
Sultan kembali ke kantor dan setibanya di kantor, dia malah tambah kesal saat mendapat laporan bahwa kalah tender. Dan yang memenangkan tender penyuplai pakaian dinas seprofinsi kali ini adalah perusahaan Adam.
Dengan perasaan dongkol Sultan menggebrak meja, dia marah kepada orang-orangnya yang telah dia percaya untuk menangani tender tersebut selama dirinya jarang masuk kantor.
"Bodoh kalian semua! Percuma aku bayar mahal, ternyata hasilnya nihil! Apa kehebatan perusahaan Adam rupanya di bandingkan perusahaan kita!" teriak Sultan.
Semua menunduk, mereka tidak ada yang berani bersuara, Sultan bisa semakin murka. Sultan meraup wajahnya dengan kasar, dia juga menyesal kenapa sampai terlena hingga memberi peluang perusahaan Adam untuk menang.
"Masih ada satu tender lagi yaitu seragam karyawan pabrik, lakukan cara apapun! kali ini kita harus menang, jika tidak bonus tahunan kalian semua akan dipotong untuk mengganti kerugian perusahaan," ancam Sultan.
Semua terdiam, kemudian Sultan menggebrak meja lagi hingga mengejutkan semua yang ada di ruangan itu.
"Kenapa semua pada diam! Apa kalian memang sengaja mau membuat perusahaan ini bangkrut. Apa kerja kalian selama aku jarang masuk!"
"Kami sudah berusaha Bos! Belum rezeki kita mau bilang apa," ucap pimpinan bagian pemasaran.
Hal itu membuat Sultan marah lalu dia melemparkan penanya kepada karyawannya tersebut. Setelah itu, Sultan memilih keluar dari ruangan untuk meredakan emosinya.
"Kosongkan jadwal hingga sore, aku akan keluar!" pinta Sultan kepada sekretarisnya.
Sekretaris dan yang lain hanya menggeleng, lalu salah satu dari mereka bersuara saat melihat Sultan sudah menghilang di balik pintu.
"Bisa hancur perusahaan ini jika Bos terus-menerus meninggalkan kantor dan aku dengar Pak Hendrawan juga sedang sakit jadi beliau tidak bisa mengontrol kondisi perusahaan saat ini."
"Iya benar, mudah-mudahan Bos segera menyadari hal ini."
Mereka pun akhirnya bubar dan kembali ke pekerjaannya masing-masing.
Sementara Sultan menuju area parkir, lalu duduk di dalam mobilnya untuk beberapa saat. Sultan memukul setiurnya, dia sangat kesal mendengar kemenangan Adam.
__ADS_1
"Bangsat kamu Adam! Kamu berusaha mengambil Muti dariku dan kini tender yang harusnya milik perusahaan ku, kamu ambil juga."
Kemudian dengan perasaannya yang masih dongkol, Sultan melajukan mobilnya dengan kencang, dia akan ke tempat Pradipta baru setelah itu membelikan makanan untuk Clara.
Sultan sampai di kantor Pradipta berbarengan dengan tibanya Pradipta di sana. Lalu Pradipta menyapa, "Selamat pagi Tuan Sultan, apa kabar?"
Sultan pun mengulurkan tangannya sembari berkata, "Aku baik Pak Pradipta. Oh ya, aku diminta oleh Papa dan Mama untuk segera menemui Anda, sebenarnya ada apa ya?"
"Oh, ayo silahkan masuk, aku akan menjelaskan semuanya di dalam," ajak Pradipta.
Sesampainya di ruangan, Pradipta mempersilakan Sultan untuk duduk, lalu dia mengambil berkas dari dalam lemari kerjanya dan memberikan kepada Sultan sambil berkata, "Silahkan Tuan Sultan baca dulu, itu semua perintah Tuan Hendrawan," pinta Pradipta.
Sultan bingung, sebenarnya berkas apa yang Pradipta berikan lalu dia membacanya lembar demi lembar.
Wajah Sultan memerah, lalu dia bangkit dan membanting berkas tersebut di atas meja kerja Pradipta.
"Maaf Tuan, itu harus segera Tuan tanda tangani, Saya hanya menjalankan perintah Pak Hendrawan."
"Saya tidak terima ini! Kenapa saya yang bekerja keras malah Mutiara yang menerima bagian harta Papa. Apa-apaan ini, kalian semua sekongkol!" ucap Sultan sembari meninggalkan ruangan Pradipta.
