mana mengenalnya.

__ADS_1


__ADS_2