
Sebenarnya Adam merasa kecewa tidak menemukan Sofran di rumah kontrakannya dan dia masih penasaran ingin melanjutkan penyeledikan.
Adam yakin kejadian rem mobil Elena yang blong karena memang unsur kesengajaan. Pelaku ingin mencelakai Elena atau mungkin target utama sebenarnya adalah Mutiara, yang belakangan memang sering bepergian bareng Elena.
Namun, Adam tidak bisa menunda keberangkatannya lagi, dia sudah telat dari jadwal kunjungan serta pemeriksaan yang seharusnya dia lakukan seminggu sebelumnya.
Mutiara yang melihat Adam hanya diam di sepanjang perjalanan, merasa penasaran. Lalu dia menggenggam jemari kekasihnya itu hingga membuat si empunya tangan terkejut.
Adam mengalihkan pandangan, dia menatap Mutiara, lalu membalas dengan mempererat genggaman.
Muti melihat ada kecemasan di wajah tampan kekasihnya itu.
"Apa yang saat ini sedang membebani pikiran Mas Adam? Kenapa sejak tadi aku perhatikan, Mas lebih banyak diam. Ceritalah Mas!" pinta Muti sembari menyunggingkan senyuman manis.
"Kamu Sayang! Aku berat untuk meninggalkanmu," jawab Adam sembari tak lepas menatap wajah ayu sang belahan jiwa.
"Mas Adam nggak usah cemas, inshaallah aku setia menunggu dan aku akan berusaha sebaik mungkin menghandle perusahaan," ucap Muti yang ingin menghilangkan kecemasan Adam.
"Kalau itu aku tidak pernah ragu Yang. Aku mencemaskan keselamatanmu," jawab Adam lagi.
"Lho, aku 'kan tidak kenapa-kenapa Mas? Apa yang membuat Mas cemas?"
"Pokoknya kamu harus hati-hati, tetap waspada dan ingat Yang, minta Pak sopir untuk mengantar jemput. Satu hal lagi, periksa dulu kondisi mobil sebelum bepergian. Aku tidak mau apa yang menimpa Elena terjadi juga kepada mu."
"Oh, kalau mengenai hal itu Mas Adam jangan cemas. Aku berencana untuk meminta Kak Fadhlan dan Kak Fadhil untuk tinggal bersama kami selama Elena belum pulih. Mereka bisa mengantar kami Mas, sebelum berangkat bekerja. Toh, kantor kedua kakakku tidak terlalu jauh dari Kantor Mas Adam dan kami bisa pulang bersama. Jika mereka ada urusan, barulah aku akan minta sopir kantor untuk antar jemput kami."
"Syukurlah kalau begitu, aku jadi lebih tenang. Tapi tetap saja, kamu harus waspada ya!" ucap Adam lagi sambil mencolek hidung Muti."
"Awas Mas!" teriak Muti tiba-tiba.
Adam pun terkejut, lalu dia mengerem mobilnya secara mendadak, hingga terdengar suara decitan keras dan mengagetkan orang-orang yang sedang melintas di sana.
Seorang ibu yang sedang menggendong balita, berdiri pucat dan gemetaran tepat di depan mobil Adam berhenti.
Adam dan Muti bergegas turun dari mobil, mereka lalu bergegas menghampiri sang ibu. Adam pun meminta maaf karena kelengahannya hampir saja membuat ibu dan putranya itu celaka.
"Ibu dan adik tidak terluka 'kan?" tanya Muti cemas sembari memeriksa kondisi fisik keduanya.
"Kami tidak apa-apa kok Neng, hanya terkejut saja," jawab sang ibu.
Ibu itupun meminta maaf karena tadi sedang terburu-buru hingga tidak memperhatikan kenderaan yang melintas saat dia hendak menyeberang jalan.
"Syukurlah, jika tidak ada yang terluka," ucap Adam lega.
"Oh ya, Ibu sebenarnya mau kemana? biar Saya antar ya!" tawar Adam guna menebus kesalahannya.
__ADS_1
"Tidak usah Den, saya hanya mau ke warung nasi yang ada di ujung jalan sana. Barangkali mereka membutuhkan tenaga untuk membantu mencuci piring."