"Tunggu Tuan, Anda masih bisa mendapatkan semuanya jika Anda menuruti kemauan Tuan Hendrawan. Bukankah itu demi kebaikan Anda juga, daripada Anda di keluarkan dari pewaris."
Sultan tidak mengindahkan ucapan Pradipta, dia lalu masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya tanpa menoleh ke arah Pradipta yang coba menghentikannya.
Pradipta menelepon Raja, ingin berbicara dengan sang Mama, lalu Raja pun memberikan ponselnya kepada mamanya.
Mendapatkan penjelasan dari Pradipta tentang sikap Sultan, Mama hanya berkata, "Dia harus memilih Pak, suka atau tidak. Kami tidak mau, palacur itu terus memperalat Sultan, sementara menantu kami tidak bisa berbuat apa-apa. Mulai sekarang dia harus bisa memilih bercerai dan tidak mendapatkan apapun atau bertahan hingga bisa sama-sama menikmati harta papanya dan meninggalkan wanita pelacur itu."
Kemudian Pradipta berkata, "Baiklah Nyonya, saya pastikan Tuan Sultan akan menandatangani semua berkas pengalihan dalam Minggu ini."
__ADS_1
"Terimakasih Pak," ucap Mama.
Pradipta pun memutuskan sambungan telepon, dia yakin Sultan pasti kembali dalam beberapa hari lagi.
Sultan bukannya pergi ke rumah Clara, dia malah ke rumah sakit. Sultan akan menanyakan semua itu kepada Mama dan juga Raja.
Sesampainya di rumah sakit, tanpa basa-basi, dia langsung menarik Raja, "Katakan Raja! Kalian telah sekongkol bukan? Kenapa Muti yang menerima bagianku!" ucap Sultan sembari menarik kerah baju Raja.
Mama yang baru keluar dari ruangan Papa Hendrawan langsung menghampiri mereka, "Lepaskan! Ada apa kamu datang-datang mengancam adikmu!" bentak Mama.
"Kebetulan Mama keluar, aku mau menanyakan tentang surat pengalihan itu. Kenapa Mama dan Papa berlaku tidak adil terhadap ku!"
"Aku Ma, yang memajukan bisnis Papa, kenapa malah Raja dan Muti yang mendapatkan semuanya. Aku tidak terima dengan keputusan kalian, ini pasti hasutan dari Mutiara bukan! Mana dia, aku benci dia, baru saja masuk di keluarga Hendrawan sudah berani-beraninya menghasut Mama dan Papa untuk menyingkirkan aku dari pewaris!" ucap Sultan sembari mencari Muti ke sekeliling ruangan.
"Untuk apa kamu mencari Muti, semua ini keputusan Papa, jika kamu masih ingin mendapatkan bagian, maka tinggalkan pelacurmu itu dan perbaikilah rumah tanggamu! Jika tidak silahkan kamu angkat kaki dari keluarga Hendrawan!" ucap Mama.
"Mama tega mengusir aku, anak Mama sendiri hanya demi Muti yang hanya menantu! Tolong pikirkan Ma, mama akan mendapatkan seorang cucu, apa Mama tega cucu Mama terlantar sementara Muti hidup enak menikmati yang bukan haknya!"
"Diam kamu! Aku yang berhak menentukan semuanya!" ucap Papa Hendrawan yang keluar dari ruang rawatnya.
Mama dan Raja terkejut, lalu mereka menghampiri Papa. Mereka takut terjadi hal buruk terhadap sang Papa, lalu Mama dan Raja meminta Papa untuk kembali ke kamar dan tidak usah meladeni lagi perkataan Sultan.
Sultan yang merasa diabaikan lalu berkata, "Kalian pasti akan menyesal telah melakukan hal ini kepadaku. Aku anak kalian bukan Mutiara!" ucap Sultan sembari keluar dari tempat itu.
Saat ini perasaan Sultan sangat kacau, dia marah terhadap Mutiara, Sultan akan mencari Muti dan meminta untuk mengembalikan semua haknya.
Sultan mengeluarkan ponselnya lalu mencari kontak Muti dan dia segera melakukan panggilan.
Muti yang sedang berada di swalayan membeli buah untuk sang Papa, terkejut saat melihat ada panggilan dari Sultan. Dia ragu untuk mengangkat panggilan tersebut.
__ADS_1