MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 91. MENGUSIR CLARA


__ADS_3

"Jangan lupa pesan ayah ya Mbak!" ucap Elena sengaja mengingatkan Muti agar Sultan tahu.


"Oke El, insyaallah aku usahakan datang."


"Saya permisi ya Tuan," ucap Elena.


Sultan hanya mengangguk, lalu dia menuju kamar untuk mandi, sedangkan Muti mengantar Elena keluar sampai mobil Elena hilang dari pandangan mata.


Kemudian Muti bergegas ke dapur, dia ingin menyiapkan makan malam untuk Sultan. Muti tidak ingin mengganggu Bi Tina yang sudah sejak tadi pergi ke kamarnya untuk beristirahat.


Namun, rupanya Bi Tina sudah berada di dapur saat Muti tiba di sana.


"Bi, kenapa tidak istirahat saja, biar aku yang menyiapkan makan malam buat Kak Sultan."


"Nggak apa-apa Nyonya, ini kan memang masih tugas Bibi. Nyonya juga butuh istirahat, jadi biar Bibi saja yang menyiapkannya."


"Ya sudah, kalau begitu aku panggil Kak Sultan saja ya Bi agar segera turun untuk makan malam."


Muti naik ke lantai atas dan sesampainya di depan kamar, dia mengetuk pintu, untuk memastikan jika Sultan mengizinkan dirinya masuk. Walaupun itu kamar mereka, namun Muti tidak mau terjebak dengan situasi yang sama saat Sultan sedang memakai pakaian sehabis mandi.


Ketukan pertama tidak ada jawaban, lalu ketika Muti hendak mengetuk lagi, dia mendengar suara wanita sedang berbicara. Muti yakin jika itu suara Clara yang masuk ke dalam kamarnya.


Muti mengetuk pintu dengan keras berulang-ulang hingga Clara membukanya. Ternyata Clara sedang menyiapkan pakaian untuk Sultan. Dan Sultan masih mengenakan pakaian mandinya sambil mengeringkan rambut.


Melihat Clara sudah berani masuk ke area pribadinya, Muti tidak bisa tinggal diam, lalu dia berkata, "Keluar! Siapa yang mengizinkanmu masuk ke dalam kamarku!" teriak Muti menarik tangan Clara.

__ADS_1


"Kenapa aku harus minta izin, Aku hanya menyiapkan pakaian suamiku, jadi kamu tidak bisa melarang!" teriak Clara yang tidak kalah kerasnya dari nada suara Muti.


"Siapa bilang aku tidak bisa melarangmu!" teriak Muti lebih keras.


"Ini rumah suamiku, jadi aku juga memiliki hak yang sama sepertimu, kamu tidak bisa memperlakukan aku seperti ini!" ucap Clara sembari berontak ingin melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Muti.


"Ini area pribadiku, jadi aku tidak mengizinkanmu masuk ke sini tanpa izinku! Aku punya hak penuh atas rumah ini dan kapanpun aku mau, aku bisa mengusirmu dari sini!" ucap Muti sambil kembali mencengkeram lengan Clara dan menariknya keluar dari kamarnya.


Sultan bingung harus membela yang mana, omongan Muti benar, tapi Muti juga tidak boleh memperlakukan Clara secara kasar karena Clara bisa saja cidera.


Clara yang berhasil di tarik keluar oleh Muti sangat marah, lalu dia berteriak, "Kak Sultan! Aku tidak terima Muti memperlakukan ku seperti ini! Aku ini calon ibu anakmu, mana pembelaanmu Kak? Bagaimana jika aku terjatuh dan membahayakan anak kita!"


"Muti hentikan, sudah cukup! Clara hanya ingin meringankan tugasmu, dia juga istriku, jadi berhak untuk melayani kebutuhan ku!" ucap Sultan sambil melerai keduanya.


"Tapi dia harus tahu batas! Jika ingin tetap tinggal di sini, dia harus menjaga sikap. Ini kamarku Kak dan aku tidak akan pernah membiarkan dia merebut semua hak ku! Jika kakak mau dia yang melayani kebutuhan Kakak, silahkan di kamar lain!" ucap Muti lalu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan keras.


Kemudian Sultan menasehati Clara, agar tidak sembarang, Clara tidak boleh lagi naik ke atas, jadi cukup Clara menunggunya di bawah saja.


