
"Papa kenapa?" tanya Muti yang baru turun dari mobil dan langsung mendekat.
"Dada papa sesak Mut," jawab sang Mama.
"Apa tidak sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja Ma!"
Papa Hendrawan mengangkat tangannya, lalu dengan susah payah beliau menjawab, "Tidak usah, a-aku tidak mau ke rumah sakit, percuma!"
"Ma, apa obat Papa ada Mama bawa?"
"Ada Mut, sebentar Mama cari di mobil."
"Biar aku saja Ma, yang mengambilnya," ucap Sultan.
"Tidak perlu! Mama masih bisa!" tolak Mama sambil bergegas ke mobil.
"Kamu tenang Hen, tarik napas pelan lalu buang juga dengan perlahan. Jangan pikirkan dulu masalah anak-anak, kita pasti bisa mendapatkan solusi terbaik untuk masalah mereka," hibur Danu kepada sahabatnya.
"Aku malu sama kamu Dan, anakku memang tidak berguna. Maafkan aku Dan, karena aku, Muti mengalami kesengsaraan dalam rumahtangganya."
"Semua bukan salahmu Hen, tidak ada orangtua yang menginginkan anaknya hidup tidak bahagia, tapi takdir berkata lain. Semua keputusan, kita serahkan saja sama anak-anak. Mau bagaimana rumah tangga mereka selanjutnya.
"Ini obatnya Mut," ucap Mama.
Muti pun mengambil obat dari tangan sang Mama, lalu dia mengambil segelas air dan memberikan obat beserta air minum tersebut kepada sang Papa.
Danu membantu sahabatnya meminumkan obat agar air dalam gelas itu tidak tumpah, sebab tangan kanan Hendrawan bergetar seperti tidak bertenaga meski hanya mengangkat sebuah gelas.
"Papa harus istirahat, ayo Ma, kita antar Papa ke kamar!" ajak Muti.
"Tidak usah Mut, kita harus selesaikan masalah kalian sekarang juga. Papa tidak mau masalah ini berlarut-larut."
"Tapi Pa...," cegah mama.
"Nggak apa-apa Ma, papa sudah lebih enakan."
__ADS_1
"Sekarang, Papa mau bertanya sama kamu Mut, apa keputusan mu tentang rumah tangga kalian? Apa kamu akan tetap membiarkan wanita itu tinggal di sini atau mengusir mereka berdua. Kamu, jangan sungkan terhadap kami, semua keputusan kami serahkan kepadamu. Apapun keputusan mu kami ikhlas, termasuk bercerai dari suamimu yang tidak tahu diri itu," ucap Papa sambil menunjuk Sultan.
Sultan diam menunduk, dia tidak mau membantah omongan sang Papa, yang bisa mengakibatkan Papa tambah sakit.
"Ayo Mut, jangan takut. Meskipun dia anak kami, tapi kami tidak akan membela yang salah. Sekarang dia harus memilih kamu atau perempuan itu."
"Maaf Ma, anak Mama tidak akan bisa memilih, mereka sudah terikat pernikahan walau hanya pernikahan siri dan akan ada anak yang lahir."
"Bagaimana Sultan?" tanya Mama.
Sultan tidak mampu menjawab, untuk saat ini, dia tidak mungkin meninggalkan Clara yang sedang dalam keadaan hamil.
Bercerai dari Muti juga rasanya berat dan Sultan merasa tidak rela. Entah perasaan apa yang dia rasakan sekarang, semakin lama dia bersama Muti ada perasaan aneh yang sulit untuk dijelaskan. Padahal dulu, Sultan sangat yakin untuk segera menceraikan Mutiara.
"Kenapa kamu cuma diam! kamu takut? Cepat, beri kami keputusan, mumpung Danu juga sedang ada di sini!" ucap Sang Papa.
"Maaf Pa, Ma...Muti sudah ajukan gugatan, sekarang terserah Kak Sultan, karena ada syarat yang harus dipenuhi dalam gugatan tersebut," ucap Muti.
"Kamu yakin dengan keputusan mu Nduk?" tanya Ayah untuk memastikan.
"Ini Pa, Ma!" ucap Muti sambil menyerahkan copyan surat gugatan cerainya itu kepada Papa Hendrawan.
"Muti tinggal menunggu Pa, yang asli ditandatangani oleh kak Sultan. Setelah itu, barulah menyerahkan surat ini kepada pengacara Pradipta untuk diajukan ke kantor pengadilan agama."
Papa dan Mama membaca isinya dengan cermat, mereka menghormati keputusan Muti untuk bercerai, tapi mereka tidak setuju dengan semua harta yang akan Muti kembalikan kepada Sultan sementara Muti sendiri tidak mengambil bagian sedikitpun.
"Papa ikhlas dengan keputusan mu Nak, kamu berhak untuk bahagia, anak Papa tidak bisa memberimu kebahagiaan."
"Namun, yang Papa tidak setuju, kenapa seluruh harta pemberian Papa, kamu kembalikan kepada anak tidak diuntung ini. Papa, tidak ikhlas jika wanita itu ikut menikmatinya. Karena, kehadiran wanita ular itu telah menyebabkan rumah tangga kalian hancur."
