
Sultan merenungi kejadian barusan, kata-kata Mutiara saat ini sedang terngiang-ngiang di telinganya, hingga dia merasa tidak tenang.
Apakah memang sikapnya tadi sangat keterlaluan, sedangkan Muti bersikap sangat baik terhadapnya.
Ketika Sultan hendak bangkit, ponselnya kembali berdering, Sultan tidak menghiraukan panggilan tersebut karena dia ingin menemui Muti dan meminta maaf.
Deringan berulang-ulang membuat Sultan kesal, lalu dia bermonolog, "Stop Clara, hari ini mood ku sangat buruk. Tolong dong! jangan ganggu aku dulu."
Karena ponsel itu terus berdering, Sultan hendak mematikannya. Namun ternyata, terlihat di sana Papa Hendrawan yang sedang meneleponnya.
Sultan pun buru-buru mengangkat panggilan tersebut, "Hallo Pa, maaf telat mengangkat, Sultan baru dari kamar mandi."
"Kamu kenapa nggak ngantor? Memangnya saat ini kamu sedang dimana? Papa di ruanganmu ini!" ucap Papa Hendrawan.
"Aku di rumah Pa, saat ini sedang tidak enak badan."
"Kamu sakit? kenapa tidak beritahu kami. Ya sudah, kamu istirahat saja beberapa hari ini, biar Papa yang handle pekerjaan. Oh ya, nanti sore Papa akan ajak Mama ke rumah kalian," ucap Pak Hendrawan.
"Iya Pa, terimakasih."
Pak Hendrawan pun menutup panggilan dan meminta Lusy untuk membawa berkas-berkas yang dia butuhkan.
Sultan keluar dari kamar, dia mencari Mutiara di dapur untuk meminta maaf. Namun, Sultan tidak menemukannya di sana.
"Dapur bersih dan pakaian kotor juga tidak ada, berarti Muti tadi berbohong, apa mungkin...," Sultan pun berhenti bermonolog, lalu dia bergegas menuju ke kamar Mutiara.
Sultan mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban dari dalam. Muti yang mendengar pintu kamarnya diketuk, buru-buru bangkit dan mengelap wajahnya. Muti menepuk-nepuk area matanya dengan spons bedak untuk menyamarkan sembab karena habis menangis.
Karena tidak ada juga jawaban dari dalam, Sultan pun memanggil, "Mut! bukalah pintunya, ada yang ingin aku bicarakan," pinta Sultan.
Muti pun membuka pintu dan membiarkan Sultan masuk.
__ADS_1
"Ada apa Kak?"
Sultan memandang Mutiara hingga membuat Muti salah tingkah karena menyembunyikan sembab di wajahnya. Dia tidak berani menatap Sultan dan pura-pura membereskan barang-barangnya.
"Kamu habis menangis? Maafkan aku sudah kasar terhadapmu. Oh ya Mut, aku harap pindahkan barang-barang mu sekarang juga ke kamar ku!" ucap Sultan.
Muti mendongak, heran sekaligus senang, tapi rasa senang itu ternyata tidak berlangsung lama.
"Kamu jangan berpikir yang aneh dulu, hubungan kita masih sama. Hanya, aku tidak ingin orangtua kita tahu, bagaimana sebenarnya rumah tangga kita. Orangtuaku akan datang sore ini, jadi berkemaslah sekarang. Aku akan keluar sebentar, membeli makanan untuk menjamu mereka," perintah Sultan dan berlalu keluar dari kamar Muti.
"Hah," desah Muti. Ternyata Sikap Sultan masih sama. Hanya basa basi untuk meminta maaf dan meminta dirinya bersandiwara di hadapan mertua.
Sepeninggal Sultan muti pun membereskan barang-barangnya agar bisa dia pindahkan ke kamar Sultan.
Sementara Sultan masih memanaskan mesin mobilnya, saat kedua ibu penggosip kompleks mendekatinya.
"Eh, Dek ganteng mau kemana? tumben pergi siang, memangnya sedang libur ya!" tanya Bu Susi dari luar pagar.
Bu Susi dan Bu Dirta memang terkenal sebagai biang gosip di sana, tapi Sultan dan Muti orang baru jadi belum kenal dengan lingkungan di sana.
