
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Muti meninjau pekerjaan para staf sekaligus ingin menemui Elena.
Muti bergegas menemui Elena, lalu dia menceritakan bahwa telah bekerjasama dengan perusahaan Persada Raya yang ternyata pemiliknya adalah orangtua dari teman sekolahnya.
Elena yang mendengar hal itu merasa kagum, lalu dia berkata, "Wow...hebat Mbak, itu 'kan perusahaan besar. Kenapa nggak Mbak Muti tarik saja ke perusahaan Mas Adam? Bukankah sebentar lagi kita juga akan pindah kesana Mbak?"
"Nggak El, kerjasama dengan Perusahaan Persada Raya biar menjadi rezekinya perusahaan ini. Itu akan menjadi kenangan terakhir ku bekerja di sini," ucap Muti.
"Oh begitu ya Mbak. Oh ya, jam berapa kita ke rumah Pak Hendrawan Mbak!"
"Nanti sore sekitar pukul 16 saja El, jadi kita tidak akan telat pulang. Mengenai jadwal menemui Pradipta, aku akan hubungi beliau dulu dan sesuaikan dengan jadwal kerja ku besok."
"Ya sudah Mbak, setelah makan siang aku ke kantor Ayah dulu ya Mbak! Jadi dari sana barulah menjemput Mbak."
"Terserah kamu El, aku ikut bagaimana bagusnya saja!"
"Oke Mbak, aku lanjutkan pekerjaan dulu ya Mbak?"
"Silakan El, aku juga mau ke bagian perancangan, setelah itu mengecek bagian penjahitan, baru kita pergi makan siang ya!" ucap Muti.
"Oke, siap Bos!"
"Ya sudah El, lanjutlah kerja! Aku keluar dulu ya."
Muti pun pergi ke bagian perancangan, dia melihat para designer sedang mengerjakan tugas-tugas mereka dan setelah puas melihat-lihat, barulah Muti pergi ke bagian penjahitan.
Para karyawan dalam beberapa hari kedepan lembur untuk mengejar target produksi yang harus secepatnya mereka kirim ke pemesan.
Muti mendekati seorang penjahit yang sudah lumayan lama bekerja di sana. Dia hanya ingin tahu, apa pekerjaan mereka bisa selesai tepat waktu atau tidak.
"Bagaimana Mbak, bisa selesai target kita? Soalnya mau lanjut pekerjaan lain," ucap Muti.
"Kalau saya perkirakan bisa Bu!"
"Baiklah Mbak, silakan lanjutkan dan besok, Saya akan instruksikan pekerjaan yang baru."
"Oke Bu!"
Muti pun kembali ke ruangannya dan dia bersiap untuk makan siang di luar.
Belum sempat Muti menelepon, ada panggilan masuk dari Adam.
"Hallo Sayang, sudah makan atau belum? ku harap belum ya, karena aku mau ajak kamu untuk menemaniku makan!" ucap Adam.
__ADS_1
"Saat ini rencananya, aku dan Elena ingin makan siang bareng Elena, tapi jika Mas Adam hendak kesini, kami akan tunggu hingga Mas sampai."
"Lihatlah dari jendela!" pinta Adam.
Muti, menuju ke jendela yang mengarah ke parkiran dan dia melihat, Adam melambaikan tangan di sana.
"Ih, Mas Adam ternyata sudah sampai!"
"Bersiaplah, aku tunggu kalian di sini!" ucap Adam.
"Baiklah Mas! Aku telepon Elena dulu."
Mutipun mematikan ponselnya, lalu menelepon Elena. Tapi, karena Elena akan pergi ke kantor ayah setelah makan siang, diapun meminta Muti untuk berangkat duluan bersama Adam.
Jika nanti pekerjaannya cepat selesai, barulah Elena menyusul.
Akhirnya Muti pun bergegas turun dan dia menuju parkiran untuk menemui Adam.
Melihat sang calon istri sudah berdiri di hadapan, Adam pun membuka pintu mobil dan mempersilakan Muti untuk Naik.
"Mas, kenapa datang nggak memberi kabar dulu? Untung saja saat ini aku pas kosong jadwal dan kebetulan memang janji makan siang di luar bersama Elena."
"Jadi, dimana Elena sekarang Yang? Apa dia masih di kantor Ayah? Kalau begitu kita jemput saja dia, baru mencari resto yang kalian mau.
"Oh gitu, mari kita berangkat. Bila sudah sampai resto baru kita kabari Elena," ucap Adam.
Muti pun mengangguk, lalu
Adam melajukan mobilnya menuju tempat sesuai keinginan Muti.
