MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 111. MENGHINDARI CLARA


__ADS_3

"Ayo bersiap, kita pulang! Besok, kita harus kemasi barang!" pinta Sultan.


"Berkemas? Memangnya kita mau kemana Kak?" tanya Clara heran.


"Pindah kesini!" jawab Sultan.


"Nggak mau Kak! Untuk perkembangan kehamilan ku, kita lebih baik tetap tinggal di sana. Lagipula semua fasilitas di sana lengkap," tolak Clara.


"Harus mau, jika kamu masih mau jadi istriku! Karena, rumah itu hak Muti dan akan aku kembalikan ke dia, nggak mungkin 'kan pemilik rumah malah ngontrak!" ucap Sultan.


"Muti lagi, Muti lagi, sudah pergi pun masih menyusahkan! Kapan aku bisa hidup tenang, tanpa mengingat namanya lagi!" ucap Clara kesal.


"Kembalikan semua miliknya dan tidak berhubungan apa-apa lagi dengan dia, jika kamu mau tenang. Tapi, dengan bersyukur dan menikmati fasilitas serta kemampuan ekonomi ku yang terbatas," jelas Sultan.


"Huh! Kenapa nasibku selalu sial. Dulu, aku pikir setelah menikah dengan Kak Sultan, aku bisa jadi Cinderella, jadi Putri dan Nyonya yang akan dimanja, mau ini dan itu semua bisa aku wujudkan, tapi nyatanya apa! Aku malah menjadi pembantu di rumah yang bukan milikku. Kapan aku bisa memiliki rumah sendiri Kak!"


"Aku sudah memberimu uang booking, mungkin jika kamu tidak mendesakku, kamu sudah tinggal di rumahmu sendiri. Sekarang aku mau tanya, bagaimana kelanjutan pembelian rumah itu?"


Clara terdiam, dia tidak menyangka jika terjebak dengan omongannya sendiri dan kini dia harus kembali berbohong.


"Tapi, temanku kena tipu Kak, uang booking kita lenyap," ucap Clara pura-pura sedih."


"Ya sudah, berarti salah kamu sendiri, kenapa tidak berhati-hati. Dan mengenai mobil, aku sudah memberimu dua kali, coba kemana sekarang keduanya! Apalagi uang, sudah tidak terhitung jumlahnya. Dan belum lagi barang-barang branded mu itu, yang tidak bisa menghasilkan uang, hanya jadi pajangan saja!" ucap Sultan kesal lalu turun kebawah bersiap hendak pulang.


"Tunggu Kak! kenapa Kak Sultan jadi mengungki-ungkit semua yang sudah kakak berikan? Aku tidak suka itu Kak!" ucap Clara sambil menangis mengejar Sultan.


Tapi Sultan tidak menghiraukannya, kepala Sultan sekarang rasanya mau pecah. Lama kelamaan, Clara sangat menjengkelkan. Lebih baik, dia pulang sendiri daripada harus berdebat terus.


Sultan terus berjalan meninggalkan Clara yang masih berusaha mengejarnya.


Tapi, sesampainya Sultan di mobil, dia sempat menoleh dan melihat Clara malah berdiri saja di dekat sofa.


Hal ini makin membuatnya kesal, lalu tanpa berkata apapun lagi, Sultan langsung naik ke mobil dan meninggalkan Clara di apartemen.

__ADS_1


Clara menghentakkan kaki, dia kesal, menurutnya Sultan sudah tidak bisa diandalkan.


Tapi, Clara saat ini tidak bisa berpaling, karena belum mendapatkan seseorang yang tepat untuk tempat bernaungnya yang baru.


Apalagi dengan kondisi hamil, pasti dia akan kesulitan dalam usaha menggaet milyarder lain.


Clara mendesah, saat ini dia terjebak dengan rencananya sendiri. Jika dia memilih kabur bersama Hardi, akan lebih parah kondisi keuangannya.


Kemudian Clara kembali ke kamar, dia berpikir keras bagaimana caranya untuk keluar dari situasi sulit yang sekarang sedang dia hadapi.


Dan sempat terlintas di pikiran Clara, satu-satunya cara mungkin dengan nekat menggugurkan kandungan.


Namun, Clara masih mempertimbangkan masak-masak baik maupun buruknya keputusan tersebut.


