MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 137. RENCANA MEMPERCEPAT PENYELESAIAN PEKERJAAN


__ADS_3

Adam dan Muti sudah sampai di bandara dan sebelum check-in mereka nongkrong di cafe yang ada di sana. Masih ada waktu 1 jam lagi menjelang keberangkatan.


Mereka memanfaatkan waktu tersebut untuk ngobrol, sambil bertukar pesan.


"Pokoknya, pulang dari kantor harus tunggu sopir yang jemput ya Yang. Aku tidak mau terjadi hal buruk, yang akan kusesali karena pergi jauh dari kamu."


"Mas jangan terlalu mengkhawatirkan aku. Mas juga harus jaga diri dan utamakan kesehatan, jangan terlalu ngoyo kerja."


"Aku harus ngoyo demi kamu, biar bisa cepat pulang. Aku pasti akan sangat merindukan mu Yang! Doakan, agar semua urusan ku cepat selesai, kalau bisa pekerjaan dua bulan ku selesaikan dalam satu bulan," ucap Adam sambil menatap Muti.


"Boleh, tapi jangan lupa makan dan istirahat. Aku nggak mau calon imamku sakit di hari terpenting dalam hidup kita."


"Siap Sayang."


Mereka pun asyik ngobrol hingga terdengar panggilan untuk para penumpang tujuan Australia agar segera chek-in, karena 30 menit lagi pesawat akan tinggal landas.


"Sudah dapat panggilan itu Yang. Selamat jalan, jika sudah sampai cepat beri kabar ya Yang."


Adam melambaikan tangan, dia menempelkan telapak tangannya di mulut, memperagakan sebuah ciuman. Muti membalas lambaian tangan Adam sambil tersenyum. Kekasih hatinya telah pergi untuk waktu yang lumayan lama.


Setelah Adam tidak tampak lagi, Muti segera bergegas menuju mobil di mana Pak sopir sedari tadi menunggu.


Pesawat yang ditumpangi Adam pun sudah lepas landas meninggalkan negara dan kekasih tercinta.


Untuk mengurangi rasa bosan di dalam pesawat, Adam memandangi foto mereka berdua, yang sengaja dia cetak dari galeri ponselnya.


Sambil senyum-senyum sendiri, Adam mengenang pertama kali mereka bertemu di Bali, saat Muti sedang berbulan madu dengan Sultan.


Seorang lelaki tua yang duduk di sebelah Adam memperhatikan sedari tadi, lalu dia bertanya, "Kekasih kamu ya Nak? Cantik dan pastinya gadis yang baik."


"Iya Kek, dia sangat baik, hingga membuat saya tergila-gila dan akan menjadi gila bila tidak bisa menjadikannya sebagai pendamping Saya."


"Kalian pasangan serasi, kamu tampan dan cocok untuknya."


"Terimakasih atas pujiannya Kek! Kakek mau ke mana?" tanya Adam.


"Mengunjungi mantan kekasih."


"Wah, kembali ke masa muda ya Kek. Memangnya di mana mantan kekasih Kakek?"


Sedangkan Muti, memutar musik kesukaan Adam, dia juga terkenang saat Adam mengutarakan cintanya.


"Sudah di panggil, Allah lebih sayang sama dia, makanya dia dia diambil lebih cepat dari aku," ucap si Kakek sedih.


"Oh, sudah meninggal ya Kek? Maaf, jika aku telah membuat Kakek sedih."


"Dia juga cantik seperti wanitamu dan dia pendamping terbaikku semasa hidup. Aku rindu dia, rindu omelan yang membuat aku sampai di puncak kejayaan. Dia pahlawan dalam rumah ku."


"Wah, wanita hebat ya Kek! Pasti juga melahirkan anak-anak yang hebat pula."


Si kakek terdiam, lalu dia berkata lagi, "Kami hanya punya satu dan saat ini dia sibuk dengan bisnisnya."

__ADS_1


"Jadi Kakek tinggal dengan anak?"


Si kakek pun menggeleng, "Tidak! Saya tinggal dengan si bacul, kucing penakutku."


"Oh, pastinya kesepian ya Kek. Menjalani hari tua sendirian."


"Iya, sangat sepi. Uang banyak pun tidak berarti."


"Sudah berapa lama istri kakek meninggal?"


"Tiga puluh tahun."


"Berarti, kakek menduda di usia masih muda. Kenapa tidak menikah lagi Kek?"


"Memangnya, kalau kamu di posisi Saya, bisakah kamu mencari pengganti wanitamu?"


"Tidak Kek."


"Itulah jawabannya, aku juga tidak bisa menggantikan dia disini dengan wanita manapun," ucap sang Kakek sembari menunjuk dadanya.


