
Clara yang telah menelepon pengacara Pradipta, merasa tidak yakin jika Sultan saat ini tidak memiliki hak lagi atas perusahaan induk, apalagi ketika Pradipta mengatakan jika Sultan hanya diberikan hak untuk mengelola satu perusahaan anak cabang.
Dengan marah Clara menuduh Pradipta telah berbohong dan sekongkol dengan Mutiara, membodohi Hendrawan agar mengalihkan perusahaan induk kepada Mutiara.
Clara menutup panggilannya, dia bergegas pergi, ingin mencari tahu dan meminta penjelasan dari Sultan, apa berita yang dia dengar dari Pradipta itu benar atau hanya bualan saja, karena ingin membuatnya panas.
Terlebih dahulu Clara ingin mencari Hardi agar bisa mengantarnya untuk mencari Sultan karena dia malas naik turun taksi yang baginya sangat membosankan dan melelahkan.
Namun, karena ponsel Hardi masih saja tetap tidak bisa dihubungi, Clara akhirnya memesan taksi online dan rencananya dia ingin mencari Hardi ke apartemen Sultan.
Selama Clara pindah ke rumah Mutiara, mobil dan kunci apartemen, dia percayakan kepada Hardi, meski tanpa izin dulu kepada Sultan.
Taksi sudah memasuki kawasan apartemen, lalu Clara meminta Pak Sopir untuk menunggunya sebentar sampai dia memastikan apakah Hardi ada di dalam atau tidak.
Clara memencet bel berulang-ulang tapi tetap saja tidak ada yang membukakan pintu.
Ketika dia hendak pergi, Clara melihat pintu terbuka dan yang membuatnya terkejut adalah Sultan berdiri di sana.
Clara langsung memberi kode kepada pak Sopir agar pergi, lalu Clara menghampiri Sultan yang nampak kusut. Baju Sultan masih sama seperti yang dia kenakan malam tadi.
"Aduh Kak! Aku telepon Kakak terus sejak tadi malam, kenapa ponsel tidak Kakak aktifkan. Aku 'kan khawatir!"
"Coba lihat! kenapa Kakak kusut sekali, mana baju tidak diganti, percuma punya 2 istri, tapi penampilan seperti ini! Kucel, kusut, lusuh, entah apa lagi julukan yang sesuai bagi Kak Sultan saat ini!" ucap Clara sembari menarik baju serta memegang rambut Sultan.
"Akh kamu bawel!" ucap Sultan.
"Apa Kakak bilang! Sekarang Kak Sultan sering sekali bersikap kasar kepada ku, padahal dulu Kakak orang paling lembut yang pernah aku kenal."
"Heemm, ini lagi! Mulut Kak Sultan bau minuman!" ucap Clara ketika dirinya mendekat dan mencium bau alkohol.
__ADS_1
"Kak Sultan memangnya kemana tadi malam! Apa Kakak mabuk di club dan mana mobil Kak Sultan?"
"Entahlah, sudah jangan banyak tanya! Kepalaku pusing! Sekarang lebih baik kamu buatkan aku sarapan, perutku lapar!" perintah Sultan.
"Aduh Kak, kenapa aku! Kakak tahu 'kan aku tidak bisa memasak, makanya ayo kita pulang, Bibi pasti sudah masak di rumah. Aku juga lapar, karena tadi tidak berselera sarapan buru-buru ke kantor mencari Kak Sultan."
Ngomong soal kantor, Clara jadi teringat Muti dan perkataan Pradipta. Clara jadi terpancing amarah lagi, "Oh ya Kak, sekarang tolong jelaskan ke aku, kenapa Kak Sultan bukan Presdir lagi di perusahaan Papa!" seru Clara.
"Sudahlah Clara aku lapar, malah kamu tanya yang tidak penting kamu tanyakan!" jawab Sultan.
"Apa! Tidak penting kata Kakak! Tapi itu penting bagiku dan anak kita Kak!"
"Iya aku tahu, tapi jangan bicara itu sekarang, kamu ngertiin aku dong! Aku saat ini sedang pusing dan lapar, kalau kamu tidak mau memasak makanan untuk ku, ya sudah, pulang saja! Biarkan aku di sini, aku butuh menenangkan diri!" ucap Sultan.
"Tapi, aku butuh penjelasan sekarang, aku tidak bisa menunggu, aku harus memperjuangkan hak anak kita, sebelum Muti dengan seenak hati menghamburkan, apa yang bukan haknya!" ucap Clara.
