
Mutiara dan Sultan sudah sampai di hotel. Setelah mengantar Muti ke kamar, Sultan bersiap, mengganti pakaiannya, dia ingin menemui Clara. Sultan ingin memberi kejutan bahwa tidak perlu menunggu sore hari untuk bertemu dengan Clara.
Muti memperhatikan suaminya yang sedang berkaca, membenahi kemejanya, menyisir rambut dan memakai parfum yang sangat wangi.
Sebenarnya dia penasaran, kemana Sultan selalu pergi, padahal ini 'kan bulan madu mereka, harusnya bukan mikirin pekerjaan, tapi ngobrol untuk saling mengenal satu sama lain, membina hubungan suami istri yang harmonis atau biasa di sebut berpacaran setelah menikah.
Pandangan Mutia tidak lepas dari gerak-gerik Sultan yang tersenyum-senyum sendirian di depan cermin, hingga menimbulkan tanda tanya besar di kepalanya, apakah Sultan sedang kasmaran dengan seseorang.
Melihat keanehan tersebut, Muti bertekad, hari ini dia akan menguntit, dia harus tahu, kemana sebenarnya suaminya pergi, walau dirinya memang belum sepenuhnya pulih.
"Aku pergi dulu, aku mau bertemu klien, jangan lupa makan siang dan aku mungkin tidak akan makan malam di sini, jadi kamu harus jaga serta perhatikan dirimu sendiri kalau kamu masih ingin hidup," pamit Sultan.
"Oh ya ingat Muti, jika orangtua kita telepon, katakan saja aku sedang di mana gitu, jangan kamu bilang aku bertemu klien. Kamu pasti paham, dengan apa yang aku maksud," ucap Sultan lagi, lalu memakai sepatunya dan keluar meninggalkan Muti sendirian di sana.
Muti menyambar tasnya, memakai sendal, tanpa mengganti baju diapun berlari menyusul, mengendap-ngendap mengikuti suaminya.
Sultan ternyata sudah memesan taksi online, jadi begitu keluar hotel diapun sudah di sambut oleh sopir taksi yang sudah menunggunya sejak tadi.
Sementara Muti, karena terburu-buru menabrak seseorang dan ternyata orang itu adalah Adam.
"Aduh...maaf, aku tidak sengaja," ucap Muti tanpa memandang wajah orang tersebut dan bermaksud langsung pergi.
"Hai Mbak Muti! ternyata Mbak sudah pulang dan kenapa Mbak berjalab tergesa-gesa, sebenarnya Mbak sedang mengejar siapa?" tanya Adam hingga membuat Muti mendongakkan wajahnya karena mendengar suara yang tidak asing.
"Eh...maaf, ternyata Mas Adam. Maaf ya Mas, aku sedang terburu-buru, aku pergi dulu ya Mas," ucap Mutiara.
Belum lagi Adam menjawab, Muti sudah berlari keluar. Namun sayang, Mutiara kehilangan jejak suaminya. Dia celingukan mencari sosok Sultan tapi yang tampak hanya mobil tamu baru masuk dan juga keluar dari pelataran hotel.
"Ah, cepat sekali Kak Sultan pergi, aku kehilangan jejak."
Ketika Muti hendak berbalik, muncul Elena, dia baru saja turun dari mobilnya. Mutiara pun menghampiri Elena, lalu dia berkata, "Oh ya El, apa kamu tadi melihat Kak Sultan keluar dari sini? Barangkali berpapasan atau kamu melihat dia pergi naik apa dan dengan siapa?" tanya Muti beruntun.
"Aku tidak melihat Tuan Sultan Mbak, aku juga baru saja sampai. Oh ya Mbak, maaf, aku kemaren tidak sempat menjenguk Mbak Muti. Tuan Sultan tadi tekepon, Mbak Muti siang ini pulang, makanya aku buru-buru kesini."
"Oh, Kak Sultan telepon kamu?"
"Iya Mbak, Tuan bilang, secepatnya aku di suruh kesini untuk menemani Mbak Muti," ucap Mutiara.
Adam dari kejauhan memperhatikan Mutia. Dia lega ternyata, Muti buru-buru karena ingin menemui temannya."
Kemudian Adam berbalik hendak ke kamarnya mengambil berkas yang tertinggal di sana.
__ADS_1
Muti memutuskan untuk pergi berjalan-jalan dengan Elena ketimbang dia berbalik ke kamar dan menanti Sultan yang entah jam berapa akan pulang.
Waktu bulan madu Sultan dan Mutiara di Bali sudah memasuki hari ke tujuh, tapi tidak ada perubahan sama sekali dengan hubungan keduanya.
Muti pergi jalan-jalan, menghabiskan waktu hanya berdua saja dengan Elena, sedangkan Sultan, asyik dengan urusannya sendiri yang sampai saat ini belum di ketahui oleh Muti, apa urusan suaminya itu.
"Mbak Muti! kenapa melamun?" tanya Elena. Hari ini kita mau jalan kemana Mbak?" tanya Elena.
