MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 116. KETEGUHAN HATI MUTIARA


__ADS_3

Muti terdiam saat melihat Sultan memohon, sebenarnya dia merasa iba dan walau bagaimanapun mereka pernah hidup di atap yang sama.


Tapi talak telah dijatuhkan dan janji juga harus ditepati, maka Muti tidak mungkin menerima Sultan kembali.


Cinta bagi Muti nomor sekian, yang paling utama adalah menepati janji, karena janji baginya adalah hutang yang wajib untuk dipenuhi.


Sultan yang melihat Muti lama terdiam, lalu bertanya, "Kenapa Mut? Apakah kamu ragu aku tidak bisa berubah? Atau aku memang tidak memiliki harapan lagi?" tanya Adam.


"Maaf Kak, aku tidak bisa memenuhi permohonan Kakak," jawab Muti.


"Kenapa Mut? Apa sudah ada pria lain?"


"Maaf sekali lagi Kak, hubungan di antara kita sudah berakhir. Pernikahan kita mungkin sebuah kesalahan karena keterpaksaan di awal dan akan menjadi pelajaran untuk kehidupan kita kedepannya."


Sultan tunduk, dia malu dan memang ini semua kesalahannya.


"Satu lagi Kak, jujur...aku sudah menerima pernyataan cinta seseorang dan aku sudah mengatakan kepadanya untuk datang 3 bulan ke depan dan memintaku langsung kepada Ayah. Ayah sudah menyerahkan keputusan kepadaku dan itulah keputusan ku Kak. Bukankah janji adalah hutang!" ucap Muti lagi, sembari mengatupkan kedua tangannya.


Sultan menghela nafas berat, dia menuai karma atas kesalahannya sendiri.


Kemudian Sultan bertanya lagi, "Apakah aku mengenal pria itu Mut?"


"Biarlah hal ini menjadi kejutan Kak, karena kami tidak melalui masa pacaran, jika dia serius dan penuhi janjinya di 3 bulan mendatang, Inshaallah aku siap menjadi pengantinnya," ucap Muti.


"Beruntung pria itu Mut, seandainya aku sadar sebelum ini, aku pasti akan menjadi pria paling bahagia. Namun, nasi sudah jadi bubur dan inilah karma yang harus aku terima," sesal Sultan.


"Selamat Mut, aku hanya bisa mendoakan, semoga kamu selalu bahagia. Maaf, atas luka yang telah aku torehkan di hatimu. Mudah-mudahan pria itu akan bisa mengobati luka itu nantinya," ucap Sultan kembali mengatupkan tangannya.


Wajah itu terlihat begitu sayu, Sultan telah kehilangan semua. Kehilangan istri yang baik, kehilangan karir cemerlangnya dan untung saja dia tidak kehilangan kasih sayang orangtuanya.


"Mut, aku permisi dulu ya. Oh ya Mut, mama dan Papa titip salam, mereka sangat menyayangimu, meski kamu bukan menantu mereka lagi."


"Iya Kak, terimakasih. Aku juga menyayangi mereka seperti orangtuaku sendiri. Aku titip salam ya Kak untuk Papa dan Mama. Inshaallah nanti jika ada waktu luang, aku akan mengunjungi mereka."

__ADS_1


"Iya Mut, akan aku sampaikan. Tolong panggilkan ayah dan ibu Mut, serta Kak Fadlan dan Fadhil jika ada di rumah, aku ingin minta maaf kepada mereka sebelum pergi dari sini," pinta Sultan.


"Sebentar ya Kak!"


Muti pun masuk ke ruang keluarga, menemui ayah dan ibu. Kemudian dia mencari kedua Kakaknya, yang saat ini memang sengaja tetap berada di dalam kamar.


Mereka takut kehilangan kontrol emosi jika melihat Sultan.


Fadhlan dan Fadhil masih tidak terima, jika adiknya diperlakukan kasar dan dipulangkan secara tidak hormat, karena Ayah mereka yang membawa Muti pulang.


"Kak, ayo keluarlah! Temui Sultan. Dia ingin meminta maaf kepada keluarga kita!" pinta Muti.


"Aku tidak mau! Enak sekali dia minta maaf. Aku masih sakit hati ya, andai dia punya adik perempuan dan adiknya kami perlakukan seperti itu, bagaimana perasaannya!" ucap Fadhlan.


"Tapi Kak, kami memang sudah tidak berjodoh. Saat ini dia datang dengan penyesalan dan ingin meminta maaf, kenapa kita tidak bisa memaafkan dia. Padahal, Allah saja maha pemaaf, masa kita sebagai hamba begitu sombong!" ucap Mutiara.


