MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 107. MENGUNTIT MANTAN


__ADS_3

Elena yang tahu jam kantor telah usai, seenaknya saja nyelonong masuk ke ruangan karena dia pikir hanya Muti yang ada di sana.


Saat melihat ada Sultan di sana, Elena pun menutup mulutnya sembari menunduk hormat dan meminta maaf.


"Maaf Tuan, Saya tidak tahu jika Tuan ada di sini!" sapa Elena.


"Masuklah El, Kak Sultan sedang membereskan barang-barang," ucap Muti.


"Hemm, masuklah! Aku juga sudah selesai," ucap Sultan.


"Oh ya Mut, lebih baik kamu pergi dengan Elena saja! Bukannya aku mengatur, tapi tidak baik jika dilihat orang, kamu menemui laki-laki lain sementara status kita baru saja cerai. Apa kata orang yang melihat nanti!" ucap Sultan.


"Hemm, aku tahu Kak! lagipula pertemuan kami malam ini di kantor bukan cuma berdua," ucap Muti.


"Ayo El, kita tidak jadi mencari kontrakan, tapi temani aku ya ke kantor Mas Adam!" pinta Muti.


"Oh ya Mas, maaf aku duluan!" ucap Muti.


Elena yang tidak tahu arah pembicaraan keduanya mengikut saja, dia meninggalkan ruangan itu, tapi sebelumnya dia pamit kepada Sultan.


Setibanya di luar ruangan, Elena pun bertanya, "Tunggu Mbak! Memangnya kita mau ngapain ke kantor Mas Adam? Apa mulai pendekatan nih!" tanya Elena.


"Hush, kamu ngaco El. Mas Adam belum tahu kok, ada bisnis yang mau kita bahas."


"Oh..., oh ya Mbak, kenapa kita tidak jadi mencari tempat kost? Mbak berubah pikiran atau masih rindu ingin tinggal bersama ayah dan ibu?" tanya Elena.


"Masih rindu itu pasti El, tapi terlalu jauh pergi ke kantor dari sana, sementara aku harus menunjukkan kedisiplinan kepada bawahan. Apa kata mereka nanti, jika bos yang membuat aturan malah sering terlambat!"


"Iya juga ya Mbak, jadi Mbak mau tinggal dimana?"


"Kita akan tinggal di rumah ku El!"


"Hah! Mbak mau rujuk?"


"Bukan lho El, Kak Sultan akan membawa Clara pindah ke apartemen," jawab Muti.


"Akhirnya, yang hak pasti kembali dan yang mengganggu lebih baik pergi."

__ADS_1


"Ayo buruan! lebih baik kita yang menunggu, daripada Mas Adam dan tamu lain yang menunggu kita."


"Oke Mbak cantik!" jawab Elena sambil melajukan mobilnya menuju kantor Adam.


Clara menelepon Hardi agar menjemputnya, setelah Sultan pergi ke kantor untuk mengemasi barang. Dia harus berbuat sesuatu untuk mengambil milik Sultan dari Mutiara dengan bantuan Hardi.


Hardi yang memang sudah menunggu di sekitaran rumah segera menjemput Clara dan mereka pergi ke cafe biasa, tempat keduanya dulu sering bertemu.


"Kamu kemana saja! Aku telepon kamu berungkali kemaren, kenapa ponselmu tidak aktif?" tanya Clara.


"Biasalah, paket ku habis. Dan hari ini baru beli karena baru mendapatkan uang. Kamu sih, sejak tinggal di sana jadi pelit, sudah hampir dua minggu, kamu tidak memberiku uang!" ucap Hardi.


"Uang saja yang ada dalam pikiran mu, kamu pikir aku mesin uang! Kemana uang mu yang selama ini aku berikan?"


"Ya sudah habislah! Aku 'kan butuh tempat tinggal dan juga makan!" jawab Hardi.


"Lantas, siapa yang tinggal di apartemen, kenapa begitu berantakan hah?" tanya Clara.


"Aku sih! tapi beberapa hari ini tidak lagi, suamimu datang kesana dan untung saja dia sedang mabuk, jadi tidak mengenaliku," ucap Hardi.


"Maaf, aku belum sempat mencucinya, habisnya kamu tidak memberiku uang sih, aku kan malu, bajuku itu itu saja," jawab Hardi santai.


"Sekarang, aku tidak bisa memberimu uang lagi, suamiku sudah kere. Tapi, jika kamu mau mendapatkan uang banyak, kita harus melakukan sesuatu terhadap Mutiara," ucap Clara.