"Oh, istri saya sedang berberes rumah Bu," jawab Sultan.
"Oh ya Dek, sebelumnya kami minta maaf ya, beberapa hari lalu, istrimu di antar oleh tiga orang pria, nampaknya istrimu habis ngeborong. Memangnya siapa ketiga pria itu Dek? Kamu kan tidak di rumah, jika terjadi apa-apa bagaimana? Tidak baik kan di pandang warga, seperti wanita nakal saja," hasut Bu Susi.
"Oh, mereka teman dan sepupu Saya Bu. Memang Saya yang minta untuk mengantarkan istri saya pulang, karena saya nggak bisa jemput Muti saat belanja. Maklum Bu, pekerjaan sedang menumpuk," jawab Sultan tapi hatinya gemuruh, dia menahan amarah atas perbuatan Muti yang menurut Sultan mempermalukan dirinya di hadapan tetangga.
"Oh, gitu ya Dek. Maaf jika Ibu salah dan bukannya mau ikut campur. Tapi inikan, demi kebaikan kalian sebagai tetangga kami," ucap Bu Dirta.
"Kalau begitu, kami permisi dulu ya Dek, mau melanjutkan memasak. Sebentar lagi, anak-anak pulang sekolah, belum ada sambal," ucap Bu Susi.
"Aku juga ya Dek, belum mencuci," ucap Bu Dirta sembari tersenyum-senyum keganjenan.
__ADS_1
"Dasar, ibu-ibu kurang kerjaan! Sukanya ngurusi urusan orang lain, padahal pekerjaan di rumahnya masih terbengkalai, bisa-bisanya keliling kompleks," monolog Sultan sembari geleng-geleng kepala.
"Eh...bagus juga ada mereka. Aku jadi tahu perangai Mutiara. Sok alim di depanku, ternyata lebih parah, membawa tiga pria sekaligus ke rumahku. Aku tidak terima, Muti mencoreng muka ku seperti ini! Selagi kami belum bercerai, Muti harus bisa menjaga image ku di mata semua orang!" monolog Sultan yang sedang marah lalu bergegas masuk mencari Mutiara.
Masih sampai di anak tangga, Sultan berteriak, "Muti kesini! Cepat!"
Teriakan Sultan membuat Muti kaget, lalu dia buru-buru keluar kamar dan mencari di mana asal suara tersebut.
Ternyata Sultan menunggunya di anak tangga paling bawah. Muti pun turun, dia tidak mengerti kenapa Sultan berteriak marah.
Karena terburu-buru menuruni anak tangga, muti pun terpeleset di dua anak tangga terakhir, hingga akhirnya menabrak Sultan.
Sultan terdorong kebelakang, hampir saja Muti jatuh kelantai kalau Sultan tidak menarik Muti ke dalam pelukannya.
Sultan buru-buru melepaskan Muti, lalu dia berkata, "Makanya kalau jalan gunakan mata, kalau kamu tadi cidera, siapa yang bakal di persalahkan? yang pasti aku!" marah Sultan.
"Maaf Kak, aku memang ceroboh. Kak Sultan kenapa belum pergi? Dan kenapa Kakak berteriak?" tanya Muti.
"Siapa laki-laki yang kamu bawa ke sini ha! lancang sekali kamu, jika mau jadi pelacur boleh saja, tapi nanti setelah kita bercerai! Ingat Muti, statusmu masih istriku!"
Muti awalnya bingung, apa maksud dari perkataan Sultan, setelah beberapa saat berpikir barulah dia ingat jika dia diantar pulang oleh laki-laki Adam dan teman-temannya.
"Oh, Kak Sultan salah paham. Mereka adalah Mas Adam dan teman-temannya."
"Apa, Adam kesini. Sial! apa yang dia incar."
"Kak Sultan jangan berburuk sangka dulu. Kakak ingat, saat aku belanja ke swalayan? Aku tidak akan sampai rumah Kak! Jika Mas Adam dan teman-temannya tidak datang menolong," ucap Mutiara.
Kemudian Muti menceritakan kejadian selengkapnya, tapi Sultan belum juga terima. Apalagi, orang itu adalah Adam.
Bukankah aku tip ex
__ADS_1