
"Pa, Ma, terimakasih atas semuanya. Kami pamit dulu, Inshaallah lain waktu Muti akan kesini lagi untuk jenguk Mama dan Papa," pamit Muti sembari mencium tangan keduanya.
"Kalian hati-hati ya dan Papa doakan bisnis kalian makin sukses," ucap Papa Hendrawan.
"Aamiin, terimakasih Pa," ucap Muti dan Adam.
Kemudian mereka pun pamit kepada Sultan dan Raja yang duduk di teras. Sultan memperhatikan Muti sampai hilang dari pandangan mata.
Raja menepuk bahu sang Kakak dan berkata, "Ayo masuk Kak! Mbak Muti nya juga sudah tidak tampak!" ucap Raja.
"Hemm, iya. Oh ya Ja, apa aku lanjutin kuliah saja ya keluar negeri?"
"Hah! Kenapa Kakak baru kepikiran sekarang?" tanya Raja.
"Kalau aku di sini terus, rasanya tidak akan mudah untuk melupakan Muti Ja! Aku nggak sanggup menyaksikan pernikahan mereka!"
"Jadi, Kakak nggak menyaksikan pernikahan aku dong! Please Kak. Aku tahu posisi dan perasaan Kakak!" ucap Raja.
"Nggak ada yang tahu bagaimana penyesalan ku Ja! Mungkin, kamu sendiri akan mengatakan jika akulah orang paling bodoh di dunia ini."
"Nggak lah Kak, banyak kok yang gagal dalam pernikahan. Awalnya mereka memang sakit, tapi lama-kelamaan seiring berjalannya waktu, semua akan kembali normal dan menemukan jodohnya masing-masing," ucap Raja.
"Tidak akan ada yang sebaik dan sesabar Muti Ja. Dia rela menutup aib terbesarku sebagai suaminya, meski kami sudah bercerai."
"Apa maksud Kakak! Aib apa Kak?"
"Dia masih perawan Ja, hingga sekarang, aku tidak pernah memberinya nafkah batin," ucap Sultan malu.
"Astaghfirullah Kak! Sangat besar dosa Kakak terhadap Mbak Muti. Setahun lebih dia sanggup bertahan, itupun karena Kakak membawa Clara ke rumah dan ketahuan oleh Papa Mama. Jika tidak, mungkin sampai saat ini Mbak Muti masih berstatus istri Kak Sultan," ucap Raja.
Kemudian Raja berkata lagi, "Kakak memanglah pria terbodoh yang pernah aku tahu di muka bumi ini! Aku tidak habis pikir, Mbak Muti bisa sesabar itu dan menyimpan aib Kakak dari siapapun termasuk pihak pengadilan agama, hingga sekarang," ucap Raja sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalau aku jadi Mbak Muti, sudah sejak lama Ku tinggalkan Kakak! Nggak perlu menunggu sampai Kak Sultan membawa wanita lain tinggal satu atap dengannya!" ucap Raja kesal.
"Makanya Ja, malam ini juga aku akan bicara dengan Papa. Aku minta tolong kelolalah perusahaan dan jaga Mama Papa. Sambil kuliah, aku akan cari relasi agar bisa mengembangkan usaha kita di sana," ucap Sultan.
__ADS_1
"Aku terserah Papa Kak, jika Papa tidak mengizinkan bagaimana Kak?" tanya Raja.
"Minimal Kakak lanjut kuliah di kota lain," jawab Sultan.
"Kenapa lah Kakak bisa terjerat dengan wanita ular itu! Jika tidak, hidup kakak saat ini pasti bahagia bersama Mbak Muti dan Kak Sultan nggak musti tinggal jauh dari orangtua. Kasihan Papa Mama Kak, cuma kita yang mereka harapkan. Aku saja diminta pulang, nah sekarang malah Kakak yang akan pergi!" ucap Raja.
"Aku janji Ja akan sering menelepon Papa Mama dan jika rindu, kamu bisa mengantar mereka ke tempatku."
"Please Ja, dukunglah aku dan kumohon, rahasia tadi jangan sampai mereka tahu. Papa pasti lebih kecewa lagi, telah memiliki anak tak bertanggung jawab seperti ku," ucap Sultan sambil mengatupkan tangan kepada Raja.