Sejenak ibu itupun terdiam, lalu dengan wajah yang masih pucat dan terlihat sedih, beliau pun berkata lagi, "Saat ini Saya sedang membutuhkan pekerjaan untuk menyambung hidup Den."
Mendengar hal itu Muti merasa iba dan dia juga penasaran, "Memangnya suami ibu tidak bekerja?"
"Suami saya baru meninggal Neng, dua minggu yang lalu," jawab Sang ibu sembari menarik nafas berat.
"Oh, maaf Bu. Saya telah membuat ibu sedih."
"Nggak apa-apa kok Neng, Saya tidak bisa terus larut dalam kesedihan. Saya harus kuat Neng dan harus berjuang demi kedua anak Saya."
Muti memandang Adam dan Adam pun mengerti, pasti Muti merasa iba dan ingin menolong wanita tersebut.
Adam mengangguk, dia memberi kesempatan dan mendukung apapun yang akan Muti lakukan.
Setelah mendapatkan anggukan dari Adam, Muti pun berkata, "Bagaimana jika Ibu bekerja di rumah Saya, kebetulan saat ini kami sedang membutuhkan orang yang bisa mengerjakan pekerjaan rumah."
"Sungguh Neng! Apa Saya tidak salah dengar?" tanya sang ibu yang masih tidak percaya jika dia akhirnya mendapatkan tawaran pekerjaan.
Sebuah senyuman terbit di wajah sang ibu, tapi tiba-tiba beliau murung kembali, lalu menatap Muti dan bertanya, "Tapi, apa boleh bekerja sambil membawa anak Saya ini, Neng?"
Muti sejenak terdiam, dia tahu pasti sang ibu tidak bisa meninggalkan anak-anaknya karena tidak ada yang akan menjaga.
Melihat Muti terdiam, Sang ibu pun merasa cemas, pasti dia akan mendapatkan penolakan lagi seperti sebelumnya.
Muti kemudian tersenyum, lalu mengangguk, "Iya Bu, bekerja dan bawalah adik-adik untuk tinggal di rumah Saya."
"Alhamdulillah, akhirnya ada orang baik yang mau menerima dan menolong kami. Terimakasih Neng! terimakasih," ucap Sang ibu sambil meraih dan hendak mencium tangan Muti.
Muti menarik tangannya lalu berkata lagi, "
"Justru Saya yang harusnya berterima kasih Bu. Dengan adanya Ibu dan adik-adik, rumah Saya akan ramai. Benarkan Mas?" tanya Muti kepada Adam.
"Iya Bu, calon istri Saya akan punya banyak teman di rumah. Jadi, Saya akan lebih tenang meninggalkannya pergi bekerja ke luar," jawab Adam.
"Kebetulan di rumah ada beberapa kamar yang kosong, Ibu nanti bisa pilih, mana untuk kamar adik-adik dan mana untuk Ibu," ucap Muti sambil mencolek pipi anak Sang ibu yang sejak tadi hanya diam sambil memainkan boneka kecil yang sudah terlihat lusuh.
Sepertinya anak kecil itu mengerti akan kesulitan yang sedang di hadapi Sang ibu, hingga dia tidak rewel.
"Kalau begitu, terimakasih Neng, Aden. Satu kamar saja cukup kok Neng, karena kami terbiasa tidur di kamar kontrakkan yang sempit," ucap sang ibu sambil mengatupkan kedua tangannya dan anak yang ada dalam gendongannya pun ikut mengangguk-angguk sambil tersenyum, hingga membuat Muti gemas dan ingin menggendongnya.
Muti melihat air mata sang ibu sudah tergenang dan hampir jatuh, lalu diapun buru-buru mengambil pena serta secarik kertas dari dalam tas.
Kemudian Muti menuliskan alamat rumahnya, yang merupakan pemberian dari Sultan.
__ADS_1
Untuk sementara, memang Muti, Elena dan kedua Kakaknya akan tinggal di sana sampai Adam kembali dan siap untuk menikahinya.
Sebenarnya Adam sudah meminta Muti untuk sementara tinggal di apartemennya selama dia pergi, sampai pembangunan rumah yang di siapkannya untuk Muti selesai.
