MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 134. KARMA


__ADS_3

Clara memang tidak menjaga kehamilannya, dia berharap bayi itu gugur. Berbagai makanan dan obat sudah dia konsumsi, tapi belum juga berhasil membuat dirinya keguguran.


"Aduh...kenapa perutku semakin sakit. Dimana sih pelayan itu membeli obat? padahal di sebelah juga ada apotik!" monolog Clara kesal.


Dia menekan perut, berharap sakitnya akan segera hilang. Keringat dingin mulai membasahi keningnya dan wajah Clara juga sangat pucat.


Saat pelayan tiba mengantar obat dan segelas air, Clara langsung mengomelinya.


Pelayan tersebut malas menanggapi lalu diapun pergi meninggalkan Clara yang masih mengerang kesakitan.


Hendak ke rumah sakit, dia masih tidak rela menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu Sultan, lagi pula keuangannya sedang menipis.


Clara menggigit bibirnya hingga berdarah, sakitnya sangat luar biasa, hingga akhirnya diapun pingsan di sana, tepat saat Sultan sampai.


Melihat orang berkerumun di meja tempat Clara menunggu, Sultan merasa penasaran. Kemudian dia berusaha masuk ke dalam kerumunan dan Sultan pun terkejut melihat Clara tergeletak.


Orang-orang tidak berani menyentuhnya dan Sultan pun yang masih memiliki naluri kemanusiaan segera membopong Clara, hendak membawanya ke rumah sakit.


"Permisi semuanya, maaf...dia Clara, teman Saya. Saya akan membawanya ke rumah sakit."


"Oh syukurlah Pak," jawab orang-orang yang berkerumun.


Pemilik cafe dan seorang pelayan pun datang menghampiri mereka, "Oh, ternyata Mbak Clara yang pingsan Mas. Kami sedang sibuk menyiapkan pesanan, jadi kurang memperhatikan depan," ucap pemilik cafe."


"Nggak apa-apa Pak, kami memang janji untuk bertemu di sini dan ketika Saya sampai, Clara sudah seperti ini."


"Tadi dia memang meminta Saya untuk membelikan obat sakit perut Mas, dan Saya lihat Mbak Clara terlihat sangat kesakitan. Tapi sepertinya Mbak Clara sedang hamil Mas, kenapa minum obat sembarangan."


"Entahlah Mas, kami sudah lama tidak bertemu, jadi Saya tidak bisa tahu dan tidak mencampuri urusan Clara."


"Iya benar, sudah lama kami tidak melihat Mas datang untuk makan di sini, biasanya dulu minimal dua hari sekali Mas dan Mbak selalu kesini.


"Iya Pak, hubungan kami sudah putus lama. Ini karena dia minta ketemuan, katanya ada hal penting yang ingin Clara bicarakan dengan Saya."


"Saya bawa dulu Clara ke rumah sakit ya Pak, mengenai apa yang sudah Clara pesan, nanti Saya yang akan membayar," ucap Sultan.


"Tidak usah Mas, hanya segelas jus saja kok. Ya sudah, hati-hati ya Mas."

__ADS_1


Sultan pun bergegas meninggalkan rumah sakit. Meski mereka tidak memiliki hubungan apa-apa lagi, setidaknya Sultan tidak mungkin membiarkan Clara dalam bahaya dengan kondisi mengandung.


Sesampainya di rumah sakit, Sultan meminta brankar kepada security, lalu mereka membawa Clara ke UGD.


Dokter segera memeriksa Clara dan beliau geleng kepala dan berkata kepada Sultan, "Anak Bapak sepertinya sudah meninggal di dalam kandungan."


"Maaf Dok, itu bukan bayi Saya, ibunya hanya teman, tadi pingsan di cafe jadi saya bawa ke sini."


"Oh, maaf kalau begitu ya Pak. Jadi siapa yang akan bertanggungjawab terhadap biaya perawatan. Karena kita harus segera melakukan operasi jika bayi itu tidak juga bisa keluar dengan sendirinya."


"Ya sudah lakukan saja Dok, biar Saya urus administrasinya ke kasir. Tapi dok, saya harap pihak rumah sakit bisa menghubungi keluarganya karena saya tidak ingin di salahkan jika sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap Clara."