Fadhil yang masih bisa meredam emosinya, segera mengajak adiknya untuk menemui Sultan.


"Ayo Lan, yang dikatakan oleh Muti memang benar. Dia sudah menuai karmanya dan kita tidak berhak untuk menghakimi dia," ucap Muti.


Sultan yang melihat semua sudah berkumpul segera mengutarakan maksudnya.


"Ayah, Ibu, Kak Fadhil dan Kak Fadhlan dan juga kamu Elena, aku minta maaf karena selama ini telah menyakiti Mutiara."


"Enak sekali kamu! Akupun bisa kalau cuma berkata maaf! Dasar pria tidak bertanggung jawab!" ucap Fadhlan sambil melayangkan tinjunya yang mengenai perut Sultan.


"Sultan menahan rasa sakit pada perutnya, ayah yang melihat hal itupun marah terhadap Fadhlan."


"Fadhlan! Apa-apaan kamu! Sultan sudah meminta maaf, dan tolong jaga sikap. Ayah tidak suka kita membalasnya dengan kekerasan. Muti saja bisa berbesar hati, kenapa kita malah menaruh dendam," ucap Ayah.


"Sekali lagi, aku mohon maaf Kak!" ucap Sultan sambil mengatupkan tangan dan meringis kesakitan.


"Sudahlah Nak Sultan, kamu pulanglah dan salam untuk Papa serta Mama kamu, meski Nak Sultan dan Muti sudah selesai, tapi kami tetaplah bersahabat," ucap Ayah.

__ADS_1


"Terimakasih Ayah, Ibu dan terimakasih untuk semuanya. Saya permisi dulu ya Yah!" ucap Sultan sambil mengulurkan tangannya.


Ayah, ibu dan Muti pun mengantar Sultan sampai ke pintu. Mereka membalas lambaian tangan Sultan, saat mobilnya mulai meninggalkan pekarangan rumah keluarga Danuarta.


Mulai malam ini, Sultan berjanji pada dirinya sendiri untuk memperbaiki diri. Mungkin dengan begitu, dia akan menemukan kebahagiaannya lagi.


Sepeninggal Sultan, Ayah pun bertanya, "Jadi, keputusanmu sudah bulat Nduk, kamu akan menerima Nak Adam?" tanya Ayah.


"Inshaallah iya Ayah, Muti siap."


"Ayah hargai keputusanmu Nduk, kami hanya bisa mendoakan semoga kalian benar berjodoh dan bisa hidup bahagia sampai maut memisahkan," ucap Ayah.


Kemudian, semua yang ada di sana pun mengaminkan ucapan Ayah.


"Berarti kita tinggal menunggu kapan Adam akan datang membawa iringan pengantin kesini Dek?" tanya Fadhil.


"Mungkin dalam waktu dekat, Mas Adam akan berbicara dengan Ayah dan Ibu dulu Kak, untuk memastikan, kapan pernikahan kami bisa dilaksanakan," jawab Muti.


"Kami senang Dek, akhirnya kamu menemukan orang yang tulus mencintaimu tanpa memandang status mu sebagai janda. Semoga kamu selalu bahagia ya Dek!" ucap Fadhil.


"Terimakasih Kak. Oh ya, Kak Fadhil kapan? Sementara Kak Fadhlan sudah menetapkan bulan pernikahannya," tanya Muti.


"Nanti Dek, biar Kakak mapan dan mantap dulu. Kakak ingin melihat adik-adik kakak bahagia dulu, termasuk kamu El!" ucap Fadhlan sambil mengerlingkan matanya kepada Elena.


"Ih, kok El sih Kak! Kak Fadhil dulu dong! Nanti Kak Fadhil keburu tua lho, dilangkahi semua adiknya Kak Fadhil," jawab Elena.


"Nggak apa-apa Nak, laki-laki semakin matang saat menikah semakin bagus. Yang Ayah takutkan, jika anak-anak perempuan Ayah menikah di usia lanjut," ucap Ayah.


"Nah 'kan, harus kamu duluan itu El!" ucap Fadhil.


"Iya deh, El ngalah. Nanti El bilang saja ke Raja, agar kami menikah bareng dengan Mbak Muti saja."


"Serius kamu El? Aku senang jika kita bisa sama menikah. Jadi, nanti kita bisa sama-sama berangkat bulan madunya."

__ADS_1


"Iya ya Mbak, kali ini pasti sangat berbeda dengan bulan madu Mbak Muti saat dulu bersama Tuan Sultan."


"Sakit dan rasa kecewa Mbak Muti inshaallah bakal terbayar," ucap Elena yang ingat masa dulu Muti sangat menderita.


__ADS_2