
Sultan tidak bisa berkata apapun, peringatan Papanya cukup keras, jika dia menentang posisi Mutiara di perusahaan bakal lebih tinggi darinya.
"Dengar kamu Sultan! sekarang pergilah temui Muti dan jelaskan semuanya atau kamu memang sudah siap, papa tendang dari rumah dan perusahaan!" ancam Papa Hendrawan.
"Iya Pa, maafkan aku. Aku ke kamar dulu ya Pa, Ma," pamit Sultan.
Papa mendesah dan memegangi dadanya, dia tidak tahu salahnya dimana dalam mendidik anak. Anak tertua yang beliau harapkan bisa menjadi kebanggaan keluarga ternyata nihil.
Sambil menahan sakit di dada kirinya, Papa Hendrawan terhuyung saat berusaha bangkit dan Mama yang melihat hal itu sangat khawatir.
"Pa! Papa kenapa? duduk dulu Pa," ucap Mama sambil memegangi tangan Papa Hendrawan yang terlihat gemetar.
"Raja, siapkan mobil! kita bawa Papa ke rumah sakit! Ayo cepat Ja!" seru Mama.
"Baiklah Ma!" ucap Raja bergegas mengambil kunci mobil dan jaketnya.
"Tidak usah Ma! Papa hanya butuh istirahat saja, tidak perlu ke rumah sakit," ucap Papa Hendrawan.
"Ayolah Pa, Mama tidak mau hal buruk terjadi terhadap Papa," ucap Mama lagi sambil memapah Papa menuju mobil yang telah di hidupkan oleh Raja.
Mama meminta Papa menunggu sebentar karena ingin mengambil tas dan mengenai Sultan akan di beritahu nanti saja melalui telepon, saat di perjalanan. Karena Mama ingin, Sultan menyelesaikan masalahnya dulu kepada Mutiara.
Mama, Papa dan juga Raja sudah dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, sedangkan Sultan masih duduk di pinggiran tempat tidur dengan memandangi punggung Mutiara yang sedang tidur membelakangi dirinya.
__ADS_1
Sultan mendengar suara mobil pergi meninggalkan rumahnya, tapi dia pikir mungkin Raja yang ingin keluar membeli sesuatu.
Mutiara sebenarnya belum tidur, dia hanya berpura-pura tidur karena tidak ingin berdebat dengan Sultan yang berujung dia juga yang harus mengalah.
Sultan beranjak ke kamar mandi dengan membawa handuk serta baju tidurnya. Dia ingin membersihkan diri sebelum tidur dan akan membicarakan masalah Clara dengan Mutiara besok pagi saja.
Saat Sultan sudah masuk ke dalam kamar mandi, Muti pun membuka mata dan dia melihat ponsel Sultan bercahaya tapi tidak berdering.
Ternyata Sultan telah menonaktifkan nada dering di ponselnya.
Muti melihat nama Clara ada di sana sedang melakukan panggilan terhadap Sultan. Kali ini Muti mengambil ponsel Sultan, lalu menerima panggilan tersebut.
"Ya Hallo, ada apa kamu menelepon suamiku!" sapa Muti masih dengan suara yang lembut.
"Kak Sultan adalah suamiku, jadi silahkan katakan saja apa maksudnya kamu menelepon dia saat ini. Apa masih kurang puas pertemuan kalian tadi, hingga waktu untuk kami tidurpun musti kamu ganggu," ucap Mutiara.
"Kamu tidak perlu banyak bicara! Berikan saja ponselnya, ada hal penting yang harus aku katakan kepada Kak Sultan!" ucap Clara.
"Maaf, jika kamu tidak mau mengatakannya sekarang, terpaksa ponsel ini aku matikan, karena hanya mengganggu jam istirahat kami saja," ucap Mutiara.
"Tunggu! Baiklah, jika kamu memaksa. Sebentar lagi Kak Sultan akan menjadi milikku seutuhnya. Sekarang, aku sedang mengandung buah cinta kami," ucap Clara yang sempat membuat Muti syok.
Muti tidak menyangka situasi akan semakin rumit, dia menghela nafas sambil terus mendengarkan ocehah Clara.
__ADS_1
Clara yang tidak mendapatkan tanggapan dari Muti, dia merasa sangat kesal, hingga mengakhiri panggilannya. Malam ini sebisa mungkin, Clara harus mengacaukan malamnya Sultan. Dia tahu, jika orang tuanya Sultan menginap pastilah Muti akan tidur sekamar dengan Sultan.
Clara tidak mau keputusan Sultan yang telah memutuskan hubungan mereka, akan menguntungkan buat Mutiara, jadi saat ini hanya alasan hamil yang Clara rasa bisa mengacaukan semuanya. Setelah malam ini, barulah Clara akan pikirkan langkah selanjutnya.
Muti meletakkan kembali ponsel Sultan pada tempat semula, lalu Muti kembali bergelung dalam selimut untuk berpura-pura tidur.
Sultan sudah selesai melakukan ritual mandinya, saat Muti baru saja menarik selimut. Pergerakan Muti sempat terlihat oleh Sultan, lalu Sultan pun mendekati Muti dan berkata, "Tolong, bangunlah! Aku tahu kamu terjaga, aku ingin membicarakan sesuatu kepadamu," ucap Sultan.
Muti yang ketahuan tidak tidur, segera membuka mata, tapi dia tetap pada posisi berbaring.
Sultan mendekati Muti, lalu dia berkata, "Maaf, maafkan atas kejadian tadi sore. Aku tidak bermaksud membuat rumah tangga kita semakin kacau. Sebenarnya dalam pertemuan tadi, aku hanya ingin membahas tentang berakhirnya hubunganku dengan Clara. Eh, ternyata kalian keburu datang, jadilah salah paham semua," ucap Sultan.
Muti tidak percaya jika Sultan bermaksud putus dengan Clara, apalagi setelah Muti tahu jika Clara hamil.
"Bagaimana Mut?" tanya Sultan saat melihat Mutia hanya diam.
"Maaf Kak, aku tidak yakin jika hubungan kalian bisa berakhir, silahkan Kak Sultan hubungi Clara karena dia punya alasan tepat untuk tetap menjerat Kak Sultan hingga tidak bisa lepas lagi darinya."
"Apa maksudmu Mut?.Apa Clara mengatakan sesuatu kepadamu?"
Muti pun mengambil ponsel Sultan, lalu membukanya dan menunjukkan jika barusan ada panggilan masuk dari Clara dan telah di terimanya.
Sultan pun melihat Clara memang telah memanggilnya, Sultan mendesah dan dia tahu pasti Clara tidak akan menyerah begitu saja.
__ADS_1