
Clara menelan saliva saat melihat rujak yang telah terhidang di hadapannya, dia makan dengan lahap tanpa merasa pedas, padahal penjual rujak membuatnya sangat pedas seperti permintaan Clara.
Hardi yang melihat hal itu hanya menggelengkan kepala, dia juga sebenarnya kepingin tapi Hardi merasa sayang untuk membelanjakan uang pemberian Clara tadi.
"Kamu benar nggak mau beli?" tanya Clara.
"Tidak, cepat kamu habiskan dan kita pergi dari sini!" ucap Hardi.
"Ya sebentar, ini nikmat sekali. Ini jika kamu mau icip!" ucap Clara sembari menyodorkan piring rujaknya ke arah Hardi.
"Tidak ah, nanti aku sakit perut, buat kamu saja. Oh ya Sayang, kapan kamu mau menguasai harta Sultan, jangan kelamaan, kalau bisa sebelum anak ini lahir, apa kamu mau tinggal terus di rumah madumu itu?"
"Sabar, aku tidak mau gegabah dan akhirnya gagal, aku akan menyingkirkan si marmut itu dulu. Sebenarnya aku sudah eneg lihat gayanya yang sok berkuasa, sok menjadi menantu kesayangan di keluarga Hendrawan."
"Kalau kau butuh bantuan, aku bisa membantu menyingkirkan dia," ucap Hardi.
"Sebenarnya akan enak jika kamu tetap menjadi sopir ku, jadi kita bisa leluasa untuk bertindak."
"Kamu usahakan lah! supaya aku bisa bekerja lagi dengan kalian. Oh ya, madumu juga tidak pandai bawa mobil, mungkin saja dia membutuhkan sopir?"
"Ah, dia mah orangnya pelit, perhitungan banget, masa aku minta uang buat beli rujak saja, eh...dia bilang musti berhemat uang belanja. Boro-boro mempekerjakan sopir! Kamu tahu, bahkan pembantu saja mereka tidak punya, setelah aku tinggal di sana baru Kak Sultan cari pembantu," ucap Clara.
"Wow, istri idaman ternyata, tapi dasar laki-laki, ada tulang di luaran pun di sikat."
"Enak saja, kau bilang aku tulang! Aku yang pertama kenal Sultan, dialah yang merebutnya dari ku. Sekarang aku harus merebutnya kembali walaupun hanya demi harta saja."
"Setelah ini kita jalan-jalan dulu ya, aku rindu," ucap Hardi sambil menyeringai.
"Ah, enak di kamu saja. Aku belum bisa, masih rawan. Apa kamu mau kehilangan umpan untuk membuat kita kaya? Jadi kumohon bersabarlah sampai benar-benar kandungan ku sehat," ucap Clara.
"Sedikit-sedikit saja, please! Apa kamu tidak rindu aku. Sekarang gerak kita terbatas selama kamu tinggal di rumah Sultan, jika masih di apartemen aku bisa setiap hari mengunjungimu," ucap Hardi.
Sejenak Clara berpikir, di rumah juga tidak ada teman, mungkin lebih baik jika dia menerima tawaran Hardi.
"Kenapa diam! mumpung masih sore, nanti aku antar kamu pulang jam tujuh malam saja, bukannya kamu bilang, Sultan akan pulang malam? jadi untuk apa kamu di rumah hanya dengan pembantu. Lebih baik kita manfaatkan kesempatan ini untuk bersenang-senang," rayu Hardi sembari mencolek pipi Clara.
"Baiklah, tapi ingat! Jangan telat mengantarku pulang, aku tidak mau kak Sultan marah dan wanita itu memanfaatkan kesempatan itu."
"Oke Sayang, kamu jangan khawatir, ayo kita berangkat. Dimana kita akan bersenang-senang, apa di apartemen saja! Kamu masih pegang kuncinya? Daripada kita bayar hotel, bukankah kamu bilang, Sultan memintamu untuk berhemat!"
"Sebentar, aku periksa tas dulu, aku lupa apa membawa kuncinya atau tidak," ucap Clara.
__ADS_1
Clara menggeledah tasnya, lalu dia mengacungkan sebuah kunci kepada Hardi. Hardi tersenyum lalu mencium Clara, sembari merangkul pundak wanitanya itu agar segera pergi ke apartemen Sultan.
Muti menikmati makanan kesukaannya dengan lahap, sementara Sultan, izin keluar sebentar ingin menerima telepon dari sekretarisnya.
Ternyata, klien dari dinas pendidikan hanya mau membicarakan kerjasama mereka jika Sultan ada di tempat.
Sultan mendesah, dia terpaksa harus balik ke kantor dan meminta Muti untuk pulang sendiri.
Kemudian Sultan kembali ke meja tempat mereka makan dan mengatakan jika dia harus balik ke kantor saat ini juga.
"Mut, maaf ya. Aku harus balik ke kantor. Orang dinas pendidikan tidak mau menjalin kerjasama jika aku tidak menemui mereka. Aku tidak ingin kerjasama ini jatuh ke perusahaan lain."
"Oh, pergilah Kak. Aku bisa pulang sendiri, nanti selesai makan aku pulang naik ojek saja," jawab Muti.