Karena lelah dan kepalanya yang makin pusing, akhirnya Clara tertidur. Sedangkan Sultan yang baru saja tiba di rumah langsung ke kamar membereskan barang-barangnya.


Dia berencana akan menginap saja di kantornya yang baru, jika Clara tidak mengubah sikapnya.


Setelah berkemas, Sultan menaikkan semua barang pribadinya ke dalam mobil, jadi besok pagi dia hanya tinggal berangkat saja.


Adam yang sudah tiba di tempat tinggalnya, masih saja tersenyum sendiri, dia bersyukur kehidupannya terus membaik. Baik di karir maupun dalam percintaan, meski masih harus menunggu 3 bulan lagi untuk mendapatkan kebahagiaannya yang sempurna.


Dengan bersenandung kecil, Adam membersihkan diri, lalu bergegas istirahat, karena dia tidak ingin besok terlambat bangun.


Adam berharap malam ini dia bermimpi indah, seindah hatinya yang sedang berbunga-bunga.


Seperti biasanya, saat matahari sudah menampakkan wajahnya di ufuk timur, masing-masing mereka bergegas melakukan kegiatannya masing-masing.


Muti, Elena dan ayah sudah berangkat ke tujuan masing-masing.


Dan Muti begitu tiba di kantor, langsung menangani pekerjaannya. Tapi Muti dikejutkan oleh telepon masuk dari pengacara Pradipta.


Mutipun menerima panggilan tersebut, lalu pengacara Pradipta menyampaikan, jika surat panggilan pertama kasus gugatan cerai akan segera di kirimkan ke kantor Muti dan juga kantor Sultan.

__ADS_1


Muti tidak mengira akan secepat itu, dia hanya berharap prosesnya di permudah hingga ketuk palu."


Sultan yang malam tadi tidur di ruang pribadi yang ada di kantornya, buru-buru terbangun, lalu dia melaksanakan ibadah untuk mendapatkan petunjuk tentang hidupnya ke depan.


Selama ini Sultan telah lalai, mungkin hidupnya berantakan seperti ini karena karma dari kelalaiannya sendiri.


Sultan baru menyadari, apa yang Muti katakan ternyata semuanya benar, sholat dan membaca ayat suci membuat hatinya menjadi tenang.


Clara malam tadi tidak bisa tidur, dia masih saja menimbang-nimbang keputusan terbaik apa yang harus dia ambil.


Saat ini saja, ponsel Sultan tidak bisa dihubungi, jadi bagaimana Clara bisa berharap, jika Sultan akan memberinya uang untuk bekalnya selama tinggal sendiri di apartemen.


Kemudian Clara memutuskan untuk menelepon Hardi, lalu dia meminta Hardi untuk menjualkan mobilnya.


Namun, Clara tidak menyangka, jika Hardi telah menggadaikan mobilnya senilai tiga perempat dari harga jual.


Clara stres, dia mengamuk, memaki Hardi yang menurutnya terlalu lancang, berani menggadaikan barang miliknya, tanpa izin.


Yang membuat Clara semakin kesal, Hardi telah menutup panggilan secara sepihak.


Clara membanting barang yang ada di kamarnya, mencampakkan bantal, guling ke sembarang arah, hingga hatinya merasa puas.


Setelah itu, Clara pun terduduk lemas di lantai, sambil memegangi perutnya yang lapar dan juga tenggorokannya yang terasa kering.


Clara berteriak sepuasnya, lalu dia bangkit mengambil tas dan bergegas meninggalkan apartemen. Saat ini, dia harus mencari Sultan di kantornya, Clara tidak ingin mati kelaparan jika terus bertahan dengan egonya.


Sementara di kantor, Sultan duduk sambil merenung, memikirkan hidup kedepan, akan bagaimana dan seperti apa, jika Clara tidak juga bisa berubah.


Dan lamunannya buyar saat sang sekretaris datang untuk meminta tandatangannya.


Sekretaris Sultan melapor, jika rekannya yang masih bekerja di perusahaan yang Muti pimpin, mengatakan jika Muti telah berhasil menjalin kerjasama dengan pihak luar negeri.


Sultan tidak menanggapi sepatah katapun, dalam hati dia salut, Muti bisa secepat itu membawa kemajuan bagi perusahaannya.

__ADS_1


__ADS_2