
"Sekarang hancur semua Clara, selama ini aku sengaja menutup hubungan kita dari keluarga sampai aku benar siap, kamu malah menghancurkannya. Kamu puas Clara!" ucap Sultan marah.
"Kak Sultan kok jadi marah denganku, seharusnya kak Sultan bersyukur, dengan adanya kejadian tadi, pasti si marmut akan meminta cerai dan kita bisa menikah sesuai rencana."
"Tapi, tidak harus secepat ini Clara! Kamu tahu apa akibatnya jika sampai Papa menghentikan subsidi dan menarik semua aset serta perusahaan?" tanya Sultan kepada Clara, agar menjadi pertimbangan.
"Tidak mungkin Papa kamu melakukan itu semua, hanya demi membela si Marmut."
"Bisa saja! Keluarga ku menyayangi Mutia karena Papanya dan Papaku adalah sahabat karib sejak kecil dan menurut mereka Mutiara adalah wanita dan istri terbaik untukku. Kamu tahu apa akibatnya jika Papaku marah? Aku tidak akan bisa memenuhi semua permintaan dan rengekanmu, tidak bisa memenuhi kebutuhan mu dalam menghamburkan uang," ucap Sultan sambil mendesah dan meraup wajahnya dengan kasar.
"Jadi Kak Sultan pikir, selama ini aku telah menghamburkan uang Kakak!"
"Lantas, apa namanya jika tidak menghamburkan uang? Coba kamu hitung sendiri, berapa banyak uang yang telah aku berikan ke kamu selama kita bersama! Mungkin sudah bisa untuk mendirikan satu perusahaan, tapi apa yang kamu lakukan? Kemana dan jadi apa uang itu sekarang? Hanya untuk menutupi gengsimu saja,seperti ini!" ucap Sultan sambil mengangkat tas tangan milik Clara.
"Jadi, Kak Sultan tidak ikhlas! Kok baru sekarang Kak Sultan bicara seperti ini. Setelah kehadiran si Marmut Kak Sultan jadi berubah, dulu Kak Sultan tidak pernah sekalipun mencelaku," ucap Clara kesal.
"Memang aku akui, Muti walaupun sudah menjadi istri sahku tapi dia tidak pernah sekalipun menuntut ini dan itu. Dia menerima dengan ikhlas apa yang aku berikan tanpa memandang nilainya," ucap Sultan.
"Oh, sekarang Kak Sultan banding-bandingkan aku dengan dia! Kak Sultan jahat!" seru Clara.
"Entahlah Clara, aku pikir hubungan kita sudah tidak bisa di teruskan lagi, biarlah untuk sekarang ini, kita berjalan di jalur kita masing-masing," ucap Sultan.
"Apa! Tidak mungkin Kak, Kak Sultan tidak bisa berbuat seperti ini, apalagi setelah apa yang telah kita lakukan. Kak Sultan sudah mengambil kesucianku dan kita telah beberapa kali melakukannya, bagaimana jika aku hamil? Kak Sultan tidak bisa lari dari tanggung jawab," ucap Clara sambil pura-pura menangis.
Kemudian dia berkata lagi, "Pokoknya aku tidak mau kita putus! Kak Sultan harus menikahiku secepatnya atau aku akan datang ke kantor Kakak setiap hari! Biar mereka tahu terutama Papa Kak Sultan, jika akulah yang seharusnya menjadi istri Kakak bukan si Marmut!" ancam Clara.
__ADS_1
"Tenang lah Clara! tenang dan pelankan suara kamu, lihatlah para pengunjung sekarang sedang menatap kita. Hapus air mata kamu itu dan sekarang sebaiknya kita pulang dulu. Nanti aku pikirkan lagi solusi terbaik untuk hubungan kita," ucap Sultan mencoba menenangkan Clara.
Akhirnya Clara menuruti omongan Sultan dan mereka pun memutuskan untuk pulang, tapi Clara tetap akan menuntut Sultan untuk segera menikahinya.
Sekarang pikiran Sultan kacau, selama dalam perjalanan pulang omongan dan ancaman Clara terngiang-ngiang di telinganya dan wajah sabar Muti muncul di pelupuk matanya. Penyesalan pun terselip di hati Sultan, kenapa dia bisa terjebak dalam situasi seperti ini.
Sultan sekarang ibarat makan buah si malakama, dia tidak tahu bagaimana kedepan nasib rumah tangganya dan mengenai Clara, Sultan memang harus bertanggung jawab, apalagi jika Clara sampai hamil.
