
"Ayo kita masuk Pa, Ma, Ayah, mungkin Kak Sultan pergi untuk menenangkan diri." ajak Muti.
"Iya Mut," jawab Mama.
Mereka pun masuk ke dalam rumah, lalu Muti ke dapur, ternyata Bi Tina telah menyiapkan teh, tapi beliau tidak berani menyajikan karena tadi sedang ada perdebatan keluarga.
Melihat Muti masuk, Bi Tina pun berkata, "Maaf Nyonya, Bibi tidak berani ke depan, takut mengganggu. Tehnya sudah nggak panas lagi Nya, apa mau Bibi panaskan lagi?"
"Nggak usah Bi, masih hangat 'kan?"
"Masih Nya."
"Ya sudah, biar saya yang menyajikannya. Terimakasih ya Bi."
Muti pun membawa nampan yang berisi beberapa gelas teh dan juga cemilan. Tapi saat di ambang pintu dapur, Muti berkata, "Bi, mulai malam ini Saya tidak tinggal di sini lagi. Jadi, Bibi tetaplah bekerja dengan Tuan dan layani seperti biasa karena Bibi kan tahu bagaimana Clara. Jika tentang makanan untuk Tuan, Bibi tanya saja setiap hari Tuan mau dimasakin apa. Jika selama ini Saya ada salah, maafkan Saya Bi," ucap Mutiara.
"Dan Saya minta tolong Bi, benahi barang-barang Saya. Besok, Saya akan datang untuk mengambilnya. Mengenai gaji Bibi bulan ini, biar saya yang bayar."
"Kok jadi seperti ini Nya, kenapa Nyonya yang harus mengalah dan meninggalkan rumah ini? Harusnya Nyonya Clara yang pergi, dia yang telah merusak rumah tangga Nyonya. Apa tidak bisa diperbaiki lagi Nya?"
Muti pun menggeleng, "Nggak Bi, mungkin ini memang yang terbaik untuk Saya. Walaupun Allah membenci perceraian, tapi daripada setiap hari kita bertengkar dan hidup saling menyakiti, malah hanya menambah dosa 'kan Bi. Lagipula yang Tuan cintai bukan Saya Bi, tapi Clara. Jika mengenai kenapa Saya yang musti keluar dari sini, itu semua demi Tuan, bukan demi Clara. Saya kedepan dulu ya Bi!" ucap Muti.
Melihat kedatangan Muti, Papa pun berkata, "Kamu pulang bersama kami saja ya Nak! Itu juga rumahmu. Jika kamu ikut ayahmu, jauh jika harus berangkat ke kantor. Ayah percaya, perusahaan induk akan maju ditanganmu, musti kamu harus banyak belajar."
"Nggak apa-apa Pa, malam ini Muti ikut Ayah dulu, Muti rindu Ibu dan juga Kak Fadlan dan Kak Fadhil, sejak menikah Muti belum pernah pulang Pa. Lusa, Muti akan cari tempat kost yang dekat kantor jadi Muti bisa ikut kursus menyetir setelah pulang bekerja. Dan Muti akan ajak Elena tinggal di kost untuk menemani Muti, boleh kan Ayah?"
"Terserah kamu Nduk, yang terpenting kalian bisa menjaga diri."
__ADS_1
"Kenapa kalian tidak tinggal saja di rumah bareng Papa dan Mama Nak? Kami kesepian di rumah hanya berdua," ucap Mama.
"Nggak baik dipandang orang Ma, bukankah sebentar lagi Raja pulang dan menetap. Apa omongan orang nanti dan Muti tidak ingin tetangga bergosip tentang kita yang hanya akan menimbulkan fitnah Ma," jawab Muti.
"Baiklah Nak, tapi kamu harus sering mengunjungi kami ya, jangan perpisahan kalian membuat hubungan kita semakin jauh. Kamu tetap anak perempuan kami, meski bukan istri Sultan lagi," ucap Mama Sultan.
"Insyaallah Ma, Muti juga sayang kalian, seperti Muti menyayangi Ayah dan Ibu."
"Yuk kita minum dulu tehnya Dan, baru kita tinggalkan rumah ini. Biar putraku merenungi kesalahannya, itupun jika dia sadar, bila tidak dia pasti akan hancur," ucap Papa Sultan.
"Aku sebenarnya sedih Dan, aku telah gagal, putra kebanggaan ku berakhir seperti ini," ucap Papa lagi sambil menghela nafas berat.
