MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 140. SURPRISE


__ADS_3

"Aku pikir dia berbohong Mbak!" ucap Elena yang menghampiri Muti.


"Awalnya aku juga berpikir seperti itu El, ternyata aku salah. Clara benar telah berubah, dia ingin memulai hidupnya yang baru di kampung halaman. Tapi sebelumnya dia ingin meminta maaf kepada orang-orang yang telah dia sakiti, termasuk aku."


"Salut aku melihat keberaniannya Mbak, meskipun kesalahannya sangat besar dan dia di benci banyak orang, tapi dia tidak gentar untuk datang meminta maaf."


"Iya Ja, mudah-mudahan saja hidayah terus datang kepada Clara hingga dia menjadi wanita yang lebih baik. Ayo kita makan, aku tidak mau Kak Fadhlan dan Kak Fadhil khawatir karena kita pulang telat!"


"Iya Mbak, pasti sebentar lagi Kakak ganteng kita itu telepon," timpal Elena sambil tertawa.


Belum lagi duduk, ponsel Muti berdering dan Fadhil memastikan tentang keberadaan mereka. Fadhil juga meminta agar mereka jangan pulang terlalu larut.


Muti merasa heran, kenapa sang Kakak berkata, jangan pulang larut, padahal mereka seringkali pulang tepat waktu.


"Kak Fadhil ya Mbak?" tanya Raja.


"Iya, aneh saja Ja, Kak Fadhil bilang, kita jangan pulang larut, padahal kita 'kan selalu pulang lebih cepat."


"Eh, ada apa dengan Kak Fadhil ya Mbak?"


"Itu tandanya mereka sayang terhadap adik-adiknya. Mereka mungkin takut Mbak, bukankah orang Jawa bilang, kita darah manis, calon pengantin anyar," ucap Raja.


"Kamu benar Ja, jika orangtuaku masih hidup, mereka pasti melarang kita keluar rumah. Adat dan budaya yang mereka yakini masih terlalu kental."


"Oh ya Mbak, Mas Adam kapan pulang, katanya pekerjaan Mas Adam sudah hampir selesai?" Tanya Raja.


"Belum tahu pastinya Ja, tapi Mas Adam bilang paling lambat minggu depan."


"Cie yang rindu, pekerjaan dua bulan diselesaikan dengan kejar target hanya sebulan. Salut aku lihat Mas Adam," timpal Elena.


Saat mereka masuk dan hendak duduk di tempat yang Raja booking, ketiganya terkejut. Seseorang telah duduk di sana sambil membaca koran.


Koran menutupi area tubuh depan orang tersebut, hingga mereka tidak bisa mengenali siapa yang sembarangan duduk di sana, padahal sudah diberi tulisan jika telah di booking.


Elena yang gampang terpancing emosi, duluan menghampiri, "Hei Mas! Ini meja kami. Apa Mas tidak bisa membaca tulisan itu? Tolong pindahlah dari sini, karena kami mau duduk!"


Orang tersebut tidak bergeming, dia sepertinya asyik dengan koran yang terkembang lebar.


Muti seperti tidak asing dengan cincin yang ada di jari orang tersebut. Tapi, kemudian hatinya berkata mungkin hanya kebetulan saja. Pasti ada cincin yang sama di luaran sana.


Namun, kenapa hatinya berdesir saat mencium aroma parfum yang digunakan orang itu juga sama.

__ADS_1


Saat tangan Elena bergerak, Muti menghalangi. Dia terlebih dulu menarik koran hingga koyak dan ternyata fillingnya benar. Adam menyeringai di balik koran sambil membuka topi yang menutupi wajahnya.


"Ih...Mas Adam jahat! Hampir saja aku berkata kasar mau mengusir Mas. Untung saja, Mbak Muti menghalangiku!" ucap Elena malu.


"Ya, ternyata surpriseku gagal, Muti mengenaliku!" ucap Adam sambil tersenyum.


"Bau parfum dan cincin itu, membuatku curiga Mas! Makanya aku menghalangi tangan Elena. Kapan Mas Adam sampai? Kenapa tidak memberi kabar dulu?"


"Kalau beri kabar, bukan surprise namanya Sayang!"


"Kalau begitu malam ini kita merayakan kepulangan Mas Adam. Bagaimana jika kita selesai makan, langsung pergi nonton bioskop? Sudah lama 'kan kita tidak nonton Sayang," ucap Raja sambil memandang Elena.


"Iya aku setuju, bagaimana Mas Adam? Apa Mas mau dan tidak lelah?" tanya Elena.


