
Sultan dan Clara pun bergegas pulang saat taksi pesanan mereka tiba. Sultan sudah gerah memakai pakaian kotor walau hanya terkena keringat dan sedikit tumpahan alkohol pada saat dia mabuk malam tadi di club.
Dalam perjalanan pulang, teman Sultan yang membawa mobilnya pun menelepon, kemudian dia menanyakan kemana mobil itu hendak diantar.
Sultan meminta temannya itu untuk mengantar mobil ke rumahnya. Sementara Clara yang tidak tahu alasan mobil itu di bawa oleh teman Sultan, marah dan ikut nimbrung berbicara. Clara tidak suka jika mobil Sultan dibawa oleh orang lain.
"Kamu enak saja bawa mobil suamiku! Kami jadi naik taksi kemana-mana. Cepat! kamu kembalikan sekarang juga!" Seru Clara dari belakang Sultan yang saat ini sedang ngobrol dengan sahabatnya itu dalam panggilan ponsel yang masih aktif.
"Wah, serem amat istrimu Tan? Pantas lah jika dirimu stres, aku tutup dulu ya. Pokoknya sebentar lagi aku jalan, mengembalikan mobilmu."
Panggilan langsung terputus dan Sultan pun menatap tajam kearah Clara, "Kenapa kamu ikut campur, puas sekarang! Karena sikapmu jatuh harga diriku di mata temanku!"
"Aku 'kan cuma mengingatkan dia saja, gara-gara dia kita jadi susah, harus naik taksi!" ucap Clara tanpa rasa bersalah.
"Kalau tidak ada dia, aku bakal menginap di club dan saat ini tidak sedang bersamamu!" balas Sultan yang masih marah.
"Maaf kalau begitu Kak. Habisnya, hari ini semua orang membuatku bete."
"Oh ya, kakak belum menjawab pertanyaan ku tadi, apa benar yang dikatakan oleh Pradipta?"
"Ya, memangnya kenapa?" tanya Sultan balik.
"Oh my God, kenapa kata Kakak?"
"Semua gara-gara kamu! Jika kamu tidak memaksa saat itu untuk pindah ke rumah Muti, semua ini tidak akan terjadi! Orangtuaku mungkin sampai saat ini belum tahu tentang pernikahan kita!" ucap Sultan.
"Jadi, Kak Sultan mau sembunyikan aku terus! Sampai kapan?" tanya Clara nggak kalah emosi.
"Setidaknya sampai aku mapan, sekarang kita tuai hasil dari ketidaksabaran mu! Aku sudah kere, tidak punya apa-apa lagi," ucap Sultan.
Kemudian Sultan berkata lagi, "Bahkan mobil, apartemen dan rumah, itu belas kasihan Muti hingga kita masih bisa memakai dan menempatinya. Jika tidak, aku nyaris jadi gembel!" ucap Sultan.
"Gila! Enak sekali si Marmut, dia pasti sudah menggunakan cara licik. Pasti, dia sudah mengguna-guna orangtua Kak Sultan hingga tunduk dan mau memberikan semua keistimewaan untuknya!" tuduh Clara.
Kemudian dia berkata lagi, "Jadi, Kak Sultan menerima begitu saja! Apa tidak ada pembelaan sedikitpun dari adik Kak Sultan!"
__ADS_1
"Ini penerus keluarga Hendrawan, kenapa mereka tidak menganggap bayi kita ada Kak!" ucap Clara sembari memegang perutnya.
"Mereka sudah memberiku pilihan, aku bisa mendapatkan kembali hak ku, tapi dengan memenuhi syarat...," Sultan menghentikan ucapannya karena ragu, takut Clara tersinggung.
"Syarat apa Kak! penuhi saja, asal semua bisa kembali menjadi milik kita!" ucap Clara.
"Melakukan tes DNA pada bayi yang ada dalam kandungan mu," ucap Sultan ragu.
"Whatt...! mereka meragukan bayi kita? Pasti ini ide Muti, aku yakin itu Kak!" ucap Clara marah.
"Ya, memang Muti yang memintanya."
"Dasar gila! Ini pasti karena iri, Muti tidak kunjung hamil. Berani-beraninya dia meragukan anak kita!" ucap Clara sambil mengepalkan kedua tangannya.
Kemudian Clara berucap lagi, "Jadi, Kak Sultan tidak memberikan pembelaan sedikitpun terhadap bayi kita? Saat Muti mengajukan syarat itu di depan Papa Mama?" tanya Clara sembari menatap Sultan.
"Maaf Clara, saat itu aku sudah tidak bisa berpikir lagi, aku kesal tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena semua sudah diputuskan oleh Papa."
