
Clara kesal melihat sikap Muti, lalu dia mengambil ponsel dan melakukan panggilan video. Clara hendak mengadukan, apa yang telah Muti lakukan kepada Sultan dengan harapan, Sultan akan memarahi Muti.
Saat panggilannya tersambung, Clara pun langsung menceritakan semuanya dengan ditambahin bumbu-bumbu hasutan.
Tapi, Sultan tidak terlalu menanggapi omongan Clara karena selain dia sedang sibuk, Sultan juga tahu, apa yang di katakan Muti memang benar.
Clara makin kesal, ternyata Sultan tidak membelanya sama sekali dan malah memintanya untuk mengalah.
Namun Clara tidak habis akal untuk menghasut Sultan, lalu dia mengatakan jika Muti keluar rumah mungkin menemui seseorang dan katanya akan pulang malam.
Mendengar perkataan Clara yang terakhir, Sultan merasa terbakar, dipikirannya langsung muncul nama Adam.
Setelah itu dia langsung memutuskan panggilan telepon dari Clara secara sepihak dan segera mencari nomor kontak Muti untuk menanyakan keberadaannya.
Muti yang masih di atas ojek online tidak mengindahkan ponselnya yang sejak tadi berdering.
Sultan kesal, lalu dia membuang ponselnya ke atas sofa, hingga membuat sekretarisnya yang baru masuk ke dalam ruangan merasa terkejut.
"Maaf Pak jika Saya mengganggu, tadi Saya sudah ketuk pintu tapi tidak ada jawaban jadi Saya langsung masuk saja karena ada surat penting yang harus Bapak tandatangani."
"Hemm, ya sudah! Mana yang harus ditandatangani!"
"Ini Pak!"
Sultan menandatangani surat-surat tersebut tanpa membacanya terlebih dahulu, karena dia ingin sekretarisnya itu segera keluar agar dia bisa segera menghubungi Muti lagi.
Setelah sekretarisnya keluar, Sultan buru-buru mengambil ponselnya, lalu dia mencoba menghubungi Muti lagi.
Muti yang baru tiba di pintu masuk rumah keluarga Hendrawan pun segera menerima panggilan dari Sultan.
"Kamu dimana!" tanya Sultan begitu panggilannya di terima oleh Muti.
"Aku sedang keluar Kak, aku sudah tinggalkan pesan kepada Bibi," jawab Muti.
"Kamu 'kan bisa telepon aku, nggak perlu titip pesan ke orang lain. Memangnya kamu pergi dengan siapa?"
__ADS_1
"Tumben Kak Sultan peduli, nih...aku kesini," ucap Muti sembari mengarahkan kamera ponselnya ke arah rumah mertuanya.
"Oh, kamu kerumah Papa? Kalau begitu, pulangnya biar aku yang jemput."
"Tidak usah Kak! Nanti aku naik ojek saja."
"Nggak ada membantah! Sekalian aku mau jenguk Papa."
"Terserah Kak Sultan Deh, tapi setelah dari rumah Papa aku mau makan dulu, Bibi hanya aku minta untuk memasakkan menu kesukaan Kakak saja."
"Nanti aku temani kamu makan, pokoknya jangan kemana-mana, tunggu aku di rumah Papa! Kamu paham!"
"Kenapa Kak Sultan jadi peduli sama aku, bagaimana Clara? Dia pasti marah jika kakak pulang telat."
"Sudahlah, itu urusanku."
"Hemm, terserah deh."
Muti kemudian mematikan panggilanan tersebut, lalu dia mengucap salam kepada mamang pengurus kebun yang datang mendekat, "Assalamualaikum Mang, Papa Mama di rumah kan Mang?"
"Oh, terimakasih ya Mang. Aku mau menemui mereka dulu."
"Iya Non, silahkan!
Saat Muti hendak masuk dari pintu samping, Mama yang melihat kehadiran Muti dari balik jendela, segera keluar dan meminta Muti untuk duduk bersama mereka.
"Mut, sini masuk! Ada Pak Pradipta di sini!" sapa Mama.
"Eh, iya Ma."