"Boleh! Bukankah sejak jadian kita belum pernah nonton di bioskop kan Yang?" tanya Adam kepada Muti.


"Aku ikut saja Mas, yang penting Mas Adam nggak lelah."


"Baiklah, sekarang kita makan dulu, setelah itu kita ibadah maghrib lalu lanjut nonton."


"Deal," ucap Elena di susul yang lain.


Mereka pun makan, setelah itu mencari masjid terdekat untuk menunaikan kewajiban.


Kemudian ke empatnya bergegas menuju mall yang ada bioskopnya. Adam membeli tiket bersama Muti, sedangkan Elena dan Raja membeli popcorn juga minuman.


Ketika sudah sampai di dalam bioskop, Muti baru teringat, dengan perkataan sang Kakak.


"Pantas, tadi Kak Fadhil bilang jangan pulang terlalu larut, rupanya Mas Adam dan Kak Fadhil sudah sekongkol. Iya kan Mas?"


Adam menanggapi ucapan kekasihnya dengan senyum, ternyata Muti tanggap dengan ucapan Fadhil dan tentu saja Adam tidak bisa berbohong.


"Iya, aku mengaku dah. Aku tadi siang ke rumah kamu dan hanya Kak Fadhil yang ada di sana. Kak Fadhil pulang cepat karena ingin mengambil sesuatu sebelum ke rumah calon istrinya. Dan aku di beritahu, jika kalian akan berkumpul di sini."


"Untung saja kami tidak berubah pikiran dan pindah tempat nongkrong Mas!"


"Kalau pindah ya tetap aku kejar, bukankah mata dan telingaku ada di mana-mana."


"Ih, serem. Awas Mbak, Mas Adam bisa tahu kita pergi kemana saja! Jadi kita tidak bisa melirik cowok ganteng," ucap Clara menimpali omongan Adam.


"Awas kalau berani macam-macam!" ucap Raja.

__ADS_1


"Memangnya kenapa?" balas Elena.


"Aku ajak kamu langsung ke KUA hari ini juga!" jawab Raja seenaknya.


Semua tertawa, lalu pandangan mereka fokus ke layar yang sedang menampilkan film kesukaan Muti dan Elena.


Film berakhir dan Muti serta Elena menangis terbawa suasana dan cerita yang ditampilkan pada film tersebut.


Adam mengulurkan sebuah sapu tangan untuk mengelap air mata Muti.


Sementara Raja yang lupa membawa saputangan hanya mengelap air mata Elena dengan ibu jarinya.


Mereka bergegas pulang, karena jam sudah menunjukkan pukul 22.00. Pasti Fadhil dan Fadhlan sudah menunggu kepulangan adik-adiknya.


Benar saja, saat mereka tiba di rumah Muti, kedua kakak sedang menanti mereka di teras rumah sambil memainkan ponsel.


Keempatnya mengucap salam, lalu duduk bersama Fadhil dan Fadhlan. Muti langsung memberondong Fadhil dengan pertanyaan. Kenapa sang Kakak tidak memberitahunya jika Adam sudah pulang.


Fadhil pun menjawab, "Bukankah aku bilang jangan pulang larut? Kamu tidak pernah pulang larut selain pergi dengan Adam. Masa dari situ kamu tidak tanggap tentang pesan apa yang ingin kakakmu ini sampaikan."


"Aku sudah dilarang oleh calon adik iparku, jadi cuma dengan cara itu, aku bisa memberitahukan berita ini kepadamu."


"Kan, ulah Mas Adam lagi!"


"Dasar kamu saja yang kurang tanggap Yang," jawab Adam.


"Yang penting aku sudah sampai dengan selamat. Dan kita akan segera mempersiapkan pernikahan. Oh ya Yang, besok pakaian pengantin kita di kirim mereka. Tadi pagi, mereka konfirmasi ke aku dan memastikan lagi alamat lengkap rumah Ayah."


"Pakaian pengantin kita Bagaimana Yang?" tanya Elena kepada Raja.


"Oh ya, aku lupa memesannya," canda Raja.


Elena cemberut, masa Raja bisa lupa dengan hal penting yang mereka butuhkan untuk acara pernikahan.


Melihat Elena cemberut, Raja mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya. Lalu dia menyodorkan kepada Elena.


Mata Elena berbinar saat melihat beberapa nota pembelian yang Raja berikan.


Ternyata Raja, juga telah mempersiapkan semua kelengkapan pernikahan mereka.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2