"Aku berani bersumpah Kak, ini anak Kak Sultan. Tolong, yakinkan orangtua Kakak lagi, bahwa ini cuma akal-akalan Muti untuk membalas kita.
Clara saat ini berpikir, dia harus melakukan tes DNA segera tanpa didampingi oleh Sultan. Dan jika hasilnya memang bukan bayi Sultan, Clara harus membuat laporan palsu, mengganti hasil tes tersebut dengan menyuap petugas laboratorium serta dokter.
"Aku tidak meragukan mu Clara, tapi masih ada syarat lain. Meski bayi itu terbukti anakku, semua aset bagianku akan dikembalikan saat anak kita berusia 21 tahun."
"Dan selama belum berusia 21 tahun, pengelolaan asetku akan dikendalikan oleh Raja," ucap Sultan lagi.
"Dasar, Muti gila! Seenak hatinya saja membuat aturan!" umpat Clara.
"Bukan Muti, tapi syarat yang ini dari Papa," ucap Sultan.
"Akh...mereka semua sudah gila!" ucap Clara yang stres selesai mendengar penjelasan dari Sultan.
Semua yang Clara rencanakan menjadi berantakan, dia tidak bisa lagi menggunakan kehamilannya untuk menguasai harta keluarga Hendrawan.
Sejenak Clara terdiam, giginya gemeretak, dia dendam dengan Muti. Karena Mutiara, semua rencananya jadi gagal.
__ADS_1
Namun, Clara tidak akan menyerah kalah begitu saja, dia akan mencari Hardi dan meminta tolong agar Hardi membantunya menyingkirkan Mutiara.
Melihat wajah Clara yang memerah karena menahan amarah, Sultan pun berkata, "Kamu jangan takut, aku akan giat bekerja demi kalian. Aku pastikan, kalian tidak akan pernah kelaparan."
"Tapi, ku mohon dukungan mu Clara, untuk saat ini kita harus berhemat dan bersakit, sampai aku bisa memajukan perusahaan kita sendiri," ucap Sultan.
"Berhemat Kak? Apa aku harus menelan ludah saja saat anak kita ngidam ini dan itu?" tanya Clara.
Kemudian dia berkata lagi, "Apa Kak Sultan mau anak kita ileran, ih...kasihan sekali nasib anak kita Kak!"
"Berbuatlah sesuatu Kak, jangan mengalah dari Mutiara, Kak Sultan putra Hendrawan dan selama ini kakak yang telah mengembangkan perusahaan itu, masa iya Muti yang hidup enak menikmati jerih payah Kakak!"
"Sudahlah Clara, semua ini salahku, aku selalu mengabaikan Muti, wajar jika Papa lebih menyayanginya."
"Papa, pasti merasa tidak enak terhadap ayahnya, yang merupakan teman karib Papa sejak kecil. Dan yang mengusulkan perjodohan, awalnya juga Papa dan yang pasti Papaku malu terhadap keluarga Mutiara."
"Terserah Kak Sultan! Tapi, aku tetap tidak terima dengan keputusan Papa! Aku akan memperjuangkan hak anakku, bagaimanapun caranya. Meskipun, aku harus menyingkirkan Mutiara!" ucap Clara yang semakin benci dengan Muti.
Pak sopir yang mendengar pembicaraan Sultan dan Clara merasa ngeri. Seandainya beliau mengenal Mutiara, pasti Pak Sopir akan segera memperingatkan, tentang ancaman wanita seperti Clara.
Mereka sudah tiba di rumah dan Clara merasa heran saat melihat jendela rumah tertutup rapat. Padahal, sebelum dia pergi, Bi Tina sudah membuka semua jendela.
Dan Clara pun memegang handle pintu, ternyata pintu terkunci. Lalu, dia mengetuk pintu dan matanya celingukan mencari keberadaan Bi Tina, tapi pembantunya itu tidak terlihat ada di manapun.
Sultan melihat ada kertas di bawah pintu, lalu dia membuka dan membacanya. Ternyata, surat itu dari Bi Tina.
Bi Tina minta maaf, beliau pulang ke kampungnya, karena anak Bi Tina mengalami kecelakaan. Dan, beliau meninggalkan kunci rumah di dalam pot bunga gantung yang ada di teras.
Sultan mencari kunci seperti petunjuk Bi Tina dan memang, kunci itu ada di sana.
Clara semakin kesal, kini tugas rumah mau tidak mau harus dia yang mengerjakan. Padahal, Clara mengajak Sultan pulang, agar tidak membersihkan apartemen.
Bersambung.....
Mampir juga yuk sobat dalam karyaku yang lain dan mohon dukungannya ya. Terimakasih 🙏
__ADS_1