
Setibanya di rumah, Muti langsung menuju kamar mandi yang ada di kamar bawah, lalu diapun bersiap mengenakan pakaian untuk ikut ke kantor.
Sultan sudah selesai mengenakan dasinya saat Muti datang ke kamar untuk mengambil sepatu. Dia memperhatikan Muti, hari ini Muti nampak berbeda dengan penampilan barunya. Muti terlihat lebih rapi dan cantik di mata Sultan.
Namun Sultan menghalau pemikirannya itu, lalu dia berkata, "Aku tidak tahu apa maksud Papa dengan memintamu bekerja bersamaku, tapi aku ingatkan! Aku tidak akan pernah mengistimewakan mu di bandingkan karyawan lain. Jadi berlakulah layaknya karyawan, jika memang kamu ingin tetap bekerja."
"Tidak masalah, aku hanya menuruti amanah Papa saja, jika aku ingin berlaku sebagai Bos, mungkin aku lebih memilih mengelola perusahaan Ayah daripada kerja bersama Kakak!" jawab Muti cuek.
Sekarang Muti tidak ingin pusing memikirkan rumahtangganya lagi, yang harus dia lakukan adalah menjaga hati mertuanya saja.
"Ayo buruan, nanti aku terlambat. Besok mobilmu sampai dan kamu bisa berangkat ke kantor dengan kenderaan sendiri!" ucap Sultan sambil berjalan meninggalkan kamar dan menuruni anak tangga.
Muti masih bengong memikirkan perkataan Sultan barusan. Perasaan, dia tidak membeli mobil, tapi kenapa besok mobilnya sampai.
Sultan yang tidak mendengar derap langkah mengikutinya segera menoleh ke belakang, lalu dia berkata, "Apa kamu mau diam saja di sana!"
Muti pun tersentak, lalu dia menyambar tasnya dan mengikuti Sultan turun. Sesampainya di halaman, Sultan sudah naik ke dalam mobil.
"Cepatlah! Apa yang bisa kamu lakukan di kantor, jika lelet seperti itu!" bentak Sultan.
Entah kenapa sejak mendengar nama Adam di sebut tadi, Sultan jadi gampang terpancing emosi, sedikit saja tindakan Muti yang tidak berkenan di hatinya, dia langsung kesal.
Muti cuek saja, dia naik dan duduk anteng di sebelah Sultan sembari mengecek ponselnya.
Ternyata ada pesan dari kedua kakaknya bahwa hari minggu nanti mereka meminta Muti untuk pulang dan menginap di rumah ayah mereka. Ada hal penting yang ingin mereka bicarakan.
Mutipun membalas chatt dari sang Kakak, dia setuju dan memang sudah merindukan saat-saat kebersamaan dengan keluarganya.
Sultan meperhatikan Muti yang terlihat fokus sambil berdehem, lalu berkata, "Ingat! Kamu masih istriku, jadi jangan sembarangan membalas chatt pria lain!"
__ADS_1
"Oh, masihkah Kak Sultan menganggap aku istri? Apakah selama ini Kak Sultan pernah menjalankan tugas Kakak sebagai suami?" tanya Muti tanpa menoleh sedikitpun ke arah Sultan.
Tiba-tiba Sultan mengerem dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan kebetulan tempat itu tidak begitu ramai dengan lalu lalang kenderaan.
Muti kaget, untung dia mengenakan sabuk pengaman, hingga tidak tersungkur dan menatap kaca depan.
Sultan melepas sabuk pengamannya lalu mengungkung Muti, kini wajah mereka sudah sangat dekat. Lalu, tanpa berkata apapun Sultan tiba-tiba mencium Muti hingga membuat Mutiara berontak. Dia mendorong Sultan, tapi Sultan tidak melepaskannya.
Bibir mungil Muti dilumat dengan rakus, seperti ada kemarahan yang hendak Sultan lampiaskan di sana, hingga Muti hampir kehabisan nafas barulah Sultan melepaskannya.
Muti marah sembari air mata mengambang di kelopak matanya, diapun repleks menampar Sultan. Setelah itu dia menghapus bibirnya dengan kasar, Muti merasa jijik, bayangan wanita pelakor itu sempat muncul disaat Sultan menciumnya tadi.
"Kenapa kamu menamparku! Kamu istriku, aku berhak meminta milikku bukan hanya sekedar ciuman bahkan lebih!" ucap Sultan marah, sembari mencium Muti kembali.
Dan kali ini tidak hanya sekedar ciuman, bahkan tangan Sultan telah membuka dengan kasar beberapa buah kancing baju Muti hingga lepas, lalu tangannya meremas bagian dada Muti hingga membuat Muti menangis dan meronta.