"Memangnya kamu punya rencana apa?" tanya Hardi.


"Kalau aku sudah punya rencana, ngapain juga saat ini aku mengajakmu ketemuan dodong!" ucap Clara kesal.


"Oh, ya sudah kita teror atau kita singkirkan dia! Bagaimana menurutmu? Jika setuju, mulai besok aku akan mulai mengikutinya.


"Tapi, kamu harus hati-hati, dia sekarang seorang Presdir, menggantikan Kak Sultan. Pastinya, dia memiliki pengawal pribadi yang siap menjaga keamanannya."


"Hemm, kamu jangan takut. Aku pasti bisa menyingkirkannya," ucap Hardi.


"Bagus jika begitu. Setelah Muti mati, hak waris dan pengelolaan perusahaan pasti kembali ke tangan Kak Sultan dan kita bisa terus mengambil keuntungan, hingga masa depan anak ini bakal terjamin," ucap Clara lagi.


"Tapi Clara, aku minta uang dong, bagaimana aku bisa beraksi, jika tidak memegang uang. Bahkan untuk membeli minyak bensin saja, uangku tidak ada," ucap Hardi.

__ADS_1


"Dasar kamu! belum bekerja sudah minta uang. Ini, cuma ada ceban! Aku juga sedang tidak punya uang, Kak Sultan memintaku untuk berhemat dan sudah beberapa hari tidak memberiku uang."


"Jadi deh, ini juga buat isi bensin mobilmu. Terpaksa besok aku harus pinjam uang dulu kepada teman, untuk modal menjalankan misi. Kamu juga harus usaha dong Clara, bagaimana supaya suamimu memberikan kita uang. Kita tidak mungkin berhutang terus, sampai semua menjadi milik kita."


"Iya, nanti aku akan coba memintanya, tapi aku tidak janji," ucap Clara lagi.


Clara dan Hardi sudah tiba di tempat tujuan dan mereka memesan makanan sembari melanjutkan obrolan tentang rencana selanjutnya.


Sultan yang telah selesai membereskan barang, lalu meminta security untuk membantu mengangkat barang-barang itu ke dalam mobil. Kemudian, diapun melajukan mobil menuju kantornya yang baru.


Sesampainya di sana, Sultan hanya meletakkan barang saja, kemudian dia putar balik menuju kantor Adam.


Perasaan cemburu dan penasaran, membuatnya ingin mencari tahu apa benar Muti kesana untuk urusan bisnis atau urusan lainnya.


Muti dan Elena hampir tiba di perusahaan Adam dan Muti segera meneleponnya untuk memastikan, di ruangan mana mereka akan meeting.


Adam meminta sekretarisnya untuk menunggu Muti di depan pintu masuk kantor. Sementara dirinya sedang mempersiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk bahan meeting nanti.


Ternyata klien yang akan melakukan pertemuan dengan mereka juga telah datang lebih awal, jadi Adam tidak perlu menunda pertemuan hingga malam hari.


Mereka pun berkumpul di ruang kerja Adam, membahas pengiriman aneka jenis kain, serta kerjasama pemasaran aneka model baju untuk musim panas yang segera tiba di negara klien mereka.


Untuk penyediaan bahan kain, diserahkan kepada perusahaan Muti, sedangkan penyediaan aneka baju musim panas akan diproduksi dan ditangani pengirimannya oleh perusahaan Adam.


Kesepakatan telah diputuskan dan mereka sama berharap kerjasama itu akan berjalan lancar untuk jangka waktu yang panjang.


Acara meeting selesai pukul 7 malam dan klien langsung berangkat ke bandara untuk pulang ke negara mereka.


Sebenarnya Adam telah mempersiapkan jamuan makan malam bagi klien, tapi karena waktu penerbangan yang sangat mendesak, membuat mereka tidak bisa memenuhi undangan tersebut.


Akhirnya Adam hanya mengajak Muti, Elena dan sekretarisnya untuk makan malam di tempat yang telah dia booking.


Mereka berempat berangkat ke resto dan kali ini Adam meminta Muti untuk semobil dengannya, sedangkan Elena ditemani oleh sekretaris Adam.


Sultan yang melihat hal itu dari kejauhan merasa kesal, dia menganggap Adam sengaja mencari kesempatan untuk mendekati Mutiara.


Kemudian Sultan pun mengikuti mobil Adam, dia ingin tahu kemana Adam akan membawa pergi mantan istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2