Namun, untuk melepaskan Mutiara, entah mengapa saat ini hati Sultan merasa berat, merasa tidak rela.
Apa mungkin karena menjalani hidup bersama dalam satu rumah dalam beberapa bulan ini, telah menumbuhkan benih cinta di hati Sultan walaupun dia belum pernah melaksanakan kewajibannya sebagai suami seutuhnya.
Sultan menghentikan mobil, saat mendekati rumahnya, dia menyandar pada sandaran kursi mobil sambil memijat-mijat kepalanya yang terasa sangat sakit.
Dia nggak tahu apa yang bakal terjadi saat memasuki rumah nanti, sementara kedua orangtuanya saat ini sedang berada dan mungkin malam ini menginap di rumahnya.
Mama, Papa Hendrawan dan Raja duduk di ruang tamu menunggu kepulangan Sultan. Papa sudah sangat geram dan marah saat mendengar penuturan Mama dan juga Raja.
Saat ini amarah Papa Hendrawan siap meledak, apalagi sempat mendengar wanita pelakor yang di bencinya itu telah berani melawan perkataan sang istri.
Mama yang melihat wajah tidak mengenakkan suaminya merasa takut, pasti perang antara suami dan anak bakal terjadi. Tapi, Mama juga tidak mungkin menyembunyikan masalah tadi yang baginya tidak adil bagi Mutiara sang menantu.
Bunyi mobil menderu di luar pintu, menandakan Sultan telah kembali. Papa Hendrawan, tengah bersiap untuk meminta penjelasan dari Sultan saat ini juga.
Beliau tidak mau menunggu ataupun melarut-larutkan masalah, makanya dengan rasa tidak sabar, beliau langsung berdiri, membukakan pintu bagi Sultan.
__ADS_1
Sultan yang melihat wajah seram Sang Papa tengah berdiri di ambang pintu, nyalinya menciut. Perlahan dia mendekat sembari mengucap salam.
Begitu Sultan hendak masuk, tangan Papa Hendrawan melayang di kedua pipinya. Dua tamparan berhasil membuat Sultan mundur, mengurungkan niatnya untuk masuk.
Sultan meringis sembari mengelus kedua pipinya yang saat ini memerah dan terdapat stempel cap lima jari.
Mama menarik lengan Papa Hendrawan agar membiarkan sang Papa memberi kesempatan kepada Sultan untuk masuk dan memberi kesempatan untuk Sultan menjelaskan semuanya.
Raja juga mendekati mereka sambil berkata, "Pa, beri kesempatan untuk Kak Sultan bicara."
Papa kemudian berbalik menuju kursi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Amarahnya saat ini belum reda, hingga Mama yang melihat hal itu langsung mengacungkan segelas air agar Papa meminumnya untuk meredakan emosi.
Sultan masuk dengan wajah tertunduk, dia tahu saat ini keluarganya sedang marah terhadapnya.
Dia duduk di sisi Raja, sedangkan Raja tidak mempedulikan sang Kakak, Raja tetap fokus pada ponsel yang saat ini ada dalam genggamannya.
Karena semua diam, akhirnya sang Mama membuka pembicaraan.
"Sekarang kamu harus tetapkan pilihanTan! Jangan kamu sakiti Mutiara terus!" seru sang Mama.
"Dasar anak tidak tahu di untung, memiliki istri yang baik seperti itu masih saja bertingkah. Kamu tidak bisa membedakan mana berlian dan mana imitasi," ucap Papa Hendrawan.
Kemudian Papa Hendrawan berkata lagi, "Mulai besok, aku ingin Mutiara ikut terjun dalam perusahaan. Jika kamu masih saja berhubungan dengan wanita pelakor itu, jangan salahkan Papa, jika kepemimpinan perusahaan akan Papa serahkan kepada Mutiara dan juga Raja."
Semua diam, tidak ada yang berani menentang omongan Papa Hendrawan. Mama dan Raja setuju dengan keputusan Papa, selagi itu baik untuk memperbaiki rumah tangga Sultan.
__ADS_1
Hanya tinggal berbicara dengan Mutia, apakah dia setuju atau tidak bekerja di perusahaan Hendrawan yang di pimpin oleh suaminya. Sementara Ayah Mutiara juga menginginkan agar Muti bekerja di perusahaan keluarganya.