"Apa keputusan mu itu tidak terlalu kejam Hen? Sultan selama ini telah bekerja keras memajukan perusahaan pusat kenapa malah kamu berikan kepada putriku. Bukankah berat bagi Sultan untuk mengembangkan perusahaan anak cabang, apalagi tanpa dukungan fasilitas darimu. Belum lagi dia harus menanggung wanita itu yang menurut Muti terbiasa diberi kemewahan oleh putramu," ucap ayah Danu.
"Aku marah dengan putramu karena telah menyakiti putriku, tapi aku juga iba, Sultan terbiasa hidup senang dan kini harus putar otak dengan semua keterbatasan yang ada."
"Kita hanya tinggal menunggu, apakah wanita pelacur itu, masih mau bertahan di sisi putraku atau pergi mencari target lain."
"Oh ya, dimana dia? Kenapa sejak tadi aku tidak melihatnya? Bukankah dia tinggal di sini?" tanya Ayah Danu.
"Dia masih di sini Mas Danu, Sultan menguncinya di dalam kamar karena dia tadi ikut campur dalam pembicaraan kami," ucap Mama.
"Sebenarnya Sultan mungkin sudah menyadari kesalahannya Mbak Yu, cuma dia tidak bisa mengelak dari tanggungjawab karena wanita itu mengandung."
"Kalau kami tidak yakin Dan, jika bayi dalam kandungan wanita itu cucu kami," ucap Hendrawan.
"Kenapa kamu punya usulan untuk tes DNA Nduk, apa kamu mengetahui rahasia yang kami semua tidak tahu?" tanya Ayah Danu.
__ADS_1
"Nggak kok Yah, hanya filling saja. Biasanya filling istri kebanyakan benar 'kan Yah?"
"Iya Nak, mudah-mudahan filling kamu itu benar hingga Sultan bisa terbebas dan menata hidupnya kembali. Ya, sebagai orang tua, Mama hanya bisa berharap kalian bisa berjodoh lagi kelak, saat Sultan menyadari semua kesalahannya. Itupun jika Allah memang masih mempertemukan kalian."
"Muti pasrahkan saja masa depan sama Allah Ma. Pertemuan, jodoh dan Maut semua Dia yang mengatur. Jika memang kami masih berjodoh, Allah pasti mempertemukan kami, meski kami menolak."
"Iya, kamu benar Nak," ucap Ayah.
"Hari sudah malam, ibu pasti cemas menunggu dan ayah tadi cuma titip pesan ke Elena, jika Ayah pergi bersama kamu Nduk. Ayo kita pulang sekarang," ajak Ayah.
"Sebentar ya Yah, Muti ambil tas dulu, kalau mengenai barang-barang Muti, besok biar di bereskan dulu sama Bibi. Lusa baru Muti jemput bersama Elena dan langsung bawa ke tempat kost-kostan."
Kemudian Muti menuju kamarnya dan Bi Tuti ternyata sudah memasukkan beberapa helai pakaian ke dalam tas hingga Muti hanya tinggal membawa barang pentingnya seperti ijazah dan tentunya uang serta alat make-up. Sisanya baru lusa dia ambil.
"Terimakasih ya Bi, ini gaji Bibi dan ini sebagai ucapan terimakasih dari Saya karena Bibi telah meringankan tugas saya. Saya pamit ya Bi, oh ya Bi, di dalam lemari itu ada banyak kunci serep, Bibi tes saja yang mana kunci kamar Clara, keluarkan dia dari sana. Aku takut terjadi apa-apa jika dia tetap dikurung tanpa diberi makanan dan minuman, karena kita tidak tahu kapan Tuan pulang."
"Baiklah Nya, terimakasih ya Nya. Semoga kebaikan selalu menyertai Nyonya dimanapun berada. Bibi tahu Nyonya istri yang baik, semoga kelak mendapatkan jodoh yang terbaik," ucap Bibi.
"Aamiin," ucap Muti, kemudian Muti pun menyalami Bi Tina dan memeluk beliau.
Muti tidak membedakan status orang, meski Bi Tina hanya seorang pembantu.
Bi Tina pun sedih dan beliau menangis, saat Muti memeluk dirinya.
Bersambung.....
Jangan lupa mampir yuk Sobat ke karya-karya ku yang lain, dan mohon dukungan kalian ya agar aku tetap semangat update. Terimakasih, semoga dukungan kalian berkah dunia akhirat. Aamiin.
__ADS_1