"Makanya, sayangi dia. Jangan kamu sia-siakan, hingga akan membuat dirimu


menyesal seumur hidup. Itu yang terjadi padaku saat ini."


"Maksud Kakek?"


"Aku dulu terlalu gila kerja, gila mengejar harta dan sering mengabaikan dia. Ternyata, semua itu sia-sia. Uang tidak bisa menggantikan kasih sayang yang pernah dia berikan. Aku baru menyadari hal itu, setelah dia pergi meninggalkan aku untuk selama-lamanya," ucap sang Kakek yang menitikkan air mata.


Adam secepatnya akan kembali dan setelah mereka menikah nanti, Adam akan membawa Muti kemanapun dia pergi, meski itu untuk urusan bisnis.


Baru saja di tinggalkan, Adam sudah merasa rindu dan hal itu juga dirasakan oleh Muti saat ini.


Sepanjang perjalanan pulang, hanya Adam saja yang memenuhi alam pikirannya. Hampa dan seperti ada yang hilang dari hidupnya.


Muti sudah tiba di rumah, dia menghampiri Elena yang sedang duduk di teras menanti kepulangan Muti sambil memainkan ponselnya.


"Sudah berangkat pesawat yang Mas Adam tumpangi Mbak?"


"Sudah El, sekitar 6 jam lagi mungkin sampai, jika tepat waktu."


"Oh ya Mbak, kapan kita tinggal di rumah Mbak Muti?"


"Lusa El, besok kita berbenah dulu. Ayah dan ibu kemana El, kok rumah sepi?"


"Tadi Ibu meminta ayah untuk mengantar beliau belanja, katanya besok akan ada tamu. Calon besan akan datang."


"Siapa?"


"Orangtua dari pacar Mas Fadhil."


"Alhamdulillah, akhirnya Kakakku menemukan jodohnya. Masa kalah dengan Mas Fadhlan."

__ADS_1


"Iya Mbak. Semua sudah menemukan jodohnya, hanya tinggal meresmikan saja. Dan tugas kedepannya adalah memberikan cucu untuk ayah dan ibu."


"Kamu benar El, itu juga menjadi tanggungjawab mu," ucap Muti.


"Iya Mbak."


"Ayo kita masuk, sebentar lagi Maghrib. Memangnya Ibu dan ayah belanja di mana ya El, kok belum pulang."


"Kata ibu di swalayan saja Mbak."


"Oh, paling sebentar lagi pulang."


Benar yang Muti katakan, Ibu dan Ayah sudah masuk ke pekarangan rumah. Mereka pergi dengan mengendarai motor.


"Banyak belanjaannya Bu?" tanya Muti sambil membantu ibu mengangkat belanjaan dari atas motor bersama Elena.


"Iya Nduk, besok kita akan kedatangan tamu."


"Iya Bu, tadi Elena cerita."


"Besok kamu dan Elena pergi ke kantor Nduk?"


"Iya Bu. Tugas baru sudah menanti. Muti tidak mau mengecewakan Mas Adam. Perusahaan itu amanah dari Mas Adam yang harus Muti pimpin sebaik mungkin."


"Kamu benar Nduk. Kamu El, apa besok langsung ke kantor Raja?"


"Iya Bu, El sudah harus membantu Raja. Karena ini pertama kali bagi Raja terjun ke perusahaan, jadi dia masih harus banyak belajar."


"Iya kamu benar El, Raja akan tenang jika kamu ada di sana. Setidaknya dia memiliki orang terdekat yang bisa dia andalkan."


"Mbak, jika kami ada kendala, bolehkan kami telepon dan tanya ke Mbak Muti?"


"Tentu saja El, aku juga punya tanggungjawab atas perusahaan itu, meskipun sudah tidak jadi pemimpin di sana."


"Terimakasih Mbak."


"Kalau kalian berdua ngantor, besok ibu akan minta bantuan para tetangga saja. Mudah-mudahan mereka bersedia dan tidak ada urusan lain."


"Iya Bu. Ibu pasti capek, jika harus mengerjakan semuanya sendirian."


"Kan ada Ayah! Meski sudah tua begini, tapi Ayah masih jago memasak lho! ucap Ayah sambil menaik turunkan alisnya.


"Jago sih, ibu akui itu. Tapi, jago masak mie kuah."


Semua tertawa, lalu ayah berkata, "Jangan buka kartu dong Bu!"


"Ayo, sekarang bantu Ibu Yah! kita kupas bawang, jadi besok tugas kita biar lebih ringan."


"Kami mandi dulu ya Bu, setelah melaksanakan ibadah, baru kami bantu ibu."


"Pergilah Nduk! Ibu dan ayah juga mau melaksanakan ibadah maghrib dulu."

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2