
Adam mengantar Muti pulang dan karena hari telah malam dia tidak lagi ngobrol dengan orangtua Muti.
Setelah menurunkan barang-barang, Adam pun pamit pulang dan rencananya besok sekitar jam 10 pagi dia akan datang bersama seorang kiyai, dua orang teman dan juga dua orang tetangga sebagai perwakilan dari pihak keluarganya.
Adam memang sudah tidak memiliki orangtua lagi, hanya tinggal kerabat jauh yang menetap di luar kota dan kebetulan mereka juga tidak bisa hadir karena acara mendadak.
Ayah membantu Muti membawa barang-barang ke kamar dan beliau bertanya, "Jadi Nduk, kira-kira besok yang hadir berapa orang ya, biar ibumu bisa mempersiapkan jamuan."
"Cuma 6 orang sama Mas Adam kok Yah dan kata Mas Adam, Ayah Ibu tidak perlu repot menyiapkan makanan karena besok pagi pihak catering akan datang membawa hidangan ke sini. Jadi, kita hanya tinggal menyiapkan minuman saja."
"Lho, jadi makanan juga dari Nak Adam Nduk. Ayah jadi malu, Nak Adam perhatian banget sama kita."
"Alhamdulillah ya Yah, Muti bersyukur bisa kenal dan menjadi calon istri Mas Adam."
"Mudah-mudahan kamu bahagia Nduk, sudah cukup kamu menderita akibat ke egoisan Ayah," ucap Pak Danu sedih yang teringat saat dia memaksakan jodoh untuk sang putri.
"Sudahlah Yah, jangan diingat lagi. Muti nggak nyesal kok menikah dengan Kak Sultan. Mudah-mudahan saja kedepannya, Kak Sultan akan berjodoh dengan wanita baik dan hidup bahagia."
"Mulianya hatimu Nduk, masih mau mendoakan orang yang telah menyia-nyiakan mu."
"Kak Sultan sudah menyadari kesalahannya Yah, jadi kita juga harus ikhlas memaafkannya, biar kehidupan kita semua bisa tenang."
"Oh ya Yah, apa Muti boleh mengundang Papa dan Mama Hendrawan besok?"
"Kamu yakin Nduk mau mengundang mereka?"
Muti pun mengangguk, lalu dia berkata, "Mereka sudah Muti anggap sebagai orangtua Muti juga Yah."
"Ya sudah, kalau begitu besok pagi kamu telepon mereka, biar mereka datang dengan Nak Raja sekalian."
"Iya Ayah."
"Ayah mau balik ke kamar dulu Ya, ibumu sangat lelah, jadi mungkin sudah ketiduran lagi."
"Iya Yah."
Setelah Ayah pergi, Muti pun menyambar handuk, dia ingin membersihkan diri sebelum berangkat tidur.
Muti melihat Elena tidur dengan lelap, mungkin diapun lelah karena kondisinya yang belum pulih.
Setelah selesai Muti pun melaksanakan ibadah isya yang sempat tertunda, barulah pergi tidur.
Keesokan pagi, dia bangun lebih awal dan dia melihat Elena juga sudah keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Bagaimana dengan kaki mu El?"
"Alhamdulillah Mbak sudah mendingan dan tidak nyeri lagi saat berjalan."
"Syukurlah, aku mau mandi dulu dan setelah itu kita sholat berjamaah ya."
"Oke Mbak."
Muti berlalu ke kamar mandi sedangkan Elena memakai mukenah dan mempersiapkan sajadah.
Keduanya pun melaksanakan ibadah dengan khusyuk, baru setelah itu Muti dan Elena ke dapur untuk membantu Ibu menyiapkan sarapan.
Ibu yang melihat kedua putrinya datang pun bertanya, "Kalian mau sarapan apa Nduk? Ibu mau buat pancake untuk Ayah."
"Kami mau masak nasi goreng saja Bu," jawab Muti.
"Oh, kalau begitu ya sudah, Ibu mau masak pancake permintaan Ayah dulu. Oh ya Mut, kata Ayah Nak Adam sudah pesan cateringan?"
"Iya Bu, katanya jam 09.30 nanti pihak catering datang mengantar makanan."
"El, Raja jadi datang 'kan?"
"Jadi Mbak, katanya Om dan Tante juga ikut."
"Iya Mbak, biar aku siapkan bumbu nasi gorengnya dulu, nanti Mbak yang masak ya!"
"Oke El, aku telepon Papa Mama dulu ya!"
Muti bergegas mengambil ponselnya, lalu dia mencari kontak Papa Hendrawan. Panggilan pun tersambung dan kebetulan Mama Sultan yang mengangkat.
Setelah sang mama menjawab salam dari Muti, beliau pun mengatakan bahwa nanti akan datang bersama sang Papa dan Raja.
"Maaf ya Ma, Muti telat memberitahu. Habisnya Mas Adam dadakan sih ingin buat acara lamaran, katanya supaya keluarga lebih yakin jika dia sungguh-sungguh. Soalnya besok pagi Mas Adam sudah harus berangkat mengurus bisnisnya dalam waktu yang lama."