Semakin Muti meronta, Sultan semakin marah, lalu dengan paksa dia mendaratkan ciuman di dada Mutiara dan meninggalkan beberapa stempel kepemilikan di sana hingga membuat telapak tangan Muti kembali mendarat di kedua wajahnya.
Kemarahan yang memuncak membuat Muti lupa akan kodratnya sebagai istri. Dia tidak terpikir akan dosa lagi dan sampai kapanpun Muti tidak akan mau menjalankan kewajibannya sebagai istri, jika Sultan berlaku kasar dan tidak meninggalkan wanita pelakornya.
Muti berusaha membuka pintu mobil, dia ingin lari, tapi pintu itu tidak bisa dibuka. Akhirnya Muti berteriak histeris sembari menangis, "Aku bukan pelacurmu! lepaskan aku! hiks...hiks...hiks."
Sultan tersadar, lalu dia melepaskan Mutiara. Dia mengelap wajahnya dengan kasar, Sultan menyesal kenapa dia hilang kendali dan malah menyakiti Mutiara.
Muti masih menangis sambil memegang erat bajunya yang sudah tak berkancing lagi dan hijabnya yang telah acak-acakan. Dia marah dan tidak mau menatap Sultan. Lalu dengan masih terisak, Muti berkata, "Turunkan aku di sini! Aku tidak ingin melanjutkan perjalanan bersamamu!"
"Maafkan aku, aku emosi Mut. Maaf...," ucap Sultan sembari membuka jasnya dan menutupkan ke tubuh Muti.
Muti menolak dan melemparkan jas tersebut hingga mengenai wajah Sultan.
__ADS_1
Namun Sultan tidak membalas, dia hanya berkata, "Jika aku menurunkan kamu di sini dengan kondisimu yang seperti itu, berarti aku mempermalukan diriku sendiri. Apakah kamu akan memiliki muka, pulang dengan baju tanpa kancing seperti itu? Jadi, pakailah jasku dan kita akan ke kantor, biar aku telepon sekretaris untuk membelikan pakaian untukmu," ucap Sultan.
"Tidak usah telephone sekretarismu, harga dirimu di kantor juga bakal jatuh, saat dia melihatku seperti ini," ucap Muti yang kemarahannya mulai mereda.
Walau bagaimanapun Sultan masih suaminya, jika orang kantor sampai tahu dia seperti itu karena menolak Sultan yang meminta hak darinya, orang pasti akan mencemooh dan mentertawakan mereka berdua.
"Jadi bagaimana? Apa kita harus singgah ke toko pakaian atau ke butik dulu?" tanya Sultan yang sekarang merasa sangat bersalah.
"Aku coba telepon Elena dulu, ada di mana dia sekarang, dia sering mendapatkan tugas keluar dari Ayah, jika tidak jauh dari sini, biar Elena saja yang membelikan pakaianku. Bukankah kamu ada meeting penting pagi ini? Jangan kecewakan Papa."
Muti pun melakukan panggilan terhadap Elena. Elena saat ini sedang menyetir, dia akan pergi menemui klien mewakili ayah Muti. Melihat ponselnya berdering, dan terlihat di layar nama Muti yang memanggil, Elena pun segera mengangkat panggilan tersebut.
"Ya Mbak, ada apa?" tanya Elena.
"Kamu di mana El?" tanya balik Muti.
"Aku di jalan Cut Nyak Din Mbak, mau menemui klien nanti jam sepuluh di Paladium cafe, kenapa Mbak?" tanya Elena.
"Kamu jemput aku dulu bisa El, aku di jalan Iskandar muda. Aku saat ini ada bersama Kak Sultan. Kak Sultan buru-buru, soalnya ada meeting penting, jadi tidak bisa mengantarku," pinta Muti.
"Oh, tentu bisa Mbak, masih lama kok waktunya untuk bertemu klien. Sebentar ya Mbak, aku putar arah."
"Oke El, terimakasih ya."
Sultan menghentikan mobilnya, menunggu elena tiba. Tidak menunggu lama, Elena pun mensejajarkan mobilnya di dekat mobil Sultan.
Kemudian Muti menyerahkan jas di tangannya kepada Sultan, lalu memegangi bajunya sambil membuka pintu, hendak pindah ke mobil Elena.
Sultan memegang tangan Muti sambil berkata, "Maaf, maafkan kesalahanku!"
__ADS_1
Muti tidak menjawab, dia turun dan menutup kembali pintu mobil Sultan, lalu segera naik ke mobil Elena.
Elena heran melihat penampilan Muti, tapi dia belum berani bertanya, Elena menunggu sampai Muti sendiri yang akan bercerita.