
Sultan maju di depan Mutiara, dia tidak mempersilakan tamunya masuk, tamu yang sama sekali tidak pernah dia harapkan.
"Ada urusan apa kamu kesini!" sapa Sultan dengan ketus.
"Maaf Tuan Sultan, bolehkah Saya menemui istri Anda?"
"Untuk apa kamu mencari istri Saya malam-malam begini hah!" jawab Sultan.
"Maaf Kak! Mas Adam mencari Saya," ucap Muti yang memunculkan kepalanya di belakang Sultan.
"Iya Mbak, ini belanjaan Mbak tertinggal," ucap Adam sembari mengangkat kantongan plastik yang ada di tangannya.
"Oh, terimakasih ya Mas. Maaf, sudah merepotkan Mas Adam."
Muti bingung bagaimana mau mengambil belanjaan dari tangan Adam, sementara Sultan berdiri di tengah pintu, menghalangi jalannya.
Melihat posisi Muti yang terhalang tubuh suaminya, Adam pun segera menyerahkan kantongan belanjaan tersebut kepada Sultan.
Sultan mengambil secara kasar belanjaan dari tangan Adam, lalu memeriksa isinya dan berkata, "Sudah...mau nunggu apa lagi, apa nunggu aku usir!"
"Kak!" ucap Muti.
"Aku permisi ya Mbak, mari Tuan Sultan," ucap Adam.
"Maaf ya Mas, nggak dipersilakan masuk," ucap Muti dengan suara yang sedikit keras.
Adam pun menanggapinya dengan tersenyum dan lalu memberi tanda oke dengan jarinya, menandakan bahwa hal itu tidaklah menjadi masalah baginya.
Ayah dan Ibu menggelengkan kepala melihat sikap anak-anaknya yang kurang menghargai tamu. Sementara Elena kesal melihat sikap Sultan, baginya Sultan sangat menyebalkan dan terlalu egois.
__ADS_1
Saat Muti hendak membawa belanjaan tersebut ke dapur, ibu pun mengikutinya, "Suamimu nampaknya tidak suka dengan temanmu dan ibu rasa dia cemburu Nduk."
"Tidak mungkin Kak Sultan cemburu Bu!" jawab Muti sembari meletakkan barang belanjaannya ke dalam kulkas.
"Kamu harus memahami suami, mungkin hal ini yang membuat rumah tangga kalian kurang harmonis. Wajar, jika Nak Sultan marah, suami tidak akan suka jika melihat istri berdekatan dengan pria lain," ucap Ibu.
"Jika kebalikannya Bu? Apa kita sebagai istri tidak memiliki hak untuk marah?" tanya Muti tanpa berani memandang wajah sang ibu.
"Apa maksudmu Nduk? Jika memang kalian punya masalah, ya diomongkan jangan saling diem, jadi masing-masing pasangan biar tahu menutup kekurangan dan memperbaiki kesalahan."
"Muti hanya mendesah, lalu diapun berkata, "Iya Bu, ayo Bu kita ke depan, barangkali Ayah ingin istirahat."
"Iya. Besok kami pulang pagi-pagi ya Ndok, soalnya Ayah dan Elena harus ke kantor."
"Cepat kali pulangnya Bu, aku masih kangen," ucap Muti.
"Kalianlah menginap di rumah, sejak menikah kalian belum ada pulang. Kakak-kakak mu juga rindu Mut, mereka selalu menanyakan kabarmu."
Ayah yang mendengar obrolan Muti dengan Ibu, lalu menimpali, "Iya Nak Sultan, mainlah ke rumah, jangan kerja terus. Pekerjaan jika di turuti tidak akan ada habisnya."
"Iya Yah," jawab Sultan.
"Yah, jika Ayah lelah dan ingin istirahat, Muti sudah siapkan kamar. Kamu juga El, terserah mau kamar di atas atau di bawah."
"Santai Mbak, aku belum ngantuk kok, lagipula tidak setiap hari kita bisa bertemu seperti ini. Aku masih ingin ngobrol dengan Mbak Muti, itupun jika Tuan Sultan mengizinkan."
"Terserah kalian, aku lelah dan ingin istirahat," ucap Sultan lalu dia pamit dengan Ayah dan Ibu.