"Iya, Elena sudah cerita dengan Raja. Kami mendukung rencana kalian kok Nak, meski sebenarnya Mama sedih kamu tidak panjang jodoh dengan anak Mama. Tapi Mama berterimakasih kamu masih mau menganggap kami sebagai orangtuamu."
Sejenak Mama Sultan terdiam, lalu beliau melanjutkan ucapannya, "Semoga kalian bahagia ya Nak! Oh ya Mut, Sultan juga seminggu lagi akan berangkat melanjutkan kuliah di luar. Mama harap suatu saat dia juga mendapatkan jodoh yang baiknya seperti kamu."
"Aamiin, Inshaallah Ma. Muti juga akan mendoakan kebaikan bagi Kak Sultan. Meskipun kami sudah tidak berjodoh, Muti tetap menganggap Kak Sultan itu sebagai Kakak Muti."
"Terimakasih ya Nak, kamu memang putri yang sangat baik."
"Muti tutup dulu ya Ma, salam buat Papa. Muti mau masak nasi goreng dulu bersama Elena."
__ADS_1
"Iya Nak, mama juga mau memanggil Papa nih untuk sarapan."
Mutipun menutup percakapan dengan salam, lalu dia kembali ke dapur untuk memasak nasi goreng.
Setelah semua matang, mereka pun sarapan bersama, lalu mempersiapkan apa yang perlu untuk menyambut kedatangan Adam beserta tamu lainnya.
Muti dan Elena pun kembali ke kamar, mereka akan berhias. Muti memakai gaun pemberian dari Adam, lalu Elena membantunya untuk mengenakan hijab serta bermake-up sederhana.
Tidak lama menunggu, rombongan Adam pun tiba, lalu di susul oleh beberapa orang tetangga beserta rombongan keluarga Hendrawan.
Sultan yang kebetulan pagi ini pulang ke rumah dan di beritahu oleh Sang Mama jika mereka akan datang ke acara lamaran Mutiara, hanya bisa menarik nafas berat dan mendesah.
Terselip rasa penyesalan di hatinya telah menyia-nyiakan wanita sebaik Mutiara. Sekarang Sultan sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya.
Ayah meminta tetangga untuk membantu mengeluarkan barang-barang yang tadi malam Adam berikan agar para saksi bisa melihat penyerahan secara langsung dari Adam kepada Muti di hadapan mereka.
Setelah acara di buka diserta doa yang di bawakan oleh Pak kiyai, Adam pun diminta oleh moderator untuk segera memasangkan cincin di jari manis Mutiara dan begitu juga sebaliknya.
Muti mencium tangan Adam, kini dia sudah terikat janji dengan Adam, bersedia menjalin ikatan pernikahan dua bulan mendatang.
Kebahagiaan terpancar di wajah keduanya dan semua yang hadir pun ikut bahagia.
Tetes air mata bahagia terlihat di wajah ayah dan ibu, mereka tidak pernah menyangka kebahagiaan akan datang secepat itu di kehidupan Mutiara setelah kepahitan yang dia lalui selama ini.
Keduanya segera sungkeman kepada Ayah dan Ibu serta Papa Mama Hendrawan.
Mama sesenggukan, beliau sedih sekaligus bahagia. Beliau juga menyesal akan kebodohan putranya dulu. Sekarang mereka harus kehilangan seorang menantu yang sangat baik.
Setelah sungkeman selesai,
moderator yang merupakan teman Adam, mewakilinya menyebutkan semua jenis seserahan yang Adam berikan untuk Muti, berikut sejumlah uang yang telah sejak kemaren Adam transfer langsung ke rekening bank milik Mutiara.
Semua yang hadir terkejut, mereka tidak menyangka Adam begitu perhatian dan menghargai Muti meski dia hanya seorang janda.
Adam telah memberikan seserahan begitu banyak dan sangat besar nilainya, bahkan melebihi dari apa yang dulu keluarga Hendrawan berikan.
Muti sendiri tidak menyangka jika Adam akan memberikan uang berikut rumah mewah yang nilainya lebih dari 3 triliun untuknya.
Setelah acara lamaran selesai, moderator pun menentukan tanggal pernikahan mereka, tepatnya pas di hari ulang tahun Mutiara.
Kembali Muti mendapatkan kejutan yang tidak pernah dia duga. Muti menitikkan air mata haru. Hari ini Allah telah mengganti semua kesedihan, kekecewaan yang pernah dia alami dengan kebahagiaan yang begitu besar.
Adam merasa lega, niat baiknya sudah terlaksana hanya tinggal penyempurnaan saja dua bulan kedepan, tepatnya pada awal tahun.
__ADS_1
Acara pun di akhiri dengan pembacaan doa oleh Pak Kiyai, setelah itu mereka dipersilakan untuk menikmati hidangan.