
Mereka sudah boleh menjenguk Papa Hendrawan, tapi tidak boleh berbarengan karena kondisi Papa yang masih lemah.
Dimulai dari Mama, lalu Papa meminta agar Mama memanggil Muti, Papa ingin berbicara hal penting kepada Mutiara.
Saat Mama keluar dari ruangan, Sultan hendak masuk, tapi Mama menarik lengannya dan berkata, "Sebentar Tan, Papa meminta Muti yang masuk, karena ada hal penting yang ingin papamu bicarakan dengan dia."
Sultan terperanjat, kenapa sang Papa malah mengutamakan Muti ketimbang dirinya. Muti juga kaget, saat sang Mama memegang lengannya dan berkata, "Masuklah Mut, jangan buat Papa menunggu. Papa harus segera beristirahat lagi, karena Mama lihat kondisi Papa masih sangat lemah dan nafasnya masih nampak sesak."
"Baik Ma."
Muti pun segera masuk dan dia melihat, seorang pria tua yang biasa gagah kini terbaring lemah dengan peralatan medis yang masih menempel di tubuhnya.
"Pa," sapa Muti.
"Mendekatlah Nak," pinta Papa Hendrawan.
Muti mendekati sang Papa lalu mencium tangannya sembari berkata, "Papa ingin bicara hal penting apa Pa? Muti harap Papa jangan terlalu banyak berpikir, Papa harus banyak istirahat."
"Tidak, Papa harus bicara. Papa minta maaf karena keputusan Papa telah membuat kamu menderita. Seandainya sejak awal Papa cerita tentang Sultan dan Clara, kamu pasti menolak perjodohan ini. Papa egois ya Nak, Papa pikir dengan menikahkan Sultan dengan kamu, dia akan meninggalkan Clara, nyatanya Papa salah."
Papa Hendrawan berhenti berbicara untuk mengatur nafasnya. Muti yang melihat hal itu langsung berkata, "Sudahlah Pa, Papa jangan pikirkan hal itu lagi, Muti ikhlas kok, mungkin memang inilah takdir perjalanan hidup Muti. Yang sudah terjadi tidak mungkin bisa kembali, yang harus Muti lakukan sekarang adalah bagaimana kedepannya rumah tangga kami."
"Papa mohon kamu bersabar ya, jangan pergi dari kami. Biarkan saja jika Sultan akan pergi meninggalkan keluarga ini, Papa tidak peduli. Papa Malu terhadap Ayah kamu Nak!"
Kemudian Papa berkata lagi, "Papa sudah minta pengacara untuk datang kesini, Papa ingin membuat surat pengalihan harta. Semua aset akan Papa buat atas nama Raja dan kamu."
__ADS_1
"Tapi Pa! Kak Sultan yang berhak atas harta Papa, bukan Muti."
"Tolong bantu Papa Nak, Papa percaya dengan kamu. Ini Papa lakukan demi keluarga kita. Papa tahu perangai Clara, dia hanya ingin memanfaatkan Sultan saja. Jika Sultan masih tinggal bersama kamu, dia berhak menikmati harta Papa walaupun atas nama kamu. Tapi, jika dia memilih menceraikan kamu dan pergi dengan wanita serakah itu, dia tidak akan mendapatkan apapun, itu sudah keputusan Papa."
"Pa, jangan lakukan ini, kasihan kak Sultan, dia akan merasa di bawah kendali Muti."
"Biarkan Nak, biar dia sadar. Dia telah melakukan kebodohan menyia-nyiakan kamu demi wanita licik dan serakah seperti Clara. Kamu mau 'kan membantu Papa untuk melawan Clara? Papa mohon Nak, berjuanglah!"
"Baiklah Pa, Muti akan berjuang menyelamatkan rumah tangga Muti dan melawan Clara demi Papa dan Mama, asal Papa juga janji untuk menjaga emosi agar Papa bisa segera pulih. Muti tidak mau melihat Papa sakit seperti ini."
"Terimakasih Nak, Papa akan berusaha untuk tenang. Nanti setelah surat pengalihan selesai di buat oleh pengacara Papa, dia pasti akan menemuimu untuk meminta tanda tangan."
"Iya Pa."
"Satu lagi Nak, mulai hari senin, kamu harus masuk kantor, karena itu adalah milikmu dan kamu harus tahu seluk beluk kantor serta kegiatan di dalamnya. Dampingi Sultan di sana dan cek bagian keuangan agar dia tidak sesuka hati menggunakan uang perusahaan," pinta Papa Hendrawan.
Muti hanya mengangguk, suka atau tidak, dia harus menuruti kemauan Papa mertuanya itu. Saat ini Muti nggak berani membantah demi menjaga kesehatan Papa.
Setelah selesai menyampaikan maksudnya, Papa membolehkan Muti untuk keluar dan meminta tolong agar di panggilkan Suster.
Melihat Muti sudah keluar dari ruangan Papanya, Sultan pun bergegas hendak masuk, tapi seorang perawat melarang sesuai permintaan Papa Hendrawan yang ingin beristirahat.
Sultan kecewa, dia merasa sang Papa memang sengaja menghindarinya. Akhirnya Sultan putuskan untuk pergi menemui Clara sesuai janjinya.
Mama mengejar Sultan dan bertanya, "Tan, tunggu Mama! Kamu mau kemana?"
__ADS_1
"Maaf Ma, Aku pergi sebentar, ada yang harus diurus. Pokoknya Mama jangan khawatir, aku akan kembali kesini saat urusan itu selesai," ucap Sultan.
Muti yang sudah menduga Sultan mau pergi kemana, hanya diam mematung, hingga dia dikejutkan oleh sebuah tangan yang menyentuh lengannya.
"Kak, kenapa tidak mengejarnya," tanya Raja.
"Biarlah Dek, mungkin memang ada urusan penting yang harus di selesaikan. Berikan kakak kamu kesempatan," ucap Muti.
"Apa yang Papa bicarakan Kak?" tanya Raja.
Lalu Muti menceritakan semua yang telah Papa Hendrawan katakan, tapi Raja malah tersenyum menanggapinya, hingga membuat Muti bingung.
"Kenapa kamu malah tersenyum Ja!? Bukannya marah, hak kakakmu di serahkan ke Aku," ucap Muti.
"Yang Papa lakukan benar Kak, daripada habis dengan pelakor itu, mending buat Kakak."
"Benar Mut yang dikatakan oleh Raja, Mama mendukung keputusan Papa," ucap Mama.
Muti akhirnya diam, karena semua ternyata mendukung keputusan Papa Hendrawan.
"Selamat Nak, kamu harus secepatnya masuk kantor," ucap Mama sembari memeluk Muti.
"Terimakasih Ma atas kepercayaan yang Mama dan Papa berikan untukku, insyaallah, aku akan lakukan yang terbaik di perusahaan."
"Semangat ya Mut, maafkan kelakuan Sultan. Dia pasti akan menyesal," ucap Mama.
__ADS_1
Muti pun mengangguk, kemudian pamit sebentar ke toilet, sementara Mama dan Raja memutuskan untuk ke kantin membeli minuman.