"Pergilah istirahat Nak, susul suamimu! Tidak baik membiarkan suami tidur duluan. Ayah dan ibu juga ingin istirahat. Dan kamu El, juga harus istirahat, besok kita banyak pekerjaan. Kalau masalah ngobrol bisa lain waktu."
__ADS_1
"Iya Yah," jawab Elena.
Elena terpaksa pergi ke kamar, karena dia tidak enak membantah omongan Ayah. Kemudian Muti dengan malas, juga melangkah ke kamar menyusul Sultan.
Sesampainya di kamar, Muti melihat Sultan baru saja keluar dari kamar mandi, dia yang memang ingin menghindar dari Sultan segera menyambar handuk, lalu menuju kamar mandi. Tapi tanpa Muti duga, Sultan menarik lengannya dengan kuat dan mendorong tubuh Muti hingga terhempas di tempat tidur.
"Ada apa ini Kak, sakit!" ucap Muti sembari memegang lengannya yang terasa sakit akibat cengkeraman Sultan.
"Kamu, baru aku perlakukan seperti itu saja, merasa sakit! Aku lebih sakit Mut! Kau rampas semua hakku dan kini pria itu semakin bebas mendekatimu. Darimana saja kalian seharian! jawab Mut!" bentak Sultan sembari naik ke tempat tidur dan mencengkeram rahang Muti."
Muti memukul lengan Sultan dan dia berusaha melepaskan cengkeraman tangan pada rahangnya. Setelah lepas, Muti pun berkata, "Kakak tidak pantas melakukan hal ini terhadap ku! Memangnya apa salahku Kak! Apa yang telah aku lakukan hingga Kak Sultan marah seperti ini!" ucap Muti sambil menangis.
"Kamu berpura-pura tidak tahu? dasar wanita brengsek! Masih saja kamu berpura-pura. Aku tidak pernah menyangka, keluguanmu ternyata hanya topeng! Kamu wanita serakah dan kamu ingin mengendalikanku dengan harta yang sudah kamu rampas dariku!" teriak Sultan, lalu dia mencekik Muti hingga Muti kesusahan bernapas.
Muti meronta, tapi cekikan Sultan membuatnya tidak berdaya. Muti akhirnya pasrah dengan apa yang bakal terjadi, hanya air mata yang terus menetes dan tiba-tiba tubuhnya pun lunglai dan pandangannya pun menjadi gelap.
Melihat tubuh Muti lemas, Sultan melepaskan cekikikan di leher Muti, sebenarnya dia tidak mengerahkan seluruh tenaganya, Sultan hanya ingin membuat Muti ketakutan. Namun perbuatannya telah membuat Muti tidak sadarkan diri.
Sultan bingung, dia mengambil minyak kayu putih dari dalam tas Muti dan mengoleskan ke lubang hidung, agar Muti cepat sadarkan diri.
Rasa takut mulai menghantui Sultan saat Muti tidak juga sadar, lalu dia memijat-mijat lengan dan menepuk-nepuk pipi Muti serta menambahkan minyak kayu putih ke hidungnya lagi. Akhirnya Muti pun terbatuk hingga membuat Sultan bernafas lega.
Muti membuka mata dan memegangi lehernya yang sakit, lalu dia mengelap air mata sembari berkata, "Kenapa tidak Kakak bunuh saja aku! mungkin itu akan lebih baik."
Sultan meraup wajahnya dengan kasar, lalu diapun pergi ke kamar mandi untuk mendinginkan hati.
Kemarahan masih menguasai hati Sultan, tapi saat ini dia juga merasa menyesal kenapa sampai lepas kendali. Perbuatannya tadi, bisa saja membunuh Mutiara dan membuat dirinya terjerat hukum.
Untung saja kamar mereka kedap suara, hingga pertengkaran tadi tidak terdengar sampai Keluar. Jika tidak, mungkin saat ini orangtua Muti sudah melaporkannya kepada pihak yang berwajib.
__ADS_1
Muti yang tenaganya mulai pulih, lalu duduk di tepi tempat tidur, menatap dirinya di cermin sambil merenungi nasibnya. Saat ini hatinya ragu, apakah dia akan sanggup bertahan dengan kemarahan Sultan yang mulai lepas kendali.
Sementara di dalam kamar mandi, Sultan membasuh wajah dan sebagian kepalanya, dia tidak ingin keluar sebelum hatinya tenang.