MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 101. MENCARI SULTAN


__ADS_3

"Mbak, sebenarnya apa yang terjadi?" ucap Elena.


"Semua sudah selesai El, kami sudah bercerai," jawab Elena.


"Yang sabar ya Mbak, mungkin ini memang yang terbaik daripada Mbak terus tersakiti. Ya sudah kita tidur yuk Mbak, mudah-mudahan hari esok semuanya lebih baik."


Elena memberikan selimut kepada Muti, lalu keduanya tidur dan masuk ke alam mimpinya masing-masing.


Sultan yang pergi dari rumah, lebih memilih nongkrong di club malam dengan ditemani oleh beberapa orang teman kuliahnya dulu.


Mereka memang sering bertemu di sana saat sedang memiliki masalah. Mendengarkan musik dengan suara yang keras sambil menikmati minuman.


"Hai Tan kamu sudah mabuk, ayo kita pulang!" ucap salah satu temannya.


"Aku masih ingin di sini, kalian pulang saja!"


"Tapi Tan, hari sudah lewat tengah malam, istri-istri kita bakalan ngamuk!" ucap teman yang lain.


"Aku tidak peduli, wanita bikin pusing!" jawab Sultan.


"Salah kamu! Aku, satu istri saja bikin pusing, nah kamu malah dua. Ayo aku antar kamu pulang! Kebetulan aku nggak bawa mobil, jadi biar aku yang nyetir dan nanti mobilmu aku pinjam ya, besok aku kembalikan ke kantor."


"Terserah, tapi aku sudah tidak di kantor itu lagi, Papa ku sudah mengalihkan perusahaan itu kepada mantan istriku."


"Kamu sih bodoh, istri pilihan orangtuamu tidak mungkin buruk, buktinya mereka percaya mengalihkan kepemimpinan perusahaan kepadanya. Sudah ayo kita pulang, jadi aku antar kamu kemana ini!"


"Apartemen, aku ingin tenang, lebih baik aku tinggal di sana dulu," jawab Sultan.


"Baiklah, mana kunci mobilmu!"


Sultan pun memberikan kunci mobilnya, lalu satu temannya lagi membantu memapah Sultan menuju mobil.


Merekapun pulang ke rumah masing-masing. Sultan yang sudah di antar ke apartemen, segera mencari kunci apartemennya. Tapi dia terkejut saat mendapati pintu tidak terkunci dan Sultan mendengar suara ramai di dalam.


Dengan terhuyung, Sultan masuk dan dia terkejut saat melihat tiga pasangan sedang berpesta makan dan minum di sana.


"Kalian siapa! Siapa yang mengizinkan kalian masuk kesini? Keluar! atau aku lapor polisi!" teriak Sultan.


Hardi yang melihat Sultan terhuyung mabuk, segera mengajak pasangannya kabur. Untung saja, Hardi mengenakan topi, hingga Sultan tidak mengenali dirinya dan keadaan Sultan yang sedang mabuk menguntungkan bagi Hardi beserta teman-temannya, kabur tanpa bermasalah.

__ADS_1


Sultan memegangi kepalanya yang sakit, lalu dia menjatuhkan dirinya di sofa dan tertidur di sana.


Sementara di rumah Sultan, Clara mondar-mandir, dia menelepon Sultan berulang kali tapi ponsel Sultan tidak aktif, karena Sultan memang sengaja mematikannya sejak dia pergi dari rumah.


Clara uring-uringan, dia membentak Bi Tina agar membuatkan susu panas dan memijat kakinya.


Bi Tina tidak berani membantah dan beliau menuruti permintaan Clara walau sambil mengantuk.


Clara tidak mengizinkan Bi Tina Tidur, beliau harus menemani Clara hingga dia tertidur.


Perasaan kesal membuat Clara tidak bisa tidur dan hal itu jelas imbas ke Bi Tina. Berbagai omelan keluar dari mulut Clara jika melihat Bi Tina memejamkan mata.


Hingga fajar menyingsing Sultan belum juga kembali dan hal itu makin membuat Clara uring-uringan.


Clara menunggu Sultan di teras rumah, hingga udara pagi membuatnya mengantuk. Namun yang ditunggu tidak juga menunjukkan batang hidungnya.


Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, Clara akhirnya memutuskan untuk mencari Sultan di kantornya. Dia memesan taksi online karena Hardi tidak bisa di hubungi.