"Anda mengenal dan punya nomor kontak keluarganya Pak?" tanya dokter.


Sebentar Saya geledah dulu tasnya Dok, barangkali di ponselnya ada nomor kontak yang kita butuhkan.


Sultan pun mengambil ponsel Clara dan segera memeriksa nomor kontak di sana.


Setelah menemukannya, Sultan memberikan nomor kontak tersebut kepada dokter, agar pihak rumah sakit saja yang menghubungi orangtua Clara.


Operasi pun berlangsung, Sultan menunggu di luar ruangan dengan sedikit cemas. Lalu dia teringat untuk mencari kontak Hardi.


Sultan lupa menghubungi Hardi yang merupakan ayah dari bayi tersebut.


Saat Sultan memberitahu via telepon, Hardi hanya cuek dan berkata, "Syukurlah jika bayi itu meninggal jadi aku tidak ada hubungan apapun lagi dengan Clara."


"Ba****an kamu Hardi! dasar laki-laki tidak bertanggung jawab, tega kamu dengan anak kamu sendiri!"


Saat Sultan terus mengutuk dan mengumpat, tiba-tiba Hardi memutuskan sambungan telepon.


Sultan emosi mendengar perkataan Hardi dan dia bersumpah serapah jika Hardi pasti akan kena karma atas apa yang saat ini dia perbuat terhadap Clara dan bayinya.


Lampu ruang operasi pun telah padam, pertanda operasi telah selesai.


Sultan menunggu dokter keluar ruang operasi dengan perasaan cemas. Walau bagaimanapun jahatnya Clara, tapi dulu dia pernah menjadi wanita yang Sultan cintai.


Dokter akhirnya keluar dan menghampiri Sultan, "Untung kita bertindak cepat Pak, kalau tidak, ibunya mungkin tidak akan selamat."

__ADS_1


"Ada penyakit kanker ganas dalam rahimnya yang sudah menjalar hingga membuat bayi tersebut meninggal. Selama ini tidak terdeteksi karena tertutup janin. Kami terpaksa mengangkat rahim Ibu Clara," ucap dokter.


Sultan diam dan meraup wajah, dia tidak menyangka begini takdir hidup Clara.


"Jadi Dok, apa tidak akan tumbuh lagi setelah angkat rahim?"


"Kami tidak bisa menjamin Pak, kuasa Allah lah, kita hanya bisa berusaha sebaik mungkin agar kanker tersebut tidak menjalar dan menggerogoti organ lain dalam tubuh Bu Clara."


"Setidaknya untuk saat ini kondisi Ibu Clara aman. Apakah orangtuanya belum tiba Pak? Biar saya jelaskan ke mereka."


"Belum Dok, rumah mereka cukup jauh dari sini."


"Oh, gitu ya Pak. Kalau begitu saya permisi dulu, jika mereka datang, tolong suruh langsung ke ruangan Saya."


"Baik Dokter."


"Oh ya hampir lupa, proses pemakaman bayi bagaimana Pak?"


"Kita tunggu saja sampai orang tua Clara tiba Dok. Jika tidak ada keputusan, saya mohon pihak rumah sakit saja yang kebumikan, masalah biaya dan kebutuhan lain untuk urusan pemakaman biar saya yang tanggung."


"Baiklah jika begitu Pak, kita tunggu saja kehadiran orang tua Bu Clara."


"Kapan Saya bisa menjenguk Clara Dok?"


"Nanti setelah Bu Clara sadar dan kondisinya stabil baru kami pindahkan ke ruangan dan Bapak bisa menjenguknya."


"Terimakasih kalau begitu Dok!"


"Sama-sama Pak."


Setelah dokter pergi, Sultan duduk sambil merenung, dia tidak menyangka jika nasib Clara akan berakhir seperti ini.


Clara menuai hasil dari perbuatannya.


Sultan terus beristighfar, dia juga banyak dosa, terutama dosa Zina dan menyia-nyiakan Mutiara.


Dengan memohon ampun dan terus memperbaiki diri, Sultan berharap, Allah akan mengampuni semua dosa yang pernah dia lakukan.

__ADS_1


__ADS_2