Namun, Muti secara halus menolak, dia tidak mau orang-orang berpikiran buruk terhadapnya, sementara mereka belum resmi menikah.
Akhirnya Adam menghormati keputusan Muti dengan Syarat, Muti harus membawa teman untuk tinggal di rumah itu, karena Adam tidak ingin sampai Sultan kembali kesana dan mempunyai kesempatan untuk mendekati Muti lagi selagi dia jauh.
Muti yang sudah selesai menuliskan alamatnya segera melipat kertas tersebut dan menyelipkan dua lembar uang ratusan ribu untuk ongkos Sang Ibu.
"Bu, ini alamat rumah Saya. Saya tunggu kedatangan Ibu besok sore dan itu ada uang buat ongkos. Saat ini kami tidak bisa berlama-lama karena masih ada urusan yang harus diselesaikan," ucap Muti sembari menyerahkan kertas tersebut ke tangan sang Ibu.
"Terimakasih sekali lagi Neng, semoga Allah membalas kebaikan Neng dan Aden."
"Aamiin, jawab Muti dan Adam serempak hingga membuat keduanya saling pandang dan tersenyum.
Setelah memberikan kertas itu, Muti dan Adam pun pamit, mereka harus kembali ke perusahaan Hendrawan Group untuk mengambil barang-barang Muti dan membawanya ke kantor Muti yang baru yaitu perusahaan milik Adam.
Dalam waktu 30 menit, merekapun tiba di kantor, lalu Muti mengajak Adam ke ruangannya karena Dian sang sekretaris sudah menunggu mereka di sana.
Sebagian barang sudah di masukkan ke dalam kardus oleh Dian, Muti hanya tinggal membereskan berkas penting saja yang ada di dalam lemarinya.
Adam yang melihat pekerjaan Muti hanya tinggal sedikit, sengaja pamit ke toilet. Di sana dia menyempatkan diri menghubungi dua orang kepercayaannya untuk terus melakukan pencarian terhadap orang yang bernama Sofran.
Dan Adam pun meminta dua orang lagi untuk setiap hari menjaga dan mengawasi Muti dari kejauhan, guna memastikan keselamatan sang kekasih terjamin selama dirinya pergi.
Setelah menjelaskan tugas apa saja yang harus orang-orang kepercayaannya lakukan, Adam pun kembali ke ruangan Mutiara.
Adam pun segera membantu mengangkat barang yang sudah dikemas oleh Dian dan bergegas membawa ke mobilnya. Sementara, Muti dan sang sekretaris mengikuti Adam dengan membawa sisanya.
Setelah semua barang masuk ke dalam bagasi, Adam dan Muti pun pamit kepada Dian. Muti memeluk Dian dan mengucapkan terimakasih karena selama dia memimpin perusahaan, Dian telah banyak membantunya.
Dian sedih, dia harus kembali kehilangan pemimpin yang baik, sekaligus sahabat yang selama ini telah membuatnya nyaman bekerja di perusahaan Hendrawan Group.
Muti menepuk punggung sahabatnya dan berpesan agar Dian nantinya bekerjasama dengan Elena membantu Raja mengelola perusahaan agar bisa lebih maju lagi.
Dian mengangguk, lalu dia menghapus air mata dan melambaikan tangan melepas kepergian Muti bersama Adam.
Adam mengantar Muti ke perusahaannya dan sekaligus dia ingin memperkenalkan kepada para bawahan, bahwa Muti adalah calon istri serta pengganti yang akan memimpin perusahaan selama dia pergi.
Bersambung.....
Selamat sore sahabat semua, maaf telah membuat kalian lama menunggu. Satu bulan full aku hiatus menulis sobat, karena sebuah kontrak pekerjaan yang tidak bisa aku abaikan.
Hari ini, aku mulai update lagi ya para sobat, mudah-mudahan kalian semua masih setia dan terus memberikan dukungan dalam tiap karyaku dan inshaallah aku akan rutin up lagi setiap harinya meski hanya satu episode.
__ADS_1
Selamat membaca ya...dan semoga kita semua selalu diberikan kesehatan serta kebahagiaan. Aamiin.