
Sultan tiba di rumah, wajah Papa Hendrawan nampak tegang melihat putranya hampir 3 jam baru kembali dari membeli obat.
Begitu Sultan masuk dan menyapa sang Papa, Pak Hendrawan langsung melayangkan sebuah tamparan dan berkata, "Di mana hati nurani mu! Istri sedang sakit dan membutuhkan obat kamu malah keluyuran nggak jelas!"
Kemudian Papa Hendrawan berkata lagi, "Aku tidak pernah mengajari kalian untuk menjadi anak yang tidak bertanggungjawab."
Sultan mengelus pipinya yang memerah, disana terlihat cap 5 jari tangan sang Papa. Dia tidak terima atas tamparan tersebut lalu Sultan berkata, "Semua ini karena Papa! Aku kan sudah bilang tidak ingin menikah dengan Mutiara, tapi Papa dan Mama terus memaksa!" bantah Sultan.
"Dasar anak tidak berguna! Kami memilihkan yang terbaik untukmu, bukan mau menjerumuskanmu!" ucap Papa Hendrawan.
"Sekarang pilihan ada di tanganmu, jika kamu masih terus bertindak sesuka hati, jangan harapkan apapun dari kami. Anggap kami sudah mati dan semua fasilitas akan aku tarik, termasuk kenderaan dan apartemen kamu! Terserah, kamu mau tinggal dimana!" ucap Papa Hendrawan, lalu pergi meninggalkan putranya, karena tidak ingin pertengkaran mereka di dengar oleh sang besan.
Sultan masih berpikir, jika dia menentang sang Papa saat ini, bagaimana untuk memenuhi kebutuhannya nanti, sedangkan hasil dari bursa saham miliknya sendiri, semua untuk memenuhi kebutuhan Clara, bahkan kadangkala masih kurang jika tuntutan Clara bertambah.
Jika memang dia bertekad keluar dari silsilah keluarga, Sultan harus mempersiapkan semuanya sejak sekarang.
Sultan mengelap wajahnya dengan kasar, lalu dia pergi ke kamar untuk memberikan obat Mutia.
Di kamar, Muti masih di temani oleh Mama, ibu serta Elena. Saat Sultan datang, sang Mama memasang muka cemberut, beliau kesal melihat perbuatan putranya.
"Sultan tahu, Mama lagi marah terhadapnya, lalu dia mengambil segelas air minum dan mengambil obat sesuai aturan minumnya, setelah itu memberikannya kepada Muti.
"Minumlah Mut, maaf! Aku telat," ucap Sultan.
Elena membantu Muti untuk duduk, lalu Muti menerima obat dan air minum dari tangan Sultan dan segera meminumnya. Dia tidak khawatir karena Dokter mengatakan, obat tersebut adalah vitamin.
"Terimakasih," ucap Muti.
Sultan pun mengangguk, lalu dia membaringkan Muti kembali. Setelah itu dia bertanya, "Apakah perutmu masih sakit? Apa tidak lebih baik jika kita ke rumah sakit saja, agar kamu bisa dirawat dengan intensif," ucap Sultan.
"Nggak apa-apa Kak, ntar juga sembuh, setelah minum obat dan istirahat," ucap Muti.
__ADS_1
"Oh ya Nak, karena Nak Sultan sudah di sini, Ibu dan Elena keluar dulu ya, mau temani Ayah kamu dan ada beberapa tamu yang masih disini," ucap Ibu.
"Iya Bu, bilang sama Ayah, jangan khawatir, aku tidak apa-apa kok dan sebentar lagi juga sembuh," ucap Muti.
"Mama juga keluar ya Nak, sebaiknya kamu istirahat. Jika anak Mama macam-macam dan tidak peduli denganmu, bilang saja ke kami. Kamu jangan takut, kami menyayangimu seperti putri kami sendiri," ucap Mama.
"Iya Ma, terimakasih," jawab Mutia sambil memperhatikan wajah suaminya.
Elena juga pamit, dia ingin membantu membereskan sisa hidangan dan membantu membersihkan peralatan makan.
Setelah kepergian mereka, Mutia memegang wajah suaminya yang masih memerah. Sedari tadi Muti ingin bertanya, tapi nggak enak sama Ibu dan Mama.
"Kak! ini kenapa?" tanya Muti.
"Nggak apa-apa, tadi ada nyamuk, eh aku pukulnya kekuatan jadi berbekas dan memerah," ucap Sultan berbohong.
"Oh, Kak Sultan belum makan 'kan? Aku ambilkan ya!" ucap Muti.