"Baiklah, aku pergi dulu. Tapi ingat, langsung pulang setelah ini. Aku juga akan langsung pulang setelah penandatanganan kerjasama selesai."
"Iya."
Sultan pun buru-buru meninggalkan Muti, dia harus secepatnya sampai di kantor sebelum klien bisnisnya berubah pikiran.
Setelah Sultan meninggalkan tempat itu, Muti masih melanjutkan makannya, lalu dia iseng sambil menghubungi Elena.
"Hei Mbak, apa kabar?" sapa Elena.
"Hemm aku baik," ucap Muti sembari menelan sisa makanan yang ada di mulutnya.
"Mbak Muti pergi makan dengan siapa dan ini jam berapa kok baru makan? Nanti sakit lho Mbak, ingat Mbak memiliki riwayat penyakit lambung kronis.
"Habisnya mau makan siang sedang tidak selera El, apalagi aku neg, lihat pelakor itu di rumah," jawab Muti.
"Clara maksud Mbak?"
"Memangnya siapa lagi El, wanita yang tidak tahu malu ingin berkuasa di dalam rumahku," ucap Muti sembari menyuap makanannya lagi.
"Kok bisa dia datang ke rumah Mbak?"
"Bukan cuma datang El, tapi tinggal dengan kami."
"Apa! Gila, kenapa nggak Mbak usir saja, dasar Tuan Sultan nggak punya perasaan. Kalau aku jadi Mbak Muti, sudah aku usir Mbak, sangat keterlaluan."
"Dia hamil dan sudah sah menjadi maduku El," ucap Muti lagi.
__ADS_1
"Astaghfirullah Mbak, tinggalkan saja mereka Mbak dan ayo ikut aku pulang ke rumah ayah. Seandainya ayah dan ibu tahu, pasti mereka akan sangat marah dan mungkin akan langsung datang ke rumah keluarga Hendrawan untuk membawa Mbak Muti pulang."
"Aku memang akan meninggalkan Kak Sultan, tapi nanti El, setelah aku memberikan pelajaran kepada wanita ular itu. Lagipula aku masih punya tanggung jawab besar terhadap Papa. Mulai besok aku ngantor El, karena perusahaan itu sudah menjadi milikku dan juga Raja. Bahkan separoh harta lainnya."
"Iya Mbak, Raja sudah memberitahukan hal itu."
"Jadi bagaimana hubunganmu dengan Raja? Apa kalian sudah jadian?"
Elena tersenyum malu, lalu dia mengangguk hingga membuat Muti semakin ingin menggoda sahabatnya itu.
"Selamat ya El, aku senang mendengarnya. Jadi kapan nih acara makan-makannya untuk merayakan hari jadian kalian, mulai sekarang kamu harus panggil aku dengan sebutan kakak ipar!" ucap Muti sambil tersenyum.
"Is, jangan tahu orang dulu Mbak, katanya Raja ingin membicarakan ini kepada Papa dan mamanya setelah selesai urusan perkuliahannya. Dia akan kembali sekitar dua bulan lagi dan katanya akan mengambil gelar master di sini saja sembari mengurus usaha Papa Hendrawan."
"Iya aku setuju El dengan keputusan Raja. Papa membutuhkan dia di sini. Sekali lagi selamat ya El, aku senang banget kamu akhirnya jadian dengan Raja. Oh ya, aku tutup dulu ya, aku sudah selesai makan dan mau ke kasir. Nanti saat sudah tiba di rumah, aku akan telepon lagi."
"Janji ya Mbak, aku ingin tahu tentang ular itu, rasanya aku ingin ikut ke rumah Mbak sekarang juga untuk memberi dia pelajaran. Pokoknya Mbak mutii harus hati-hati, jangan sampai dia mencelakai Mbak dan menguasai rumah itu."
"Iya El, aku akan berhati-hati. Aku tidak akan kalah El, aku harus menyadarkan Kak Sultan, sebelum aku pergi dari keluarga Hendrawan."
"Bagus Mbak, aku senang mendengar keputusan Mbak Muti, apalagi seseorang yang selalu menantikan Mbak, dia pasti akan lebih senang mendengar hal ini," ucap Elena.
"Siapa El?"
"Siapa lagi, kalau bukan mas Adam. Aku setuju jika Mbak Muti nantinya dengan Mas Adam, dia pemuda baik Mbak dan tentunya banyak nilai plusnya. Plus tampan, kaya, masih lajang dan tentunya sangat baik."
"Kamu bisa saja El, saat ini aku belum memikirkan hal itu, aku mau fokus dulu untuk memberi pelajaran kepada Clara, mengembalikan harta Papa kepada yang berhak, barulah aku memikirkan kebahagiaan ku sendiri."
"Iya Mbak, semangat ya Mbak, semoga semuanya cepat selesai."
"Sudah ya El, aku tutup dulu."
Elena pun mengangguk, dia sangat senang mendengar keputusan Mutiara, rasanya Elena sudah tidak sabar ingin memberitahukan kabar tersebut kepada Adam.
Bersambung.....
Selamat malam sahabat semua, kali ini aku rekomendasikan karya sahabatku, yuk mampir di sana juga sambil menunggu aku Up lagi. Jangan lupa tinggalkan jejaknya dong, biar aku semangat updatenya. Terimakasih 🙏
Happy reading, see you🥰
__ADS_1