Clara tidak terima dengan nasehat Sultan, lalu dia berkata, "Kenapa kak Sultan tidak adil, aku sudah terima tidur di kamar yang kecil dan pengap, nah kini hanya melayani kebutuhan Kakak saja harus pamit kepada si marmut itu!"


"Kak Sultan jadi suami itu harus tegas! ini rumah milik kakak, kenapa Kak Sultan tunduk terhadap aturan yang dibuat oleh Mutiara. Harusnya aku yang dapat prioritas utama di sini, karena akulah calon ibu dari anak kakak bukan Muti yang mandul itu!"


"Diam Clara! Sekarang juga pergilah ke kamarmu! Jangan menambah pusing! Aku lelah, aku butuh istirahat, bukan malah menyaksikan pertengkaran kalian!"


"Tapi Kak!"

__ADS_1


Sultan emosi melihat Clara nyerocos terus tanpa jeda, dia menarik lengan Clara, membawanya turun dan memintanya untuk masuk ke kamar dan melarangnya keluar.


Setelah itu, Sultan kembali ke atas untuk menemui Mutiara. Muti yang sedang meluapkan kemarahannya dengan menangis, buru-buru mengelap air matanya saat mendengar pintu kamarnya di buka oleh seseorang.


Muti pura-pura mengotak-atik ponselnya dan dia tidak mengindahkan kedatangan Sultan.


Sultan mendekat, lalu dia berkata, "Seharusnya kamu jangan bersikap kasar seperti itu terhadap Clara! Bagaimana jika saat kau tarik tadi dia jatuh, pasti akan berdampak buruk terhadap kandungannya."


"Kamu masih bisa ngomong baik-baik, tidak usah pakai emosi. Toh Clara juga istriku, biarkan dia melakukan tugas sepertimu!"


"Hahaha...seenaknya Kak Sultan ngomong, pernah Kak Sultan memikirkan perasaan ku? Aku masih bersabar saat ini menghadapi kalian, karena aku ingin kak Sultan membuka mata. Clara itu bukan wanita baik-baik, sadarlah Kak! Kak Sultan berani menentang orangtua, hanya demi wanita yang tidak pantas Kakak cintai!"


"Kamu jangan sembarangan ngomong! jangan kamu pikir dirimu sudah baik dan lebih baik dari Clara. Asal kau tahu Mut, kami saling mencintai dan sekarang aku akan punya anak dari dia, jadi ku mohon, perlakukan dia dengan baik."


Muti terduduk, hatinya sakit mendengar perkataan Sultan, walaupun dia sudah berniat untuk meninggalkan Sultan nantinya, tapi saat ini harga dirinya benar-benar terluka. Begitu tidak berarti keberadaan dan statusnya sebagai istri sah di mata Sultan dan di dalam rumahnya sendiri.


Sultan yang masih emosi dan pusing lalu berkata lagi, "Seharusnya kamu jangan serakah, aku sudah ikhlas kamu ambil hakku, kau yang kendalikan semua harta Papa, padahal sebagian juga ada karena jerih payahku. Nah apa salahnya jika kamu sedikit berbagi tempat kepada Clara sampai dia benar sehat dan aku bisa membelikan dia rumah."


"Oh, terimakasih karena Kakak sudah mengatakan aku serakah, tapi ingat Kak! kebusukan tidak akan pernah bertahan lama. Kakak akan tahu siapa yang serakah sebenarnya, Aku atau perempuan ular itu!" ucap Muti sambil menunjuk arah pintu.


Sultan sudah mengepalkan tangan, dia marah atas ucapan Muti, lalu dia mengangkat tangan hendak menampar muti, tapi Muti yang melihat hal itu malah memajukan wajahnya dan berkata, "Silahkan Kak, jika Kak Sultan ingin menamparku! jadi, nantinya aku punya alasan untuk segera melayangkan gugatan cerai!"


Mendengar Muti mengatakan kata cerai, Sultan menghempaskan tangan, memukul udara. Lalu, dia berjalan keluar meninggalkan Muti untuk meredakan emosi.


Bersambung.....

__ADS_1


Selamat sore sahabat, sambil menunggu aku Up lagi besok, mampir yuk ke karya sahabatku dan jangan lupa dukung karya kami ya. Terimakasih πŸ™πŸ˜˜



__ADS_2