"Jadi kapan rencananya kamu mau ke rumah keluarga Hendrawan Yang?"
"Rencananya sore ini Mas, setelah kami pulang dari kantor ayah. Tadinya aku mau balik ke kantor dulu, tapi setelah ku pikir-pikir, kasihan juga Elena. Dia musti bolak balik menjeputku. Elena berjanji akan menemaniku kesana dan kebetulan Raja juga pulang ke rumah hari ini."
"Oh, baguslah. Apa perlu aku temani? Supaya mereka tidak salah paham," ucap Adam.
"Apa Mas Adam tidak keberatan?"
"Kenapa harus keberatan, semakin cepat mereka tahu malah semakin baik. Aku juga ingin mengucapkan terimakasih karena mereka telah menyayangimu seperti anak mereka sendiri dan aku tidak ingin mereka salah paham kenapa kamu mengembalikan semua yang telah mereka berikan."
"Baiklah Mas, jemput saja kami nanti di kantor Ayah," pinta Muti.
"Iya Sayang. Jadi hubungan Elena dengan Raja bagaimana?"
__ADS_1
"Kata Elena, Raja ingin serius melamarnya. Kepulangan Raja kali ini sebenarnya karena ingin membicarakan tentang hubungan mereka kepada mama papa."
"Apakah Bapak dan ibu Hendrawan menyetujui hubungan Elena dan Raja, Mut?"
"Sepertinya iya Mas, Papa Mama sudah mengenal Elena kok, apalagi mereka tahu bahwa Elena gadis baik dan sudah tidak memiliki keluarga lagi."
"Oh, baguslah! Keluarga Hendrawan dan ayah akan terikat erat lagi, jika nanti pernikahan Elena dan Raja benar terlaksana," ucap Adam.
"Iya Mas, mungkin ini memang takdir yang sudah digariskan oleh Allah, tetap mempersatukan kedua sahabat meski hubunganku dan Kak Sultan sudah berakhir."
"Syukurlah jika begitu. Walaupun aku belum terlalu lama mengenal beliau tapi aku tahu, Pak Hendrawan orang yang sangat baik."
"Iya, kamu benar Mas."
"Oh ya, kita sudah sampai. Sudah lama aku tidak makan di resto hidangan laut. Makanan-makanan ini mengingatkan aku akan ibu," ucap Adam.
"Maaf ya Mas. Kenapa Mas nggak bilang tadi? Aku nggak mau lho, jika Mas sedih saat mengingat sosok ibu," ucap Muti yang merasa bersalah.
"Nggak apa-apa Mut, ayo kita turun dan lanjut ngobrol di dalam saja. Kita ambil bangku yang agak ke ujung ya, di sana pemandangan terlihat sangat bagus."
"Oke Mas, aku setuju," jawab Muti.
Adam pun mengikuti instruksi dari petugas parkir untuk memarkirkan mobilnya. Setelah itu keduanya pun masuk ke area dalam resto.
Seorang pelayan menyambut kedatangan mereka dengan sangat ramah, lalu mengantar ke tempat yang Adam dan Muti inginkan, sembari membawa buku menu.
Muti dan Adam memilih menu istimewa di resto tersebut, yaitu seafood saus Padang, ikan bakar dan tidak ketinggalan cah kangkung. Sedangkan minuman yang mereka pilih adalah jus jeruk plus air mineral.
Sambil menunggu pelayan datang mengantar hidangan yang mereka pesan, Muti pun menelepon Elena agar segera menyusul.
Namun, sebelum Elena berangkat, Muti memintanya untuk membawakan berkas pengalihan harta yang dulu diberikan oleh pengacara Pradipta.
Berkas itu tadi tertinggal di dalam laci meja kerjanya, karena Muti terburu-buru turun untuk menemui Adam.
Dan berkas itulah, yang nanti sore akan Muti serahkan kepada Papa Mama Hendrawan, sebagai bukti bahwa dirinya telah menyerahkan hak Sultan kembali.
Elena yang sudah menyelesaikan tugasnya, bergegas membereskan meja, lalu menuju ke ruangan Muti untuk mengambil apa yang Muti minta.
Setelah mendapatkannya, Elena pun menuju parkiran dimana mobilnya berada.
Dengan bernyanyi-nyanyi kecil untuk melepas penat, Elena pun melajukan mobilnya keluar dari area perusahaan menuju resto di mana Muti dan Adam menunggu.
Apakah yang bakal terjadi terhadap Elena selanjutnya? ikuti terus ya sobat, lanjutan ceritaku. Dan maaf baru sempat Up ya sobat, karena kesibukan tugas real yang tidak bisa diabaikan.
__ADS_1