MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 85. MULAI MENUNJUKKAN KEKUATAN


__ADS_3

Bi Tina menanyakan kepada Muti, menu apa yang harus dia masak lagi tapi Muti tidak berminat untuk makan bersama Sultan beserta madunya.


Malam ini, rencananya Muti ingin makan di luar, sambil menenangkan pikirannya. Dia hanya meminta Bi Tina untuk menggorengkan udang untuk Sultan sore nanti karena Muti akan keluar rumah.


Clara terbangun dan dia berteriak memanggil Bi Tina. Clara ingin Bi Tina menyiapkan makanan untuknya dan membawanya ke dalam kamar.


Bi Tina pun memenuhi permintaan Clara, beliau membawa makanan dan minuman ke dalam kamar setelah itu pergi mengangkat cucian.


Belum lagi kaki Bi Tina keluar dari kamar, Clara berteriak dengan lantang, "Ayam apa ini! Kamu ngerjain Saya ya! Pembantu baru saja berani-beraninya membuat ulah. Coba sini kamu makan ini!" Bentak Clara sembari melempar ayam goreng tersebut ke wajah Bi Tina.


Bi Tina menghela nafas, lalu dia mendekat dan mencicip ayam goreng sesuai perintah Clara dan Bi Tina langsung mengeluarkannya lagi dari mulutnya.


"Makan itu dan habiskan! Kamu aku hukum untuk menghabiskannya sekarang juga, cepat!"


"Tapi Nyonya, biar Saya masakin makanan yang lain ya, Nyonya tunggu, pasti tidak akan lama."


"Tidak! Aku sudah tidak berselera untuk makan, sekarang juga ayo habiskan atau aku pecat kamu dan melaporkan kamu kepada biro tenaga kerjamu agar kamu dikenai denda dan hukuman lain."


"Ampun Nyonya, jangan laporkan Saya, Saya butuh pekerjaan untuk menghidupi kedua anak Saya di kampung," ucap Bi Tina sembari memohon.


Tina menyeringai lalu dia menumpahkan ayam goreng dalam piring ke kepala Bi Tina, lalu berkata, "Kali ini, kamu aku maafkan. Tapi jika terulang lagi, kamu membuat kesalahan, aku tidak akan segan lagi untuk menghukummu dan kamu tidak akan aku beri gaji."


"Iya Nyonya, terimakasih sudah memaafkan Saya."

__ADS_1


"Sekarang kamu belikan aku rujak, tapi yang pedas dan enak, awas jika tidak enak, kamu akan terima hukuman dari ku!" perintah Tina.


"Baik Nyonya, tapi saya kan baru di sini jadi tidak tahu dimana tempat penjual rujak, apalagi rujak yang enak seperti yang Nyonya minta."


"Kamu punya mulut, pergunakan mulutmu untuk bertanya!"


"Iya Nyonya maaf, kalau begitu saya permisi dulu," ucap Bi Tina dengan gemetar.


Kemudian Bi Tina keluar kamar, tapi saat itu dia terpikir bahwa Clara belum memberinya uang, jadi dengan apa dia akan membeli rujak sementara dia sendiri tidak memiliki uang.


Bi Tina pun kembali ke kamar Clara, "Nya, uang untuk membeli rujaknya belum Nyonya beri, saya tidak punya uang Nya," ucap Bi Tina.


"Bodoh! mintalah dengan Muti bukankah dia di beri jatah belanja oleh Sultan sementara aku belum mendapatkan jatah belanja di rumah ini. Cepat pergi sana! Minta uang sama dia!" bentak Clara.


"Oh ya Bi, tolong bantu saya ya Bi untuk melipat pakaian, karena Saya akan keluar dan mungkin malam baru kembali," pinta Muti.


"Baik Nyonya," jawab Bi Tina.


"Enak sekali kamu! suami pergi bekerja, kamu seenak hati keluar tanpa izin. Istri macam apa itu, pantas saja Kak Sultan lebih memilihku daripada kamu, perempuan kampung yang tidak tahu aturan berumah tangga."


"Suka hati ku, apa urusan mu mengaturku, seharusnya aku yang mengatur kamu, karena ini adalah rumahku! Syukur makananmu hanya aku beri garam banyak, jika aku beri merica, kamu bakalan nongkrong seharian di toilet," ucap Muti sambil tersenyum sinis.


"Oh, berarti kamu biang keroknya, aku pikir Bi Tina, awas kamu ya! nanti, pasti akan aku balas! Ingat itu! Kak Sultan masih ada di pihakku, jadi kamu berhati-hati lah!"

__ADS_1


"Hahaha...siapa takut, jika aku mau saat ini juga aku bisa membuatmu dan Kak Sultan tinggal di jalanan, jadi jangan coba-coba kamu mengancam ku. Jika tidak percaya, silahkan kau telepon saja Kak Sultan dan tanyakan padanya kebenaran ucapanku. Jadi bukan aku yang harus berhati-hati, tapi kalian, ingat itu!"


"Oh ya satu lagi, Bi Tina harus mengutamakan perintahku, karena aku yang membayar gaji Bi Tina bukan kalian!" ucap Muti sembari mengajak Bi Tina pergi.


"Bi, jika Tuan nanti Tanya, bilang saja, aku pergi bersama teman dan mungkin akan singgah ke rumah Papa. Aku ingin mengetahui perkembangan kesehatan Papa."


"Baik Nyonya," jawab Bi Tina.


"Oh ya Bi, Saya minta maaf ya. Karena Saya yang telah menambahkan garam ke ayam goreng pesanan Clara. Bibi, jadinya yang kena sasaran kemarahan dia," ucap Muti.


"Nggak jadi masalah Nya, Bibi juga kesal terhadap sikap Nyonya Clara yang sepertinya mau berkuasa di rumah Nyonya."


"Biarkan saja Bi, dia tidak akan bisa menguasai rumah ini selagi tanpa izin dari Saya. Kalau begitu Saya pergi dulu ya Bi, jika wanita bawel itu marah-marah terus, sebaiknya bibi tinggal ke taman saja. Lebih enak ngadem di sana."


"Iya Nya, hati-hati ya Nya," ucap Bi Tina.


Muti pun mengangguk, lalu dia mengeluarkan selembar uang ratusan dan memberikannya kepada Bi Tina, "Simpanlah Bi, mana tahu Bibi kepingin membeli sesuatu."


"Sekali lagi terimakasih Nya, Nyonya sangat baik, begitu berbeda dengan Nyonya Clara. Bibi jadi heran kenapa Tuan bisa terjerat dengan wanita seperti itu," ucap Bi Tina sembari menutup mulutnya.


"Nanti Bibi akan paham setelah lebih dalam mengenal siapa Clara," ucap Muti sembari meninggalkan Bi Tina yang mematung.


Bi Tina memandang kepergian Sang Nyonya yang menurutnya sangat baik sambil tersenyum dan berkata dalam hatinya, jika Sultan sangat bodoh, telah menduakan wanita baik dengan wanita ular seperti Clara.

__ADS_1


__ADS_2