Sultan tidak mempedulikan ucapan Clara, dia berjalan ke dapur sambil memegangi kepalanya yang masih pusing.
Kulkas juga kosong, bahkan air minum pun tidak ada meski setetes. Hanya sisa makanan dan minuman keras yang berserak di meja depan karena ulah Hardi dan teman-temannya tadi malam.
"Kamu bagaimana sih, kemana uang yang aku berikan? Kenapa apartemen ini bisa kosong, tidak ada makanan dan minuman walau hanya sedikit dan itu di ruang tamu apa? Kenapa banyak bekas minuman dan makanan berserak! Siapa yang kamu beri izin untuk masuk ke sini Clara!" Bentak Sultan.
"Mana aku tahu! Kamu yang di sini kenapa tanya aku sih! Jangan-jangan malah kamu yang membawa teman-teman mu mabuk di sini!" bantah Clara.
"Itu ada jaket wanita, itu pasti punya selingkuhan mu 'kan?" tanya Clara sembari menarik kemeja Sultan.
"Lepaskan! Kamu jangan omong kosong! Kapan aku selingkuh, sementara waktuku habis buat kamu, Muti dan perusahaan!" bantah Sultan sambil menepis tangan Clara yang masih mencengkeram kerah bajunya.
Mendengar perkataan Sultan, Clara baru teringat dengan Hardi, barangkali itu adalah perbuatan Hardi dan yang menghabiskan semua makanan di sana pasti juga Hardi.
__ADS_1
Clara mendesah, dia sebenarnya sudah tidak sabar ingin bertemu Hardi, tapi dia juga masih penasaran dan butuh penjelasan dari Sultan.
Clara akhirnya mengalah, kalau mereka terus bersitegang seperti ini, Clara pasti tidak akan mendapatkan apapun yang ingin dia ketahui dari Sultan.
Akhirnya Clara memesan makanan via kurir dan dia meminta Sultan untuk mandi sambil menunggu pengantar makanan tiba.
Clara membuka lemari dan dia melihat satu pun pakaian Sultan tidak ada di sana, padahal Sultan sengaja meninggalkan beberapa helai pakaian ganti di apartemennya, untuk keperluan bila dia datang ke tempat itu.
Dengan kesal, Clara menghempaskan pintu lemari, lalu dia membuka mesin cuci ternyata pakaian yang dia cari ada di dalam mesin dalam keadaan kotor semua.
Clara bingung harus mengatakan apa kepada Sultan, dia tidak mungkin mengatakan jika itu perbuatan Hardi.
Sultan telah keluar dari kamar mandi, tapi dia tidak melihat pakaian ganti yang di siapkan oleh Clara. Malah Sultan melihat Clara tiduran di atas tempat tidur sambil memegangi perutnya.
"Clara! Apa-apaan ini, mana pakaian gantiku? Kamu kenapa malah tiduran dan kenapa dengan perutmu?" tanya Sultan.
"Perutku sakit Kak, bagaimana ini? Aku takut terjadi apa-apa dengan anak kita," ucap Clara yang sedang berpura-pura agar Sultan tidak marah.
"Tapi aku butuh pakaianku Clara, baru kita ke rumah sakit. Sebentar aku ambil pakaian dulu, kamu tahan ya!" ucap Sultan.
Sultan membuka lemarinya tapi dia sangat terkejut melihat tidak ada satu helai pun baju ada di sana. Bahkan pakaian dalam pun tidak ada.
"Clara! Kamu kemanakan semua pakaian ku? Kenapa tidak ada satu pun di sini?" tanya Sultan.
"Aku lupa Kak, barangkali terbawa pulang ke rumah kita," ucap Clara beralasan.
"Jadi bagaimana ini, apa mungkin aku mengenakan pakaian kotor ku semalam, sedangkan kita mau ke rumah sakit;" ucap Sultan.
"Begini saja Kak, kakak pakai yang kotor tadi dan setelah makan, kita pulang. Tidak usah ke rumah sakit, kita panggil saja dokter ke rumah. Aku rasa masih bisa tahan sampai di rumah," saran Clara.
__ADS_1
"Terserah kamu lah! Tapi, jika terjadi sesuatu dengan bayi itu, jangan salahkan aku!" ucap Sultan lagi.
Clara tersenyum, kali ini dia selamat dari amukan Sultan. Dan tidak lama menunggu, pengantar makanan pun tiba. Mereka lalu menyantap semua makanan sebelum memutuskan untuk pulang.