Mutipun mengangguk, dia masih memikirkan tanda bekas tamparan di pipi Sultan.
Sultan keluar dari kamarnya menuju ke dapur untuk mengambil makanan.
Saat dia sedang menyendok nasi dan mengambil lauk, Mama mendekat dan berkata, "Tan, tolong! Jangan keterlaluan terhadap muti."
"Mama tahu, kamu belum bisa mencintainya, tapi berusaha dan yakinlah, dia itu istri yang terbaik untukmu. Jika kau masih mendekati wanita itu, siapa? Oh ya Clara, kau pasti akan menyesal. Apalagi jika sampai Muti tahu dan memilih meninggalkanmu. Ingat, omongan Mama Tan!" ucap Mama, lalu meninggalkan putranya.
Sultan mendesah, lalu pergi ke kamar untuk menemani Mutiara sambil makan. Tapi saat dia hendak masuk ke kamar, Raja menghampirinya dan bertanya, "Bagaimana keadaan Mbak Muti Kak? Aku dengar dari pelayan, katanya dia sakit?"
"Iya, tapi sudah mendingan kok, Kamu mau menjenguknya?" Tanya Sultan.
"Iya, jika Kak Sultan izinkan," ucap Raja.
__ADS_1
"Masuklah! Kalian ngobrol dulu, aku mau makan," ucap Sultan.
Raja masuk, lalu mendekati Mutiara dan menyapa, "Bagaimana keadaan Mbak Muti? Aku dengar Mbak Muti sakit?"
Muti tersenyum, dia senang Raja perhatian terhadapnya, padahal mereka belum pernah bertemu selain tadi saat di bandara.
"Cuma sakit biasa kok Dek. Ini kamu bisa pulang, sedang libur ya kuliahnya?" tanya Muti.
"Sudah hampir selesai Mbak, tinggal pertanggungjawaban skripsi saja. Tapi setelah itu aku mau lanjut ambil gelar Master, biar sekalian. Jika berhenti dulu, nanti bakal susah cari kesempatan untuk kuliah lagi. Mana Papa sudah mendesak aku untuk bantu Kak Sultan kelola bisnis."
"Ya wajar Dek, jika Papa meminta kamu untuk membantu kelola bisnis, soalnya kata Ayah Mbak, bisnis Papa sangat banyak, hingga Kakak kamu tidak akan bisa menghandle sendiri, jika papa memilih pensiun dari dunia bisnis."
"Mbak Muti ikut bantu dong, pegang salah satu bisnis Papa agar Kak Sultan tidak kewalahan," saran Raja.
"Mana mungkin Mbak Muti bisa Dek, Mbak cuma lulusan SMU. Mana ada pengalaman bisnis Mbak."
"Semua itu bisa di pelajari Mbak, yang penting kemauan. Jika Mbak mau, nanti aku bilang ke Papa. Aku yakin Mbak Muti pasti bisa jadi pengusaha sukses, soalnya Ayah Danu juga pengusaha sukses, pasti sedikit banyaknya menurun di anak-anaknya."
"Nanti lah Dek, Mbak pikir-pikir dulu, lagipula belum tentu boleh 'kan, sama Kakak kamu," ucap Muti sambil memandang Sultan.
Sultan pun menatap tajam ke arah Muti, dia tidak menyangka jika Muti dan adiknya bisa cepat akrab, padahal ini kali pertama mereka memiliki kesempatan untuk ngobrol berdua.
Kemudian Raja bertanya kepada Sultan, "Boleh 'kan Kak?"
Sultan hanya diam, tidak menoleh dan tidak menanggapi pertanyaan Raja. Dia mengelap mulutnya dengan tissue karena baru selesai makan.
Raja yang melihat sang kakak cuek saja, kembali bertanya, "Bagaimana Kak? boleh Kak Muti bekerja?"
"Bagaimana mau bekerja, jika mengurus diri sendiri saja nggak becus! Lihat itu, sekarang malah terbaring di tempat tidur," jawab Sultan.
"Kakak nggak boleh ngomong seperti itu, barangkali dengan bekerja kak Muti akan lebih bahagia, lebih terhibur dan yang pasti nggak stres cuma jadi penunggu rumah yang penghuninya nggak pasti pulang jam berapa," ucap Raja, dia sengaja menyindir Sultan.
__ADS_1
Raja selama ini mendapat pengaduan dari sang Mama tentang perilaku dan pergaulan sang Kakak. Jadi dia bisa menduga Sang kakak masih akan melakukan hal yang sama karena Pernikahannya bukan atas dasar cinta.