Clara sudah berpakaian rapi saat Bi Tina masuk ke kamar untuk memberitahu jika sarapannya sudah siap.


"Nyonya mau pergi? Sarapan Nyonya sudah Saya siapin di meja makan," ucap Bi Tina.


"Baik Nya."


Setelah mengatakan hal itu, Clara mengambil tas lalu dia menunggu taksinya datang di teras rumah.


Tidak lama menunggu, taksi pun datang dan Clara pun bergegas naik.


Dalam perjalanan, Clara menelepon Sultan dan juga Hardi, tapi ponsel mereka masih juga tidak aktif.


Taksi memasuki area parkiran kantor, setelah membayar Clara pun bergegas pergi masuk ke gedung perusahaan.


Seorang security menghentikan dan menanyakan keperluan Clara, tapi Clara dengan sombongnya berkata, "Aku istri Presdir kalian, kenapa kamu menghalangiku! Aku mau bertemu Sultan!" teriak Clara.


"Maaf Nyonya, Pak Sultan belum datang!"


"Kamu jangan bohongi Saya ya, tidak mungkin Kak Sultan belum datang, ini sudah pukul 10 pagi."


"Nyonya aneh, jika memang Tuan Sultan suami Nyonya, harusnya Nyonya tahu kenapa Tuan belum datang!"

__ADS_1


"Kamu jangan banyak omong, Saya mau masuk dan menunggunya di ruangan," ucap Clara yang terus memaksa.


"Tapi..."


"Ada apa ribut-ribut Pak?" tanya Muti yang baru keluar dari gedung, ingin menemui klien bersama sekretarisnya.


"Nyonya ini memaksa masuk Bu, tidak percaya jika Pak Sultan tidak datang hari ini!"


Awalnya Muti tidak menyadari jika Clara yang membuat keributan karena dia sedang terburu-buru.


Namun saat menoleh, Muti terkejut, Clara sudah menarik lengannya dengan kuat.


"Apa-apaan kamu Clara! Ngapain kamu di sini!" ucap Muti yang kaget, kakinya terpelekok hingga membuatnya hampir terjatuh.


Security yang melihat hal itupun marah, "Hei Nyonya! lepaskan tangan Bos kami!" bentak security sembari menarik paksa hingga pegangan Clara terlepas dari lengan Muti.


"Kamu jangan sembarangan, atau aku akan menyeretmu keluar dari sini!" ancam security lagi.


"Lepaskan dia Pak!" perintah Muti.


Pak security pun melepaskan tangan Clara dan Clara langsung berkata, "Di mana Kak Sultan! Kenapa dia tidak pulang malam ini! Kemana kalian pergi! Jangan coba-coba kamu pecundangi aku ya!"


"Clara... Clara, katanya istri, tapi kok tidak tahu dimana suaminya tidur. Kasihan sekali kamu!" ucap Muti sembari bergegas meninggalkan tempat itu.


Tapi Clara yang belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan, segera menarik Muti kembali.


"Kamu jangan pergi! Di mana Sultan! Katakan Muti!"


"Dia bukan Presdir dan bukan lagi pemilik perusahaan ini, jadi kamu cari tahu sendiri dimana dia, karena aku sudah tidak ada hubungan apapun dengannya lagi," ucap Muti.


"Kamu bohong Muti! Sultan pewaris dan pemilik perusahaan ini, mana mungkin dia tidak kerja di sini lagi!" ucap Clara tidak percaya.


"Kalau kamu tidak percaya, silahkan kamu bertanya langsung kepada pengacara keluarga Hendrawan, ini kartu nama beliau!" ucap Muti sembari mengeluarkan kartu nama Pradipta dari dalam dompet dan mengulurkan kepada Clara.


Clara menyambar kartu nama itu dengan kasar. Muti hanya menggelengkan kepala sembari berkata kepada sekretarisnya.


"Ayo Din kita berangkat, kita telat gara-gara wanita ini!" ucap Muti sembari berjalan meninggalkan tempat itu diikuti oleh Dina.


Clara memandang kepergian Muti dengan rasa penasaran dan tidak percaya atas omongannya tadi. Lalu, diapun mengambil ponsel dari dalam tas, dan segera menelepon Pradipta untuk mendapatkan penjelasan.

__ADS_1


__ADS_2