"Tapi Pa, di situ jelas tertulis, Kak Sultan akan menerima harta itu kembali, setelah melakukan tes DNA atas calon bayi yang ada dalam kandungan Clara."
"Jika benar bayi itu adalah anak dari Kak Sultan, maka dia berhak untuk mewarisi dan menikmati pemberian Papa, karena walau bagaimanapun bayi itu tidak bersalah Pa."
"Baiklah, Papa setuju! Tapi jika benar dia cucuku, hanya bayi itu yang berhak menikmati hartaku, bukan ibunya. Dan hal itu akan dikuatkan dalam surat perjanjian baru. Harta hanya bisa jatuh ke tangan cucuku saat dia sudah berusia 21 tahun. Mengenai pemenuhan kebutuhannya sampai usia 21 tahun, itu semua adalah tanggung jawab mu sebagai Papa untuk menafkahinya," ucap Papa Hendra dengan tegas.
__ADS_1
"Oh ya, satu hal lagi, hanya satu perusahaan anak cabang, yang akan kuberikan dan kualihkan atas namamu Tan! Jadi, kau harus berjuang sendiri untuk memajukannya jika ingin hidup dan bertanggungjawab atas keluargamu. Aku dulu juga merintis dari nol, ketika baru menikah dengan Mamamu."
"Dan untuk perusahaan induk, itu akan menjadi hak Mutiara, walaupun dia nantinya tidak menjadi menantu di keluarga ini lagi."
"Sementara, dua anak cabang lagi, pabrik dan berbagai bisnis serta aset lain yang Papa miliki, akan tetap di kelola oleh Raja, meskipun sebagian itu kelak adalah hak dari anakmu."
"Tapi ingat Sultan, jika bayi itu bukan cucuku, dia harus angkat kaki sejauh mungkin dari sini. Jika sampai aku melihatnya, aku nggak akan segan-segan memberinya pelajaran, karena telah menyakiti Mutiara menantu kami."
"Masalah rumah induk, yang sekarang kami tempati, itu menjadi milikmu Muti, kamu berhak datang kapanpun kamu mau atau ingin tinggal di sana. Kamu tetap anak kami, meski sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan Sultan. Keputusan ku ini tidak bisa diganggu gugat lagi, Pradipta akan segera mengurus dan mengesahkannya. Sertifikat akan diberikan kepada kalian masing-masing setelah semua selesai di urus oleh Pradipta. Bagaimana Danu? Apa kamu memiliki saran?"
"Aku terserah kamu saja Hen dan aku menyerahkan keputusan bercerai atau tidaknya kepada Sultan dan Muti. Mereka yang lebih tahu, keputusan apa yang terbaik untuk kebahagiaan mereka sendiri," jawab Ayah Danu.
"Bagaimana Nduk, apa kamu yakin akan tetap melanjutkan proses gugatan perceraian ini terhadap suami kamu?" tanya Ayah.
"Iya Ayah, keputusan Muti sudah bulat. Muti akan menggugat cerai Kak Sultan. Karena, hanya kami berdua yang tahu, alasan kuat kenapa kami harus tetap bercerai meski bayi itu nantinya terbukti bukan anak dari Kak Sultan," ucap Muti yang sudah mantap dengan keputusannya.
"Kamu dengar itu Sultan, meskipun borokmu sudah terkuak dihadapan kami, tapi masih ada juga yang istrimu tutupi. Dan aku yakin, itu pasti aib terbesarmu yang tidak termaafkan."
"Sekarang juga, di hadapan kami, tandatangani lah surat gugatan cerai dari Muti. Ini adalah karma dari perbuatan mu, baik atau buruk hasilnya kamu harus tanggung akibatnya," ucap Papa.
Sultan tidak bisa membantah ucapan Sang Papa, dia tahu kesalahannya terhadap Muti memang tidak patut untuk dimaafkan.
Kemudian Sultan mengeluarkan surat gugatan cerai yang asli dari dalam tasnya dan dengan tangan gemetar, diapun menandatangani surat tersebut.
Setelah itu, Sultan menyerahkan surat yang sudah dia tandatangani kepada Muti, sembari menjatuhkan ucapan talak.
Sekarang keduanya sudah resmi bercerai secara agama, hanya tinggal mengesahkan secara hukum negara saja.
Ada genangan air, di dalam mata Sultan, lalu diapun mengatupkan kedua tangan, mengucap kata maaf untuk semua yang hadir di sana.
Sultan bergegas mengendarai mobil, meninggalkan rumahnya dengan membawa penyesalan yang tidak berguna lagi.
Selamat sore para sobat, kini Sultan dan Muti sudah sah bercerai, bagaimanakah kelanjutan kisah mereka? Ikuti terus yuk, dan sambil menunggu aku Up lagi besok, mampir juga ya dalam karya terbaruku, insyaallah nggak kalah seru lho, karena masih seputar kisah rumah tangga dengan judul "ISTRI SIRI TITIPAN"
Jangan lupa beri dukungan kalian ya, dalam semua novelku, agar aku terus semangat berkarya. Terimakasih 🙏🥰
__ADS_1