Saat mereka masih asyik mengobrol di teras, Bibi datang memanggil, "Den, Aden berdua dipanggil Tuan!"
"Oh iya Bi," ucap Sultan.
"Papa di kamar ya Bi?" tanya Raja.
"Tidak Den, Papa sedang di ruang kerja. Sekarang ya Den!"
"Oke Bi!" Jawab Raja.
"Masuk!" pinta Papa Hendrawan saat mendengar pintu ruang kerjanya diketuk.
"Papa memanggil kami?" tanya Raja.
"Iya, duduklah kalian! Papa ingin membicarakan tentang bagian harta Muti yang telah dia kembalikan."
"Oh...jika masalah itu, berikan saja kepada Raja Pa!" ucap Sultan.
"Apa maksudmu Tan?"
"Sebenarnya aku mau ngomong sama Papa, aku ingin kuliah lagi di luar negeri Pa. Jadi, pengelolaan perusahaan dan lain-lain biar Raja saja."
"Kamu akan tinggalkan kami Nak? Adikmu saja kami minta pulang, nah sekarang malah kamu yang akan menjauh, apa kamu tidak kasihan melihat kami?"
Kemudian Sultan menjelaskan jika ingin menata hidupnya lagi, jika tetap tinggal di sini, dia takut akan selalu dihantui rasa bersalah. Jadi, dia ingin menenangkan diri dengan berbuat yang bermanfaat untuk masa depannya.
__ADS_1
Raja pun membantu memberi penjelasan kepada Sang Papa, jika yang terbaik bagi Sultan saat ini adalah pergi dari tempat ini untuk sementara waktu, selain menenangkan diri juga menghindar dari Clara.
Ditambah berbagai alasan lain yang akhirnya membuat Papa Mama menyetujui keinginan Sultan.
"Rencana mau kuliah di mana kamu Tan?"
"Inggris, boleh 'kan Pa?"
"Baiklah! tapi kamu harus janji sering hubungi kami, kasihan Mama kamu, satu putranya pulang, eh...satu lagi malah pergi."
"Iya Pa."
"Kapan rencananya kamu akan berangkat?" tanya Papa.
"Minggu depan Pa, selesaikan urusan di sini dulu," jawab Sultan.
"Baiklah, sekarang bicaralah dengan Mama. Papa mau bicara dulu dengan Raja."
"Iya Pa, aku temui Mama dulu," ucap Sultan.
Sultan pun menemui sang Mama di kamarnya, lalu Sultan membicarakan apa yang telah dia sepakati dengan sang Papa. Mama yang mendengar hal itupun menangis, tapi akhirnya beliau memberi izin. Daripada putranya nanti terjerat lagi dengan Clara, lebih baik jika menata hidupnya lagi dengan kuliah di luar negeri.
Mama hanya berpesan agar Sultan jangan tergoda lagi. Jangan membuat kesalahan yang sama, memiliki hubungan dengan wanita-wanita seperti Clara.
Sultan merasa tenang telah mendapatkan izin dari kedua orangtuanya. Lalu, Sultan pun pamit, malam ini dia akan menemui sahabatnya yang memiliki rencana kuliah di tempat yang sama.
Setelah mendapatkan izin dari Mama, Sultan pun mengirim pesan ke Raja, dia berterima kasih karena Raja telah membantunya.
Sultan bergegas menuju club dimana teman-temannya menunggu, tapi kali ini dia berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan mabuk seperti biasanya.
Raja dan Papa juga sudah selesai membicarakan tentang kepemimpinan perusahaan selanjutnya. Dan Papa meminta Raja untuk mengajak Elena agar bisa membantunya di perusahaan.
Papa ingin Raja di dampingi oleh orang terdekat yang sudah memiliki pengalaman bekerja. Karena papa tahu, Raja pasti bingung di awal, dengan apa yang harus dia lakukan saat pertama kali memimpin perusahaan.
Setelah itu Raja pamit, dia ingin menelepon Elena, menanyakan kabar dan membuat janji untuk bertemu.
__ADS_1
Raja rindu ingin bersua dengan sang kekasih yang sudah beberapa bulan hanya bertatap wajah lewat panggilan video saja.