"Terserah kamu saja El, aku tidak bersemangat lagi untuk meneruskan perjalanan bulan madu kami ini. Rasanya aku ingin pulang saja, di sini juga sia-sia, Kak Sultan tetap menjaga jarak terhadapku. Bahkan sibuk dengan urusannya sendiri," ucap Muti sambil mendesah.
"Maaf Mbak, aku ingin bertanya, itu jika Mbak Muti tidak keberatan," ucap Elena.
"Iya El, apa yang ingin kamu. tanyakan, silahkan tanya saja El, aku sama sekali tidak keberatan," ucap Elena.
"Apakah pernikahan Mbak Muti dan Tuan Sultan berdasarkan perjodohan?" tanya Elena.
Muti diam, hingga membuat Elena berkata lagi, "Maaf Mbak, jika aku lancang."
"Nggak apa-apa El, kamu benar, pernikahan kami terjadi karena perjodohan. Papa kami sahabat karib pada masa sekolah dan baru bertemu sekitar dua bulan lalu, setelah masing-masing berkeluarga. Dari situlah awal semuanya El."
"Sayang ya Mbak, padahal Mbak Mutia masih sangat muda, masih banyak yang bisa diraih selain cinta seorang pria. Jika keadaan rumah tangga mbak Muti seperti ini rasanya sia-sia, menghabiskan masa muda mbak Muti untuk kebahagiaan yang tidak pasti," ucap Elena.
"Mbak Muti yang sabar ya," ucap Elena yang merasa iba.
"Kamu sudah menikah El?" tanya Muti.
"Belum Mbak, aku pernah tunangan tapi gagal. Sebenarnya aku yang salah, aku tidak mau diajak menikah cepat karena aku masih ingin bebas dan dekat dengan keluargaku. Ternyata tunanganku itu tidak bisa lama menunggu, karena dia harus menetap di luar negeri untuk mengurus bisnis orangtuanya di sana."
"Jadi sekarang kamu menyesal El?"
"Sangat Mbak, setelah aku putus dan mantanku itu berangkat ke luar negeri bersama orangtuanya, kedua orangtuaku sakit dan akhirnya meninggal dengan rentang waktu yang tidak terlalu lama," ucap Elena sedih.
"Maafkan aku El, jadi membuka masa lalumu. Keluargamu yang lain bagaimana El, apa kamu memiliki Abang atau Kakak?" tanya Muti.
Elena menggeleng lalu berkata, "Aku dulu memiliki seorang Kakak perempuan, tapi kakakku itu menghilang saat ikut kegiatan Mapala dari kampusnya dan sampai sekarang tidak pernah kembali. Aku tidak tahu Mbak, apakah dia masih hidup atau sudah mati karena pencarian sudah total di hentikan beberapa tahun lalu sebelum kedua orangtuaku meninggal."
"Ternyata perjalanan hidupmu lebih pahit dariku ya El," ucap Mutiara.
Kemudian Muti bertanya lagi, "Lantas, mantan tunanganmu itu bagaimana kabarnya sekarang? apa dia sudah menikah atau belum? apa kalian tidak pernah kontekan lagi setelah putus?" tanya Muti yang masih penasaran dengan kisah hidup Elena.
"Tidak Mbak, itu memang komitmen kami, setelah putus kami tidak akan saling menghubungi. Bahkan kami sudah melemparkan masing-masing kartu seluler kami di pantai tempat pertama kali jadian."
__ADS_1
"Oh, jadi sekarang kamu tinggal sendiri?"
"Iya Mbak, menempati rumah peninggalan orangtuaku. Makanya jika Mbak Muti butuh ditemani, aku bebas kok, tidak terikat apapun dan siapapun. Tidak ada yang bakal melarang, mau aku pulang ataupun tidak," ucap Elena.
"Itulah alasan kenapa aku memilih pekerjaan ini Mbak, aku bebas kemana saja pergi dan aku juga terhibur, hingga tidak merasakan hidup sendirian di dunia ini. Jadi, rumah hanya untuk tempat persinggahan ku sementara, tempat memejamkan mata dikala lelah sepulang bekerja," ucap Elena lagi.
Bersambung....
Selamat pagi sahabat dumay, semoga hari ini kita tetap diberikan kesehatan dan kebahagiaan ya. Oh ya, kali ini aku rekomendasikan karya Mbah cantikku, yang pastinya oke deh ceritanya dan jamin nggak nyesel kalian ngebacanya, yuk, silahkan di kepoin karyanya yang ada di bawah ini, setelah itu lanjut baca kesana ya. Terimakasih 🙏♥️

KEMBALI KE MASA SMA
(Tita Dewahasta)
Madya gagal dalam rumah tangganya. Mantan suaminya kemudian menikah dengan mantan baby sitter yang bertahun-tahun bekerja padanya.
Dia pun frustasi dan berandai kembali ke masa lalu untuk memperbaiki keadaan. Dalam sebuah perjalanan, kepala Madya terantuk setir mobil.
Beberapa saat setelahnya, dia kembali ke 18 tahun silam.
Dapatkah Madya memperbaiki hidupnya?
Dan bisakah Madya kembali ke masa sekarang, atau dia akan terjebak selamanya di kehidupan baru masa mudanya?
__ADS_1