Muti pun mengucap salam dan di sambut senyum oleh sang Papa.
"Kemarilah Nak, kamu dengan siapa kemari?"
"Sendiri Pa, kak Sultan nanti pulang dari kantor akan kesini sekalian jemput Muti."
__ADS_1
"Jadi kamu naik apa kesini?"
"Ojek online tadi Pa," jawab Muti.
"Aduh Nak, kamu belilah mobil, jika tidak berani nyetir 'kan bisa pekerjakan sopir. Kamu sekarang pemilik perusahaan Hendrawan, gunakanlah apa yang papa sudah berikan untuk keperluan mu. Secepatnya lah masuk kantor, tapi sebelum itu beli dulu buat fasilitas kamu!" ucap Papa.
"Sudah terbiasa naik ojek Pa, lebih nyaman, tidak takut terjebak macet."
"Tapi, bagaimana pandangan para bawahan mu nantinya, masa iya menantu keluarga Hendrawan kemana-mana naik ojek, mereka pikir Papa begitu pelit terhadap menantu."
"Benar kata Pak Hendrawan Nona Muti, kenderaan itu di perlukan, apalagi Nona akan terjun di dunia bisnis," ucap Pradipta menimpali omongan Papa.
"Baiklah Pa, nanti Muti pikir-pikir dulu, mau beli mobil apa."
"Nah gitu dong Mut," ucap Mama.
"Iya Ma."
"Begini saja, kamu telepon Sultan agar cepat kemari, biar dia menemanimu pergi ke dealer mobil untuk melihat-lihat dulu, mobil type dan merk apa yang kamu suka," ucap Papa.
"Besok saja Pa, Muti nggak mau mengganggu pekerjaan Kak Sultan. Besok pagi, biar Muti pergi sendiri."
"Bagaimana dia, masih sering tidak pulang ke rumah?" tanya Papa tiba-tiba.
"Nggak kok Pa, Kak Sultan setiap hari pulang."
"Ingat Mut, kamu jangan terus mengalah, beri Sultan pelajaran, agar dia tidak meremehkan kamu terus. Bukannya Mama tidak menyayangi dia, tapi Mama ingin membuka matanya. Percuma rasanya kami mendidik dan menyekolahkan dia tinggi-tinggi, jika akhirnya seperti ini. Dia tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk untuk masa depannya sendiri."
"Iya Ma, Muti akan coba menyadarkan Kak Sultan. Tapi Muti minta maaf Ma, Pa, Muti nggak yakin kami bisa mempertahankan rumah tangga ini. Muti hanya ingin, Kak Sultan bisa menyadari kesalahannya saja dan kembali menjadi putra kebanggaan keluarga ini. Bila Kak Sultan sadar, Muti akan kembalikan semua haknya, yang sudah papa alihkan kepada Muti."
"Papa minta maaf, Papa telah menempatkan kamu di posisi sulit. Papa tahu, rumah tangga kalian tidak pernah bahagia. Sekarang Papa tidak mau egois, jika kebahagiaanmu memang tidak ada bersama anak Papa, carilah kebahagiaanmu Nak! Papa ikhlas, nanti jika Papa sudah lebih enakan, Papa akan jumpai Ayah kamu dan meminta maaf atas semuanya."
"Jangan Pa! Ayah dan Ibu belum mengetahui apapun tentang masalah kami. Jika nanti saatnya tiba, biar Muti saja yang berbicara dengan mereka. Yang penting sekarang, Muti ingin mencoba menyadarkan Kak Sultan dulu."
"Terimakasih Nak, kamu memang anak baik. Danu beruntung memiliki seorang putri seperti mu dan aku juga beruntung, walau kedepannya mungkin, kamu tidak akan mau menjadi menantu kami lagi," ucap Papa sedih.
__ADS_1
Muti diam, sebenarnya dia juga tidak tega mengatakan semua ini tapi, muti juga tidak mungkin selamanya hanya berstatus sebagai istri di atas kertas saja. Muti ingin memiliki suami yang memang tulus mencintainya dan memiliki anak-anak untuk penghibur lara dalam kehidupan rumah tangganya.